Jumat, 09 Juni 2017

Amalan-amalan Penggugur Dosa pada Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh ampunan. Sampai-sampai dikatakan oleh para ulama, kalau tidak pada bulan Ramadhan mendapatkan ampunan, lantas pada bulan mana lagi?

Bulan Ramadhan adalah musim kebaikan. Begitu banyak amalan atau ibadah yang mulia yang dapat kita kerjakan pada bulan yang penuh berkah ini. Amalan-amalan tersebut membawa pahala yang besar dan juga dapat menggugurkan dosa-dosa seorang hamba. Diantara amala-amalan pada bulan Ramadhan antara lain,

Pertama: Puasa

Bulan Ramadhan disebut juga syahru siyam (bulan puasa) karena diwajibkan di dalamnya puasa sebulan penuh. Puasa ramadhan termasuk salah satu rukun islam. Puasa ramadhan hukumnya wajib berdasar dalil dari Al-Qur'an dan As-sunnah. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (Q.S. Al-Baqarah: 183)

Puasa memiliki begitu banyak manfaat baik untuk jasmani maupun rohani. Puasa Ramadhan memiliki begitu banyak keutamaan, diantaranya yang paling utama adalah menghapus dosa-dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosanya yang telah berlalu." (H.R. Bukhari, Muslim)

Kedua: Shalat tarawih

Selain puasa, ibadah lain yang disyariatkan pada bulan Ramadhan adalah shalat tarawih. Pahala shalat tarawih pada bulan Ramadhan sangat mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa berdiri (shalat tarawih) pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala maka diampuni dosanya yang telah berlalu." (H.R. Bukhari, Muslim)

Shalat tarawih termasuk shalat sunnah yang ditekankan (sunnah muakkad), yang dikerjakan pada bulan Ramadhan. Dinamakan shalat tarawih karena dahulu para sahabat duduk istirahat antara setiap empat rakaat, karena mereka memanjangkan bacaan. Tidak ada masalah shalat tarawih dengan 8 rakaat, atau 20 rakaat. Rasulullah melakukan shalat tarawih dengan jumlah 8 rakaat, sedangkan ijma' (kesepakatan) para sahabat setelah Rasulullah wafat, para sahabat dan kaum muslimin ketika itu melakukan shalat tarawih dengan jumlah 20 rakaat. Keduanya berdasarkan dalil yang kuat sehingga boleh memilih shalat tarawih 8 rakaat atau 20 rakaat selama kita memahami dasar tuntunannya. Yang penting dikerjakan dengan khusyuk dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketiga: Shadaqah


Shadaqah adalah salah satu amalan yang utama pada bulan Ramadhan. Rasulullah telah memberi teladan dalam kedermawanan pada bulan Ramadhan. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu,

الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ

"Shadaqah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api." (H.R. Tirmidzi)


Keempat: Shalat pada Malam Lailatul Qadar


Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (H.R. Bukhari) 


Disunnahkan beriktikaf di bulan Ramadhan, apalagi pada sepuluh malam yang terakhir. Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

"Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dahulu biasa beriktikaf pada sepuluh terakhir Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau. Kemudian para istrinya juga beriktikaf setelahnya." (H.R. Bukhari dan Muslim)

Kelima: Membaca Al-Qur'an

Membaca Al-Qur'an sangat dianjurkan bagi setiap muslim pada setiap waktu dan kesempatan. Dan membaca Al-Qur'an lebih dianjurkan lagi pada bulan Ramadhan, karena pada bulan itulah diturunkan Al-Qur'an. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

"Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil)." (Q.S. Al-Baqarah: 185)

Ramadhan juga disebut syahrul Qur'an (bulan Al-Qur'an). Dahulu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memurajaah bacaan Al-Qur'an dengan malaikat Jibril pada bulan Ramadhan. Para salafus shalih (generasi terdahulu dari golongan sahabat, tabi'intabi'u tabi'in) banyak membaca dan mengkhatamkan Al-Qur'an pada bulan Ramadhan. Salah satu kisah diriwayatkan bahwa Imam Syafii rahimahullah pernah mengkhatamkan Al-Qur'an sebanyak 60 kali dalam satu bulan Ramadhan.

Keenam: Umrah

Salah satu ibadah yang sangat dianjurkan pada bulan Ramadhan adalah melaksanakan ibadah umrah. Rasulullah menjelaskan bahwa umrah dapat mengugurkan dosa-dosa seorang hamba. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ، فَإِنَّهُمَا تَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذَّنُوبَ، كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ
 
"Teruslah melakukan haji dan umroh, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana alat pandai besi menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak." (H.R. Tirmidzi, Nasa'i)

Ketujuh: Zakat Fitrah

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perkataan yang sia-sia dan perkataan yang keji, dan juga untuk memberi makan pada orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat (shalat 'Ied) maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat (shalat 'Ied) maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (H.R. Abu Daud, Ibnu Majah)

Zakat fitrah pada penghujung Ramadhan, itu juga merupakan sebab mendapatkan ampunan dari Allah subhanahu wa ta'ala. Karena zakat fitrah akan menutupi kesalahan berupa perkataan yang sia-sia dan perkataan yang keji. Para ulama terdahulu mengatakan bahwa zakat fitrah adalah bagaikan sujud sahwi (sujud yang dilakukan ketika lupa pada shalat), maksudnya yaitu untuk menutupi kekurangan yang ada.

Kalau banyak ampunan seperti itu pada bulan Ramadhan, seharusnya setiap yang keluar dari bulan Ramadhan dalam keadaan sebagaimana disebutkan oleh Muwarriq Al-‘Ijliy,

يَرْجِعُ هَذَا اليَوْمَ قَوْمٌ كَمَا وَلدَتْهُمْ أُمَّهَاتُهُمْ

"Hari ini kembali suatu kaum sebagaimana mereka baru dilahirkan oleh ibu-ibu mereka."

Maksud dari "sebagaimana mereka baru dilahirkan oleh ibu-ibu mereka" adalah mereka kembali bersih dari dosa. Sungguh sangat disayangkan jika keluar dari bulan Ramadhan tidak membawa ampunan apa-apa.

Sekian diantara amalan yang disyariatkan pada bulan Ramadhan. Semoga Allah memberi kita kemudahan untuk menjalankannya dengan sebaik-baiknya. Aamiin.

Wallahu waliyyut taufiq

Selesai ditulis di Malang, pada 9 Juni 2017 (14 Ramadhan 1438 H)
oleh Supriyono Alfarhan

5 komentar:

Jazakumullah khoir