Sabtu, 06 Mei 2017

Makanan Jiwa adalah Ketaatan kepada Allah

Semua makhluk hidup di dunia ini tentulah butuh makanan untuk bertahan hidup kemudian beraktivitas. Kita setiap harinya pasti berusaha memberikan makanan yang baik-baik untuk tubuh kita. Bahkan lebih dari ini, kita berusaha menyempurnakan gizi yang masuk ke dalam tubuh kita dengan memakan makanan 4 sehat 5 sempurna. Akan tetapi ada hal yang sangat penting yang kebanyakan manusia lalai, yaitu lupa untuk memberikan makanan pada jiwanya. Akhirnya, jiwanya mendorong fisiknya untuk berbuat maksiat sehingga merugikan dirinya sendiri, lebih-lebih orang lain. Sari-sari makanan menjadi tenaga untuk berfikir dan bergerak yang seharusnya ia gunakan untuk berbuat ketaatan, ia gunakan untuk bermaksiat.

Apakah makanan jiwa itu? Dikutip di dalam kitab Ad-Daa' wa Ad-Dawaa' (Penyakit dan Obatnya) yang ditulis oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, makanan jiwa adalah ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta'ala, sedangkan racunnya adalah kemaksiatan kepada Allah. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

"Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya."
(Q.S. Asy-Syams: 9-10)

Termasuk mensucikan jiwa yang paling umum yaitu menjaga kesucian jiwa dengan ketaatan kepada Allah. Ketaatan kepada Allah tentu saja membutuhkan ilmu. Bagaimana kita beriman yang benar, bagaimana kita beribadah yang benar, bagaimana kita bermu'amalah dengan benar kepada sesama muslim maupun non muslim. Langkahnya yang pertama untuk mencapai ketaatan adalah dengan menuntut ilmu agama. Di jaman sekarang ini, banyak sekali sarana dan prasarana yang memudahkan kita untuk menuntut ilmu agama. Dahulu orang menuntut ilmu dengan jalan kaki berkilo-kilo meter dari rumahnya ke tempat majelis ilmu. Sekarang kita telah banyak dimudahkan misalnya dengan adanya motor, angkot, sepeda, mobil pribadi, ojek, dan lain sebagianya untuk menuju tempat majelis ilmu. Bahkan sekarang kita dimudahkan untuk menuntut ilmu lewat media streaming. Subhanallah... Betapa banyak kemudahan yang Allah berikan kepada kita untuk beribadah. Akan tetapi, menuntut ilmu dengan mendatangi majelis ilmu itu tetap penting karena kita akan berjumpa dengan orang-orang shalih. Termasuk yang menguatkan jiwa kita di dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta'ala adalah berjumpa dengan orang-orang shalih di majelis ilmu agama. Berjumpa dengan orang-orang shalih, kita akan mendapat banyak nasihat, ajakan, maupun peringatan untuk dekat kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Setelah kita menuntut ilmu, hendaknya kita amalkan dari yang wajib dan ringan, kemudian bertahap ke yang lebih tinggi tingkatannya. Penting juga kita memperbanyak belajar tentang keutamaan-keutamaan suatu amalan agar ketika mengamalkan suatu amalan, hati kita mantab dan membekas amalan tersebut di hati. Setelah itu kita istiqomahkan.

Orang yang mengotori hatinya yaitu orang yang bermaksiat kepada Allah. Maksiat itu bertingkat-tingkat sesuai dengan kadar dosanya. Dosa yang paling besar yaitu menyekutukan (syirik) Allah subhanahu wa ta'ala, kemudian diikuti maksiat-maksiat lain di bawahnya. Maksiat terbesar setelah syirik yaitu meninggalkan rukun-rukun islam. Orang yang banyak berbuat maksiat hatinya akan semakin menjauh dari Allah subhanahu wa ta'ala. Misalnya, orang yang  dulunya shalat terasa nikmat dan menenangkan jiwa, sekarang terasa tidak nikmat bahkan enggan shalat. Melaksanakan shalat asal-asalan saja, dengan cepat, dan tidak ada bacaan yang membekas di dalam jiwa. Ini dikarenakan karena maksiat. Bisa jadi karena ia memandang yang diharamkan oleh Allah. Bisa jadi ia tidak menjaga batas pergaulannya. Bisa jadi karena ia memakan atau bertransaksi riba. Riba sangat menakutkan dampaknya di dunia, lebih-lebih di akhirat sebagai mana telah dibahas pada artikel yang di posting sebelumnya (baca disini). Orang yang terus berbuat maksiat, dan tidak bertaubat, lama-lama jiwanya akan tertutup kepada Allah. Apabila jiwanya telah tertutup kepada Allah, maka diberikan nasihat maupun tidak diberikan nasihat untuk taat kepada Allah akan sama saja. Ia tidak akan menghiraukan nasihat tersebut. Dibacakan Al-Qur'an beserta artinya hatinya tidak tersentuh. Adzan dikumandangkan, hatinya berat berangkat ke masjid untuk shalat berjama'ah.

Wahai saudaraku... Sibukan diri dengan ketaatan, dengan bermajelis ilmu, menyampaikan kebaikan, berkumpul dengan orang-orang shalih. Apabila jiwa tidak disibukan dengan kebaikan, maka jiwa akan disibukan dengan perkara-perkara yang buruk dan sia-sia. Di dalam suatu riwayat Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam melarang kita untuk banyak tertawa karena itu bisa mematikan hati. Tertawa adalah perkara yang diperbolehkan saja apabila dilakukan dengan berlebihan dilarang oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, bagaimana dengan maksiat?

Kita meminta pertolongan kepada Allah agar dijaga di dalam ketaatan dan dijauhkan dari dosa dan maksiat sampai khusnul khatimah. Aamiin.

Selesai ditulis di Tegalgondo, Malang, pada 6 Mei 2017
oleh Supriyono Alfarhan
Merujuk dari kitab Ad-Daa' wa Ad-Dawaa' (Penyakit dan Obatnya) yang ditulis oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

4 komentar:

  1. Jazakallahu khair akhi. Kami merindukan antum :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waiyyakum. Alhamdulillah.. Insya Allah ane nanti sore ke Al-Umm. :-)

      Hapus
  2. Assalamualaikum. Maaf izin bertanya pak ustadz. Seringkali dalam menjalani kehidupan ini tingkat ketakwaan seseorang kpd Allah itu naik turun. Bagaimana agar bisa senantiasa bertakwa kpd Allah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh.
      Terimakasih atas pertanyaannya. Semoga Allah senantiasa menjaga antum di atas kebaikan.
      Yang pertama adalah banyak menyibukan diri dengan majelis ilmu, mengkaji ilmu agama. Penting juga untuk berilmu tentang keutamaan-keutamaan ibadah yang kita lakukan sehari-hari agar kita semangat di dalam beribadah.
      Yang kedua, mengoreksi hati. Apakah niat kita untuk beribadah karena Allah atau karena manusia. Apabila di dalam beribadah hati bersandar kepada manusia, maka ia akan menjadi malas beribadah tatkala tidak dilihat manusia.
      Yang ketiga, hendaknya kita membagi waktu kita dengan baik. Mana waktu yang seharusnya untuk aktivitas dunia, mana waktu yang seharusnya untuk kehidupan akhirat kita. Manusia tak luput dari kecintaan pada dunia, dan itu pasti, dan dibolehkan di dalam islam. Akan tetapi islam juga mengatur batas-batasnya. Jangan gunakan semua waktu kita sehari-hari hanya untuk dunia karena dunia yang berlebihan bisa melalaikan kita dari nikmatnya beribadah kepada Allah, dan lupa akan kehidupan akhirat kita.
      Yang keempat, hendaknya kita memperhatikan teman bergaul kita. Ini penting, teman bergaul bisa membawa kita kepada kebaikan, bisa juga membawa kita kepada kekufuran. Awalnya kita tidak merasa karena keasyikan. Awal-awal meninggalkan sholat tepat waktu, lama-lama jadi malas sholat 5 waktu. Demikian pula sebaliknya. Teman yang baik akan mengingatkan dan mengajak kita untuk dekat kepada Allah. Kita diajak datang ke majelis taklim mengkaji ilmu-ilmu Allah, diajak untuk sholat berjama'ah di masjid, dan kebaikan-kebaikan lainnya.
      Yang kelima, hendaknya menjaga dzikir dan doa meminta pertolongan kepada Allah. Hati manusia itu lemah. Tidak akan selamat hati manusia kecuali yang ditolong oleh Allah. Salah satu wasilah untuk mendapat pertolongan Allah yaitu dengan doa dan dzikir.
      Yang keenam, hendaknya kita banyak membaca kisah para nabi dan rosul, kisah para sahabat rosul, kisah para ulama. Disitu kita akan menemukan sosok yang hebat. Sosok yang optimis di dalam kehidupan dan bertaqwa kepada Allah. Orang islam tidak boleh pesimis. Apalagi pesimis kepada pertolongan Allah, ini dilarang, dan pesimis yang seperti ini bisa menjadi penghalang untuk mendapat pertolongan Allah. Orang islam harus optimis.

      Hapus

Jazakumullah khoir