Sabtu, 22 April 2017

Hidup Tidak Tenang Karena Riba

Di jaman akhir ini, telah banyak orang yang meremehkan dosa riba. Alasan mereka pun beragam. Ada yang berkata, "Kalau tidak dengan cara ini (cara yang riba), darimana saya makan? Darimana saya punya rumah? Darimana saya punya mobil?" Seolah-olah mereka lupa bahwa mereka memiliki Allah yang maha memberikan rizki kepada hamba-Nya. Bukan kah Allah memiliki sifat Ar-Razaq? Ar-Razaq yaitu yang maha memberikan rizki kepada hamba-Nya. Oleh karena itu mintalah kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Berdoalah dengan sungguh-sungguh, menjaga ketaqwaan kepada Allah subhanahu wa ta'ala, kemudian sungguh-sungguh berusaha di jalan yang halal.

Allah subhanahu wa ta'ala sangat mencela bagi pelaku riba. Karena riba memiliki dampak yang sangat buruk. Dan Allah subhanahu wa ta'ala tidak akan mengharamkan suatu perkara kecuali ada kejelekan di dalamnya. Riba membuat orang tidak merasakan ketenangan di dalam hidupnya. Riba membuat seseorang semakin sengsara hidupnya. Kita lihat di sekitar kita, orang yang terlibat transaksi riba, hidupnya selalu terbayang-bayang tagihan atas transaksi ribanya. Di dalam rumah tangga terbayang tagihan, di tempat kerja pun terbayang tagihan yang tak kunjung lunas. Akhirnya, menuntut suami atau istrinya untuk bekerja lebih keras. Keharmonisan rumah tangga menjadi terganggu karena riba. Tidak sedikit pula diantara kaum muslimin rumah tangganya hancur karena riba. Belum lagi dampak buruk secara luas. Riba benar-benar menghancurkan ekonomi umat. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Dan masih banyak dampak buruk lainnya tentang riba. Ini masih di dunia. Sebenarnya ada dampak buruk yang jauh lebih mengerikan bagi pelaku riba. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

"Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu."
(Q.S. Al-Baqarah: 278-279)

Pada ayat di atas terdapat konsekuensi yang sangat mengerikan bagi pelaku riba baik yang bertransaksi, yang mencatat, dan yang menjadi saksi yaitu perang dengan Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasulnya. Bayangkan wahai saudaraku, apabila kita berkelahi melawan segerombolan tentara, bagaimana kondisi tubuh kita setelahnya? Ini perang melawan Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasulnya! Tidak main-main lagi wahai saudaraku. Perang melawan yang menciptakan kita. Perang melawan zat pemilik alam semesta dan seisinya. Perang melawan yang menciptakan surga dan neraka. Jadi seperti apa kita? Pantaslah di dunia para pelaku riba tidak akan merasakan ketenangan hati di dalam hatinya di dunia, apalagi di akhirat. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) gila.”
(QS. Al Baqarah: 275)

Ibnu ‘Abbas radiallahu 'anhu berkata, “Pemakan riba akan bangkit pada hari kiamat dalam keadaan gila dan mencekik dirinya sendiri."

Wahai saudaraku, riba merupakan kemaksiatan yang sangat besar. Definisi dari maksiat yaitu mengingkari perintah dan larangan Allah subhanahu wa ta'ala. Termasuk perkara yang seharusnya diketahui bahwasanya dosa dan kemaksiatan pasti menimbulkan mudharat (kerugian), tidak mungkin tidak. Mudharatnya bagi hati sebagaimana mudharat yang ditimbulkan racun bagi tubuh (Kitab Ad-Daa' wa Ad-Dawaa').

Wahai saudaraku, mari kita tinggalkan riba sekarang juga. Allah memerintahkan meninggalkan riba, pastilah untuk kebaikan hamba-Nya. Agar kelak hamba-Nya bisa hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Jangan takut hidup kita sengasara karena meninggalkan riba. Justru dengan meninggalkan riba hidup menjadi lebih berkah. Rasulullah shalalallah 'alaihi wa salam bersabda,

“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.”
(HR. Ahmad 5: 363. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali berkata bahwa sanad hadits ini shahih)

Orang yang meninggalkan riba karena Allah, kemudian ia betul-betul berusaha mencari yang halal, maka ia akan diganti dengan yang lebih baik oleh Allah subhanahu wa ta'ala, dan ini pasti. Allah subhanahu wa ta'ala tidak akan mengingkari janjinya.

Penting juga bagi yang baru bertaubat dari dosa riba agar ia menjauhi promosi-promosi yang di dalamnya ada transaksi riba. Bergaulah dengan orang-orang yang shalih di dalam majelis ilmu, mengahadiri majelis ilmu di masjid-masjid, karena itu akan menguatkan hati kita untuk tetap teguh untuk menjauhi riba.

Semoga Allah subhanahu wa ta'ala menjauhkan kita dari riba, memberikan rizki yang halal, yang baik, yang membawa keberkahan di dalam hidup kita di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Selesai ditulis di Malang, pada 22 April 2017
oleh Supriyono Alfarhan
Merujuk dari Kitab Terjemah Ad-Daa' wa Ad-Dawaa' (Penyakit dan Obatnya), yang ditulis oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, penerbit Pustaka Imam Syafi'i

4 komentar:

  1. Jazakumullah khair akhi. Mohon doanya agar ana diberikan rizki yang benar2 halal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waiyyakum. Semoga antum diberikan rizki yang halal oleh Allah, diberikan kemudahan mendapatkannya, barakah rizkinya. Aamiin..

      Hapus

Jazakumullah khoir