Kamis, 13 April 2017

Diwajibkan Memilih Pasangan yang Baik Agama dan Akhlaqnya

Pernikahan adalah suatu akad yang menyatukan antara dua insan dengan ikatan yang suci. Oleh karena itu, Islam memerintahkan umatnya untuk selektif dalam menentukan pilihan, agar pernikahan yang dijalin benar-benar menjadi nikmat dan menjadi berkah dalam hidup. Semua dari kita, siapa yang tidak ingin rumah tangganya bahagia dan berada di dalam keberkahan. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia (Allah subhanahu wa ta'ala) menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu menyatu dan merasa tentram kepadanya. Dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Rum: 21)

Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam ketika menjelaskan kepada umatnya tentang berbagai alasan yang dijadikan masyarakat sebagai standar dalam menentukan pasangan hidup, beliau menganjurkan agar faktor iman dan ketakwaan sebagai standar utama dalam menentukan pilihan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam memerintahkan yang demikian tentu saja untuk kebahagiaan umatnya baik di dunia maupun di akhirat. Iman dan ketaqwaan adalah penentu seseorang dalam mengambil jalan hidup. Apakah seorang suami atau istri membawa keluarganya ke pantai surga, ataukah ia hancur leburkan ke jurang api neraka? Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,
“Wanita itu (biasanya) dinikahi karena empat hal, (yaitu) karena hartanya, karena nasabnya, kecantikannya, dan karena agamanya. Maka hendaknya engkau memilih wanita yang beragama (bertakwa), niscaya engkau akan beruntung.” (Muttafaqun ‘alaih)

Diantara kriteria wanita yang shalihah adalah sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah subhanahu wa ta'ala sebagai berikut,
“Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (kaum lelaki) atas sebagian yang lainnya (kaum wanita), dan karena mereka (kaum lelaki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang shaleh ialah yang taat (kepada Allah subhanahu wa taala dan kepada suaminya) lagi memelihara diri ketika suaminya sedang tidak ada, berikat pemeliharaan Allah terhadap mereka.” (QS. An Nisa’: 34)

Pada suatu hadits, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam lebih merinci tentang kriteria wanita shalihah, yang layak untuk dijadikan pasangan hidup. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,
“Sebaik-baik wanita adalah wanita yang bila engkau memandang kepadanya, ia akan membuatmu senang, dan bila engkau memerintahnya niscaya ia mentaatimu, dan bila engkau meninggalkannya, ia menjaga kehormatanmu dalam hal yang berikaitan dengan dirinya dan hartamu.” (HR. Abu Dawud dan Al-Hakim)

Demikian juga halnya dengan kriteria pasangan pria, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam mengajarkan agar standar pilihannya ialah keshalihan dan akhlaq yang mulia. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,
“Bila telah datang (untuk melamar) kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan perangainya (akhlaqnya), maka nikahkanlah dia. Bila kalian tidak melakukannya, niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang merajalela.” (HR. Tirmizi, Thabrani, Al-Baihaqi)

Bila islam mengajarkan agar senantiasa memilih pasangan hidup yang shaleh atau shalihah, maka sebaliknya Islam juga memperingatkan umatnya agar tidak memilih pasangan hidup yang tidak shalih atau shalihah. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula). Dan wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (QS. An Nur: 26)

Ayat ini terlihat seperti pengabaran, akan tetapi apabila kita merujuk kembali tafsir ayat ini sebenarnya berisi perintah. Perintah tersebut adalah perintah untuk mencari pasangan yang baik agama dan akhlaqnya. Pada kenyataannya ada suami yang shalih, akan tetapi istrinya kurang baik agama dan akhlaqnya. Ada pula yang istrinya shalihah, akan tetapi suaminya kurang baik agama dan akhlaqnya. Ini bukti ayat ini bukan berisi kabar, melainkan perintah. (Tafsir dirujuk dari Tafsir Ibnu Katsir)

Kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta'ala agar dipertemukan dengan pasangan yang baik agama dan akhlaqnya, diberikan kekuatan untuk melangsungkan proses dengan cara yang diridloi-Nya sampai kelak Allah subhanahu wa ta'ala menghalalkan ia untuk kita. Aamiin.

Wallahu waliyyut taufiq..

Selesai ditulis di Malang, pada 13 April 2017
oleh Supriyono Alfarhan
Merujuk dari Kitab Terjemah Tafsir Ibnu Katsir yang ditulis oleh Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah yang diterjemahkan oleh Bahrun Abu Bakar, L.C.

4 komentar:

  1. Barokallah akhi. Semoga diberikan keberkahan di dalam rumah tangga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin..
      Doa yang sama buat antum. Semoga kita juga dijaga di dalam ketaqwaan kepada Allah ta'ala sampai khusnul khatimah. Aamiin..

      Hapus

Jazakumullah khoir