Senin, 16 Januari 2017

Keutamaan Shalat Berjama'ah di Shaf Pertama

Shalat berjama’ah di shaf-shaf terdepan, terutama shaf pertama, memiliki keutamaan yang sangat mulia. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam telah menjelaskan keutamaannya. Diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,
“Seandainya manusia mengetahui pahala yang terdapat pada adzan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan melakukan undian, niscaya mereka akan melakukan undian.” (HR. Bukhari)

Al-Hafizh Ibnu hajar al-Asqalani rahimahullah mengatakan, ”Abu asy-Syaikh menambahkan dalam riwayatnya dari jalan al A’raj, dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu: ‘Berupa kebaikan dan keberkahan.’”(Fathul Baari II/96)

Ath-Thayyibi memberikan ta’liq (komentar) atas hadits yang mulia ini, “Nabi shalallahu ‘Alaihi wassalam tidak menjelaskan keutamaannya, hal ini menunjukkan kepada sesuatu yang sangat mendalam dan termasuk sesuatu yang tidak dapat disifati. Demikian pula penggambaran keadaan perlombaan dengan undian di dalamnya, merupakan sesuatu yang mendalam. Karena ini tidak terjadi kecuali pada sesuatu yang diperlombakan oleh orang-orang yang saling berlomba.” (Dinukil dari Syarh al Kirmaani li Shahiih al Bukhari V/16)

1. Shaff-shaff pertama seperti shaffnya Malaikat

Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab radhiallahu 'anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Sesungguhnya shaf pertama seperti shaffnya Malaikat. Seandainya kalian mengetahui keutamaannya, niscaya kalian berlomba-lomba kepadanya.” (HR.Abu Dawud, Ahmad)

Syaikh Ahmad Abdurrahman al-Banna berkata ketika menjelaskan, ”Seperti shaff Malaikat” “Yakni dalam hal kedekatan kepada Allah ta’ala, turunnya rahmat, kesempurnaan, dan kelurusannya.” (Buluughul Amaani min Asraaril Fath ar Rabbani V/171)

2. Allah dan Malaikat-Nya bershalawat kepada shaff-shaff terdepan

Dalam hadits riwayat Imam Ahmad dari Abu Umamah radhiallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada shaff pertama. “Mereka (para sahabat) berkata, ”Wahai Rasulullah, dan juga kepada shaff kedua?” Beliau menjawab,” Sesunguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada shaff pertama.” Mereka berkata,” Wahai Rasulullah, dan juga kepada shaff kedua?” Beliau menjawab,” Dan kepada shaff kedua.” (HR. Ahmad, di hasankan oleh Syaikh al Albani)

Makna shalawat Allah atas mereka-sebagaimana dikatakan oleh Imam ar-Raghib al-Ashfahani bahwasanya Allah menyucikan mereka. Sedangkan yang dimaksud dengan shalawat Malaikat-sebagaimana dinyatakan oleh Imam al Ashfahani adalah do’a dan istighfar. (Al-Mufradaat fii Ghariibil Qur’an, topic ash shalah, hal 285)

Allahu Akbar! Betapa bahagianya orang yang berada di shaff terdepan dalam shalat berjama’ah lalu Allah menyucikannya dan para Malaikat mendo’akan serta memohonkan ampunan untuknya. Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan mereka.

3. Nabi yang mulia shalallahu ‘alaihi wassalam bershalawat (memohonkan ampun) kepada shaff pertama dan kedua

Imam an Nasa'i meriwayatkan dari al ‘Irbadh bin Sariyah radhiallahu 'anhu, dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam,
“Bahwa beliau bershalawat kepada shaff pertama sebanyak tiga kali dan kepada shaff kedua satu kali.” (HR. an Nasa'i, dishahihkan oleh Syaikh al Albani)

Makna bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bershalawat sebanyak tiga kalisebagaimana dikatakan oleh al-‘Allamah as-Sindi bahwa beliau mendoakan mereka agar mendapatkan rahmat dan memohonkan ampunan untuk mereka sebanyak tiga kali. (Lihat Haasyiyah al Imam as Sindi II/93)

Betapa bahagianya orang yang didoakan dan dimohonkan ampunan oleh kekasih Rabb semesta alam dan manusia yang paling mulia bagi-Nya. Shalawat dan salam senantiasa terlimpah atasnya.

Semoga kita diberikan kekuatan oleh Allah ta'ala untuk senantiasa istoqomah shalat berjama'ah di masjid, dan mendapatkan shaf di barisan pertama.

Selesai ditulis di Malang, pada 16 Januari 2017
oleh Supriyono Alfarhan
Mengutip dari Kitab (edisi Indonesia) Wajibnya Shalat Berjama’ah di Masjid bagi Laki-laki, penulis Syaikh DR. Fadhl Ilahi, cetakan Pustaka Ibnu Katsir

5 komentar:

  1. Terimakasih atas ilmunya. Kalau akhwat,apakah tetap shaf pertama adalah yang terbaik? Soalnya saya pernah dengar, kalau akhwat shaf yg terbaik itu yg dibelakang

    BalasHapus
  2. Terimakasih atas ilmunya. Kalau akhwat,apakah tetap shaf pertama adalah yang terbaik? Soalnya saya pernah dengar, kalau akhwat shaf yg terbaik itu yg dibelakang

    BalasHapus
  3. Barokallahufikum.
    Hukum-hukum yang ditetapkan dalam shaf-shaf wanita sama dengan hukum-hukum yang ditetapkan dalam shaf-shaf pria dalam hal meluruskan, menertibkan dan mengisi shaf yang kosong. Kemudian jika di antara kaum pria dan wanita tidak ada tabir, maka sebaik-baiknya shaf wanita adalah yang paling belakang, karena shaf yang paling belakang itu adalah yang paling jauh dari kaum pria, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits, akan tetapi jika diantara kaum pria dan kaum wanita terdapat tabir pemisah, maka sebaik-baik shaf wanita adalah yang paling depan, karena dengan adanya tabir berarti sesuatu keburukan yang dikhawatirkan terjadi antara pria dan wanita telah hilang, disamping itu, shaf yang terdepan lebih dekat kepada imam. Wallahu a’lam.

    BalasHapus
  4. Ngomong2 soal sholat dan shaf, bagaimana hukumnya ikhwan dan akhwat yg bukan mahram sholat berjamaah hanya berdua?

    BalasHapus
  5. Tidak boleh berduaan laki-laki dan perempuan yang bukan mahram meskipun dalam hal shalat. Karena adanya larangan berduaan. Apabila dikembalikan ke kaidah fiqh tidak menjadikan baik sesuatu yang asalnya maksiat dengan diperantarai kebaikan. Apabila kondisinya hanya berdua laki-laki dan perempuan bukan mahram lebih baik shalat sendiri.

    BalasHapus

Jazakumullah khoir