Jumat, 27 Januari 2017

Mahasiswa Kuliah Umum Sambil Mendalami Ilmu Agama

Hampir setiap harinya mahasiswa disibukan dengan kegiatan-kegiatan di kampus. Mulai dari kesibukan dengan berbagai tugas, presentasi di kelas, menyusun laporan praktikum, menyusun tugas akhir / skripsi pada semester akhir, sampai berbagai kesibukan di organisasi. Pasti ada keraguan yang terlintas di pikiran kita, apakah mungkin mahasiswa dengan sekian kesibukan bisa dibarengi dengan menuntut ilmu agama? Jawabannya mungkin sekali, segala kemudahan itu datangnya dari Allah. Sangat mungkin seorang alumni mahasiswa teknik menjadi ahli fiqih. Sangat mungkin pula seorang alumni mahasiswa ekonomi menjadi pakar hadits. Semua itu bisa terwujud karena anugerah dan kemudahan dari Allah. Pada tulisan kali ini dibahas tentang tips bagaimana mahasiswa yang katanya mempunyai segudang kesibukan, bisa menuntut ilmu agama.

Kalau kita pikir lagi, mahasiswa sebenarnya punya banyak waktu senggang. Tidak setiap saat mahasiswa mendapatkan tugas dari dosennya. Tidak setiap hari juga mengerjakan laporan praktikum. Tidak setiap detik pula stanby di sekretariat himpunan atau BEM. Cuma kebanyakan mahasiswa menyia-nyiakan waktunya dengan hal-hal yang kurang bermanfaat untuk dunia dan akhiratnya. Ada juga yang memang kurang peduli terhadap ilmu agamanya.

Kebanyakan mahasiswa bisa menyisihkan waktu untuk mendaki ke gunung, atau jalan-jalan ke pantai bersama teman-temannya menjelang ujian akhir semester. Tak jarang juga seorang aktivis organisasi kampus yang masih sempat untuk fitness pada pekan-pekan ujian harian mata kuliah maupun tengah semester. Mereka juga masih bisa begadang semalaman untuk menonton pertandingan bola meskipun tugas dan laporan praktikum menumpuk karena tak kunjung selesai dikerjakan. Ada juga mahasiswa yang bisa menyisihkan waktu berjam-jam di depan layar smartphonenya untuk update status, foto, dan video di Facebook, Instagram, Telegram, dan semacamnya. Namun disayangkan sekali, untuk urusan belajar ilmu agama bisa menjadi prioritas ke sekian baginya. Padahal ilmu agama adalah petunjuk bagi setiap orang. Apakah ilmunya selama kuliah di kampus ia gunakan di jalan yang Allah subhanahu wa ta'ala ridhoi? Atau kah ilmunya selama ia kuliah di kampus ia gunakan di jalan yang Allah subhanahu wa ta'ala murkai demi mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia? Ilmu agama juga merupakan kunci kebahagiaan seseorang. Banyak diantara alumni kampus yang sudah bekerja, namun ia tidak merasakan kebahagiaan di hatinya. Tuntutan kebutuhan hidup membuatnya mudah setres. Seolah ia lupa bahwa Allah memiliki sifat Ar-Razaq. Ar-Razaq yaitu Yang Maha Pemberi Rizki bagi hamba-hambanya.

Mereka bisa menyisihkan waktu untuk urusan dunia bahkan yang sia-sia sekalipun. Namun untuk hal yang menyangkut pendidikan agama, di mana ini penting sekali, mereka tidak bisa membagi waktu dengan baik. Coba kita renungkan firman Allah subhanahu wa ta'ala berikut,

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia. Sedangkan mereka lalai tentang (kehidupan) akhirat.”
(QS. Ar Ruum: 7)

Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi hafizhohullah menjelaskan, “Mereka mengetahui kehidupan dunia secara lahiriah saja seperti mengetahui bagaimana cara mengais rizki dari pertanian, perindustrian dan perdagangan. Di saat itu, mereka benar-benar lalai dari akhirat. Mereka sungguh lalai terhadap hal yang wajib mereka tunaikan dan harus mereka hindari, di mana penunaian ini akan mengantarkan mereka selamat dari siksa neraka dan akan menetapi surga Ar Rahman.” (Aysarut Tafasir, 4/124-125)

Menuntut ilmu agama harus ada kemauan yang kuat dari dalam hati disertai kesadaran pentingnya belajar ilmu agama sehingga muncul keikhlasan. Tips selanjutnya yaitu pintar membagi waktu. Cobalah membagi waktu mulai dari setelah sholat subuh. Ada waktu sekitar satu sampai satu setengah jam antara ba'da sholat subuh sampai matahari terbit. Kita sisihkan sejenak waktu di kala itu untuk menambah ilmu agama baik dengan membaca buku atau mendengarkan rekaman kajian. Karena di waktu itu pikiran masih segar, sehingga mudah bagi kita untuk menghafal atau memahami sesuatu, di samping waktu antara subuh dan terbitnya matahari adalah waktu yang mustajab. Ketika waktu-waktu shalat atau waktu senggang saat di kampus, sejenak kita bisa gunakan untuk membaca Al-Qur’an, setelah itu mengerjakan tugas-tugas kampus sehingga tidak menumpuk pada keesokan harinya. Pulang dari kampus pada sore hari bisa istirahat sejenak untuk menghilangkan rasa capek. Di sore hari sebelum maghrib bisa berangkat ke majelis ilmu di masjid-masjid guna untuk menuntut ilmu agama di waktu antara maghrib sampai isya'. Di waktu malam bisa digunakan untuk mengerjakan tugas kuliah, laporan praktikum, dan belajar untuk kuliah esok harinya. Sebelum tidur bisa digunakan mengingat-ingat isi materi kajian yang disampaikan di majelis ilmu. Apabila kita mempunyai hobi menulis, maka tulislah inti materi yang disampaikan tersebut. Karena dengan menulis akan menguatkan ingatan dan memperdalam pemahaman kita.

Ayo para mahasiswa, mulai sekarang kita atur lagi waktu kita. Mana waktu yang seharusnya digunakan untuk urusan dunia, dan mana waktu yang seharusnya digunakan untuk urusan akhirat. Jangan lupa berdoa meminta pertolongan kepada Allah subhanahu wa ta'ala  agar dimudahkan kuliah sambil belajar ilmu agama. Doa ini amat sangat menolong. Jika kita memohon kemudahan pada Allah, pasti segala urusan yang nampak sulit menjadi mudah pelaksanaannya. Bahkan suatu saat kita bisa menjadi pakar pula dalam bidang tertentu di dalam ilmu agama, dan bisa turut membantu dakwah agar tersebar seantero negeri kita ini.

Semoga Allah memudahkan kita, para mahasiswa untuk mendapatkan prestasi di dunia yang oke, dan ngajinya juga "yes"

Selesai ditulis di Malang, pada 27 Januari 2017
oleh Supriyono Alfarhan

Senin, 16 Januari 2017

Keutamaan Shalat Berjama'ah di Shaf Pertama

Shalat berjama’ah di shaf-shaf terdepan, terutama shaf pertama, memiliki keutamaan yang sangat mulia. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam telah menjelaskan keutamaannya. Diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,
“Seandainya manusia mengetahui pahala yang terdapat pada adzan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan melakukan undian, niscaya mereka akan melakukan undian.” (HR. Bukhari)

Al-Hafizh Ibnu hajar al-Asqalani rahimahullah mengatakan, ”Abu asy-Syaikh menambahkan dalam riwayatnya dari jalan al A’raj, dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu: ‘Berupa kebaikan dan keberkahan.’”(Fathul Baari II/96)

Ath-Thayyibi memberikan ta’liq (komentar) atas hadits yang mulia ini, “Nabi shalallahu ‘Alaihi wassalam tidak menjelaskan keutamaannya, hal ini menunjukkan kepada sesuatu yang sangat mendalam dan termasuk sesuatu yang tidak dapat disifati. Demikian pula penggambaran keadaan perlombaan dengan undian di dalamnya, merupakan sesuatu yang mendalam. Karena ini tidak terjadi kecuali pada sesuatu yang diperlombakan oleh orang-orang yang saling berlomba.” (Dinukil dari Syarh al Kirmaani li Shahiih al Bukhari V/16)

1. Shaff-shaff pertama seperti shaffnya Malaikat

Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab radhiallahu 'anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Sesungguhnya shaf pertama seperti shaffnya Malaikat. Seandainya kalian mengetahui keutamaannya, niscaya kalian berlomba-lomba kepadanya.” (HR.Abu Dawud, Ahmad)

Syaikh Ahmad Abdurrahman al-Banna berkata ketika menjelaskan, ”Seperti shaff Malaikat” “Yakni dalam hal kedekatan kepada Allah ta’ala, turunnya rahmat, kesempurnaan, dan kelurusannya.” (Buluughul Amaani min Asraaril Fath ar Rabbani V/171)

2. Allah dan Malaikat-Nya bershalawat kepada shaff-shaff terdepan

Dalam hadits riwayat Imam Ahmad dari Abu Umamah radhiallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada shaff pertama. “Mereka (para sahabat) berkata, ”Wahai Rasulullah, dan juga kepada shaff kedua?” Beliau menjawab,” Sesunguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada shaff pertama.” Mereka berkata,” Wahai Rasulullah, dan juga kepada shaff kedua?” Beliau menjawab,” Dan kepada shaff kedua.” (HR. Ahmad, di hasankan oleh Syaikh al Albani)

Makna shalawat Allah atas mereka-sebagaimana dikatakan oleh Imam ar-Raghib al-Ashfahani bahwasanya Allah menyucikan mereka. Sedangkan yang dimaksud dengan shalawat Malaikat-sebagaimana dinyatakan oleh Imam al Ashfahani adalah do’a dan istighfar. (Al-Mufradaat fii Ghariibil Qur’an, topic ash shalah, hal 285)

Allahu Akbar! Betapa bahagianya orang yang berada di shaff terdepan dalam shalat berjama’ah lalu Allah menyucikannya dan para Malaikat mendo’akan serta memohonkan ampunan untuknya. Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan mereka.

3. Nabi yang mulia shalallahu ‘alaihi wassalam bershalawat (memohonkan ampun) kepada shaff pertama dan kedua

Imam an Nasa'i meriwayatkan dari al ‘Irbadh bin Sariyah radhiallahu 'anhu, dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam,
“Bahwa beliau bershalawat kepada shaff pertama sebanyak tiga kali dan kepada shaff kedua satu kali.” (HR. an Nasa'i, dishahihkan oleh Syaikh al Albani)

Makna bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bershalawat sebanyak tiga kalisebagaimana dikatakan oleh al-‘Allamah as-Sindi bahwa beliau mendoakan mereka agar mendapatkan rahmat dan memohonkan ampunan untuk mereka sebanyak tiga kali. (Lihat Haasyiyah al Imam as Sindi II/93)

Betapa bahagianya orang yang didoakan dan dimohonkan ampunan oleh kekasih Rabb semesta alam dan manusia yang paling mulia bagi-Nya. Shalawat dan salam senantiasa terlimpah atasnya.

Semoga kita diberikan kekuatan oleh Allah ta'ala untuk senantiasa istoqomah shalat berjama'ah di masjid, dan mendapatkan shaf di barisan pertama.

Selesai ditulis di Malang, pada 16 Januari 2017
oleh Supriyono Alfarhan
Mengutip dari Kitab (edisi Indonesia) Wajibnya Shalat Berjama’ah di Masjid bagi Laki-laki, penulis Syaikh DR. Fadhl Ilahi, cetakan Pustaka Ibnu Katsir

Kamis, 05 Januari 2017

Perumpamaan Ilmu Agama Seperti Air Hujan

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam memberikan perumpamaan ilmu agama seperti  air hujan yang turun ke bumi. Air hujan yang turun ke bumi tentu memberikan banyak manfaat bagi makhuq yang hidup di bumi. Demikian juga dengan ilmu agama. Ilmu agama memberikan banyak manfaat bagi siapa saja yang mau memahami dan mengamalkannya. Dengan ilmu agama, seorang hamba Allah dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Adapun keutamaan mempelajari ilmu agama telah dibahas pada postingan sebelumnya (Baca Klik Disini).

Dari Abu Musa, Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا ، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ ، فَأَنْبَتَتِ الْكَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ ، وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ ، فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ ، فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا ، وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى ، إِنَّمَا هِىَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً ، وَلاَ تُنْبِتُ كَلأً ، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقِهَ فِى دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ ، فَعَلِمَ وَعَلَّمَ ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا ، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ

“Permisalan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya adalah bagai ghaits (hujan yang bermanfaat) yang mengenai tanah. Maka ada tanah yang baik, yang bisa menyerap air sehingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Di antaranya juga ada tanah yang ajadib (tanah yang bisa menampung air, namun tidak bisa menyerap ke dalamnya), maka dengan genangan air tersebut Allah memberi manfaat untuk banyak orang, sehingga manusia dapat mengambil air minum dari tanah ini. Lalu manusia dapat memberi minum untuk hewan ternaknya, dan manusia dapat mengairi tanah pertaniannya. Jenis tanah ketiga adalah  tanah qi’an (tanah yang tidak bisa menampung dan tidak bisa menyerap air). Inilah permisalan orang yang memahami agama Allah, bermanfaat baginya ajaran yang Allah mengutusku untuk membawanya. Dia mengetahui ajaran Allah dan dia mengajarkan kepada orang lain. Dan demikianlah orang yang tidak mengangkat kepalanya terhadap wahyu, dia tidak mau menerima petunjuk yang Allah mengutusku untuk membawanya.”
(H.R. Bukhari dan Muslim)

Dari hadits di atas, sikap manusia terhadap ilmu agama digolongkan menjadi 3 tingkatan yaitu,

1. Tingkatan Pertama
Orang-orang yang meraih ilmu, mengamalkannya, mendalaminya, dan bisa menarik berbagai kesimpulan hukum darinya. Mereka terlahir menjadi para Hafizh (penghafal hadits) dan Fuqaha (ahli fikih). Mereka menyampaikan ilmu dan mengajarkannya kepada orangorang, dan mereka bisa memahamkan orang lain, memberikan pencerahan dan faidah kepada mereka. Di antara mereka ada yang berprofesi sebagai mu’allim (pengajar) dan ada yang menjadi muqri’ (pembaca), serta ada juga yang menjadi da’i ilallah ‘azza wa jalla atau menjadi mudarris (guru) yang mengajarkan ilmu dan profesi-profesi lainnya yang merupakan bentuk-bentuk pengajaran dan penularan pemahaman.

2. Tingkatan Kedua
Orang-orang yang mampu menghafalkan ilmu dan menyampaikannya kepada para ulama lain yang sudah dibukakan pemahaman ilmu baginya sehingga mereka bisa menarik berbagai kesimpulan hukum dari berita yang didapatkannya. Maka dengan begitu kedua kelompok ini sama-sama memperoleh pahala dan ganjaran yang sangat besar dan melimpah serta bisa memberikan manfaat luas kepada umat.

3. Tingkatan Ketiga
Adapun kebanyakan orang yang ada, perumpamaan mereka itu ialah seperti tanah yang keras dan licin sehingga tidak bisa menampung air dan tidak mampu menumbuhkan rerumputan. Hal itu terjadi disebabkan mereka sengaja berpaling, lalai serta tidak mau menaruh perhatian terhadap ilmu agama.

Demikianlah 3 tingkatan sikap manusia terhadap ilmu agama. Semoga Allah memberikan kita keistiqomahan dalam mencari ilmu agama. Semoga Allah memberikan kita ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amalan sholeh.

Selesai ditulis di Malang, pada 5 Januari 2017
oleh Supriyono Alfarhan
Merujuk dari Fadhlul ‘Ilmi wa Syarfu Ahlihi dari mauqi’ (website) Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah yang diterjemahkan oleh Abu Muslih