Jumat, 16 Desember 2016

Resensi Kitab Ad-Daa’ wa ad-Dawaa’ (Penyakit dan Obatnya)

versi terjemahan Indonesia

versi teks Arab

Kitab Ad-Daa’ wa ad-Dawaa’ adalah sebuah karya besar dan fenomenal di bidang akhlak, tarbiyah, dan tazkiyatunnufus. Penulisnya, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, adalah seorang ulama ahlussunnah yang mahsyur dan penulis buku berbobot yang hidup pada abad ke-8 H. Buku ini berbicara panjang lebar serta sempurna di berbagai masalah tarbiyah dan tazkiyatun-nufus, mulai dari pentingnya do’a bagi seorang hamba serta hubungan do’a dengan takdir.

Buku ini berisi tentang terapi terhadap berbagai macam penyakit hati. Bahaya penyakit hati di dunia dan di akhirat, serta terapi atau obat mujarabnya berdasarkan al-Qur-an dan as-Sunnah. Di samping itu, buku ini penuh dengan nasihat, petuah, peringatan, pelajaran, hikmah, dan ilmu pengetahuan yang sangat dibutuhkan oleh siapa saja yang menginginkan keselamatan, kesehatan, keberhasilan, dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Sebagai muqaddimah, di awal pembahasan dijelaskan tentang pentingnya do'a dan kaitannya dangan takdir. Lalu dilanjutkan dengan macam-macam maksiat dan dosa serta dampak negatifnya terhadap pelakunya. Pada pembahasan berikutnya penulis berbicara tentang hukuman Alloh Tabarraka Wa Ta'ala terhadap pelaku dosa dan jenis-jenis hukumannya, lalu disusul dengan syirik dan macam-macamnya. Di dalam buku ini juga dibahas tentang dosa besar, seperti membunuh, berzina, berbuat zhalim, dan lain-lain serta dampak negatif perbuatan tersebut terhadap pelakunya. Bahkan, dibahas juga mengenai cinta dan tingkatan-tingkatannya, hingga masalah kasmaran (mabuk asmara, mabuk cinta), penyelewengan seksual beserta hukumannya.

Demikianlah, begitu banyak permasalahan yang disebutkan Ibnul Qayyim secara panjang lebar. Beliau memaparkan berbagai hal, baik yang halus (tersirat) maupun yang tampak (tersurat) dari hakikat ilmu, disertai dengan penjelasan tentang pengawasan dan pengoreksian ulang terhadap jiwa. Semua pembahasan ini membuat penuntut ilmu sangat membutuhkan kitab ini. 

Anda akan dibuat terpesona oleh uraian-uraian penulis yang sangat dalam dan kuat, halaman demi halaman. Anda pun akan terpuaskan dari dahaga ilmu yang bermanfaat.

"Setiap penyakit pasti ada obatnya. Apabila obat tersebut sesuai dengan penyakitnya, maka ia akan sembuh dengan izin Allah".
(Shahiih Muslim No.2204)

Selesai ditulis di Malang, pada 16 Desember 2016
oleh Supriyono
Dinukil dari Resensi Kitab Terjemahan  Ad-Daa’ wa ad-Dawaa’ oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i

3 komentar:

  1. Assalamualaikum ustadz. Saya mau tanya. Bagaimana cara mengobati iman yang naik turun?
    Terkadang rajin untuk melakukan ibadah dsb, terkadang juga tdk istiqomah.

    BalasHapus
  2. Wa'alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh.
    Terimakasih atas pertanyaannya. Semoga Allah senantiasa menjaga antum di atas kebaikan.
    Yang pertama adalah banyak menyibukan diri dengan majelis ilmu, mengkaji ilmu agama. Penting juga untuk berilmu tentang keutamaan-keutamaan ibadah yang kita lakukan sehari-hari agar kita semangat di dalam beribadah.
    Yang kedua, mengoreksi hati. Apakah niat kita untuk beribadah karena Allah atau karena manusia. Apabila di dalam beribadah hati bersandar kepada manusia, maka ia akan menjadi malas beribadah tatkala tidak dilihat manusia.
    Yang ketiga, hendaknya kita membagi waktu kita dengan baik. Mana waktu yang seharusnya untuk aktivitas dunia, mana waktu yang seharusnya untuk kehidupan akhirat kita. Manusia tak luput dari kecintaan pada dunia, dan itu pasti, dan dibolehkan di dalam islam. Akan tetapi islam juga mengatur batas-batasnya. Jangan gunakan semua waktu kita sehari-hari hanya untuk dunia karena dunia yang berlebihan bisa melalaikan kita dari nikmatnya beribadah kepada Allah, dan lupa akan kehidupan akhirat kita.
    Yang keempat, hendaknya kita memperhatikan teman bergaul kita. Ini penting, teman bergaul bisa membawa kita kepada kebaikan, bisa juga membawa kita kepada kekufuran. Awalnya kita tidak merasa karena keasyikan. Awal-awal meninggalkan sholat tepat waktu, lama-lama jadi malas sholat 5 waktu. Demikian pula sebaliknya. Teman yang baik akan mengingatkan dan mengajak kita untuk dekat kepada Allah. Kita diajak datang ke majelis taklim mengkaji ilmu-ilmu Allah, diajak untuk sholat berjama'ah di masjid, dan kebaikan-kebaikan lainnya.
    Yang kelima, hendaknya menjaga dzikir dan doa meminta pertolongan kepada Allah. Hati manusia itu lemah. Tidak akan selamat hati manusia kecuali yang ditolong oleh Allah. Salah satu wasilah untuk mendapat pertolongan Allah yaitu dengan doa dan dzikir.
    Yang keenam, hendaknya kita banyak membaca kisah para nabi dan rosul, kisah para sahabat rosul, kisah para ulama. Disitu kita akan menemukan sosok yang hebat. Sosok yang optimis di dalam kehidupan dan bertaqwa kepada Allah. Orang islam tidak boleh pesimis. Apalagi pesimis kepada pertolongan Allah, ini dilarang, dan pesimis yang seperti ini bisa menjadi penghalang untuk mendapat pertolongan Allah. Orang islam harus optimis.

    BalasHapus

Jazakumullah khoir