Rabu, 07 Desember 2016

Manfaat Membaca Kisah Orang-orang Shalih

Manusia hidup di dunia tidak lepas dari mengidolakan seseorang. Apakah yang ia idolakan orang-orang yang shalih atau orang-orang ahli maksiat yang gaya hidupnya jauh dari syariat islam. Mengidolakan seseorang akan membentuk karakter seseorang, terutama pada anak-anak. Oleh karena itu sangat perlu kita memilih idola yang baik bagi diri kita maupun keluarga, yaitu idola orang-orang shalih. Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Seseorang itu bersama orang yang dicintainya pada hari kiamat.”
(H.R. Bukhari, Muslim)

Membaca biografi orang-orang sholeh atau para Ulama merupakan salah satu penyemangat dan obat bagi mereka yang haus akan suri tauladan yang baik, sebagaimana perkataan Umar bin al-Khattab radiyallahu 'anhu berkata:
“Hendaklah kalian mendengar cerita-cerita tentang orang-orang yang memiliki keutamaan, kerana hal itu termasuk dari kemuliaan dan padanya terdapat kedudukan dan kenikmatan bagi jiwa”. (‘Ainul Adab wa As-Siyasah: 158)

Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad As-Sadhan dalam mukaddimah kitabnya al-Imam Ibnu Baz: Durus wa Mawaqif wa ‘Ibar berkata,
“Para ahli ilmu menaruh perhatian besar terhadap biografi-biografi para ulama. Ada yang menulis kitab tentang biografi seorang imam saja, misalnya Qadhi Isa Az-Zawawi menulis biografi Imam Malik bin Anas. Al-Baihaqi, Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar al-Asqalani menulis secara khusus tentang biografi Imam Asy-Syafi'i. Sedangkan Ibnul Jauzi menulis manaqib Imam Ahmad. Adapula sebahagian ahli ilmu yang menempuh cara lain yaitu mereka menulis biografi ulama berdasarkan thabaqah (tingkatan) ulama yang masa hidup, daerah, ilmu atau mazhabnya yang sama. Seperti Ath-Thabaqatus Sunniyah fi Tarajimil Hanafiyah karya Taqiyuddin bin Abdul Qadir Ad-Darimi. Ada juga penulisan berdasarkan disiplin ilmu tertentu seperti Thabaqatul Mufassirin, yang mana Ad-Dawudi dan As-Suyuti telah menulisnya. Adapula yang menulis secara khusus para ulama di daerah atau tempat tertentu, seperti Tarikh Baghdad karangan Khatib al-Baghdadi."

Para ulama semua merupakan teladan dalam Islam (setelah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam) dan juga sebagai idola yang baik. Membaca kisah-kisah dan sejarah-sejarah tentang orang yang memiliki keutamaan akan memberikan kesenangan dalam jiwa seseorang. Kisah-kisah tersebut akan melegakan hati serta mengisi kehampaan. Membentuk watak yang penuh semangat dilandasi kebaikan, serta dapat menghilangkan rasa malas.

Selesai ditulis di Malang, pada 7 Desember 2016
oleh Supriyono
Referensi: Buku Terjemahan dari bahasa arab "Biografi 60 Ulama Ahlussunnah", oleh Syaikh Ahmad Farid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jazakumullah khoir