Jumat, 18 November 2016

Makna Doa Berlindung dari Rasa Malas

Ada orang yang berkeinginan kuat untuk melakukan ibadah, akan tetapi fisiknya tidak mendukung untuk mengamalkannya. Demikian pula sebaliknya, ada yang diberi fisik yang kuat, akan tetapi tidak bisa melakukan amalan sholih. Misal, ada orang yang fisiknya kuat, mengangkat beberapa karung 50 kg sendirian mampu dari truk ke toko, akan tetapi tidak mampu berjalan 50 meter ke masjid untuk sholat berjama'ah. Padahal berjalan kaki menuju masjid untuk sholat berjama'ah dapat menggugurkan dosa dan mengangkat derajat (baca keutamaan sholat berjama'ah di masjid). Kita diperintahkan oleh Allah untuk berlindung dari dua perkara tersebut.

Salah satu doa yang mana termasuk doa yang singkat namun penuh makna disebutkan oleh Imam An-Nawawi di dalam Kitab Riyadhus Shalihin yaitu, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca doa:


اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ


“Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat."

Yang artinya: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian”.
(HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706)

Faedah dari hadits di atas:

1. Meminta perlindungan dari sifat ‘ajz, yaitu tidak adanya kemampuan untuk melakukan kebaikan. Demikian keterangan dari An-Nawawi rahimahullah.

2. Meminta perlindungan dari sifat kasal, yaitu tidak ada atau kurangnya dorongan (motivasi) untuk melakukan kebaikan padahal dalam keadaan mampu untuk melakukannya. Beda dengan ‘ajz yaitu tidak ada kemampuan sama sekali, sedangkan kasal itu masih ada kemampuan, namun tidak ada dorongan untuk melakukan kebaikan.

3. Meminta perlindungan dari sifat jubn, artinya berlindung dari rasa takut (lawan dari berani), yaitu berlindung dari sifat takut untuk berperang atau tidak berani untuk beramar ma’ruf nahi mungkar.

4. Meminta perlindungan dari al-harom, artinya berlindung dari kembali pada kejelekan umur (di masa tua). Pada masa tua, pikiran sudah mulai kacau, kecerdasan dan pemahaman semakin berkurang, dan tidak mampu melakukan banyak ibadah.

5. Meminta perlindungan dari sifat bukhl, artinya berlindung dari sifat pelit (kikir). Yaitu do’a ini berisi permintaan agar seseorang bisa menunaikan hak pada harta dengan benar, sehingga memotivasinya untuk rajin berinfak (yang wajib atau yang sunnah), bersikap dermawan dan berakhlak mulia. Juga do’a ini memaksudkan agar seseorang tidak tamak dengan harta yang tidak ada padanya.

6. Meminta perlindungan dari siksa kubur.

7. Meminta perlindungan dari fitnah (cobaan) ketika hidup dan mati. Ibnu Daqi Al ‘Ied mengatakan, “Fitnah kehidupan adalah fitnah yang dihadapi manusia semasa ia hidup yaitu berupa fitnah-fitnah dunia (harta), fitnah syahwat, kebodohan dan yang paling besar dari itu semua yaitu cobaan di ujung akhir menjelang kematian. Boleh jadi fitnah kematian juga bermakna fitnah (cobaan) di kubur.”

Mari kita amalkan doa yang singkat ini namun penuh dengan makna. Rasulullah mengamalkan doa ini, begitu pula para sahabat. Padahal para sahabat hidup bersama Rasulullah, hidup di jaman keemasan islam, masih diperintahkan untuk memohon pertolongan kepada Allah dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, sifat kikir, siksa kubur, dan bencana ketika hidup maupun ketika meninggal dunia. Apalagi kita yang imannya jauh di bawah imannya para sahabat, sering terjerumus ke dalam maksiat.

Semoga sajian yang singkat ini bermanfaat.

Selesai ditulis di Malang, pada 18 November 2016
oleh Supriyono
Merujuk dari kitab Syarah Riyadush Shalihin bab Dzikir di Waktu Pagi dan Sore, oleh Imam An-Nawawi rahimahullah

5 komentar:

  1. Assalamu'alaykum
    Ustad, apakah maksud dari hadits yang intinya Allah tidak menerima doa orang yang lalai?
    Jazakumullah khoir.

    BalasHapus
  2. Wa'alaykumsalam
    Terimakasih atas pertanyaannya yang bagus sekali. Semoga Allah memberikan balasan kebaikan yang banyak kepada antum.
    Tentang fiqh doa, Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai maksudnya orang tersebut hanya mengucapkan doa di lisan, tanpa diikuti hati yang benar-benar butuh kepada Allah. Di sisi lain, Ibnu Katsir menyebutkan lalainya hati, pangkalnya adalah maksiat. Orang yang banyak maksiat, hatinya tertutup dari nikmatnya bermunajat kepada Allah. Ini adalah sebagai hukuman di dunia atas maksiatnya. Kita berlindung kepada Allah dari maksiat.
    Allahu'alam.

    BalasHapus
  3. Ustad, adab berdoa yang baik dan benar itu bagaimana ya? Kalau berdoanya di luar solat, hanya dengan membatin saja apa ya itu sudah termasuk berdoa?

    BalasHapus
  4. Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin rahimahullah di dalam kitabnya yaitu fiqh doa berkata yang intinya "Orang yang berdoa mirip orang yang memanah. Pertama ia punya sasaran. Di dalam berdoa sasarannya hanya kepada Allah, tidak selain-Nya. Kedua harus ada busur dan panah. Maksudnya berdoa sebaik baik doa adalah dengan doa yang diajarkan Rasulullah di dalam Al-Qur'an dan Hadits. Adapun dengan bahasa yang masing-masing daerah selama dimengerti dan benar maknanya maka boleh. Ketiga harus ada tarikan yang kuat. Maksudnya adanya dorongan kekuatan hati. Benar-benar merasa butuh kepada Allah untuk terkabulnya doa."

    Berdoa tidak dibatasi waktu. Di luar sholat boleh berdoa, termasuk hanya sekedar di dalam hati. Allahu'alam.

    BalasHapus

Jazakumullah khoir