Selasa, 01 November 2016

Iman Memiliki Rasa Manis

Kebahagiaan pasti dicari oleh setiap manusia. Kita siap mengorbankan apa pun yang berharga termasuk jiwa demi memperoleh kebahagiaan itu. Banyak manusia mendefinisikan kebahagiaan, namun yang pasti kebahagiaan hakiki bukan pada banyaknya harta, tingginya kedudukan atau status sosial, walaupun kebanyakan manusia menilai kebahagiaan dengan banyaknya harta yang dikumpulkan. Banyak orang di dunia ini yang hidup bergelimang harta, akan tetapi hidupnya tak pernah merasakan ketenangan batin, hidupnya penuh dengan masalah, bahkan tak sedikit yang bunuh diri. Di sisi lain banyak orang yang hidupnya sederhana, namun ia bahagia. Kehidupan di dunia ini ibarat air yang turun ke bumi, kemudian menumbuhkan tanaman-tanaman yang membuat kagum para petani, kemudian tanaman itu menguning dan mati.

Islam telah mengajarkan bagaimana seseorang hidup di dunia sehingga mengantarkan kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,
“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sungguh akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sungguh akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. An-Nahl: 96)

Ayat ini menunjukan bahwa kunci kebahagiaan adalah dengan beriman dan beramal shaleh. Dan iman disifati oleh Allah subhanahu wa ta'ala dengan rasa manis. Kita ketahui bahwa sesuatu yang disifati manis secara umum mempunyai arti indah, enak, lezat, dan lain sebagainya yang menunjukan kebaikan. Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
“Tiga hal, siapa yang memilikinya maka dia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai dari pada selainnya, dia mencintai seseorang hanya karena Allah, dan dia benci untuk kembali kepada kekufuran, sebagaimana dia benci untuk dilempar ke neraka.” (Muttafaqun 'alaih)

Iman jika terus dipupuk dengan amalan sholih kemudian dijaga dari segala perkara yang merusaknya sebagaimana seorang memelihara pohon kurma yang sangat ia sayangi, setiap pagi dan sore ia sirami, tidak lupa ia memupuknya dan menjauhkannya dari hama dan penyakit, sungguh orang tersebut senantiasa mendapatkan kebahagiaan dan ketentraman.

Namun yang menjadi pertanyaan sekarang, jika iman dikatakan manis, mengapa kita masih merasakan berat menjaga iman untuk beramal shalih dan menjauhi maksiat?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, ada satu contoh agar kita mudah memahami masalah ini. Kalau misalnya kita membayangkan suatu makanan yang kita anggap paling enak dan lezat, yang rasa enak dan lezatnya makanan ini disepakati oleh semua orang yang sehat dan berakal, misalnya saja sate atau gulai kambing muda (atau makanan apa saja yang dianggap paling enak dan lezat), seandainya makanan ini kita hidangkan dihadapan seorang yang sedang sakit gigi, kira-kira apa yang akan dilakukannya terhadap makanan tersebut? Apakah dia akan menyantapnya sampai habis seperti kalau makanan tersebut kita hidangkan di hadapan orang yang sehat?

Jawabnya tentu saja tidak, karena sebagian dari organ tubuhnya kurang sehat dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya, maka dia tidak bisa merasakan enak dan lezatnya makanan tersebut. Dalam hal ini tentu saja yang kita permasalahkan dan perlu diperbaiki adalah kondisi orangnya dan bukan makanan tersebut. Demikian pula hal ini berlaku pada ibadah-ibadah yang Allah syariatkan kepada kaum muslimin. Manisnya ibadah-ibadah tersebut hanya akan dirasakan oleh orang yang benar-benar sehat imannya. Adapun orang yang kurang sehat imannya karena masih ada penyakit dalam hatinya, maka diapun belum bisa merasakan manisnya iman.

Oleh karena itu yang harus dilakukannya adalah berusaha keras dan berjuang untuk menyembuhkan dan menghilangkan penyakit tersebut. Kita perlu memaksakan diri untuk mempelajari ilmu agama secara beradab kemudian mengamalkannya, dan diistiqomahkan. Awal kita memulainya pasti berat, sebagaimana orang sakit minum obat pasti tidak enak rasanya. Ini adalah proses penyembuhan penyakit di hati kita. Ketika hati kita sudah bersih dari penyakit hati, maka Allah akan memberikan manisnya iman di hati dalam menjalankan amalan-amalan shalih.

Manusia yang telah merasakan manisnya iman, ibadahnya akan terasa nikmat, membaca ayat-ayat Allah hatinya bahagia, dan tak akan mudah setres ketika ditimpa musibah. Ketika ditimpa musibah, ia bersabar dan yakin bahwa tidaklah musibah menimpa melainkan dihapuskan dosa-dosanya oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Manisnya iman menjadi buah yang dirasakan seorang mukmin ketika ia mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan sempurna. Inilah yang menjelaskan mengapa Bilal bin Rabah sanggup menahan panasnya pasir dan terik surya, beratnya batu yang menindihnya, serta hinaan menyakitkan. Dalam kondisi demikian, Bilal bin Rabah tetap melantunkan kalimat iman melalui lisannya: "ahad, ahad...". Manisnya iman buah cinta ini pula yang membuat Khabab bin Arats seakan tak merasakan luka-luka menganga di tubuhnya yang disalib.

Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memberikan kita hidayah...

Selesai ditulis di Malang, pada 1 November 2016
oleh Supriyono
Merujuk dari terjemah buku Manisnya Iman oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di

2 komentar:

  1. Assalamu'alaykum
    Ustad, iman kan manis. Bagimana kita mengkompromikan hadits yang menyatakan iman itu manis sebagaimana yang ustad sebut di atas dengan hadits yang menyatakan bahwa orang yang mempertahankan imannya seperti orang yang memegang bara api yang menyala?
    Mohon penjelasannya.
    Jazakumullah khoir.

    BalasHapus
  2. Wa'alaykumsalam
    Terimakasih kepada Mas Fikri atas pertanyaannya yang bagus sekali.
    Orang yang merasakan berat dalam mempertahankan imannya bahkan sampai disifati seperti memegang bara api yang menyala, ini adalah tahapan awal dalam beriman, di samping ada sebab masih adanya penyakit di hatinya. Untuk mendapatkan manisnya iman, orang harus terus berusaha untuk menuntut ilmu syar'i dan beramal shalih. Ini juga sebagai ujian dari Allah yang mana akan terlihat orang yang sungguh-sungguh beriman dan orang yang tidak sungguh-sungguh beriman. Setelah Allah melihat kesungguhhan hambanya, maka Allah memberikan rasa manisnya iman di hati sebagaimana yang Allah janjikan. Ketika melakukan ibadah, ia merasakan bahwa ibadah itu nikmat bahkan sampai melupakan rasa sakit musibah yang menimpanya sebagaimana yang dikisahkan dalam kisah para nabi, sahabat, tabi'in, dan para ulama.

    BalasHapus

Jazakumullah khoir