Senin, 17 Oktober 2016

Kisah Imam Ahmad dan Penjual Roti (Keutamaan Istighfar)

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, seorang ahli hadits, juga muridnya Imam Syafi'i rahimahullah. Pada masa akhir hidup beliau, sudah putih semua jenggotnya, beliau bercerita, "Satu waktu (ketika saya sudah usia tua) saya tidak tau kenapa ingin sekali menuju ke salah satu kota di Irak". Padahal beliau tidak ada janji sama orang dan tidak ada hajat. Akhirnya Imam Ahmad pergi sendiri menuju ke kota Bashrah.

Beliau bercerita, "Saat tiba disana waktu Isya', saya ikut shalat berjamaah isya di masjid, hati saya merasa tenang, kemudian saya ingin istirahat". Begitu selesai shalat dan jamaah bubar, Imam Ahmad ingin tidur di masjid, tiba-tiba marbot masjid datang menemui Imam Ahmad sambil bertanya, "Kenapa syaikh? mau ngapain disini?". (kata "syaikh" bisa dipakai untuk 3 panggilan, bisa untuk orang tua, orang kaya ataupun orang yang berilmu. Panggilan Syaikh dikisah ini panggilan sebagai orang tua, karena Imam Ahmad kelihatan sebagai orang tua).

Marbot tidak tau kalau beliau adalah Imam Ahmad karena tidak ada foto pada jaman itu. Padahal seluruh penduduk Irak mengetahui siapa Imam Ahmad, seorang ulama besar dan ahli hadits, sejuta hadits dihafalnya, dan zuhud kehidupannya. Kata imam Ahmad, "Saya ingin istirahat, saya musafir". Kata marbot, "Tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid". Imam Ahmad melanjutkan bercerita, "Saya didorong-dorong oleh orang itu disuruh keluar dari masjid, Setelah keluar masjid, maka dikuncilah pintu masjid. Lalu saya ingin tidur di teras masjid." Ketika sudah berbaring di teras masjid marbotnya datang lagi, marah-marah kepada Imam Ahmad. "Mau ngapain lagi syaikh?", Kata marbot. "Mau tidur, saya musafir" kata imam Ahmad. Lalu marbot berkata, "Di dalam masjid tidak boleh, di teras masjid juga tidak boleh". Imam Ahmad diusir. Imam Ahmad bercerita, "Saya didorong-dorong sampai di jalanan".

Di samping masjid ada penjual roti (rumah kecil sekaligus untuk membuat dan menjual roti). Penjual roti ini sedang membuat adonan, sambil melihat kejadian Imam Ahmad didorong-dorong oleh marbot tadi. Saat Imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil dari jauh, "Syaikh, anda boleh nginap di tempat saya, saya punya tempat, meskipun kecil".

Kata Imam Ahmad, "Baik". Imam Ahmad masuk ke rumahnya, duduk dibelakang penjual roti yang sedang membuat roti (dengan tidak memperkenalkan siapa dirinya, hanya bilang sebagai musafir). Penjual roti ini punya perilaku tersendiri, kalau Imam Ahmad ngajak ngomong, dijawabnya. Kalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil melafalkan istighfar, Astaghfirullah. Saat meletakkan garam astaghfirullah, memecahkan telur astaghfirullah, mencampur gandum astaghfirullah. Selalu mengucap istighfar.

Imam Ahmad memperhatikan terus. Lalu Imam Ahmad bertanya, "Sudah berapa lama kamu lakukan ini?". Orang itu menjawab, "Sudah lama syaikh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan". Imam Ahmad bertanya, "Apa hasil dari perbuatanmu ini?". Orang itu menjawab "(lantaran wasilah istighfar) Tidak ada hajat yang saya minta , kecuali pasti dikabulkan Allah. Semua yang saya minta ya Allah...., langsung diterima". Lalu orang itu melanjutkan, "Semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah kabulkan". Imam Ahmad penasaran kemudian bertanya, "Apa itu?". Kata orang itu, "Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad". Seketika itu juga Imam Ahmad bertakbir, "Allahuakbar, Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah, dan sampai didorong-dorong oleh marbot masjid itu sampai ke jalanan karena istighfarmu".

Memang benar sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam,
“Barang siapa yang memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan baginya pada setiap kesedihannya jalan keluar, dan pada setiap kesempitan ada kelapangan, dan Allah akan memberinya rizki (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memberi kita kekuatan untuk lisan kita banyak-banyak beristighfar..

Selesai ditulis di Malang, pada 17 Oktober 2016
oleh Supriyono
Menukil dari Manaqib (kisah/biografi) Imam Ahmad bin Hanbal, oleh Ibnul Jawzy, diteliti oleh Dr. Abdullah Bin Abdul Muhsin At Turky dengan sedikit edit gaya bahasa

2 komentar:

  1. Mhn maaf Ustadz, setahu ana cerita ini sudah diklarifikasi oleh teman2 WA salafi lombok bhw cerita itu dhoif..

    BalasHapus
  2. Syukron atas masukannya. Jazakumullah khoir.
    Riwayat doif tidak boleh digunakan dalam hal amalan apalagi dalam hal tauhid. Tapi beda permasalahan apabila riwayat tersebut digunakan dalam hal kisah yang diambil faedahnya dengan syarat:
    1. Riwayat tersebut tidak sampai munkar,
    2. Tidak menyalahi makna riwayat-riwayat yang shohih,
    3. Tidak disandarkan kepada Rasulullah secara tegas.

    Dalam kisah ini tentu bukan hadits Rasulullah karena ini kisah seorang ulama. Kemudian secara makna tidak menyalahi dalil-dalil yang shohih, bahhkan didukung oleh hadits Rasulullah yg derajatnya sampai mutawatir. Allahu'alam.

    BalasHapus

Jazakumullah khoir