Kamis, 21 Juli 2016

Memohon agar Ditetapkan Iman

Orang-orang makan di prasmanan misalnya di walimahan, makanan tuh dikelilingi para tamu undangan yang mau mengambil makanan. Satu datang mengambil makanan, yang lain datang lagi. Terus… seperti itu sampai makanan habis. Seperti itulah perumpamaan orang yang beriman dikelilingi syetan untuk menggoda, kemudian mengajak ke dalam neraka. Dari kiri, kanan, atas, bawah, yang maksiat ditutup-tutupi dengan kenikmatan, dikemas sedemikian rupa sehingga manusia lalai ibadahnya. Sebaliknya, yang bertaqwa ditutup-tutupi dengan hal-hal yang buruk sehingga hal-hal yang berhubungan dengan ketaqwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala kita enggan melaksanakannya. Sungguh manusia tidak akan selamat dari godaan syetan, kecuali yang ditolong oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu kita diwajibkan untuk berdoa penuh harap memohon pertolongan kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar ditetapkan iman di hati sehingga timbul rasa takut dan malu, selanjutnya kita diberi kemampuan untuk beramal sholih dan menjauhi maksiat. Takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala karena merasa setiap aktivitas kita dilihat oleh Yang Maha Melihat. Malu kepada Allah subhanahu wa ta’ala karena merasa nikmat yang diberikan-Nya sangat banyak tetapi kita malah terus melakukan maksiat dan enggan bersyukur. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

“Dzikir pada hati semisal air yang dibutuhkan ikan. Lihatlah apa yang terjadi jika ikan tersebut lepas dari air?”

Adapun doa yang sering diamalkan Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa salam,

يامقلب القلوب ثبت قلبي على دينك

"Yaa Muqollibal Quluub, Tsabbit Qolbi ‘Alaa Diinik"

Artinya: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.”
(HR.Tirmidzi 3522, Ahmad 4/302, al-Hakim 1/525, Lihat Shohih Sunan Tirmidzi III no.2792)

Doa memohon ditetapkan agama maksudnya kita dijaga dari dalam, maupun dari luar. Dari dalam misalnya kita dikuatkan iman kita sehingga timbul rasa takut dan malu kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga kuatlah keinginan kita untuk beribadah dan menjauhi maksiat. Dari luar misalnya kita diberikan teman-teman yang sholih, yang saling menasihati dalam hal ketaqwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala , yang mau bermajelis ta’lim, yang menemani ketika melaksanakan ibadah baik itu berjalan kaki ke masjid atau dalam bentuk ibadah yang lain. Atau bisa juga lingkungan yang baik, misal kita mendapat lingkungan kerja yang baik, bisa sholat 5 waktu berjama’ah di masjid tanpa adanya peraturan dan kendala lain yang menghalang-halangi, dan masih banyak contoh kemudahan lainnya

Semoga kita diberikan Allah subhanahu wa ta’ala kekuatan hati untuk senantiasa bertaqwa kepada-Nya...

Selesai ditulis di Malang, pada 21 Juli 2016
Oleh Supriyono Alfarhan
Merujuk dari kitab Syarah Riyadush Shalihin, bab Dzikir dan Keutamaannya, oleh Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jazakumullah khoir