Jumat, 16 Desember 2016

Resensi Kitab Ad-Daa’ wa ad-Dawaa’ (Penyakit dan Obatnya)

versi terjemahan Indonesia

versi teks Arab

Kitab Ad-Daa’ wa ad-Dawaa’ adalah sebuah karya besar dan fenomenal di bidang akhlak, tarbiyah, dan tazkiyatunnufus. Penulisnya, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, adalah seorang ulama ahlussunnah yang mahsyur dan penulis buku berbobot yang hidup pada abad ke-8 H. Buku ini berbicara panjang lebar serta sempurna di berbagai masalah tarbiyah dan tazkiyatun-nufus, mulai dari pentingnya do’a bagi seorang hamba serta hubungan do’a dengan takdir.

Buku ini berisi tentang terapi terhadap berbagai macam penyakit hati. Bahaya penyakit hati di dunia dan di akhirat, serta terapi atau obat mujarabnya berdasarkan al-Qur-an dan as-Sunnah. Di samping itu, buku ini penuh dengan nasihat, petuah, peringatan, pelajaran, hikmah, dan ilmu pengetahuan yang sangat dibutuhkan oleh siapa saja yang menginginkan keselamatan, kesehatan, keberhasilan, dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Sebagai muqaddimah, di awal pembahasan dijelaskan tentang pentingnya do'a dan kaitannya dangan takdir. Lalu dilanjutkan dengan macam-macam maksiat dan dosa serta dampak negatifnya terhadap pelakunya. Pada pembahasan berikutnya penulis berbicara tentang hukuman Alloh Tabarraka Wa Ta'ala terhadap pelaku dosa dan jenis-jenis hukumannya, lalu disusul dengan syirik dan macam-macamnya. Di dalam buku ini juga dibahas tentang dosa besar, seperti membunuh, berzina, berbuat zhalim, dan lain-lain serta dampak negatif perbuatan tersebut terhadap pelakunya. Bahkan, dibahas juga mengenai cinta dan tingkatan-tingkatannya, hingga masalah kasmaran (mabuk asmara, mabuk cinta), penyelewengan seksual beserta hukumannya.

Demikianlah, begitu banyak permasalahan yang disebutkan Ibnul Qayyim secara panjang lebar. Beliau memaparkan berbagai hal, baik yang halus (tersirat) maupun yang tampak (tersurat) dari hakikat ilmu, disertai dengan penjelasan tentang pengawasan dan pengoreksian ulang terhadap jiwa. Semua pembahasan ini membuat penuntut ilmu sangat membutuhkan kitab ini. 

Anda akan dibuat terpesona oleh uraian-uraian penulis yang sangat dalam dan kuat, halaman demi halaman. Anda pun akan terpuaskan dari dahaga ilmu yang bermanfaat.

"Setiap penyakit pasti ada obatnya. Apabila obat tersebut sesuai dengan penyakitnya, maka ia akan sembuh dengan izin Allah".
(Shahiih Muslim No.2204)

Selesai ditulis di Malang, pada 16 Desember 2016
oleh Supriyono
Dinukil dari Resensi Kitab Terjemahan  Ad-Daa’ wa ad-Dawaa’ oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i

Rabu, 07 Desember 2016

Manfaat Membaca Kisah Orang-orang Shalih

Manusia hidup di dunia tidak lepas dari mengidolakan seseorang. Apakah yang ia idolakan orang-orang yang shalih atau orang-orang ahli maksiat yang gaya hidupnya jauh dari syariat islam. Mengidolakan seseorang akan membentuk karakter seseorang, terutama pada anak-anak. Oleh karena itu sangat perlu kita memilih idola yang baik bagi diri kita maupun keluarga, yaitu idola orang-orang shalih. Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Seseorang itu bersama orang yang dicintainya pada hari kiamat.”
(H.R. Bukhari, Muslim)

Membaca biografi orang-orang sholeh atau para Ulama merupakan salah satu penyemangat dan obat bagi mereka yang haus akan suri tauladan yang baik, sebagaimana perkataan Umar bin al-Khattab radiyallahu 'anhu berkata:
“Hendaklah kalian mendengar cerita-cerita tentang orang-orang yang memiliki keutamaan, kerana hal itu termasuk dari kemuliaan dan padanya terdapat kedudukan dan kenikmatan bagi jiwa”. (‘Ainul Adab wa As-Siyasah: 158)

Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad As-Sadhan dalam mukaddimah kitabnya al-Imam Ibnu Baz: Durus wa Mawaqif wa ‘Ibar berkata,
“Para ahli ilmu menaruh perhatian besar terhadap biografi-biografi para ulama. Ada yang menulis kitab tentang biografi seorang imam saja, misalnya Qadhi Isa Az-Zawawi menulis biografi Imam Malik bin Anas. Al-Baihaqi, Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar al-Asqalani menulis secara khusus tentang biografi Imam Asy-Syafi'i. Sedangkan Ibnul Jauzi menulis manaqib Imam Ahmad. Adapula sebahagian ahli ilmu yang menempuh cara lain yaitu mereka menulis biografi ulama berdasarkan thabaqah (tingkatan) ulama yang masa hidup, daerah, ilmu atau mazhabnya yang sama. Seperti Ath-Thabaqatus Sunniyah fi Tarajimil Hanafiyah karya Taqiyuddin bin Abdul Qadir Ad-Darimi. Ada juga penulisan berdasarkan disiplin ilmu tertentu seperti Thabaqatul Mufassirin, yang mana Ad-Dawudi dan As-Suyuti telah menulisnya. Adapula yang menulis secara khusus para ulama di daerah atau tempat tertentu, seperti Tarikh Baghdad karangan Khatib al-Baghdadi."

Para ulama semua merupakan teladan dalam Islam (setelah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam) dan juga sebagai idola yang baik. Membaca kisah-kisah dan sejarah-sejarah tentang orang yang memiliki keutamaan akan memberikan kesenangan dalam jiwa seseorang. Kisah-kisah tersebut akan melegakan hati serta mengisi kehampaan. Membentuk watak yang penuh semangat dilandasi kebaikan, serta dapat menghilangkan rasa malas.

Selesai ditulis di Malang, pada 7 Desember 2016
oleh Supriyono
Referensi: Buku Terjemahan dari bahasa arab "Biografi 60 Ulama Ahlussunnah", oleh Syaikh Ahmad Farid

Minggu, 04 Desember 2016

Kajian Rutin Tafsir Al-Qur'an di Mahad Thaybah (Putra) Surabaya

~ Bismillah ~

Info kajian RUTIN umum (ikhwan-akhwat), setiap Kamis, yang insyaaAllah diselanggarakan pada,
  • Waktu : ba'da maghrib-selesai
  • Pemateri : Ustadz Muhammad Nur Yasin hafizhahullah
  • Tema : Kitab Taisirul Kariimur Rahman fii Tafsiirul Kalaamil Mannan (Kitab Tafsir Al Qur'an)
  • Lokasi : Masjid Thaybah (Jl. Keputih Tegal Timur No. 1-3 Surabaya)


Semoga Allah mudahkan untuk menghadiri taman diantara taman taman surga.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala sebagaimana orang yang melakukan." (HR. Muslim, 3509)


Selesai ditulis di Malang, pada 4 Desember 2016
oleh Supriyono
Mengambil informasi dari Mahad Thaybah (Putra) Surabaya

Jadwal Kajian Ilmiah Rutin Wilayah Surabaya (Update Agustus 2016)

Alhamdulillah bini’matihi tatimmush shalihat, Allah ‘Azza Wa Jalla masih menumbuhkan semangat yang besar ke dalam dada ini dan nikmat kesempatan sehingga kita dapat melangkahkan kaki guna menghadiri taman-taman surga, yakni Majelis Ilmu.

Berikut merupakan Jadwal Kajian Sunnah Rutin yang telah kami himpun, yang mana Insya Allah akan kami update setiap bulannya.

Jadwal berikut ini merupakan Update bulan Dzulqa’dah 1437 (Agustus 2016).

*Bisa diunduh di : bit.ly/KajianSunnahSurabaya atau bit.ly/KajianRutinSurabaya




















Mengingat Kota Surabaya yang cukup luas, sehingga besar kemungkinan belum semua jadwal kajian sunnah rutin dapat kami himpun, oleh karena itu kami menerima masukan ataupun koreksi untuk update kedepannya.

Semoga bermanfaat.

Baarakallahu Fiikum.

Selesai ditulis di Malang, pada 4 Desember 2016
oleh Supriyono
Mengambil informasi dari www.thaybah.id

Jadwal Kajian Ilmiah Rutin (Khusus Akhwat) di Wisma Akhwat Thaybah

Info kajian rutin umum (khusus akhwat), yang insya Allah diselenggarakan di Wisma Akhwat Thaybah, Jl. Gubeng Kertajaya XI E/21 Surabaya. Berikut adalah jadwal kajian rutin yang diselenggarakan,

Ba'da isya' sampai selesai,



Jam 09.00 sampai selesai,



Ba'da Ashar sampai selesai,


Semoga Allah mudahkan untuk menghadiri taman diantara taman-taman surga.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ 

"Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala sebagaimana orang yang melakukan." (HR. Muslim, 3509)

Selesai ditulis di Malang, pada 4 Desember 2016
oleh Supriyono
Mengambil informasi dari www.akhwat.thaybah.id

Jumat, 18 November 2016

Makna Doa Berlindung dari Rasa Malas

Ada orang yang berkeinginan kuat untuk melakukan ibadah, akan tetapi fisiknya tidak mendukung untuk mengamalkannya. Demikian pula sebaliknya, ada yang diberi fisik yang kuat, akan tetapi tidak bisa melakukan amalan sholih. Misal, ada orang yang fisiknya kuat, mengangkat beberapa karung 50 kg sendirian mampu dari truk ke toko, akan tetapi tidak mampu berjalan 50 meter ke masjid untuk sholat berjama'ah. Padahal berjalan kaki menuju masjid untuk sholat berjama'ah dapat menggugurkan dosa dan mengangkat derajat (baca keutamaan sholat berjama'ah di masjid). Kita diperintahkan oleh Allah untuk berlindung dari dua perkara tersebut.

Salah satu doa yang mana termasuk doa yang singkat namun penuh makna disebutkan oleh Imam An-Nawawi di dalam Kitab Riyadhus Shalihin yaitu, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca doa:


اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ


“Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat."

Yang artinya: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian”.
(HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706)

Faedah dari hadits di atas:

1. Meminta perlindungan dari sifat ‘ajz, yaitu tidak adanya kemampuan untuk melakukan kebaikan. Demikian keterangan dari An-Nawawi rahimahullah.

2. Meminta perlindungan dari sifat kasal, yaitu tidak ada atau kurangnya dorongan (motivasi) untuk melakukan kebaikan padahal dalam keadaan mampu untuk melakukannya. Beda dengan ‘ajz yaitu tidak ada kemampuan sama sekali, sedangkan kasal itu masih ada kemampuan, namun tidak ada dorongan untuk melakukan kebaikan.

3. Meminta perlindungan dari sifat jubn, artinya berlindung dari rasa takut (lawan dari berani), yaitu berlindung dari sifat takut untuk berperang atau tidak berani untuk beramar ma’ruf nahi mungkar.

4. Meminta perlindungan dari al-harom, artinya berlindung dari kembali pada kejelekan umur (di masa tua). Pada masa tua, pikiran sudah mulai kacau, kecerdasan dan pemahaman semakin berkurang, dan tidak mampu melakukan banyak ibadah.

5. Meminta perlindungan dari sifat bukhl, artinya berlindung dari sifat pelit (kikir). Yaitu do’a ini berisi permintaan agar seseorang bisa menunaikan hak pada harta dengan benar, sehingga memotivasinya untuk rajin berinfak (yang wajib atau yang sunnah), bersikap dermawan dan berakhlak mulia. Juga do’a ini memaksudkan agar seseorang tidak tamak dengan harta yang tidak ada padanya.

6. Meminta perlindungan dari siksa kubur.

7. Meminta perlindungan dari fitnah (cobaan) ketika hidup dan mati. Ibnu Daqi Al ‘Ied mengatakan, “Fitnah kehidupan adalah fitnah yang dihadapi manusia semasa ia hidup yaitu berupa fitnah-fitnah dunia (harta), fitnah syahwat, kebodohan dan yang paling besar dari itu semua yaitu cobaan di ujung akhir menjelang kematian. Boleh jadi fitnah kematian juga bermakna fitnah (cobaan) di kubur.”

Mari kita amalkan doa yang singkat ini namun penuh dengan makna. Rasulullah mengamalkan doa ini, begitu pula para sahabat. Padahal para sahabat hidup bersama Rasulullah, hidup di jaman keemasan islam, masih diperintahkan untuk memohon pertolongan kepada Allah dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, sifat kikir, siksa kubur, dan bencana ketika hidup maupun ketika meninggal dunia. Apalagi kita yang imannya jauh di bawah imannya para sahabat, sering terjerumus ke dalam maksiat.

Semoga sajian yang singkat ini bermanfaat.

Selesai ditulis di Malang, pada 18 November 2016
oleh Supriyono
Merujuk dari kitab Syarah Riyadush Shalihin bab Dzikir di Waktu Pagi dan Sore, oleh Imam An-Nawawi rahimahullah

Selasa, 01 November 2016

Iman Memiliki Rasa Manis

Kebahagiaan pasti dicari oleh setiap manusia. Kita siap mengorbankan apa pun yang berharga termasuk jiwa demi memperoleh kebahagiaan itu. Banyak manusia mendefinisikan kebahagiaan, namun yang pasti kebahagiaan hakiki bukan pada banyaknya harta, tingginya kedudukan atau status sosial, walaupun kebanyakan manusia menilai kebahagiaan dengan banyaknya harta yang dikumpulkan. Banyak orang di dunia ini yang hidup bergelimang harta, akan tetapi hidupnya tak pernah merasakan ketenangan batin, hidupnya penuh dengan masalah, bahkan tak sedikit yang bunuh diri. Di sisi lain banyak orang yang hidupnya sederhana, namun ia bahagia. Kehidupan di dunia ini ibarat air yang turun ke bumi, kemudian menumbuhkan tanaman-tanaman yang membuat kagum para petani, kemudian tanaman itu menguning dan mati.

Islam telah mengajarkan bagaimana seseorang hidup di dunia sehingga mengantarkan kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,
“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sungguh akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sungguh akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. An-Nahl: 96)

Ayat ini menunjukan bahwa kunci kebahagiaan adalah dengan beriman dan beramal shaleh. Dan iman disifati oleh Allah subhanahu wa ta'ala dengan rasa manis. Kita ketahui bahwa sesuatu yang disifati manis secara umum mempunyai arti indah, enak, lezat, dan lain sebagainya yang menunjukan kebaikan. Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
“Tiga hal, siapa yang memilikinya maka dia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai dari pada selainnya, dia mencintai seseorang hanya karena Allah, dan dia benci untuk kembali kepada kekufuran, sebagaimana dia benci untuk dilempar ke neraka.” (Muttafaqun 'alaih)

Iman jika terus dipupuk dengan amalan sholih kemudian dijaga dari segala perkara yang merusaknya sebagaimana seorang memelihara pohon kurma yang sangat ia sayangi, setiap pagi dan sore ia sirami, tidak lupa ia memupuknya dan menjauhkannya dari hama dan penyakit, sungguh orang tersebut senantiasa mendapatkan kebahagiaan dan ketentraman.

Namun yang menjadi pertanyaan sekarang, jika iman dikatakan manis, mengapa kita masih merasakan berat menjaga iman untuk beramal shalih dan menjauhi maksiat?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, ada satu contoh agar kita mudah memahami masalah ini. Kalau misalnya kita membayangkan suatu makanan yang kita anggap paling enak dan lezat, yang rasa enak dan lezatnya makanan ini disepakati oleh semua orang yang sehat dan berakal, misalnya saja sate atau gulai kambing muda (atau makanan apa saja yang dianggap paling enak dan lezat), seandainya makanan ini kita hidangkan dihadapan seorang yang sedang sakit gigi, kira-kira apa yang akan dilakukannya terhadap makanan tersebut? Apakah dia akan menyantapnya sampai habis seperti kalau makanan tersebut kita hidangkan di hadapan orang yang sehat?

Jawabnya tentu saja tidak, karena sebagian dari organ tubuhnya kurang sehat dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya, maka dia tidak bisa merasakan enak dan lezatnya makanan tersebut. Dalam hal ini tentu saja yang kita permasalahkan dan perlu diperbaiki adalah kondisi orangnya dan bukan makanan tersebut. Demikian pula hal ini berlaku pada ibadah-ibadah yang Allah syariatkan kepada kaum muslimin. Manisnya ibadah-ibadah tersebut hanya akan dirasakan oleh orang yang benar-benar sehat imannya. Adapun orang yang kurang sehat imannya karena masih ada penyakit dalam hatinya, maka diapun belum bisa merasakan manisnya iman.

Oleh karena itu yang harus dilakukannya adalah berusaha keras dan berjuang untuk menyembuhkan dan menghilangkan penyakit tersebut. Kita perlu memaksakan diri untuk mempelajari ilmu agama secara beradab kemudian mengamalkannya, dan diistiqomahkan. Awal kita memulainya pasti berat, sebagaimana orang sakit minum obat pasti tidak enak rasanya. Ini adalah proses penyembuhan penyakit di hati kita. Ketika hati kita sudah bersih dari penyakit hati, maka Allah akan memberikan manisnya iman di hati dalam menjalankan amalan-amalan shalih.

Manusia yang telah merasakan manisnya iman, ibadahnya akan terasa nikmat, membaca ayat-ayat Allah hatinya bahagia, dan tak akan mudah setres ketika ditimpa musibah. Ketika ditimpa musibah, ia bersabar dan yakin bahwa tidaklah musibah menimpa melainkan dihapuskan dosa-dosanya oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Manisnya iman menjadi buah yang dirasakan seorang mukmin ketika ia mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan sempurna. Inilah yang menjelaskan mengapa Bilal bin Rabah sanggup menahan panasnya pasir dan terik surya, beratnya batu yang menindihnya, serta hinaan menyakitkan. Dalam kondisi demikian, Bilal bin Rabah tetap melantunkan kalimat iman melalui lisannya: "ahad, ahad...". Manisnya iman buah cinta ini pula yang membuat Khabab bin Arats seakan tak merasakan luka-luka menganga di tubuhnya yang disalib.

Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memberikan kita hidayah...

Selesai ditulis di Malang, pada 1 November 2016
oleh Supriyono
Merujuk dari terjemah buku Manisnya Iman oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di

Senin, 17 Oktober 2016

Kisah Imam Ahmad dan Penjual Roti (Keutamaan Istighfar)

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, seorang ahli hadits, juga muridnya Imam Syafi'i rahimahullah. Pada masa akhir hidup beliau, sudah putih semua jenggotnya, beliau bercerita, "Satu waktu (ketika saya sudah usia tua) saya tidak tau kenapa ingin sekali menuju ke salah satu kota di Irak". Padahal beliau tidak ada janji sama orang dan tidak ada hajat. Akhirnya Imam Ahmad pergi sendiri menuju ke kota Bashrah.

Beliau bercerita, "Saat tiba disana waktu Isya', saya ikut shalat berjamaah isya di masjid, hati saya merasa tenang, kemudian saya ingin istirahat". Begitu selesai shalat dan jamaah bubar, Imam Ahmad ingin tidur di masjid, tiba-tiba marbot masjid datang menemui Imam Ahmad sambil bertanya, "Kenapa syaikh? mau ngapain disini?". (kata "syaikh" bisa dipakai untuk 3 panggilan, bisa untuk orang tua, orang kaya ataupun orang yang berilmu. Panggilan Syaikh dikisah ini panggilan sebagai orang tua, karena Imam Ahmad kelihatan sebagai orang tua).

Marbot tidak tau kalau beliau adalah Imam Ahmad karena tidak ada foto pada jaman itu. Padahal seluruh penduduk Irak mengetahui siapa Imam Ahmad, seorang ulama besar dan ahli hadits, sejuta hadits dihafalnya, dan zuhud kehidupannya. Kata imam Ahmad, "Saya ingin istirahat, saya musafir". Kata marbot, "Tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid". Imam Ahmad melanjutkan bercerita, "Saya didorong-dorong oleh orang itu disuruh keluar dari masjid, Setelah keluar masjid, maka dikuncilah pintu masjid. Lalu saya ingin tidur di teras masjid." Ketika sudah berbaring di teras masjid marbotnya datang lagi, marah-marah kepada Imam Ahmad. "Mau ngapain lagi syaikh?", Kata marbot. "Mau tidur, saya musafir" kata imam Ahmad. Lalu marbot berkata, "Di dalam masjid tidak boleh, di teras masjid juga tidak boleh". Imam Ahmad diusir. Imam Ahmad bercerita, "Saya didorong-dorong sampai di jalanan".

Di samping masjid ada penjual roti (rumah kecil sekaligus untuk membuat dan menjual roti). Penjual roti ini sedang membuat adonan, sambil melihat kejadian Imam Ahmad didorong-dorong oleh marbot tadi. Saat Imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil dari jauh, "Syaikh, anda boleh nginap di tempat saya, saya punya tempat, meskipun kecil".

Kata Imam Ahmad, "Baik". Imam Ahmad masuk ke rumahnya, duduk dibelakang penjual roti yang sedang membuat roti (dengan tidak memperkenalkan siapa dirinya, hanya bilang sebagai musafir). Penjual roti ini punya perilaku tersendiri, kalau Imam Ahmad ngajak ngomong, dijawabnya. Kalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil melafalkan istighfar, Astaghfirullah. Saat meletakkan garam astaghfirullah, memecahkan telur astaghfirullah, mencampur gandum astaghfirullah. Selalu mengucap istighfar.

Imam Ahmad memperhatikan terus. Lalu Imam Ahmad bertanya, "Sudah berapa lama kamu lakukan ini?". Orang itu menjawab, "Sudah lama syaikh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan". Imam Ahmad bertanya, "Apa hasil dari perbuatanmu ini?". Orang itu menjawab "(lantaran wasilah istighfar) Tidak ada hajat yang saya minta , kecuali pasti dikabulkan Allah. Semua yang saya minta ya Allah...., langsung diterima". Lalu orang itu melanjutkan, "Semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah kabulkan". Imam Ahmad penasaran kemudian bertanya, "Apa itu?". Kata orang itu, "Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad". Seketika itu juga Imam Ahmad bertakbir, "Allahuakbar, Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah, dan sampai didorong-dorong oleh marbot masjid itu sampai ke jalanan karena istighfarmu".

Memang benar sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam,
“Barang siapa yang memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan baginya pada setiap kesedihannya jalan keluar, dan pada setiap kesempitan ada kelapangan, dan Allah akan memberinya rizki (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memberi kita kekuatan untuk lisan kita banyak-banyak beristighfar..

Selesai ditulis di Malang, pada 17 Oktober 2016
oleh Supriyono
Menukil dari Manaqib (kisah/biografi) Imam Ahmad bin Hanbal, oleh Ibnul Jawzy, diteliti oleh Dr. Abdullah Bin Abdul Muhsin At Turky dengan sedikit edit gaya bahasa

Senin, 10 Oktober 2016

Membagi Waktu untuk Menuntut Ilmu

Menuntut ilmu tentu saja harus ada rasa cinta kepada ilmu, sebab apabila kita tidak ada rasa cinta kepada ilmu keinginan untuk menuntut ilmu pasti akan lemah sekali. Dan juga harus ada rasa butuh terhadap ilmu, karena apabila hati sudah merasa cukup terhadap ilmu maka sulit sekali kita untuk menuntut ilmu. Apalagi kita setiap harinya disibukan dengan bekerja, dan pekerjaan itu membuat kita lalai. Maka dari itu kita harus ada kemauan yang kuat untuk membagi waktu kita. Mari kita berfikir. Kita bekerja dalam sehari berapa jam? Anggap saja rata-rata 10 jam sehari. Tidur kita rata-rata 6 jam. Sehari semalam ada 24 jam. Berarti masih ada 8 jam yang tersisa. Kemana 8 jam yang tersisa ini? Apakah tidak mungkin sehari kita luangkan waktu misalnya setengah jam saja untuk mendengarkan rekaman kajian, atau membaca buku-buku yang dapat menambah ilmu keislaman kita? Alhamdulillah kalau bisa dengan mendatangi majelis taklim. Menuntut ilmu itu memang harus ada kesungguhan terlebih dahulu dalam diri kita. Karena tanpa kesungguhan sulit sekali untuk mengatur waktu kita. Kita selalu beralasan sibuk, sibuk, dan sibuk. Namun apabila kita berfikir, sebenarnya ada kesempatan yang dapat kita lakukan. Bahkan ketika dalam perjalanan bisa kita gunakan untuk menuntut ilmu, entah itu mendengarkan rekaman kajian, atau muroja’ah hafalan surat-surat Al-Qur’an, atau pun yang lainnya. Sebenarnya banyak sekali kesempatan-kesempatan yang terlewatkan begitu saja disebabkan kesungguhan kita yang kurang dalam menunutu ilmu.

Tetap menuntut ilmu kepada guru itu harus. Misalnya kita liburnya hari Sabtu dan Minggu, kemudian ada acara keluarga pada akhir pekan, tapi tetap kita luangkan sebagian waktu pada hari Sabtu atau Minggu untuk mendatangi majelis taklim dan jangan sampai diganggu. Kalau bisa minimal seminggu sekali kita mengajak keluarga atau teman untuk menghadiri majelis taklim. Kalau bisa lebih dari seminggu sekali alhamdulillah. Yang terpenting bagi kita adalah istiqomahnya dulu.

Semoga kita diberi kekuatan hati oleh Allah untuk menuntut ilmu, dan diberi keistiqomahan...

Selesai ditulis di Malang, pada 10 Oktober 2016
oleh Supriyono
Mengutip dari rekaman kajian tips-tips kiat membagi waktu untuk menuntut ilmu oleh Ust. Badru Salam, Lc

Senin, 03 Oktober 2016

Mustajabnya Berdoa Ketika Hujan

Sebagian dari kita mengeluh ketika hujan turun. Ada yang mengeluh urusan pekerjaannya terganggu, jadwal meeting dengan karib kerabat yang tertunda, sampai hal yang sepele seperti jemuran yang tak kunjung kering karena hujan. Dengan mudahnya kita menyalahkan hujan. Padahal waktu ketika hujan turun adalah kesempatan emas bagi kita untuk berdoa. Waktu tersebut merupakan salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa.

Dari Sahl bin Sa’d, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ

“Dua do’a yang tidak akan ditolak: [1] do’a ketika adzan dan [2] do’a ketika ketika turunnya hujan. (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shohihul Jaami’ no. 3078)

Diantara sunnah yang diajarkan Rasulullah hallallahu ’alaihi wa sallam ketika hujan turun adalah membaca doa,

اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً

Allahumma shoyyiban naafi’aan..
(Yang artinya "Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat"). (HR. Bukhari no. 1032, Ahmad no. 24190, dan An Nasai no. 1523)

Semoga dengan turunnya hujan membuat kita semakin bersyukur, bukan malah mengeluh. Manfaatkan waktu turunnya hujan untuk memperbanyak istighfar, dan berdoa memohon segala hajat baik tentang urusan dunia maupun akhirat. Jangan sia-siakan kesempatan untuk mendoakan kedua orang tua, istri, anak, saudara, dan kaum muslimin yang mana mungkin kehidupan lahir mereka tidak sebaik kita.

Semoga kita senantiasa ditetapkan iman sehingga berada di jalan yang lurus, yaitu jalan yang diridloi-Nya..

Selesai di tulis di Malang, pada 3 Oktober 2016
oleh Supriyono

Minggu, 25 September 2016

Sebab-sebab Pasang Surut Keimanan


oleh : Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr [1]

Mengenal faktor-faktor pasang surutnya iman sangatlah penting bagi seorang hamba sebab iman adalah kunci kebahagiaannya di dunia dan akhirat. Maka hendaknya setiap hamba yang ingin meraih kebahagiaan berupaya serius untuk mengetahui faktor-faktor bertambahnya iman lalu merealisasikannya dalam kehidupan ini sehingga imannya semakin mengakar dalam hati. Sebaliknya, hendaknya dia mengetahui faktor-faktor perusak iman agar dia terhindar darinya dan selamat dari kubang kesengsaraan.

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Seorang hamba yang beriman selalu berusaha menerapkan dua hal: 
  • Pertama, Menguatkan fondasi-fondasi keimanan dan cabangnya dengan mengilmui dan mengamalkannya. 
  • Kedua, Berusaha semaksimal mungkin untuk menangkis segala hal yang dapat mengotori imannya dan berusaha untuk mengobatinya sebelum terlambat.” [2]
Berikut beberapa faktor tersebut secara ringkas :

Faktor-Faktor Bertambahnya Iman

Allah menjadikan segala sesuatu pasti ada sebabnya, demikian halnya dengan iman, Allah telah menjadikan beberapa faktor bertambahnya iman dalam al-Qur’an atau melalui lisan rasul-Nya, di antaranya adalah:

1. Menuntut ilmu syar’i


Ini adalah faktor yang paling penting, yaitu menuntut ilmu syar’i yang bersumber dari al-Qur’an dan sunnah Rasulullah sesuai dengan pemahaman salaf shalih. Bertambahnya iman dengan sebab ilmu dari sisi ketika dia keluar menuntut ilmu, duduk di majelis ilmu, mempelajari masalah ilmu, dan mengamalkan ilmu.

Sungguh betapa banyak ayat-ayat al-Qur’an dan hadits Nabi yang menunjukkan tentang keutamaan ilmu. Hal itu karena ilmu adalah sarana yang mengantarkan seorang untuk beribadah kepada Allah secara benar.

Namun, perlu diketahui bahwa ilmu yang bermanfaat dan dianjurkan oleh syari’at adalah ilmu yang membuahkan amal karena ilmu hanyalah sarana belaka, sedang intinya adalah amal. Camkanlah baik-baik ucapan Imam Ibnul Qayyim tatkala mengatakan, “Setiap ilmu dan amal yang tidak menambah kuatnya iman maka ia tercemar.” [3]

2. Membaca al-Qur’an dan merenunginya

Ini juga merupakan faktor yang sangat penting untuk bertambahnya iman sebab Allah menurunkan al-Qur’an kepada para hamba-Nya sebagai petunjuk, cahaya, rahmat, dan peringatan. Oleh karena itu, Allah mengabarkan bahwa orang-orang yang beriman apabila membaca al-Qur’an maka akan bertambah iman mereka.


إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَـٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَـٰنًۭا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ ﴿٢

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal. (QS. al-Anfâl [8]: 2)

Syaikh Muhammad Rasyid Ridha berkata, “Ketahuilah bahwa kuatnya agama dan iman tidak mungkin diraih kecuali dengan banyak membaca al-Qur’an atau mendengarkannya dengan penuh renungan dan dengan niat untuk mengamalkan perintah dan menjauhi larangannya.” [4]

Namun, perlu ditandaskan bahwa maksud membaca al-Qur’an yang merupakan faktor penyubur iman di sini bukan hanya sekadar membaca, melainkan membacanya dan memahami makna kandungannya serta mengamalkan isinya. Oleh karena itu, Allah mengabarkan bahwa tujuan inti al-Qur’an ini diturunkan adalah untuk dipelajari dan direnungi bersama.

كِتَـٰبٌ أَنزَلْنَـٰهُ إِلَيْكَ مُبَـٰرَكٌۭ لِّيَدَّبَّرُوٓا۟ ءَايَـٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَـٰبِ ﴿٢٩

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. (QS. Shâd [38]: 29)

3. Memahami nama dan sifat Allah

Memahami nama dan sifat Allah akan menjadikan hamba makin mengenal Allah dan takut kepada-Nya sehingga memotivasi dirinya untuk berbuat amal ketaatan. Allah berfirman:

وَمِنَ ٱلنَّاسِ وَٱلدَّوَآبِّ وَٱلْأَنْعَـٰمِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَ‌ٰنُهُۥ كَذَ‌ٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَـٰٓؤُا۟ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ ﴿٢٨

Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata, dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Fâthir [35]: 28)

Seorang ulama salaf mengatakan, “Barangsiapa semakin mengenal Allah akan semakin takut kepada Allah.” [5]

Contohnya, jika seorang hamba mengetahui dari lubuk hatinya bahwa Allah Maha mendengar dan melihat maka hal itu akan menjadikan dirinya untuk menjaga anggota tubuhnya dan berusaha mengarahkan anggota tubuhnya dalam kecintaan kepada Allah.

4. Mempelajari Sîrah Perjalanan Nabi Muhammad

Mempelajari sîrah perjalanan hidup Nabi Muhammad merupakan faktor penguat iman karena pada diri beliau tersimpan akhlak yang mulia dan contoh yang sangat indah. Siapa pun yang mau mempelajari sîrah Rasulullah yang terdapat dalam al-Qur’an dan hadits Nabi maka akan menjadikannya terpacu untuk semakin cinta kepada Nabi yang membuahkan semangat tinggi untuk mencontoh beliau dalam ucapan dan perbuatannya. “Dan ilmu yang paling pokok dan paling bermanfaat adalah mempelajari sîrah Nabi dan sahabatnya”.[6]

Sekadar contoh, jika mencermati hadits bahwa beliau adalah manusia yang paling baik akhlaknya, tidak berkata kotor, sangat sopan kepada pelayannya. Bukankah semua itu akan membangkitkan semangat kita untuk menirunya?

5. Merenungi Keindahan Agama Islam

Sesungguhnya Islam adalah agama yang indah dalam semua bidang. Aqidahnya paling benar, akhlaknya paling indah, serta hukumnya paling adil dan bijaksana. Bila hal ini telah tertanam dalam hati maka seseorang akan merasakan kelezatan iman dalam hati. Rasulullah bersabda:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ

“Ada tiga hal, apabila ada pada diri seorang maka dia akan merasakan lezat/manisnya iman: apabila Allah dan rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya; apabila mencintai seorang dia mencintainya tidak lain karena Allah; dan orang yang takut untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana dia tidak ingin dicampakkan ke dalam Neraka.” (HR. Bukhari 1/22 dan Muslim 1/66)

Maka golongan yang ketiga tersebut tidak mau kembali kepada kekufuran. Mengapa?! Karena dia masuk Islam berdasarkan ilmu dan kemantapan hati. Dia betul-betul yakin akan keindahan agama Islam dibandingkan dengan agama-agama lainnya. Jika memang dia telah nyaman dengan keindahan Islam, lantas untuk apa dia berpindah agama?

6. Membaca kisah-kisah salaf shalih

Kisah-kisah para salaf shalih, khususnya para sahabat Nabi bertabur dengan pelajaran berharga dan iman. Siapa pun yang mau mencermati sîrah perjalanan mereka, akhlak mereka, kesungguhan mereka dalam mengikuti Nabi, konsentrasi mereka dalam menjaga iman, rasa takut mereka dari dosa, riya’, nifaq(kemunafikan), dan semangat mereka dalam ibadah dan amal shalih yang tercatat dalam dalam kitab-kitabtarikh (sejarah), sîrah, zuhud, dan lainnya maka akan tergerak hatinya untuk meniru keindahan hidup mereka. Sungguh benar ucapan Syaikhul Islam tatkala mengatakan, “Siapa saja yang lebih menyerupai mereka, maka keadaannya akan semakin sempurna.” [7]
7. Memikirkan kekuasaan Allah dalam makhluk-Nya

Allah telah menganjurkan kepada umat manusia untuk merenungi dan memikirkan keajaiban makhluk-makhluk ciptaan-Nya.

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَـٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱلْفُلْكِ ٱلَّتِى تَجْرِى فِى ٱلْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ وَمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن مَّآءٍۢ فَأَحْيَا بِهِ ٱلْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍۢ وَتَصْرِيفِ ٱلرِّيَـٰحِ وَٱلسَّحَابِ ٱلْمُسَخَّرِ بَيْنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ لَءَايَـٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَعْقِلُونَ ﴿١٦٤

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. al-Baqarah [2]: 164)

Perhatikanlah secara saksama keajaiban-keajaiban makhluk Allah di sekitar Anda; langit, bumi, matahari, bulan, rembulan, bintang, malam, siang, gunung, pohon, lautan, sungai, hewan, bahkan keajaiban ciptaan Allah yang ada pada diri kita sendiri terdapat pelajaran berharga yang bila kita merenunginya maka akan menambah iman kita kepada Allah.

8. Semangat beramal shalih

Di antara faktor penguat iman yang sangat penting adalah semangat untuk mengerjakan amal shalih ikhlas karena Allah dan selalu kontinu menjaganya. Sesungguhnya setiap amal shalih yang dilakukan oleh seorang muslim akan semakin menambah kuatnya iman sebab iman itu bertambah dengan ketaatan.

Dan ibadah yang disyari’atkan itu bermacam-macam modelnya, adakalanya dengan hati, lisan, dan anggota badan. Contoh amalan hati ialah ikhlas, cinta, tawakal, takut, berharap, ridha, sabar, dan sebagainya. Contoh amalan lisan ialah membaca al-Qur’an, istighfar, takbir, tasbih, tahlil, shalawat, dan sebagainya. Adapun contoh ibadah amalan badan ialah wudhu, shalat, shadaqah, haji, dan sebagainya.

Oleh karena itu, para ulama salaf selalu mengatakan, “Marilah duduk sebentar bersama kami untuk menambah iman.”

Faktor-Faktor Berkurangnya Iman

Bila seorang muslim dituntut mengetahui faktor-faktor penguatnya iman agar dia menerapkannya, maka demikian juga dia dituntut untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat mengurangi iman agar dia waspada dan menjauhinya. Dan perlu disampaikan terlebih dahulu bahwa menyepelekan masalah faktor-faktor kembang kempesnya iman termasuk faktor utama lemahnya iman.

Faktor-faktor lemahnya iman banyak sekali, namun dapat diklasifikasikan menjadi dua: faktor internal (dalam) dan faktor eksternal (luar).

Adapun faktor internal adalah sebagai berikut, di antaranya:

1. Kejahilan/kebodohan tentang ilmu agama

Sebagaimana ilmu adalah faktor bertambahnya iman, maka demikian juga sebaliknya, kejahilan adalah faktor utama lemahnya iman. Jika ilmu adalah sumber segala kebaikan maka demikian juga kejahilan adalah sumber segala kejelekan.

Orang yang berbuat syirik, dosa, kezaliman, dan kemaksiatan, sebab utamanya adalah kejahilan. Allah berfirman:

وَجَـٰوَزْنَا بِبَنِىٓ إِسْرَ‌ٰٓءِيلَ ٱلْبَحْرَ فَأَتَوْا۟ عَلَىٰ قَوْمٍۢ يَعْكُفُونَ عَلَىٰٓ أَصْنَامٍۢ لَّهُمْ ۚ قَالُوا۟ يَـٰمُوسَى ٱجْعَل لَّنَآ إِلَـٰهًۭا كَمَا لَهُمْ ءَالِهَةٌۭ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌۭ تَجْهَلُونَ ﴿١٣٨

Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: “Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).” Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan).” (QS. al-A’râf [7]: 138)

Oleh karena itu, para ulama salaf seperti Abu Aliyah, Qatadah, Mujahid, dan sebagainya menyebutkan bahwa setiap orang berbuat dosa maka dia adalah jahil.[8] Mengapa demikian? Syaikhul Islam menjelaskan karena ilmu yang sejati adalah ilmu yang mencegah seorang dari menyelisihi apa yang dia ketahui berupa ucapan atau perbuatan.[9]

Maka kejahilan adalah penyakit ganas yang menjerumuskan pemiliknya kepada jurang kebinasaan. Maka hendaknya seorang untuk bersegera mengobatinya dengan ilmu yang bermanfaat agar dia tidak terus bergelimang dalam kejahilan.

2. Kelalaian

Kelalaian dan sikap acuh adalah sifat orang-orang kafir dan munafik. Allah sering mencelanya dalam al-Qur’an. Allah berfirman:

فَٱلْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ ءَايَةًۭ ۚ وَإِنَّ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلنَّاسِ عَنْ ءَايَـٰتِنَا لَغَـٰفِلُونَ ﴿٩٢

Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. (QS. Yûnus [10]: 92)

يَعْلَمُونَ ظَـٰهِرًۭا مِّنَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ ٱلْءَاخِرَةِ هُمْ غَـٰفِلُونَ ﴿٧

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. (QS. ar-Rûm [30]: 7)

Maka tanyakanlah pada dirimu: “Sampai kapankah kelalaian ini?” Sudah saatnya Anda bangun dan sadar dari kelalaian Anda selama ini untuk menuju ketaatan kepada Allah.

3. Berbuat dosa

Dosa sangat mempengaruhi lemahnya iman, sekalipun pengaruhnya bertingkat-tingkat sesuai dengan jenisnya apakah dosa kecil atau besar, waktunya, ukurannya, pelakunya dan lain sebagainya.

Dan sebagai penopang seorang hamba agar tidak terjerumus dalam kubang dosa adalah hendaknya dia selalu ingat bahwa doa akan menimbulkan bahaya dan dampak negatif yang sangat berbahaya bagi dirinya dan orang lain.

4. Jiwa yang mengajak kepada kejelekan

Hampir tidak ada ada manusia yang lepas dari jiwa yang mengajak kepada keburukan ini kecuali orang-orang yang diberi taufik oleh Allah.

وَمَآ أُبَرِّئُ نَفْسِىٓ ۚ إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ ﴿٥٣

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Yûsuf [12]: 53)

Jiwa yang mengajak kepada keburukan ini sangat berbahaya bagi iman seorang hamba jika dilepas kendalinya begitu saja. Sebab itu, hendaknya seorang hamba selalu berintrospeksi dan berusaha mengekang nafsunya dari kejelekan sehingga dia selamat dari mara bahaya.

Sementara itu, faktor-faktor eksternal (luar) juga banyak sekali, di antaranya:

5. Setan

Setan memiliki misi dan ambisi untuk merusak iman seorang hamba. Jika seorang hamba pasrah dan menyerah pada bisikan dan godaan setan, maka dia akan menjadi budak setan dan akan semakin lemah imannya. Karena itu, Allah mengingatkan kita semua agar berhati-hati dari tipu daya setan.

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَ‌ٰتِ ٱلشَّيْطَـٰنِ ۚ وَمَن يَتَّبِعْ خُطُوَ‌ٰتِ ٱلشَّيْطَـٰنِ فَإِنَّهُۥ يَأْمُرُ بِٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۚ وَلَوْلَا فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًۭا وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّى مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌۭ ﴿٢١

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. an-Nûr [24]: 21)

Ibnul Jauzi berkata, “Sewajibnya bagi setiap hamba yang berakal untuk waspada dari tipu daya setan yang telah memproklamasikan permusuhannya sejak masa Nabi Adam. Dia telah menghabiskan seluruh umurnya untuk merusak anak Adam.” [10]

Setan adalah musuh bebuyutan yang sangat berambisi untuk merusak iman dan aqidah. Barangsiapa yang tidak membentengi dirinya dengan dzikir kepada Allah dan berlindung kepada-Nya maka dia akan menjadi prajurit setan yang terombang-ambing dalam dosa. 

6. Fitnah gemerlapnya dunia

Termasuk perusak iman adalah sibuk dengan gemerlapnya dunia dan mengikuti arus godaan dunia. Ibnul Qayyim berkata, “Semakin manusia cinta terhadap dunia maka semakin malas dari ketaatan dan amal untuk akhirat sesuai dengan kadarnya.” [11]

Oleh sebab itu, Allah banyak menjelaskan dalam al-Qur’an tentang hinanya dunia dan celaan terhadap dunia, di antaranya firman Allah:

ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌۭ وَلَهْوٌۭ وَزِينَةٌۭ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌۭ فِى ٱلْأَمْوَ‌ٰلِ وَٱلْأَوْلَـٰدِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ ٱلْكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصْفَرًّۭا ثُمَّ يَكُونُ حُطَـٰمًۭا ۖ وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ عَذَابٌۭ شَدِيدٌۭ وَمَغْفِرَةٌۭ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَ‌ٰنٌۭ ۚ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلْغُرُورِ ﴿٢٠

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. al-Hadîd [57]: 20)

Maka bagi setiap hamba yang ingin menyuburkan imannya untuk melawan nafsunya agar tidak tertipu dengan godaan dunia yang sangat banyak sekali. Dan hal itu terwujudkan dengan dua hal:
  • Pertama, Memahami bahwa dunia ini finishnya adalah fana dan kehancuran.
  • Kedua, Menyongsong kehidupan akhirat yang penuh nikmat dan abadi.

7. Teman yang jelek

Mereka adalah perusak iman dan akhlak yang sangat dominan. Nabi pernah bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seorang itu berdasarkan agama temannya, maka hendaknya seseorang melihat dengan siapakah dia berteman.” [12]

Islam melarang kita berteman dengan teman-teman yang rusak karena tabiat manusia itu meniru temannya. Bila dia berteman dengan para penuntut ilmu maka akan bangkit semangat menuntut ilmu. Bila berteman dengan orang yang cinta dunia maka akan bangkit cinta dunia, dan demikian seterusnya.

Maka hendaknya seorang memilih teman-teman yang baik sehingga membuahkan kebaikan dan manfaat baginya serta pengaruh yang positif baginya dan sebaliknya hendaknya mewaspadai dari teman-teman yang rusak karena pengaruh mereka sangatlah besar. Betapa banyak orang baik menjadi rusak karena teman.

Termasuk dalam hal ini pada zaman kita sekarang adalah duduk menyaksikan parabola dan situs-situs rusak yang beredar di dunia maya yang diselundupkan oleh musuh-musuh Islam ke rumah-rumah kaum muslimin sehingga menyebarlah racun-racun yang ganas.

Maka hendaknya bagi kaum muslimin untuk menjaga dirinya dan rumahnya dari perusak-perusak iman.

Hanya kepada Allah kita memohon agar Allah memantapkan iman kita dan menghindarkan kita semua dari perusak-perusaknya.

Pustaka :

[1] Disadur secara bebas oleh Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi dari kitab Asbabu Ziyadatil Iman wa Nuqshanihikarya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, terbitan Dar Minhaj, KSA, cet. pertama, 1428 H.

[2] At-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman hlm. 38

[3] Al-Fawaid hlm. 162

[4] Mukhtar Tafsir al-Manar 3/170

[5] Ar-Risalah al-Qusyairiyah hlm. 141

[6] Shaidhul Khathir hlm. 66 karya Ibnul Jauzi

[7] Al-’Ubudiyyah hlm. 94

[8] Lihat Tafsir ath-Thabari 3/299, Tafsir al-Baghawi 1/407, Tafsir Ibnu Katsir 1/463, Majmu’ Fatawa 7/22.

[9] Iqtidha’ Shirathil Mustaqim hlm. 78

[10] Talbis Iblis hlm. 23

[11] Al-Fawaid hlm. 180

[12] HR. Abu Dawud 13/179 — Aunul Ma’bud, Tirmidzi 4/589, Ahmad 2/203, al-Hakim 4/171; hadits ini hasan. Lihat Silsilah Ahadits ash-Shahihah 2/634 oleh al-Albani

Selesai ditulis ulang di Malang, pada 25 September 2016
oleh Supriyono
Menyalin dari tulisan ustad Abu Ubaidah (www.abiubaidah.com), beliau menyadur dari kitab Asbabu Ziyadatil Iman wa Nuqshanihikarya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr

Buku dengan judul Pasang Surut Keimanan bisa dibeli di toko-toko buku islam, atau bisa dibeli secara online di https://store.yufid.com/jual/buku-pasang-surut-keimanan/