Minggu, 29 Maret 2015

Keutamaan Shalat Berjamaah di Masjid

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.

Kita telah mengetahui bahwa shalat berjama’ah lebih utama daripada shalat sendirian, sebagaimana rosulullah shalallahu 'alayhi wa sallam bersabda:

‎صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

"Shalat berjamaah lebih utama dua puluh tujuh derajat dari shalat sendirian" (HR. Bukhari) 

Lantas, apa saja keutamaan apabila seseorang melakukan sholat berjamaah di masjid?

1. Allah mempersaksikan keimanan orang-orang yang memakmurkan masjid-Nya 

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat.” (At Taubah: 18)

Al-Imam Ibnu Katsir seorang ulama besar dan ahli tafsir menafsirkan ayat diatas, “Allah subhanahu wata’ala bersaksi atas keimanan orang-orang yang mau memakmurkan masjid.” (Al-Mishbahul Munir tafsir At-Taubah: 18) 

Termasuk disini memakmurkan masjid-masjid Allah dengan menuntut ilmu, shalat berjamaa’ah, dan amalan shalih lainnya. 

2. Mendapat naungan dari Allah subhanahu wata’ala pada hari kiamat 

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ يَوْمَ لاَظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ

“Tujuh golongan yang Allah akan menaungi mereka pada suatu hari (kiamat) yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya

‪…‬ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ …

(diantaranya) … dan seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, ….” (Muttafaqun alaihi)

 

3. Diangkat derajat dan dihapuskan dosa 

Rasuulullaah bersabda:

إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لاَ يُرِيدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ 

"Jika seseorang berwudhu, kemudian menyempurnakan wudhunya, kemudian pergi ke masjid dengan tujuan untuk shalat, tiap ia melangkah satu langkah maka diangkatkan baginya satu derajat dan dihapuskan satu dosanya, sampai ia masuk masjid." (HR Muslim) 

Semoga kita senantiasa dimudahkan oleh Allah ta'ala untuk istiqomah di dalam sholat berjama'ah di masjid. 

Selesai ditulis di Surabaya, pada 29 Maret 2015
oleh Supriyono
Menukil faidah dari kajian ilmiah bab "Keutamaan Memakmurkan Masjid" oleh Ust. Abdurrahman Thayyib, Lc di Masjid Manarul Ilmi ITS pada 28 Maret 2015 jam 09.00 - 11.00 WIB

Kamis, 19 Maret 2015

1 Hari di Akhirat = 1000 Tahun di Dunia

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman. 

Satu hari di akhirat sama dengan seribu tahun di dunia. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ خَمْسِمِائَةِ عَامٍ


Orang beriman yang miskin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya yaitu lebih dulu setengah hari yang sama dengan 500 tahun.” (HR. Ibnu Majah no. 4122 dan Tirmidzi no. 2353. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) 

Diterangkan dalam Tuhfatul Ahwadzi sebagai berikut. Satu hari di akhirat sama dengan seribu tahun di dunia. Sebagaimana yang Allah Ta’ala sebutkan,
 

وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ


Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. Al Hajj: 47) 

Oleh karenanya, setengah hari di akhirat sama dengan 500 tahun di dunia. Adapun firman Allah Ta’ala,


فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ


Dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun(QS. Al Ma’arij: 4) 

Ayat ini menunjukkan pengkhususan dari maksud umum yang sebelumnya disebutkan atau dipahami bahwa waktu tersebut begitu lama bagi orang-orang kafir. Itulah kesulitan yang dihadapi orang-orang kafir,


فَإِذَا نُقِرَ فِي النَّاقُورِ (8) فَذَلِكَ يَوْمَئِذٍ يَوْمٌ عَسِيرٌ (9) عَلَى الْكَافِرِينَ غَيْرُ يَسِيرٍ (10)


Apabila ditiup sangkakala, maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit, bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah.(QS. Al Mudatsir: 8-10) 

Mari kita memanfaatkan waktu kita sebaik mungkin untuk beramal kebaikan.
Semoga kita senantisa dimudahkan oleh Allah ta'ala untuk beramal kebaikan.. 

Referensi:
Tuhfatul Ahwadzi Syarh Jami’ At Tirmidzi, Al Imam Al Hafizh Abul ‘Ula muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim Al Mubarakfuri, terbitan Darus Salam, cetakan pertama, tahun 1432 H.

Selesai ditulis ulang di Surabaya, pada 19 Maret 2015
oleh Supriyono
Mengutip dari buah karya Ust. Muhammad Abduh Tuasikal , web : www.rumaysho.com