Selasa, 29 Mei 2012

Kesalahan-Kesalahan yang Harus Dihindari Penuntut Ilmu



Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya dan para pengikutnya.




Masih melanjutkan pembahasan sebelumnya tentang adab menuntut ilmu , pada kesempatan ini kita akan membahas tentang kesalahan-kesalahan yang harus dihindari oleh seorang pentuntut ilmu. Pembahasan ini kami ringkas dari Kitabul Ilmi karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah. Semoga bermanfaat.

Sebagian Kesalahan yang Dilakukan Penuntut Ilmu yang Hendaknya Dihindari:
Pertama: Hasad
Definisi hasad adalah tidak sukanya seseorang atas nikmat yang Allah berikan pada orang lain. Definisi ini sebagaimana disampaikan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah  rahimahullah. Hasad tidaklah mendatangkan bagi pemiliknya kecuali bahaya d`n kerugian, diataranya:
-          Dengan hasad berarti ia benci dengan apa yang Allah telah takdirkan.
-          Hasad memakan kebaikan, sebagaimana api melahap kayu bakar.
-          Muncul dalam hatinya kesusahan dan kesedihan
-          Tasyabuh dengan sifat yahudi yang suka hasad
-          Meskipun ia hasad tidak mungkin dengannya ia dapat menghilangkan nikmat orang lain
-          Hasad menafikan sempurnanya iman. Rasulullah bersabda, Tidak sempurna keimanan salah satu diatara kalian sampai ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya (HR Bukhari dan Muslim).
-          Menyebabkan berpaling dari berdo’a kepada Allah atas keutamaaNya.  Padahal Allah berfirman,

وَلاَ تَتَمَنَّوْاْ مَا فَضَّلَ اللّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُواْ وَلِلنِّسَاء نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُواْ اللّهَ مِن فَضْلِهِ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS An Nisa’: 32)
-          Meremehkan nikmat Allah atas dirinya.
-          Hasan memicu untuk mencela dan mencari-cari kesalahan orang lain.
-          Hasad memicu untuk memusuhi orang lain

Kedua: Berfatwa Tanpa Ilmu
Fatwa memiliki kedudukan yang sangat agung dalam Islam. Dengannya pemiliknya berusaha menjelaskan masalah-masalah penting yang dihadapi umat dan berusaha memberi arahan yang benar. Maka selayaknya orang yang berfatwa adalah yang ahli, bukan sembarang orang. Berbahaya sekali jika ada orang berfatwa tanpa ilmu apa lagi dalam masalah halal dan haram. Untuk itu sebagai seorang penuntut ilmu jika ditanya sesuatu yang tidak diketahui jangan malu untuk mengatakan tidak tahu. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

فإن من العلم أن يقول لما لا يعلم الله أعلم

Sesunguhnya termasuk bagian dari ilmu adalah mengatakan Allahu A’lam atas apa-apa yang tidak diketahui.

Ketiga: Sombong
Definisi sombong yang paling tepat adalah sebagaimana yang disabdakan Rasulullah, Menolak kebenaran dan meremehkan manusia (HR Muslim kitabul iman bab haramnya sombong dan penjelasannya). Sombong menyebabkan pemiliknya sulit untuk menerima kebenaran apalagi jika kebenaran itu datang dari orang-orang yang berada dibawahnya atau lawannya. Jika sudah sulit untuk menerima kebenaran maka ilmu pun sulit masuk pada dirinya. Sehingga amat tepat jika dikatakan,

العلم حرب للفتى المتعالي                            كالسيل حرب للمكان العلي

Ilmu berpaling dari seorang pemuda yang merasa tinggi, sebagaimana berpalingnya suatu aliran dari tempat-tempat yang tinggi

Keempat: Ta’ashub pada madzhab dan pendapat tertentu
Diantara kesalahan besar yang hendaknya dihindari penuntut ilmu adalah berta’ashub pada suatu madzhab , pendapat atau masyayikh tertentu. Yang dengannya ia berwala’ (loyal) dan bara’ (berlepas diri).  Menganggap madzhab atau masyayikhnya saja yang diatas ilmu dan kebenaran sedang yang lain jahil, ahli bid’ah dan perkataan jelek lainnya. Sehingga terjadilah saling mencela dan menghujat diantara penuntut ilmu. Hendaknya penuntut ilmu menghidari dari hal-hal yang demikian karena hal tersebut akan melemahkan barisan kaum muslimin sendiri. Allah berfirman,

وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Dan ta'atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS al Anfaal: 46)

Kelima: Tampil sebelum mahir
Perlu diperingatkan bahwa jangan sampai seorang penuntut ilmu maju/tampil dalam hal-hal ia yang belum memiliki keahlian padanya. Karena hal tersebut akan membuat dirinya terjatuh dalam kesalahan-kesalahan yang berbahaya seperti berfatwa tanpa ilmu dan lainnya. Jika ada seseorang yang suka tampil sebelum memiliki keahlian pada urusan tersebut hal ini menunjukkan atas beberapa hal:
-          Ujub pada diri sendiri dengan merasa dirinya seorang alim.
-          Menunjukkan kurangnya pemahaman dan pengetahuan atas masalah-masalah yang terjadi.
-          Berkata atas (agama) Allah sesuatu yang ia tidak ketahui
-          Kebanyakan sulit menerima kebenaran karena jika sudah merasa alim merasa rendah jika harus mengakui kebenaran ada dipihak orang lain.

Keenam: Su’udzan
Tidak seyogyanya seorang penuntut ilmu selalu beburuk sangka dengan yang lainnya apalagi pada orang-orang yang berilmu dan dikenal baik agamanya. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. (Al Hujurat: 12)

Demikianlah beberapa kesalahan yang hendaknya dihindari para penuntut ilmu. Hendaknya seorang penuntut ilmu selalu menjaga lisan dan perbuatannya serta menyadari kedudukan dirinya. Sesungguhnya Allah telah memuliakan penuntut ilmu dengan ilmu yang ia miliki, menjadikannya contoh dan panutan, serta sebagai tempat bertanya jika ada masalah terjadi dimasyarakat. Allah berfirman,

فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui. (QS Al Anbiya’: 3)

Semoga bermanfaat, Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga , sahabat, serta pengikutnya.

Selesai ditulis di Riyadh, 4 Jumadil Akhir 1433 H (25 April 2012).
Penulis asli Abu Zakariya Sutrisno
Artikel: www.ukhuwahislamiah.com
Ditulis ulang oleh Supriyono di Surabaya pada 29 Mei 2012

Download dan dengar  kajian ahlussunnah:
Tema: Indahnya Taman Ilmu
Pembicara: Ustad Abdullah Taslim

Kamis, 03 Mei 2012

Hal-hal yang Membantu dalam Menuntut Ilmu


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya dan para pengikutnya.




Melanjutkan pembahasan sebelumnya tentang adab menuntut ilmu , pada kesempatan ini kami ringkaskan beberapa hal yang dapat membantu dalam menuntut ilmu. Pembahasan ini kami ringkas dari Kitabul Ilmi karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah. Semoga bermanfaat.

Hal-hal yang Membantu dalam Menuntut Ilmu:
  • Pertama: Taqwa
Allah berfirman,

يِا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إَن تَتَّقُواْ اللّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَاناً

Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada ALlah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan (QS Al Anfaal: 29) 

Keataqwaan akan menambah petunjuk dan ilmu pada seseorang, yang dengannya ia bisa membedakan yang haq dengan yang batil, yang benar dengan yang salah, yang bermanfaat dengan yang bermudharat. Berkata imam Syafi’I
Saya mengadu kepada Waqi’ (gurunya) tentang buruknya hafalanku.  Ia pun menasehati saya untuk meninggalkan maksiat. Ia berkata, ketahuilah sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak diberikan pada ahli maksiat

  • Kedua: Teguh dan kontinyu dalam menuntut ilmu
Diantara hal yang membantu untuk mendapatkan ilmu adalah kesungguhan dalam mempelajarinya, sabar atas kesulitan yang dihadapi serta berusaha selalu menjaga ilmu yang telah didapatkan. Sesunguhnya ilmu tidak akan didapatkan dengan badan yang bersantai-santai. Hendaknya penuntut ilmu senantiasa semangat dan menempuh jalan-jalan yang dapat mengatarkan pada ilmu. Rasulullah bersabda, Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga [1].

  • Ketiga: Menghafal dan menjaga ilmunya
Setiap penuntut ilmu hendaknya menjaga ilmu yang telah didapatkan baik dengan dengan hafalan maupun dengan tulisan. Hendaknya senantiasa semangat untuk memuraja’ah ilmunya, karena namanya manusia tabiatnya adalah pelupa. Diantara hal yang dapat membantu menjaga ilmu adalah dengan mengamalkan dan mendakwahkan ilmunya. Allah berfirman,

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْواهُمْ

Dan oraang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya. (QS Muhammad: 17)

  • Keempat: Mulazamah pada ulama’
Diantara hal yang membantu untuk mendapatkan ilmu adalah dengan mulazamah/bermajelis dengan ulama’ atau ahli ilmu. Faedah belajar pada ahli ilmu diantaranya semakin cepat dan mudah dalam memahami ilmu, serta terhindar dari kesalahan dalam memahami.

Jalan untuk sampai pada ilmu

Segala sesuatu memiliki jalan untuk sampai padanya, begitu pula dengan ilmu. Hendaknya ia membangun ilmu yang ia tuntut diatas sesuatu yang pokok (ushul), karena barangsiapa melalaikan yang pokok maka ia tidak akan sampai pada yang dituju. Dan pokok dari ilmu adalah dalil-dalil dari Al Kitab dan As Sunnah serta kaidah dan dhawabit [2] yang diambil dari keduanya (Al Kitab dan As Sunnah). Sedangkan yang furu’ (cabang) adalah permasalahan-permasalahan (masa’il). Jangan sampai seorang pemula dalam menuntut ilmu sibuk dengan permasalahan-permasalah yang rumit [3], tetapi ia lalai dari yang pokok dan lebih penting.

Ada dua cara untuk mendapatkan ilmu: pertama dengan membaca langsung dari kitab, kedua belajar pada seorang ahli ilmu yang tsiqah dalam ilmu dan agamanya. Cara kedua tentu lebih mudah, lebih cepat serta lebih aman dari kesalaham memahami ilmu. Adapun cara pertama yaitu membaca langsung dari kita, bisa jadi ia adalah orang yang tidak memiliki ilmu yang mumpuni sehingga salah dalam memahami, ini sangat berbahaya, atau setidaknya memerlukan waktu yang lama untuk memahaminya secara utuh dan benar.

Semoga bermanfaat, Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulallah serta keluarga dan sahabatnya.

Selesai ditulis di Riyadh, 27 Jumadil Awal 1433 H (19April 2012).
Oleh Abu Zakariya Sutrisno
Ditulis ulang oleh Supriyono

Notes:
[1].  HR Muslim
[2].  Kaidah bersifat umum, sedang dhawabith bersifat khusus dalam suatu masalah tertentu
[3].  Seperti permasalah khilafiyah diantara para ulama’. Tidak seyogyanya seorang pemula  dalam menuntut ilmu sibuk dengan masalah tersebut, padahal ia tidak memiliki ilmu atasnya. Cukup bagi dirinya mengambil pendapat yang menurutnya lebih kuat, lalu mensibukkan diri mempelajari yang hal-hal pokok dan lebih penting untuk ia pelajari terlebih dahulu.

-----------------------------------------------------
Download dan dengar  kajian ahlussunnah:
Tema: Indahnya Taman Ilmu
Pembicara: Ustad Abdullah Taslim