Senin, 05 November 2012

Pengaruh Bergaul dengan Teman yang Baik

Teman bergaul dan lingkungan yang Islami, sungguh sangat mendukung seseorang menjadi lebih baik dan bisa terus istiqomah. Sebelumnya bisa jadi malas-malasan. Namun karena melihat temannya tidak sering tidur pagi, ia pun rajin. Sebelumnya menyentuh al Qur’an pun tidak. Namun karena melihat temannya begitu rajin tilawah Al Qur’an, ia pun tertular rajinnya.



Perintah Agar Bergaul dengan Orang-Orang yang Sholih
Allah menyatakan dalam Al Qur'an bahwa salah satu sebab utama yang membantu menguatkan iman para shahabat Nabi adalah keberadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah-tengah mereka. Allah Ta’ala berfirman,

وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آَيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

"Bagaimana mungkin (tidak mungkin) kalian menjadi kafir, sedangkan ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nyapun berada ditengah-tengah kalian? Dan barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (QS. Ali 'Imran: 101)

Allah juga memerintahkan agar selalu bersama dengan orang-orang yang baik. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar(jujur)." (QS. At Taubah: 119)

Berteman dengan Pemilik Minyak Misk
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita agar bersahabat dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan sering menasehati kita.

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.(HR. Bukhari no. 2101, dari Abu Musa)

Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Hadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Dan hadits ini juga menunjukkan dorongan agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.” (Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 4/324, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379)

Melihat Siapa Teman Karib Anda
Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, Ahmad 2/344, dari Abu Hurairah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shohihul Jaami’ 3545)

Al Ghozali rahimahullah mengatakan, “Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud dalam masalah dunia. Karena memang asalnya seseorang akan mencontoh teman dekatnya.” (Tuhfatul Ahwadzi, Abul ‘Ala Al Mubarakfuri, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut, 7/42)

Oleh karena itu, pandai-pandailah memilih teman bergaul. Jangan terhanyut dengan pergaulan yang malas-malasan dan penuh kejelekan. Banyak sekali yang menjadi baik karena pengaruh lingkungan yang baik. Yang sebelumnya malas shalat atau malas shalat jama’ah, akhirnya mulai rajin. Sebaliknya, banyak yang menjadi rusak pula karena lingkungan yang jelek.


Semoga Allah mudahkan dan beri taufik untuk terus istiqomah dalam agama ini.

Selesai ditulis di Surabaya, pada 5 November 2012
Oleh Supriyono


Download dan dengar  kajian ahlussunnah:
Tema: Memilih Teman
Pembicara: Abdullah Shaleh Hadrami

Selasa, 29 Mei 2012

Kesalahan-Kesalahan yang Harus Dihindari Penuntut Ilmu



Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya dan para pengikutnya.




Masih melanjutkan pembahasan sebelumnya tentang adab menuntut ilmu , pada kesempatan ini kita akan membahas tentang kesalahan-kesalahan yang harus dihindari oleh seorang pentuntut ilmu. Pembahasan ini kami ringkas dari Kitabul Ilmi karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah. Semoga bermanfaat.

Sebagian Kesalahan yang Dilakukan Penuntut Ilmu yang Hendaknya Dihindari:
Pertama: Hasad
Definisi hasad adalah tidak sukanya seseorang atas nikmat yang Allah berikan pada orang lain. Definisi ini sebagaimana disampaikan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah  rahimahullah. Hasad tidaklah mendatangkan bagi pemiliknya kecuali bahaya d`n kerugian, diataranya:
-          Dengan hasad berarti ia benci dengan apa yang Allah telah takdirkan.
-          Hasad memakan kebaikan, sebagaimana api melahap kayu bakar.
-          Muncul dalam hatinya kesusahan dan kesedihan
-          Tasyabuh dengan sifat yahudi yang suka hasad
-          Meskipun ia hasad tidak mungkin dengannya ia dapat menghilangkan nikmat orang lain
-          Hasad menafikan sempurnanya iman. Rasulullah bersabda, Tidak sempurna keimanan salah satu diatara kalian sampai ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya (HR Bukhari dan Muslim).
-          Menyebabkan berpaling dari berdo’a kepada Allah atas keutamaaNya.  Padahal Allah berfirman,

وَلاَ تَتَمَنَّوْاْ مَا فَضَّلَ اللّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُواْ وَلِلنِّسَاء نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُواْ اللّهَ مِن فَضْلِهِ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS An Nisa’: 32)
-          Meremehkan nikmat Allah atas dirinya.
-          Hasan memicu untuk mencela dan mencari-cari kesalahan orang lain.
-          Hasad memicu untuk memusuhi orang lain

Kedua: Berfatwa Tanpa Ilmu
Fatwa memiliki kedudukan yang sangat agung dalam Islam. Dengannya pemiliknya berusaha menjelaskan masalah-masalah penting yang dihadapi umat dan berusaha memberi arahan yang benar. Maka selayaknya orang yang berfatwa adalah yang ahli, bukan sembarang orang. Berbahaya sekali jika ada orang berfatwa tanpa ilmu apa lagi dalam masalah halal dan haram. Untuk itu sebagai seorang penuntut ilmu jika ditanya sesuatu yang tidak diketahui jangan malu untuk mengatakan tidak tahu. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

فإن من العلم أن يقول لما لا يعلم الله أعلم

Sesunguhnya termasuk bagian dari ilmu adalah mengatakan Allahu A’lam atas apa-apa yang tidak diketahui.

Ketiga: Sombong
Definisi sombong yang paling tepat adalah sebagaimana yang disabdakan Rasulullah, Menolak kebenaran dan meremehkan manusia (HR Muslim kitabul iman bab haramnya sombong dan penjelasannya). Sombong menyebabkan pemiliknya sulit untuk menerima kebenaran apalagi jika kebenaran itu datang dari orang-orang yang berada dibawahnya atau lawannya. Jika sudah sulit untuk menerima kebenaran maka ilmu pun sulit masuk pada dirinya. Sehingga amat tepat jika dikatakan,

العلم حرب للفتى المتعالي                            كالسيل حرب للمكان العلي

Ilmu berpaling dari seorang pemuda yang merasa tinggi, sebagaimana berpalingnya suatu aliran dari tempat-tempat yang tinggi

Keempat: Ta’ashub pada madzhab dan pendapat tertentu
Diantara kesalahan besar yang hendaknya dihindari penuntut ilmu adalah berta’ashub pada suatu madzhab , pendapat atau masyayikh tertentu. Yang dengannya ia berwala’ (loyal) dan bara’ (berlepas diri).  Menganggap madzhab atau masyayikhnya saja yang diatas ilmu dan kebenaran sedang yang lain jahil, ahli bid’ah dan perkataan jelek lainnya. Sehingga terjadilah saling mencela dan menghujat diantara penuntut ilmu. Hendaknya penuntut ilmu menghidari dari hal-hal yang demikian karena hal tersebut akan melemahkan barisan kaum muslimin sendiri. Allah berfirman,

وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Dan ta'atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS al Anfaal: 46)

Kelima: Tampil sebelum mahir
Perlu diperingatkan bahwa jangan sampai seorang penuntut ilmu maju/tampil dalam hal-hal ia yang belum memiliki keahlian padanya. Karena hal tersebut akan membuat dirinya terjatuh dalam kesalahan-kesalahan yang berbahaya seperti berfatwa tanpa ilmu dan lainnya. Jika ada seseorang yang suka tampil sebelum memiliki keahlian pada urusan tersebut hal ini menunjukkan atas beberapa hal:
-          Ujub pada diri sendiri dengan merasa dirinya seorang alim.
-          Menunjukkan kurangnya pemahaman dan pengetahuan atas masalah-masalah yang terjadi.
-          Berkata atas (agama) Allah sesuatu yang ia tidak ketahui
-          Kebanyakan sulit menerima kebenaran karena jika sudah merasa alim merasa rendah jika harus mengakui kebenaran ada dipihak orang lain.

Keenam: Su’udzan
Tidak seyogyanya seorang penuntut ilmu selalu beburuk sangka dengan yang lainnya apalagi pada orang-orang yang berilmu dan dikenal baik agamanya. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. (Al Hujurat: 12)

Demikianlah beberapa kesalahan yang hendaknya dihindari para penuntut ilmu. Hendaknya seorang penuntut ilmu selalu menjaga lisan dan perbuatannya serta menyadari kedudukan dirinya. Sesungguhnya Allah telah memuliakan penuntut ilmu dengan ilmu yang ia miliki, menjadikannya contoh dan panutan, serta sebagai tempat bertanya jika ada masalah terjadi dimasyarakat. Allah berfirman,

فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui. (QS Al Anbiya’: 3)

Semoga bermanfaat, Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga , sahabat, serta pengikutnya.

Selesai ditulis di Riyadh, 4 Jumadil Akhir 1433 H (25 April 2012).
Penulis asli Abu Zakariya Sutrisno
Artikel: www.ukhuwahislamiah.com
Ditulis ulang oleh Supriyono di Surabaya pada 29 Mei 2012

Download dan dengar  kajian ahlussunnah:
Tema: Indahnya Taman Ilmu
Pembicara: Ustad Abdullah Taslim

Kamis, 03 Mei 2012

Hal-hal yang Membantu dalam Menuntut Ilmu


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya dan para pengikutnya.




Melanjutkan pembahasan sebelumnya tentang adab menuntut ilmu , pada kesempatan ini kami ringkaskan beberapa hal yang dapat membantu dalam menuntut ilmu. Pembahasan ini kami ringkas dari Kitabul Ilmi karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah. Semoga bermanfaat.

Hal-hal yang Membantu dalam Menuntut Ilmu:
  • Pertama: Taqwa
Allah berfirman,

يِا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إَن تَتَّقُواْ اللّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَاناً

Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada ALlah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan (QS Al Anfaal: 29) 

Keataqwaan akan menambah petunjuk dan ilmu pada seseorang, yang dengannya ia bisa membedakan yang haq dengan yang batil, yang benar dengan yang salah, yang bermanfaat dengan yang bermudharat. Berkata imam Syafi’I
Saya mengadu kepada Waqi’ (gurunya) tentang buruknya hafalanku.  Ia pun menasehati saya untuk meninggalkan maksiat. Ia berkata, ketahuilah sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak diberikan pada ahli maksiat

  • Kedua: Teguh dan kontinyu dalam menuntut ilmu
Diantara hal yang membantu untuk mendapatkan ilmu adalah kesungguhan dalam mempelajarinya, sabar atas kesulitan yang dihadapi serta berusaha selalu menjaga ilmu yang telah didapatkan. Sesunguhnya ilmu tidak akan didapatkan dengan badan yang bersantai-santai. Hendaknya penuntut ilmu senantiasa semangat dan menempuh jalan-jalan yang dapat mengatarkan pada ilmu. Rasulullah bersabda, Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga [1].

  • Ketiga: Menghafal dan menjaga ilmunya
Setiap penuntut ilmu hendaknya menjaga ilmu yang telah didapatkan baik dengan dengan hafalan maupun dengan tulisan. Hendaknya senantiasa semangat untuk memuraja’ah ilmunya, karena namanya manusia tabiatnya adalah pelupa. Diantara hal yang dapat membantu menjaga ilmu adalah dengan mengamalkan dan mendakwahkan ilmunya. Allah berfirman,

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْواهُمْ

Dan oraang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya. (QS Muhammad: 17)

  • Keempat: Mulazamah pada ulama’
Diantara hal yang membantu untuk mendapatkan ilmu adalah dengan mulazamah/bermajelis dengan ulama’ atau ahli ilmu. Faedah belajar pada ahli ilmu diantaranya semakin cepat dan mudah dalam memahami ilmu, serta terhindar dari kesalahan dalam memahami.

Jalan untuk sampai pada ilmu

Segala sesuatu memiliki jalan untuk sampai padanya, begitu pula dengan ilmu. Hendaknya ia membangun ilmu yang ia tuntut diatas sesuatu yang pokok (ushul), karena barangsiapa melalaikan yang pokok maka ia tidak akan sampai pada yang dituju. Dan pokok dari ilmu adalah dalil-dalil dari Al Kitab dan As Sunnah serta kaidah dan dhawabit [2] yang diambil dari keduanya (Al Kitab dan As Sunnah). Sedangkan yang furu’ (cabang) adalah permasalahan-permasalahan (masa’il). Jangan sampai seorang pemula dalam menuntut ilmu sibuk dengan permasalahan-permasalah yang rumit [3], tetapi ia lalai dari yang pokok dan lebih penting.

Ada dua cara untuk mendapatkan ilmu: pertama dengan membaca langsung dari kitab, kedua belajar pada seorang ahli ilmu yang tsiqah dalam ilmu dan agamanya. Cara kedua tentu lebih mudah, lebih cepat serta lebih aman dari kesalaham memahami ilmu. Adapun cara pertama yaitu membaca langsung dari kita, bisa jadi ia adalah orang yang tidak memiliki ilmu yang mumpuni sehingga salah dalam memahami, ini sangat berbahaya, atau setidaknya memerlukan waktu yang lama untuk memahaminya secara utuh dan benar.

Semoga bermanfaat, Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulallah serta keluarga dan sahabatnya.

Selesai ditulis di Riyadh, 27 Jumadil Awal 1433 H (19April 2012).
Oleh Abu Zakariya Sutrisno
Ditulis ulang oleh Supriyono

Notes:
[1].  HR Muslim
[2].  Kaidah bersifat umum, sedang dhawabith bersifat khusus dalam suatu masalah tertentu
[3].  Seperti permasalah khilafiyah diantara para ulama’. Tidak seyogyanya seorang pemula  dalam menuntut ilmu sibuk dengan masalah tersebut, padahal ia tidak memiliki ilmu atasnya. Cukup bagi dirinya mengambil pendapat yang menurutnya lebih kuat, lalu mensibukkan diri mempelajari yang hal-hal pokok dan lebih penting untuk ia pelajari terlebih dahulu.

-----------------------------------------------------
Download dan dengar  kajian ahlussunnah:
Tema: Indahnya Taman Ilmu
Pembicara: Ustad Abdullah Taslim

Rabu, 04 April 2012

Keutamaan Doa Seorang Ibu


Do'a orang tua pada anak adalah do'a yang amat ampuh. Baik do'a ortu tersebut adalah do'a kebaikan atau do'a kejelekan. Di antara buktinya adalah kisah ulama besar hadits yang sudah ma'ruf di tengah-tengah kaum muslimin, Imam Bukhari rahimahullah

Imam Abu ‘Abdillah, Muhammad bin Isma’il al-Bukhary dinilai sebagai Amirul Mukminin dalam hadits, tidak ada seorang ulama pun yang menentang pendapat ini.

" Lalu apa nikmat Allah atas sejak ia masih kecil? "

Imam al-Lalika`iy meriwayatkan di dalam kitabnya Syarh as-Sunnah dan Ghanjar di dalam kitabnya Taariikh Bukhaara mengisahkan sebagai berikut:

”Sejak kecil Imam al-Bukhary kehilangan penglihatan pada kedua matanya alis buta. Suatu malam di dalam mimpi, ibunya melihat Nabi Allah, al-Khalil, Ibrahim 'alaihis salam yang berkata kepadanya, ‘Wahai wanita, Allah telah mengembalikan penglihatan anakmu karena begitu banyaknya kamu berdoa.” Pada pagi harinya, ia melihat anaknya dan ternyata benar, Allah telah mengembalikan penglihatannya.
(Asy-Syifa` Ba’da Al-Maradh karya Ibrahim bin ‘Abdullah al-Hazimy sebagai yang dinukilnya dari kitab Hadyu as-Saary Fi Muqaddimah Shahih al-Buukhary karya al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalany, www.alsofwah.or.id)

Hal di atas menunjukkan benarnya sabda Rasul kita shallallahu 'alaihi wa sallam akan manjurnya do'a orang tua pada anaknya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang dizholimi.(HR. Abu Daud no. 1536. Syaikh Al Albani katakan bahwa hadits ini hasan)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَ تُرَدُّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

Tiga doa yang tidak tertolak yaitu doa orang tua, doa orang yang berpuasa dan doa seorang musafir.(HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 1797)

Dalam dua hadits ini disebutkan umum, artinya mencakup doa orang tua yang berisi kebaikan atau kejelekan pada anaknya.

Juga dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ

Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang yang dizholimi, doa orang yang bepergian (safar) dan doa baik orang tua pada anaknya.(HR. Ibnu Majah no. 3862. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Riwayat ini menyebutkan bahwa doa baik orang tua pada anaknya termasuk doa yang mustajab.

Semoga setiap orang tua tidak melupakan doa untuk anaknya dalam kebaikan. Semoga Allah pun memperkenankan do'a kebaikan kita pada anak-anak kita. Semoga mereka menjadi anak yang sholeh nantinya dan berbakti pada ortu serta bermanfaat untuk Islam.

Selesai ditulis di Surabaya, pada 4 April 2012
Oleh Supriyono
Dikutip dari buah karya Ummul Hamam, Riyadh KSA

Senin, 02 April 2012

Nasihat Untuk Penghafal Al-Qur'an (Waktu Yang Dibutuhkan Untuk Menghafal)

Pertanyaan
Berapa lamakah seorang pelajar menghabiskan waktu untuk menghafal Kitabullah?

Jawaban
Seorang pelajar dalam menghafal AlQur’an membutuhkan waktu yang berbeda beda, sesuai dengan perbedaan kecerdasan dan kemampuan pelajar tersebut. Pelajar yang cerdas mampu menghafal Al-Qur’an Al-Kariim selama tidak kurang 4 bulan dengan syarat pelajar tersebut memusatkan dan mencurahkan seluruh tenaga dan waktunya untuk menghafal Kitabullah dengan sungguh sungguh.

Adapun untuk pelajar yang tingkat kecerdasannya sedang, membutuhkan waktu 1 tahun untuk menghafal Al Qur’an. Sedangkan pelajar yang lemah tingkat kecerdasannya membutuhkan waktu sesuai tingkat kesungguhan dan kemampuannya. Dan tidak ada batasan waktu tertentu.

Pertanyaan
Apakah memahami makna dan kata kata merupakan syarat bagi orang yang membaca AlQur’an?

Jawaban
Tidak diragukan lagi bahwa merenung dan memahami makna makna Al Qur’an merupakan tingkatan yang paling tinggi dan hal inilah yang diinginkan dan dituntut. Akan tetapi orang yang membaca Kitabullah (dengan) tidak mengetahui artinya bukan berarti (kemudian) dia meninggalkan bacaan AlQur’an dan hafalannya. Maka membaca Al Qur’an itu ibadah, terlepas dari tadabbur (merenungkan maknanya). Allah ‘azza wa jalla berfirman:

لَقَدْ مَنَّ اللّهُ عَلَى الْمُؤمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata” Ali Imran : 164

Di dalam ayat ini diketahui bahwa berbeda antara membaca dan mempelajari maknanya. Firman Allah “yang membacakan kepada mereka ayat ayat Allah” dan Firman-Nya : “dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah.” Sebagaimana yang telah ma’ruf bahwa bacaan satu huruf dari Kitabullah merupakan satu kebaikan. Dan diantara huruf huruf ini adalah huruf huruf yang terpisah, yang tidak ada seorang pun yang mengetahui maknanya menurut pendapat yang shahih. Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam bersabda,
“Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka baginya kebaikan sepuluh kali lipat, aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, Mim satu huruf.” (Shahih HR.Tirmidzi) 

Dan Rasulullah -shalallahu ‘alayhi wa sallam- tidak memberi syarat kepada orang yang membaca Al-Qur’an untuk memahami makna-makna dari huruf huruf (yang dibaca) terlebih dahulu agar dirinya mendapatkan pahala. Hal tersebut diperjelas dengan banyaknya orang orang Ajm (orang orang yang bukan arab) mereka tidak mengetahui makna Al Qur’an Al Karim dan tidak mengetahui makna Al Fatihah, bersamaan dengan itu tidak ada satupun dari kalangan ulama yang mengatakan bahwa shalat mereka bathil (tidak sah) dengan sebab mereka tidak paham terhadap makna Al Quran Al Karim. Sebagaimana tidak pantas bagi mereka menghafal kitab Allah ‘azza wa jalla.


Diambil dari artikel muslimah.or.id
Disalin dari buku Keajaiban Hafalan – Bimbingan bagi yang ingin menghafal Al Qur’an oleh Abdul Qoyyum bin Muhammad bin Nashir As Sahaibani Muhammad Taqiyul Islam. Pustaka Al Haura’
Dipublis ulang oleh Supriyono
Di Surabaya
Pada 2 April 2012

Senin, 20 Februari 2012

Download Gratis Video dan Audio Kajian Ilmiah

   
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Segala puji bagi Allah Subhanahu wata’ala. Kita memuji, memohan pertolongan, dan meminta ampun kepadaNya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri dan keburukan amal perbuatan. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu wa ta’ala maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan RasulNya. 


Alhamdulillah, video dan rekaman audio kajian ilmiah telah diupload. Bisa langsung didownload gratis sebagai berikut,

Video  

  • Syaikh Bin Baaz
Biografi Syaikh Bin Baaz
  01
  02
  03


Keutamaan Ilmu

  01 
  • Dr Shalih Al Fauzan 
Tanggung Jawab Ulama' Dan Da'i
01
02
03


Audio Kajian 


  • Armen Halim Naro
  Apa Itu Islam, Iman dan Ihsan

  • Abdurrahman Thayyib   
  Ciri Khas Islam  (Ringkas)
  Ciri Khas Islam (Lengkap)

  • Abu Ihsan Al-Atsary
  Ainallah (Dimana Allah ?)
  • Yazid Abdul Qadir Jawas
  3 Landasan Utama


  • Syaikh Prof DR Abdur Rozzaq Al Badr
  Keutamaan Ilmu

  •  Abdullah Taslim
  Indahnya Taman Ilmu (Penjelasan Kitab Hilyah Tholibil Ilmi) 01
 
Indahnya Taman Ilmu (Penjelasan Kitab Hilyah Tholibil Ilmi) 02

  •  Abu Zubair al-Hawaary
  Mencintai Keimanan

  • Zainal Abidin Syamsudin
Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama'ah

  • Abu Ihsan Al-Atsary
  Pembatal Keimanan (Materi)
  Pembatal Keimanan (Tanya Jawab)



Semoga bermanfaat dan semoga kita senantiasa dimudahkan oleh Allah untuk istiqomah dalam menuntut ilmu.
Selesai diupload di Surabaya pada 20 Pebruary 2012
Oleh Supriyono

Untaian Jilbab Muslimah

Islam adalah ajaran yang sangat sempurna, sampai-sampai cara berpakaianpun dibimbing oleh Allah Dzat yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi diri kita. Bisa jadi sesuatu yang kita sukai, baik itu berupa model pakaian atau perhiasan pada hakikatnya justru jelek menurut Allah. Allah berfirman,

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu adalah baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal sebenarnya itu buruk bagimu, Allahlah yang Maha mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui” (Al Baqoroh : 216)

Oleh karenanya marilah kita ikuti bimbingan-Nya dalam segala perkara termasuk mengenai cara berpakaian.


Perintah dari atas langit

Allah Ta’ala memerintahkan kepada kaum muslimah untuk berjilbab sesuai syari’at. Allah berfirman, “Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu serta para wanita kaum beriman agar mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka mudah dikenal dan tidak diganggu orang. Alloh Maha pengampun lagi Maha penyayang”. (Al Ahzab : 59).



Ketentuan jilbab menurut syari’at

Berikut ini beberapa ketentuan jilbab syar’i ketika seorang muslimah berada di luar rumah atau berhadapan dengan laki-laki yang bukan mahrom (bukan ‘muhrim’, karena muhrim berarti orang yang berihrom) yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah yang shohihah dengan contoh penyimpangannya, semoga Allah memudahkan kita untuk memahami kebenaran dan mengamalkannya serta memudahkan kita untuk meninggalkan busana yang melanggar ketentuan Robbul ‘alamiin.

1.
Pakaian muslimah itu harus menutup seluruh badannya kecuali wajah dan kedua telapak tangan (lihat Al Ahzab : 59, An Nuur : 31). Selain keduanya seperti leher dan lain-lain, maka tidak boleh ditampakkan walaupun cuma sebesar uang logam, apalagi malah buka-bukaan. Bahkan sebagian ulama mewajibkan untuk ditutupi seluruhnya tanpa kecuali.

2.
Bukan busana perhiasan yang justeru menarik perhatian seperti yang banyak dihiasi dengan gambar bunga apalagi yang warna-warni, atau disertai gambar makhluk bernyawa, apalagi gambarnya lambang partai politik, ini bahkan bisa menimbulkan perpecahan diantara sesama muslimin.

3.
Harus longgar, tidak ketat, tidak tipis dan tidak sempit yang mengakibatkan lekuk-lekuk tubuhnya tampak atau transparan. Cermatilah, dari sini kita bisa menilai apakah jilbab gaul yang tipis dan ketat yang banyak dikenakan para mahasiswi maupun ibu-ibu di sekitar kita dan bahkan para artis itu sesuai syari’at atau tidak.

4.
Tidak diberi wangi-wangian atau parfum karena dapat memancing syahwat lelaki yang mencium keharumannya. Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang wanita diantara kalian hendak ke masjid, maka janganlah sekali-kali dia memakai wewangian” (HR. Muslim). Kalau pergi ke masjid saja dilarang memakai wewangian lalu bagaimana lagi para wanita yang pergi ke kampus-kampus, ke pasar-pasar bahkan berdesak-desakkan dalam bis kota dengan parfum yang menusuk hidung.

5.
Tidak menyerupai pakaian laki-laki seperti memakai celana panjang, kaos oblong dan semacamnya. Rosululloh melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki (HR. Bukhori).

6.
Tidak menyerupai pakaian orang-orang kafir. Nabi senantiara memerintahkan kita untuk menyelisihi mereka diantaranya dalam masalah pakaian yang menjadi ciri mereka.

7.
Bukan untuk mencari popularitas. Untuk apa kalian mencari popularitas wahai saudariku ? Apakah kalian ingin terjerumus ke dalam neraka hanya demi popularitas semu. Lihatlah isteri Nabi yang cantik Ibunda ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha yang dengan patuh menutup dirinya dengan jilbab syar’i, bukankah kecerdasannya amat masyhur di kalangan ummat ini? 

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua khususnya saudariku para muslimah..

Selesai ditulis di Surabaya, pada 20 Pebruary 2012
Oleh Supriyono
Diambil dari kitab Jilbab Wanita Muslimah karya Syaikh Al Albani

Download dan Dengar kajian Ilmiah ahlussunnah
Tema : Jilbab Wanita Muslimah 
Pemateri : Armen Halim Naro
Link : Klik Disini