Senin, 19 Desember 2011

Jadwal Kajian di Surabaya (update 11 November 2011)

Update 11 Nopember 2011 

 
UNTUK KOREKSI/UPDATE JADWAL KAJIAN SILAHKAN MENGISI PADA FORM KOMENTAR, ATAU EMAIL KE : kajiansurabaya@ymail.com, atau sms ke: 085749599033 , atau melalui comment dibawah langsung.
formatnya : JADWAL/WAKTU#MATERI/KITAB#PEMATERI#ALAMAT KAJIAN#KONTAK HP

MASJID THAYBAH (umum-ikhwan)
Perum Inti Bumi no. 1-3, Keputih, Surabaya
  1. Senin B’da Subuh Taysirul ‘Allam ( 10 )
  2. Selasa B’da Subuh Usul Fiqh ( 10 )
  3. Rabu B’da Subuh Aqidah Tauhid ( 10 )
  4. Kamis B’da Subuh Tafsir Al Aisar / Syaikh Al Jazairi – mulai dari awal ( 10 )
  5. Kamis B’da Maghrib Al Aisar / Syaikh Al Jazairi – mulai dari tengah 10 )
  6. Jumat B’da Subuh Tahfidz Al Quran ( 10 )
Kontak Informasi : 08565 5337 083

WISMA AKHWAT THAYBAH (umum-akhwat)
Wisma akhwat Thaybah – Gubeng Kertajaya XI E No. 21
  1. Selasa B’da Isya – Tafsir Al-Qur’an 10 )
  2. Rabu B’da Isya -  Syarah Usul Tsalatsah 16 )
  3. Kamis B’da Isya – Fiqh Al Wajiz 17 )
  4. Jum’at Ba’da SubuhTahsin ( 14 )
Kontak Informasi : 0857 3220 3084

FSMS-UNESA (umum)
Mushollah Al Amin Karang Rejo Sawah Gg. VII Kec.Wonokromo, Surabaya
  1. Sabtu Pekan 4 jam 10.00 wib – Arba’in Nawawi ( 15 )
Kontak Informasi : 08564 5374 883

MASJID AL AMIN (umum)
Jln. Semampir Tengah III-A / 25 Surabaya
  1. Senin B’da Maghrib Riyadush Shalihin ( 3 )
  2. Rabu B’da Maghrib Quratul ‘Uyun Al Muwahidin ( 4 )
  3. Sabtu B’da Subuh Tafsir Ibnu Katsir ( 3 )

MASJID JAMI’ MAKKAH (umum)
Jln. Bendul Merisi Tengah, Surabaya
  1. Senin (I) B’da Maghrib Ta’liq Aqdh Washitiyah (4)
  2. Ahad (II) B’da Maghrib Syarh Arba’in Nawawi (2)
  3. Ahad (III) B’da Maghrib Tafsir Ibnu Katsir (3)
  4. Ahad (IV) B’da Maghrib Syarh Kitab at Tauhid (1)

MASJID UKHUWAH ISLAMIYAH (umum)
Jln. Perak Barat Surabaya
  1. Senin B’da Maghrib Tafsir Ibnu Katsir (2)
  2. Kamis B’da Maghrib Syarh Arba’in an Nawawi (5)

MASJID AL HILAL (umum)
Jln. Purwodadi – Demak, Surabaya
  1. Rabu B’da Maghrib Ushulus Sunnah (1)

MASJID MUJAHIDIN (umum)
Jln. Perak Barat, Komplek Pelabuhan Surabaya
Kamis B’da Maghrib al Qaulul Mufid (1)

 
MASJID DARUL HIJRAH (ikhwan only)
Jln. Sidotopo Kidul, komplek Ma’had Ali al Irsyad Surabaya
  1. Senin B’da Maghrib Tazkiyah an Nafs (5)
  2. Selasa B’da Maghrib Fathul Madjid (7)
  3. Rabu B’da Maghrib Tafsir Juz ‘Amma (6)
  4. Kamis B’da Maghrib Lum’atul I’tiqad (4)
  5. Jumat B’da Maghrib Ushul at Tafsir (-)

MASJID IBRAHIM (umum)
Jln. Semolowaru Bahari, komplek TNI AL Surabaya
  1. Senin B’da Maghrib Shahih Fadha’il Amal (10)
  2. Sabtu B’da Subuh Tafsir al Quran ( 8 )

MASJID AL JAARIYAT (umum)
Jln. Kedungcowek, Kenjeran Surabaya
  1. Sabtu B’da Maghrib Tematik (9)

MASJID DARUSSALAM (umum)
Jln. Ampel Sawahan II Surabaya
  1. Selasa B’da Maghrib Aqidah Ashabul Hadits (4)

Keterangan : Kajian di atas diisi oleh pemateri sebagai berikut :
1.Al Ustadz Aunur Rafiq bin Ghufron, Lc.
2.Al Ustadz Mubarak bin Mahfudz Bamu’allim, Lc.
3.Al Ustadz Ma’ruf nur Salam, Lc.
4.Al Ustadz Abdurrahman Thayyib, Lc.
5.Al Ustadz Imam Wahyudi, Lc.
6.Al Ustadz M. Chusnul Yaqin, Lc.
7.Al Ustadz Salim bin Ali Ghanim, Lc.
8.Al Ustadz Ainul Harits, Lc. M.Ag.
9.Al Ustadz Ridwan ‘Abdul Aziz
10.Al Ustadz M. Noor Yasin
11. Al Ustadz Abdurrahim
12. Al Ustadz Fuad
13. Al Ustadz Raswanto
14. Al Ustadz Zaki
15. Al Ustadz Muhammad Ilham
16. Al Ustadz Agung
17. Al Ustadz Fachri
 
Informasi selengkapnya kunjungi:
http://assunnahsurabaya.wordpress.com/jadwal-kajian/

Minggu, 18 Desember 2011

Kewajiban Shalat Berjamaah di Masjid bagi Laki-laki

Banyak dari kita yang meremehkan shalat berjamaah. Oleh karenanya, melalui tulisan ini akan coba kami jelaskan mengenai hukum-hukum tentang wajibnya shalat berjama’ah, karena sebe-narnya masalah ini adalah masalah yang teramat penting.

Allah subhanahu wa ta'ala banyak menyebut kata shalat dalam Al-Qur’an. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk. (Al Baqarah : 43)

Ini menandakan begitu penting perkara ini. Ayat mulia ini merupakan nash tentang kewajiban shalat berjamaah.

Dan dalam surat An- Nisa’ Allah berfirman yang artinya :
Dan apabila kamu berada ditengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serekat), maka hendaklah mereka dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan kedua yang belum shalat, lalu bershalatlah me-reka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. (An Nisa’ 102)

Pada ayat diatas Allah mewajibkan shalat berjamaah bagi kaum muslimin dalam keadaan perang. Bagaimana bila dalam keadaan damai? Telah disebutkan diatas bahwa ..dan hendaklah datang segolongan kedua yang be-lum shalat, lalu bershalatlah bersamamu.. Ini adalah dalil bahwa shalat berjamaah adalah fardhu ‘ain, bukan fardu kifayah, ataupun sunnah. Jika hukumnya fardhu kifayah, pastilah gugur kewajiban berjamaah bagi kelompok kedua karena penunaian kelompok pertama. Dan jika hukumnya adalah sunnah, pastilah alasan yang paling utama adalah karena takut.

Dan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:
Seorang laki-laki buta datang kepada Nabi dan berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai pe-nuntun yang akan menuntunku ke Masjid. Ma-ka dia minta keringanan untuk shalat dirumah, maka diberi keringanan. Lalu ia pergi, Beliau memanggilnya seraya berkata: Apakah kamu mendengar adzan ? Ya, jawabnya. Nabi berkata : Kalau begitu penuhilah (hadirilah)!

Didalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam tidak memberikan keringanan kepada Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahu ‘anhu untuk shalat dirumahnya (tidak berjamaah) kendati ada alasan, diantaranya:
  • Keadaan beliau buta.
  • Tidak adanya penuntun ke Masjid.
  • Jauh rumahnya dari Masjid.
  • Adanya pohon-pohon kurma dan lain-lain yang ada diantara rumah beliau dan Masjid.
  • Adanya binatang buas di Madinah.
  • Tua umurnya dan telah lemah tulang-tulang-nya.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meri-wayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam telah bersabda:
Aku berniat meme-rintahkan kaum muslimin untuk mendirikan sha-lat. Maka aku perintahkan seorang untuk menjadi imam dan shalat bersama. Kemudian aku berang-kat dengan kaum muslimin yang membawa seikat kayu bakar menuju orang-orang yang tidak mau ikut shalat berjamaah, dan aku bakar rumah-rumah mereka. (Al Bukhari-Muslim)

Hadits diatas telah menjelaskan bahwa tekad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam untuk membakar rumah-rumah disebabkan mereka tidak keluar untuk shalat berjamaah di masjid. Dan masih banyak lagi hadits yang menerangkan peringatan keras Rasulullah terhadap orang-orang yang tidak hadir ke masjid untuk berjamaah bukan semata-mata karena mereka meninggalkan shalat, bahkan mereka shalat di rumah-rumah mereka.

Ibnu Hajar berkata: Hadits ini telah menerangkan bahwa shalat berjamaah adalah fardhu ‘ain, karena kalau shalat berjamaah itu hanya sunnah saja, Rasulullah tidak akan berbuat keras terhadap orang-orang yang meninggalkannya, dan kalau fardhu kifayah pastilah telah cukup dengan pekerjaan beliau dan yang bersama beliau.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: Engkau telah melihat kami, tidak seseorang yang meninggalkan shalat berjamaah, kecuali ia seorang munafik yang diketahui nifaknya atau seseorang yang sakit, bahkan seorang yang sakitpun berjalan (dengan dipapah) antara dua orang untuk mendatangi shalat (shalat berjamaah di masjid). Beliau menegaskan : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam mengajarkan kita jalan-jalan hidayah, dan salah satu jalan hidayah itu adalah shalat di masjid (shalat yang dikerjakan di masjid). (Shahih Muslim)

Ibnu Mas’ud juga mengatakan : Barang siapa mau bertemu dengan Allah SWT di hari akhir nanti dalam keadaan muslim, maka hendaklah memelihara semua shalat yang diserukan-Nya. Allah SWT telah menetapkan jalan-jalan hidayah kepada para Nabi dan shalat ter-masuk salah satu jalan hidayah. Jika kalian sha-lat dirumah maka kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian, dan kalian akan sesat. Setiap Lelaki yang bersuci dengan baik, kemudian menuju masjid, maka Allah SWT menulis setiap langkahnya satu kebaikan, mengangkatnya satu derajat, dan menghapus satu kejahatannya. Engkau telah melihat dikalangan kami, tidak pernah ada yang meninggalkan shalat (berjamaah), kecuali orang munafik yang sudah nyata nifaknya. Pernah ada seorang lelaki hadir dengan dituntun antara dua orang untuk didirikan shaf.

Ibnu Mas’ud, Abdullah bin Abbas dan Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhum berkata : Barangsiapa yang mendengar adzan kemudian dia tidak mendatanginya tanpa udzur, maka tidak ada shalat baginya.

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata : Tidak ada tetangga masjid kecuali shalat di masjid. Ketika ditanyakan kepada beliau : Siapa tetangga masjid ? Beliau menjawab : Siapa saja yang mendengar panggilan adzan. Kemudian kata beliau : Barangsiapa mendengar panggilan adzan dan dia tidak mendatanginya maka tidak ada shalat baginya, kecuali dia mempunyai udzur.

Meningggalkan shalat berjamaah merupakan salah satu penyebab untuk meninggalkan shalat sama sekali. Dan perlu diketahui bahwa meninggalkan shalat adalah kekufuran, dan keluar dari islam. Ini berdasar pada sabda Nabi : Batas antara seseorang dengan kekufuran dan syirik adalah meninggalkan shalat. (HR. Muslim). Janji yang membatasi antara kita dan orang-orang kafir adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, maka ia kafir.

Setiap muslim wajib memelihara shalat pada waktunya, mengerjakan shalat sesuai dengan yang disyariatkan Allah, dan mengerjakan secara berjamaah di rumah-rumah Allah. Setiap muslim wajib taat kepada Allah dan rasul-Nya, serta takut akan murka dan siksanya.

Tidak bisa dipungkiri shalat berjamaah mempunyai beberapa hikmah serta kemaslahatan. Hikmah yang tampak adalah :
- Akan timbul diantara sesama muslim akan saling mengenal dan saling membantu dalam kebaikan, ketaqwaan, dan saling berwasiat de-ngan kebenaran dan kesabaran.
- Saling memberi dorongan kepada orang lain yang meninggalkannya, dan memberi penga-jaran kepada yang tidak tahu.
- Menumbuhkan rasa tidak-suka/membenci kemunafikan.
- Memperlihatkan syiar-syiar Allah ditengah-tengah hamba-Nya.
- Sarana dakwah lewat kata-kata dan perbuatan.

Hadits mengenai wajibnya shalat berjamaah dan kewajiban melaksanakannya di rumah Allah sangat banyak Oleh karena itu setiap muslim wajib memperhatikan, dan bersegera melaksanakannya. Juga wajib memberitahukan hal ini kepada anak-anaknya, keluarga, tetangga, dan seluruh teman-teman seaqidah agar mereka melaksanakan perintah Allah SWT dan rasul-Nya dan agar mereka takut terhadap larangan Allah dan rasul-Nya dan agar mereka menjauhkan diri dari sifat-sifat orang munafik yang tercela, dianta-ranya malas mengerjakan shalat.

Selesai ditulis di Surabaya, pada 18 Desember 2011
Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi
Ditulis ulang oleh Supriyono
Merujuk dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M