Kamis, 04 Agustus 2011

Hukum Membaca dan Mempercayai Ramalan

Pada jaman sekarang ini ramalan bukanlah suatu hal yang langka. Baik ramalan tentang masa depan seseorang atau suatu kejadian yang bertentangan dengan Al-Qur'an dan As-sunnah. Cara memperoleh ramalan tidak perlu susah payah sampai ke rumah tukang ramal. Saat ini, setiap orang sudah disuguhkan cara mudah untuk membaca ramalan bintang melalui majalah, koran atau TV. Bahkan sekarang bisa tinggal ketik lewat sms dengan format reg spasi, dsb.

Syaikh Sholih Alu Syaikh hafizhohullah mengatakan, “Jika seseorang membaca halaman suatu koran yang berisi zodiak (ramalan) yang sesuai dengan tanggal kelahirannya atau zodiak yang ia cocoki, maka ini layaknya seperti mendatangi dukun. Akibatnya cuma sekedar membaca semacam ini adalah tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari. Sedangkan apabila seseorang sampai membenarkan ramalan dalam zodiak tersebut, maka ia berarti telah kufur terhadap Al Qur’an yang telah diturunkan pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Lihat At Tamhid Lisyarh Kitabit Tauhid oleh Syaikh Sholih Alu Syaikh pada Bab “Maa Jaa-a fii Tanjim”, hal. 349, Dar At Tauhid, cetakan pertama, tahun 1423 H)

Intinya, ada dua rincian hukum dalam masalah ini antara lain :

Pertama: Apabila cuma sekedar membaca zodiak (ramalan), walaupun tidak mempercayai ramalan tersebut atau tidak membenarkannya, maka itu tetap haram. Mendatangi dukun pada jaman ini tidaklah susah karena sekarang dukunpun telah menggunakan berbagai media untuk menyebarkan kesesatannya sehingga memudahkan seseorang untuk membaca tulisan-tulisan yang berisi ramalan (primbon, kitab ramal, kitab nujum, ramalan via sms, dsb) yang mana isinya adalah tentang kesesatan. Akibat perbuatan ini, shalatnya tidak diterima selama 40 hari.

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.(HR. Muslim no. 2230)

Maksud tidak diterima shalatnya selama 40 hari dijelaskan oleh An-Nawawi: “Adapun maksud tidak diterima shalatnya adalah orang tersebut tidak mendapatkan pahala. Namun shalat yang ia lakukan tetap dianggap dapat menggugurkan kewajiban shalatnya dan ia tidak butuh untuk mengulangi shalatnya.”( Syarh Muslim, An Nawawi, 14/227, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobiy, Beirut, cetakan kedua, tahun 1392 H)

Kedua: Apabila sampai membenarkan atau meyakini ramalan tersebut, maka dianggap telah mengkufuri Al Qur’an yang menyatakan hanya di sisi Allah pengetahuan ilmu ghoib.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.(HR. Ahmad no. 9532)

Namun jika seseorang membaca ramalan tadi untuk membantah dan membongkar kedustaannya, semacam ini termasuk yang diperintahkan bahkan dapat dinilai wajib. (Al Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 1/330, Maktabah Al ‘Ilmi, cetakan kedua, tahun 1424 H). Hukum-hukum ini juga berlaku untuk ramalan lain selain dengan ramalan bintang.

Syaikh Sholih Alu Syaikh memberi nasehat, “Kita wajib mengingkari setiap orang yang membaca ramalan bintang semacam itu dan kita nasehati agar jangan ia sampai terjerumus dalam dosa. Hendaklah kita melarangnya untuk memasukkan majalah-majalah yang berisi ramalan bintang ke dalam rumah karena ini sama saja memasukkan tukang ramal ke dalam rumah. Perbuatan semacam ini dosanya sangat besar (dosa syirik)."

Oleh karena itu, wajib bagi setiap penuntut ilmu agar mengingatkan manusia mengenai akibat negatif membaca ramalan bintang. Dari sini, sudah sepatutnya seorang muslim tidak menyibukkan dirinya dengan membaca ramalan-ramalan bintang melalui majalah, koran, televisi atau lewat pesan singkat via sms. Begitu pula tidak perlu seseorang menyibukkan dirinya ketika berada di dunia maya untuk mengikuti berbagai ramalan-ramalan bintang yang ada. Karena walaupun tidak sampai percaya pada ramalan tersebut, tetap seseorang bisa terjerumus ke dalam kesyirikan jika ia bukan bermaksud untuk membantah ramalan tadi. Semoga Allah melindungi kita dan anak-anak kita dari kerusakan semacam ini.

Selesai ditulis di Jombang, pada 4 Agustus 2011 
Oleh Supriyono
Merujuk dari At Tamhid Lisyarh Kitabit Tauhid oleh Syaikh Sholih Alu Syaikh


----------------------------------
Download dan dengar kajian ilmiah Ahlussunnah
Pemateri : Abdullah Shaleh Hadrami 
Tema : Hukum Perdukunan, Sihir, Tukang Ramal dan Jimat
Link : Klik disini

2 komentar:

  1. kalau membaca aja..........gemana

    BalasHapus
  2. Sebagaimana yang dijelaskan Syaikh Utsaimin rahimahullah bahwa bila tujuan membaca ramalan dengan niat mempelajari ramalan untuk memberantas ramalan dibolehkan atau agar tidak tertipu ramalan maka diperbolehkan. Bila hanya sekedar coba-coba maka haram hukumnya karena besar kemungkinan terpengaruh oleh ramalan tersebut. Apalagi dalam perkara syirik kepada Allah ta'ala..

    BalasHapus

Jazakumullah khoir