Senin, 29 Agustus 2011

Tuntunan Shalat 'Ied

Tuntunan Sebelum Shalat ‘Ied
 
1. Waktu shalat ‘ied dimulai dari matahari setinggi tombak sampai waktu zawal (matahari bergeser ke barat. Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengakhirkan shalat ‘Idul Fithri dan mempercepat pelaksanaan shalat ‘Idul Adha. Ibnu ‘Umar yang sangat dikenal mencontoh ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah keluar menuju lapangan kecuali hingga matahari meninggi.”

2. Tempat pelaksanaan shalat ‘ied lebih utama (lebih afdhol) dilakukan di tanah lapang, kecuali jika ada udzur seperti hujan. (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Disunnahkan untuk mandi sebelum berangkat shalat seperti praktek Ibnu ‘Umar. Lalu berhias diri dan memakai pakaian yang terbaik sebagaimana yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Zaadul Ma’ad, 1/425)

4. Makan sebelum keluar menuju shalat ‘ied khusus untuk shalat ‘Idul Fithri (HR. Ahmad, derajat hadits hasan).

5. Bertakbir ketika keluar hendak shalat ‘ied (As Silsilah Ash Shahihah no. 171).

6. Melewati jalan pergi dan pulang yang berbeda (HR. Bukhari).

7. Dianjurkan berjalan kaki sampai ke tempat shalat dan tidak memakai kendaraan kecuali jika ada hajat (HR. Ibnu Majah, hasan).

8. Tidak ada shalat sunnah qobliyah dan ba’diyah ‘ied (HR. Bukhari dan Muslim).

9. Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai ke tempat shalat, beliau pun mengerjakan shalat ‘ied tanpa ada adzan dan iqomah. Juga ketika itu untuk menyeru jama’ah tidak ada ucapan “Ash Sholaatul Jaam’iah.” Yang termasuk ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tidak melakukan hal-hal semacam tadi. (Zaadul Ma’ad)

 Tata Cara Shalat ‘Ied

Jumlah raka’at shalat Idul Fithri dan Idul Adha adalah dua raka’at. Adapun tata caranya adalah sebagai berikut.

1. Memulai dengan takbiratul ihrom, sebagaimana shalat-shalat lainnya.

2. Kemudian bertakbir (takbir zawa-id/ tambahan) sebanyak tujuh kali takbir -selain takbiratul ihrom- sebelum memulai membaca Al Fatihah. Boleh mengangkat tangan ketika takbir-takbir tersebut sebagaimana yang dicontohkan oleh Ibnu ‘Umar.

3. Di antara takbir-takbir (takbir zawa-id) yang ada tadi tidak ada bacaan dzikir tertentu. Namun ada sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud, ia mengatakan, “Di antara tiap takbir, hendaklah menyanjung dan memuji Allah.”

4. Kemudian membaca Al Fatihah, dilanjutkan dengan membaca surat lainnya. Surat yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah surat Qaaf pada raka’at pertama dan surat Al Qomar pada raka’at kedua. Boleh juga membaca surat Al A’laa pada raka’at pertama dan surat Al Ghosiyah pada raka’at kedua.

5. Setelah membaca surat, kemudian melakukan gerakan shalat seperti biasa (ruku, i’tidal, sujud, dan seterusnya).

6. Bertakbir ketika bangkit untuk mengerjakan raka’at kedua. Kemudian bertakbir (takbir zawa-id/tambahan) sebanyak lima kali takbir -selain takbir bangkit dari sujud- sebelum memulai membaca Al Fatihah.

7. Kemudian membaca surat Al Fatihah dan surat lainnya sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Mengerjakan gerakan lainnya hingga salam.

8. Setelah melaksanakan shalat ‘ied, imam berdiri untuk melaksanakan khutbah ‘ied dengan sekali khutbah (bukan dua kali seperti khutbah Jum’at). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan khutbah di atas tanah dan tanpa memakai mimbar. Beliau pun memulai khutbah dengan “hamdalah” (ucapan alhamdulillah) sebagaimana khutbah-khutbah beliau yang lainnya (Lihat Zaadul Ma’ad dan Shahih Fiqh Sunnah). Jama’ah boleh memilih mengikuti khutbah ‘ied atau tidak (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, shahih).

Saya selaku penulis blog MATA AIR SUNNAH mengucapkan, "Taqobalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima amalan kami dan amalan kalian). Semoga Allah menjadi kita insan yang istiqomah dalam menjalankan ibadah selepas bulan Ramadhan."


Selesai ditulis di Jombang, pada 29 Agustus 2011
Oleh Supriyono
Merujuk dari  kitab Zaadul Ma'ad karya Ibnul Qayyim (terjemah)

-------------------------------------------
Download dan dengar kajian ahlussunnah:

Tema: Fiqh Idul Fitri 
Pemateri: Badrusalam
Link: KLIK DISINI
 

Senin, 15 Agustus 2011

Mengenal Sirah Singkat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam

Segala puji bagi Allah Subhanahu wata’ala. Kita memuji, memohan pertolongan, dan meminta ampun kepadaNya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri dan keburukan amal perbuatan. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu wa ta’ala maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa menunjukinya.

  
Pendahuluan
Rasulullah, Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam adalah panutan setiap muslim dalam segala perihal kehidupannya. Allah berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (al Ahzab: 21)

Maka diantara hal pokok yang harus diketahui seorang muslim adalah mengenal pribadi beliau shalallahu ‘alaihi wassalam. Karena bagaimana mungkin seorang muslim dapat menjadikannya sebagai panutan jika tidak tahu bagaimana pribadi beliau. Untuk seorang muslim perlu untukmengetahui nasab, sejarah hidup, sifat, akhlaq, keistimewaan beliau dan lainnya. Berikut uraian singkat tentang hal-hal tersebut, semoga bermanfaat. Tulisan ini kami ringkas dari kutaib Haqiqatu Syahaadah anna Muhammadar Rasulullah, karangan syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Muhammad alu Syaikh hafidzahullah.
Nasab Beliau

Rasulullah pernah bersabda tentang nasab beliau, 
Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail , memilih Quraisy dari Kinanah, dan memilih Bani (keturunan) Hasyim dari suku Quraisy, dan memilih aku dari keturunan Hasyim.[1]. 

Nasab beliau :
Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu`ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan.

Silsilah beliau  hingga di sini diketahui keshahihannya, disepakati di antara para ahli silsilah. Adapun yang di atas Adnan diperselisihkan padanya. Adnan adalah keturunan nabi Ismail, dan Ismail adalah putra nabi Ibrahim alaihimassalam. Ibunda Nabi  adalah Aminah binti Wahab bin Abdul Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah. Nasab bapak dan ibunya bertemu pada kakek mereka: Kilab bin Murrah.

Kelahiran Beliau
Nabi dilahirkan di tahun gajah. Lahir pada hari Senin, berdasarkan sabda Nabi tatkala ditanya tentang puasa hari Senin. Beliau bersabda: 
Itulah hari yang aku dilahirkan padanya, hari aku dibangkitkan (diangkat menjadi rasul), dan dan diturunkan (wahyu) kepadaku padanya [2]. 

Adapun bulan dan tanggal kelahirannya terjadi perbedaan pendapat. Ada yang berpendapat pada tanggal 12 dari bulan Rabi’ul Awal. Sebagian berpendapat pada tanggal 8 dari bulan yang sama. Dikatakan: bahkan pada bulan Ramadhan. Ada juga yang berpendapat pada tanggal 27 dari bulan Rajab, dan ini pendapat paling aneh/asing.

Diutus menjadi Nabi
Wahyu diturunkan kepadanya r saat berusia 40 tahun. Permulaan wahyu adalah saat beliau berkhalwah di gua Hira, Jibril u datang kepadanya, lalu merangkulnya, kemudian melepasnya seraya berkata: “Bacalah…” [3].

Wafat Beliau
Beliau  wafat setelah melaksanakan amanah, menyampaikan risalah Rabb-nya, dan berjihad karena Allah  dengan sebenarnya, dan Agamanya telah sempurna. Al-Qur`an bersaksi baginya di akhir hayatnya,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا

Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Aku ridhai islam itu jadi agamamu. (QS. Al Maidah: 3)

Wafat pada hari Senin [4] pada tahun ke sebelas hijriyah dan pada bulan Rabiul Awal, hal ini disepakati para ulama. Berkata Ibu Hisyam,
Mayoritas mereka berkata: pada tanggal dua belas Rabiul Awal. Dan tidak shahih tentang tanggal wafatnya kecuali pada hari kedua atau ketiga belas, atau keempat belas, atau kelima belas, karena sudah disepakati bahwa wuquf di arafah pada haji wada’ terhadap pada hari Jum’at, yaitu hari kesembilan bulan Dzulhijjah… dst” [5].

Nama-Nama Beliau
Banyaknya nama menunjukkan agungnya yang diberi nama. Nama-nama Nabi menunjukkan makna-makna yang agung. Dan namanya yang paling agung adalah Muhammad, yaitu nama disebutkan Allah dalam al-Qur`an al-Karim,

مُّحَمَّدُ رَّسُولُ اللهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. (QS. Al Fath : 29)

Nama beliau yang lain cukup banyak, sebagaimana dalam sebuah hadist beliau bersabda, 
“Sesungguhnya aku memiliki banyak nama: aku Muhammad, aku Ahmad, aku al-Mahi yang Allah menghapus kekufuran denganku, aku al-Hasyir yang manusia digiring di atas dua kakiku, dan aku adalah al-’Aqib (yang terakhir) yang tidak ada seorangpun setelah aku”[6].

Dan dalam hadits Abu Musa al-Asy’ari, ia berkata, 
“Rasulullah menyebutkan kepada kami beberapa namanya, di antara ada yang kami ingat dan ada yang tidak kami ingat, beliau bersabda: “Aku adalah Muhammad, Ahmad, al-Muqaffi, al-Hasyir, Nabi taubat, nabi rahmah.” [7]

Keistimewaan Beliau
Nabi Muhammad adalah pemimpin manusia. Dalam hadits Abdullah bin Salam, sesungguhnya Nabi  bersabda,

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ أدَمَ وَلاَ فَخْرَ

Aku adalah pemimpin keturunan nabi Adam  dan tidak sombong[8]

Diantara keistimewaan beliau adalah yang pertama memberi syafaat dan diberi syafaat, dan baginya syafa’ah uzhma (yang agung) dan kedudukan yang terpuji. Dari Ibnu Umar , ia berkata, 
Sesungguhnya manusia  berlutut di hari kiamat. Setiap umat mengikuti nabinya. Mereka berkata, ‘Wahai fulan, berilah syafaat, wahai fulan, berilah syafaat, hingga syafaat berkesudahan kepada Nabi . Maka itulah hari yang Allah membangkitkannya kedudukan yang terpuji.[9]

Di antara keistimewaannya juga, sesungguhnya diperintahkan memohon wasilah untuknya r setiap kali setelah adzan [10]. Allah memanggilnya dengan nama yang paling disukai dan namanya yang tinggi: ‘Wahai nabi’, dan ‘wahai rasul’, ini adalah keistemewaan yang tidak ada bagi para nabi yang lain, yang mana mereka dipanggil dengan nama mereka.

Di antara keistemewaannya juga bahwa mukjizat setiap nabi telah berakhir, sedangkan mukjizatnya –yaitu al-Qur`an yang mulia- akan tetap terjaga hingga hari kiamat. Tentang keistimewaannya juga beliau pernah bersabda 
Aku diberikan lima perkara yang belum pernah diberikan kepada seseorang sebelum aku: (1)setiap nabi diutus kepada kaumnya secara khusus dan aku diutus kepada setiap yang merah dan hitam, (2)harta ghanimah dihalalkan kepadaku dan tidak halal kepada seseorang sebelum aku, (3)bumi dijadikan untukku baik lagi suci dan sebagai masjid, laki-laki manapun yang ketemu waktu shalat, ia shalat di manapun berada, (4)aku ditolong dengan rasa takut (dari musuh) dalam jarak perjalana satu bulan, (5) dan aku diberikan syafaat[11]

Akhlaq Beliau
Allah berfirman Allah tentang sifat Rasulullah,

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS. Al Qalam: 4)

Aisyah berkata, Akhlak beliau adalah al-Qur`an[12]

Allah telah menyempurnakan budi pekertinya sejak kecil, sebelum dibangkitkan (diangkat menjadi nabi dan rasul). Beliau tidak pernah menyembah berhala, tidak meminum arak, tidak berlalu dalam perkara buruk, dan dikenal di kalangan kaumnya dengan orang yang jujur lagi dipercaya.

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, 
Tidak pernah Rasulullah diberikan dua pilihan kecuali ia mengambil yang termudah, selama bukan merupakan dosa. Jika merupakan dosa, beliau  adalah manusia yang paling jauh darinya. Dan Rasulullah tidak pernah membalas dendam untuk dirinya sendiri, kecuali apabila kehormatan Allah  dilanggar, maka ia membalas karena Allah dengannya [13]. 

Di antara akhlak beliau adalah rendah hati dan suka bercanda dengan anak kecil. Rasulullah pernah menghibur anak kecil dengan mengatakan, Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan nughair?[14]

Sifat Lahiriah Beliau
Allah telah memberikan kesempurnaan kepada nabi kita Muhammad, menganugerahkan kepadanya keelokan lahiriyah dan keindahan batin. Beliau adalah manusia yang paling indah rupa dan paling sempurna akhlaknya.

Di antara riwayat yang menjelaskan sifat lahiriyah beliau adalah hadits al-Bara` bin ‘Azib, ia berkata, 
Rasulullah perawakannya sedang, jauh di antara dua pundaknya, beliau memiliki rambut yang bisa mencapai daun telinganya yang di bawah (tempat anting-anting), aku melihat beliau  berpakaian merah, aku belum pernah melihat sesuatu yang lebih indah darinya”. Yusuf bin Abu Ishaq berkata dari bapaknya: (kedua pundaknya). [15]

Jabir bin Samurah berkata, 
Rasulullah dhali’ (lebar) mulutnya, asykal kedua matanya, manhus kedua tumitnya. Ia berkata, Aku bertanya kepada Simak, Apakah maksud dhila’ mulutnya? Ia menjawab, Besar mulutnya. Ia berkata, Aku bertanya, Apakah arti asykal matanya? Ia menjawab, Panjang belahan mata. Ia berkata, Aku bertanya, Apakah pengertian manhus tumitnya? Ia menjawab, Sedikit daging tumitnya” [16]

Dari Ali bin Abu Thalib berkata, 
Rasulullah tidak terlalu tinggi dan tidak pula rendah (pendek), lebar dua telapak tangan dan tumit, besar kepalanya , besar karadisnya (otot), panjang bulu dadanya, apabila berjalan beliau  berjalan cepat seolah-olah turun dari tempat yang tinggi, aku belum pernah melihat sebelumnya dan sesudahnya seperti beliau[17]

Rasulullah pernah bersabda, 
Barangsiapa yang melihat aku di dalam tidur, sungguh ia telah melihatku, sesungguhnya syetan tidak bisa menyerupaiku. Dan mimpi seorang mukmin adalah satu bagian dari empat puluh enam bagian dari kenabian” [18]

Semoga bermanfaat, Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulallah serta keluarga dan sahabatnya.


Selesai ditulis di Riyadh, 14 Rajab 1432 H (16 Juni 2011).
Abu Zakariya Sutrisno
Artikel: www.thaybah.or.id / www.ukhuwahislamiah.com

Notes:
[1]. HR. Muslim (4/1789) no. 2276 dari sahabat Waatsilah bin al-Asqa’ radhiyallahu ‘anhu.
[2]. HR. Muslim (1/819) no. 1162 dan 196,  dari hadits Qatadah.
[3]. HR. Bukhari no. 4 dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.
[4]. Sebagaimana yang disebutkan dalam dua hadits yang shahih: Anas  riwayat Bukhari (1/165, 166) dan Aisyah riwayat Bukhari (2/106).
[5]. Sirah Nabawiyah, karya Ibnu Hisyam, serta ar-Raudh al-Anf Syarhu Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam karya Imam as-Suhaili, tahqiq dan komentar serta syarah Abdurrahman al-Wukayyil (7/578-579).
[6]. HR. Bukhari (4/62) dan Muslim (4/1828) no. 2354 hadits Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu.
[7]. HR. Muslim (4/1828, 1829) no. 2355.
[8]. HR. Ibnu Hibban dalam shahihnya dengan lafazhnya ini dan Tirmidzi no. 3148 dengan tambahan: ‘pada hari qiamat’ sebelum sabdanya ‘dan tidak sombong’.
[9]. HR. Bukhari (5/228).
[10].                     HR. Muslim no. 384 dari Abdullah bin ‘Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma.
[11]. HR. Bukhari (1/86) dan Muslim (521) hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu
[12]. Diriwayatkan di Musnad karya Imam Ahmad bin Hanbal asy-Syaibani, cet. Maimaniyah Mesir tahun 1313 H (6/91)
[13]. HR. Bukhari (3/195), Muslim (4/1804) no. 2309 dan 52
[14]. HR. Bukhari (7/102, 119) dan Muslim (3/1692, 1693) no. 2150 dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu
[15]. HR Bukhari (4/165)
[16]. HR. Muslim no. 2339
[17]. HR Tirmidzi no. 3637 dan ia berkata hadits hasan shahih
[18]. HR. Bukhari (8/71,72) dan Muslim (4/1775), no. 2266 dari Anas radhiyallahu ‘anhu

-------------------------------------------
Download dan dengar kajian ahlussunnah:
Tema:
Sejarah Islam - Sirah Nabawi
(Gabungan beberapa ustad)
Link:
KLIK DISINI

Amalan-amalan Seputar Bulan Ramadhan

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihiwasallam, keluarga dan sahabatnya dan para pengikutnya.

Berkaitan dengan pembahasan sebelumnya, yaitu tentang puasa. Pada kesempaan kali ini kami akan membahas beberapa hal yang berkaitan dengan bulan ramadhan, khususnya amalan-amalan yang ada didalamnya.

Keutamaan bulan Ramadhan

Diantara keutamaan bulan ramadhan yaitu bahwa bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur’an.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil) (QS. Al-Baqarah: 185).

Pada bulan ini setan-setan dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan pintu-pintu surga dibuka.

Rasulullah Shallallahu`alaihi wasallam bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِقَتْ أَبْوَابُ النِّيْرَانِ وَصُفِدَتِ الشَّيَاطِيْنُ

Bila datang bulan Ramadhan dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka dan dibelenggulah para setan. [1]

Awal Ramadhan

Diwajibkan berpuasa ketika diketahui telah masuk bulan Ramadhan. Untuk mengetahui masuknya bulan Ramadhan ada tiga cara yaitu:

1. Melihat hilal.
Allah berfirman,

فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa (QS. al Baqarah: 185).

Rasulullah juga bersabda, “…berpuasalah karena melihatnya (yaitu hilal).” [2]

2. Persaksian atas melihat hilal dari orang yang adil dan mukalaf.
Sebagaimana perkataan ibnu Umar, 
Banyak orang berusaha melihat hilal. Kemudian aku mengabarkan kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bahwa aku sungguh-sungguh melihatnya. Kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan para shahabat untuk berpuasa.” [3]

3. Menggenapkan bulan Sya’ban 30 hari.
Sebagaiman hadist dari Abu Hurairah,  
“Jika kalian terhalang dari melihat bulan maka genapkanlah (Sya’ban )30 hari.” [4]

Amalan di bulan Ramadhan

1. Puasa
Puasa ramadhan termasuk salah satu rukun Islam. Puasa ramadhan hukumnya wajib berdasar dalil-dalil dari Kitab dan Sunnah dan ijma’ kaum muslimin. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. al Baqarah:183).

Tentang keutamaan puasa di bulan ramadhan ini dapat dilihat dalam hadist dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,  
Barangsiapa yang berpuasa di bulan Romadhon karena iman dan mengharap pahala dari Alloh maka dosanya di masa lalu pasti diampuni.” [5]

2. Shalat tarawih
Shalat tarawih termasuk shalat sunnah yang ditekankan (muakkadah), yang dikerjakan di bulan Ramadhan. Dinamakan shalat tarawih karena orang-orang duduk istirahat antara setiap empat rakaat,  karena mereka memanjangkan bacaan. Dalil pensyariatannya adalah Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wassallam
Barangsiapa berdiri (shalat) dibulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [6] 
Tidak ada masalah shalat tarawih dengan 23 raka’at atau 11 raka’at.

3. Iktikaf
Allah berfirman,

ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid (QS. al Baqarah: 187).

Disunnahkan beriktikaf di bulan Ramadhan, terutama di sepuluh malam yang terakhir. ‘Aisyah berkata,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ber-i’tikaf di sepuluh hari terakhir pada bulan Romadhon.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Carilah malam lailatul qodar di sepuluh hari terakhir bulan Romadhon.” [7]

4. Membaca al Qur’an
Membaca al-Qur`an sangat dianjurkan bagi setiap muslim di setiap waktu dan kesempatan. Membaca al-Qur`an lebih dianjurkan lagi ketika bulan Ramadhan, karena pada bulan itulah diturunkan al-Qur`an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,  
Bulan Ramadhan adalah bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil) (QS. Al-Baqarah: 185).

5. Shadaqah
Ibnu Abbas berkata, 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi angin yang berhembus.” [8]

6. Umrah di bulan Ramadhan
Salah satu ibadah yang sangat dianjurkan di bulan Ramadhan adalah melaksanakan ibadah umrah dan Rasulullah menjelaskan bahwa nilai pahalanya sama dengan melaksanakan ibadah haji. Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada seorang wanita dari kalangan Anshar:

فَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَاعْتَمِرِي فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً

Kalau bulan Ramadhan telah tiba, maka tunaikanlah umrah, sebab umrah di bulan Ramadhan menyamai ibadah haji. [9]

Semoga bermanfaat, sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rosulullah serta keluarga dan para sahabatnya.

Selesai ditulis di Riyadh, 15 Jumadil Akhir 1432 H (18 Mei 2011)
Abu Zakariya Sutrisno
Artikel: www.thaybah.or.id / www.ukhuwahislamiah.com

Notes:
[1]. HR. Al-Bukhari dan Muslim
[2]. Bukhari (1909),Muslim (19/1081)
[3]. Abu Dawud (2342), Ibnu Hibban (3447), Hakim (1541), Daruquthny (2127). Di shahihkan Ibnu Hibban dan Hakim.
[4]. Bukhari (1909), Muslim (1083)
[5]. Muttafaqun ‘alaihi. Bukhori (1901), Muslim (760)
[6]. Dari hadist Abu Hurairah, Bukhari (37), Muslim (759)
[7]. Bukhori (2020)
[8]. HR. Bukhari (6)
[9]. Bukhari (1782), Muslim (1258)

------------------------------------------
Download dan dengar kajian ahlussunnah:
Tema:
Seputar Puasa Ramadhan
Pembicara:
Muhammad Abduh Tuasikal
Link:
KLIK DISINI

Kamis, 11 Agustus 2011

Beberapa Ciri-Ciri Mengenali Dukun atau Tukang Sihir


Segala puji bagi Allah Subhanahu wata’ala. Kita memuji, memohan pertolongan, dan meminta ampun kepadaNya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri dan keburukan amal perbuatan. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu wa ta’ala maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan RasulNya.



Saudaraku, pada posting artikel kali ini saya akan memaparkan beberapa ciri-ciri dukun atau tukang sihir. Jika saudaraku sekalian menemui satu tanda atau lebih dari tanda-tanda berikut ini pada orang-orang yang melakukan pengobatan atau orang yang mengaku dirinya sakti, maka tidak diragukan lagi dia adalah seorang dukun atau tukang sihir dan WAJIB bagi kita untuk menjauhinya dan menasehatinya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Berikut ini beberapa ciri-ciri dukun atau tukang sihir :

[1]. Menanyakan nama pasien dan nama ibunya

[2]. Meminta salah satu dari beberapa benda bekas dipakai si pasien (baik itu baju, topi, sapu tangan, atau kaos).

[3]. Terkadang meminta hewan dengan kriteria tertentu untuk disembelih dengan tidak menyebut nama Allah padanya dan terkadang darah binatang sembelihan itu dioleskan pada beberapa tempat penyakit yang dirasakan oleh pasien atau melempar binatang itu ke tempat puing-puing bangunan.

[4]. Penulisan mantra-mantra tertentu.

[5]. Membaca jimat-jimat dan mantra-mantra yang tidak dapat difahami.

[6]. Memberi suatu pembatas yang terdiri dari empat persegi, kepada pasien yang di dalamnya terdapat huruf-huruf atau angka-angka.

[7]. Dia menyuruh pasien untuk mengurung diri dari orang-orang untuk waktu tertentu di suatu ruangan yang tidak dimasuki sinar matahari, yang kaum awam menyebutnya dengan hijbah.

[8]. Terkadang si penyihir itu menyuruh pasien untuk tidak menyentuh air untuk waktu tertentu.

[9]. Memberi beberapa hal pada pasien untuk ditimbun di dalam tanah.

[10]. Memberi pasien beberapa kertas untuk dibakar dan mengeluarkan asap.

[11]. Berkomat-kamit dengan kata-kata yang tidak difahami.

[12]. Terkadang si penyihir memberi tahu pasien nama dan kampung halaman pasien tersebut. Serta permasalahan yang akan dikemukakannya

[13]. Si penyihir juga menuliskan untuk pasien beberapa huruf terputus-putus di sebuah kertas (jimat). Atau di lempengan tembikar putih, lalu menyuruh pasien melarutkan dan meminumnya.

Jika saudaraku sekalian mengetahui bahwa seseorang adalah Tukang Sihir maka jauhilah. Jika tidak, maka bisa termasuk dalam sabda Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam,
"Barangsiapa mendatangi seorang dukun, lalu ia membenarkan apa yang dikatakannya, berarti dia telah kufur terhadap apa yang diturunkankan kepada Muhammad" [HR. Ahmad dan al-Hakim, dishahihkan oleh al-Albani: Lihat Shahihul Jaami’ (no. 5939)]

Semoga kita senantiasa dijauhkan oleh Allah ta'ala dari segala macam perdukunan. Semoga kita dimudahkan oleh Allah ta'ala dalam menjaga iman kita, dan meninggal dunia dalam La illaha illallah, muhammadur rasulullah.



Selesai ditulis di Jombang pada 11 Agustus 2011
Oleh Supriyono
Merujuk dari kitab Ash-Shaarimul Battaar Fit Tashaddi Lis Saharatil Asyraar edisi Indonesia Sihir dan Guna-Guna Serta Tata Cara Mengobatinya Menurut Al-Qur'an Dan Sunnah, Penulis Wahid bin Abdissalam Baali, Terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi'i

----------------------------------
Download dan dengar kajian ilmiah Ahlussunnah
Pemateri : Abdullah Shaleh Hadrami
Tema : Hukum Perdukunan, Sihir, Tukang Ramal dan Jimat
Link : Klik disini

Kamis, 04 Agustus 2011

Hukum Membaca dan Mempercayai Ramalan

Pada jaman sekarang ini ramalan bukanlah suatu hal yang langka. Baik ramalan tentang masa depan seseorang atau suatu kejadian yang bertentangan dengan Al-Qur'an dan As-sunnah. Cara memperoleh ramalan tidak perlu susah payah sampai ke rumah tukang ramal. Saat ini, setiap orang sudah disuguhkan cara mudah untuk membaca ramalan bintang melalui majalah, koran atau TV. Bahkan sekarang bisa tinggal ketik lewat sms dengan format reg spasi, dsb.

Syaikh Sholih Alu Syaikh hafizhohullah mengatakan, “Jika seseorang membaca halaman suatu koran yang berisi zodiak (ramalan) yang sesuai dengan tanggal kelahirannya atau zodiak yang ia cocoki, maka ini layaknya seperti mendatangi dukun. Akibatnya cuma sekedar membaca semacam ini adalah tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari. Sedangkan apabila seseorang sampai membenarkan ramalan dalam zodiak tersebut, maka ia berarti telah kufur terhadap Al Qur’an yang telah diturunkan pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Lihat At Tamhid Lisyarh Kitabit Tauhid oleh Syaikh Sholih Alu Syaikh pada Bab “Maa Jaa-a fii Tanjim”, hal. 349, Dar At Tauhid, cetakan pertama, tahun 1423 H)

Intinya, ada dua rincian hukum dalam masalah ini antara lain :

Pertama: Apabila cuma sekedar membaca zodiak (ramalan), walaupun tidak mempercayai ramalan tersebut atau tidak membenarkannya, maka itu tetap haram. Mendatangi dukun pada jaman ini tidaklah susah karena sekarang dukunpun telah menggunakan berbagai media untuk menyebarkan kesesatannya sehingga memudahkan seseorang untuk membaca tulisan-tulisan yang berisi ramalan (primbon, kitab ramal, kitab nujum, ramalan via sms, dsb) yang mana isinya adalah tentang kesesatan. Akibat perbuatan ini, shalatnya tidak diterima selama 40 hari.

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.(HR. Muslim no. 2230)

Maksud tidak diterima shalatnya selama 40 hari dijelaskan oleh An-Nawawi: “Adapun maksud tidak diterima shalatnya adalah orang tersebut tidak mendapatkan pahala. Namun shalat yang ia lakukan tetap dianggap dapat menggugurkan kewajiban shalatnya dan ia tidak butuh untuk mengulangi shalatnya.”( Syarh Muslim, An Nawawi, 14/227, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobiy, Beirut, cetakan kedua, tahun 1392 H)

Kedua: Apabila sampai membenarkan atau meyakini ramalan tersebut, maka dianggap telah mengkufuri Al Qur’an yang menyatakan hanya di sisi Allah pengetahuan ilmu ghoib.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.(HR. Ahmad no. 9532)

Namun jika seseorang membaca ramalan tadi untuk membantah dan membongkar kedustaannya, semacam ini termasuk yang diperintahkan bahkan dapat dinilai wajib. (Al Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 1/330, Maktabah Al ‘Ilmi, cetakan kedua, tahun 1424 H). Hukum-hukum ini juga berlaku untuk ramalan lain selain dengan ramalan bintang.

Syaikh Sholih Alu Syaikh memberi nasehat, “Kita wajib mengingkari setiap orang yang membaca ramalan bintang semacam itu dan kita nasehati agar jangan ia sampai terjerumus dalam dosa. Hendaklah kita melarangnya untuk memasukkan majalah-majalah yang berisi ramalan bintang ke dalam rumah karena ini sama saja memasukkan tukang ramal ke dalam rumah. Perbuatan semacam ini dosanya sangat besar (dosa syirik)."

Oleh karena itu, wajib bagi setiap penuntut ilmu agar mengingatkan manusia mengenai akibat negatif membaca ramalan bintang. Dari sini, sudah sepatutnya seorang muslim tidak menyibukkan dirinya dengan membaca ramalan-ramalan bintang melalui majalah, koran, televisi atau lewat pesan singkat via sms. Begitu pula tidak perlu seseorang menyibukkan dirinya ketika berada di dunia maya untuk mengikuti berbagai ramalan-ramalan bintang yang ada. Karena walaupun tidak sampai percaya pada ramalan tersebut, tetap seseorang bisa terjerumus ke dalam kesyirikan jika ia bukan bermaksud untuk membantah ramalan tadi. Semoga Allah melindungi kita dan anak-anak kita dari kerusakan semacam ini.

Selesai ditulis di Jombang, pada 4 Agustus 2011 
Oleh Supriyono
Merujuk dari At Tamhid Lisyarh Kitabit Tauhid oleh Syaikh Sholih Alu Syaikh


----------------------------------
Download dan dengar kajian ilmiah Ahlussunnah
Pemateri : Abdullah Shaleh Hadrami 
Tema : Hukum Perdukunan, Sihir, Tukang Ramal dan Jimat
Link : Klik disini

Puasa Karena Iman dan Iklas Semata

"Barangsiapa berpuasa karena iman dan ikhlas, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni."
 
Kalimat di atas adalah kutipan dari hadits Abu Hurairah di mana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud karena iman adalah membenarkan wajibnya puasa dan ganjaran dari Allah ketika seseorang berpuasa dan melaksanakan qiyam ramadhan. Sedangkan yang dimaksud “ihtisaban” adalah menginginkan pahala Allah dengan puasa tersebut dan senantiasa mengharap wajah-Nya." (Syarh Al Bukhari libni Baththol, 7: 22). Intinya, puasa yang dilandasi iman dan ikhlas itulah yang menuai balasan pengampunan dosa yang telah lalu.

Salah seorang ulama di kota Riyadh, Syaikh 'Ali bin Yahya Al Haddady hafizhohullah memberikan faedah tentang hadits di atas:
1. Amalan yang dilakukan seseorang tidaklah manfaat sampai ia beriman kepada Allah dan mengharapkan pahala dari Allah (baca: ikhlas). Jika seseorang melakukan amalan tanpa ada dasar iman seperti kelakuan orang munafik atau ia melakukannya dalam rangka riya' )(ingin dilihat orang lain) atau sum'ah (ingin didengar orang lain) sebagaimana orang yang riya', maka yang diperoleh adalah rasa capek dan lelah saja. Kita berlindungi pada Allah dari yang demikian.
2. Sebagaimana orang yang beramal akan mendapatkan pahala dan ganjaran, maka merupakan karunia Allah ia pun mendapatkan anugerah pengampunan dosa -selama ia menjauhi dosa besar-.
3. Keutamaan puasa Ramadhan bagi orang yang berpuasa dengan jujur dan ikhlas adalah ia akan memperoleh pengampunan dosa yang telah lalu sebagai tambahan dari pahala besar yang tak hingga yang ia peroleh.
4. Sebagaimana ditunjukkan dalam hadits yang lain, pengampunan dosa yang dimaksudkan di sini adalah pengampunan dosa kecil. Adapun pengampunan dosa besar maka itu butuh pada taubat yang khusus sebagaimana diterangkan dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Di antara shalat yang lima waktu, di antara Jum'at yang satu dan Jum'at yang berikutnya, di antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, maka itu akan menghapuskan dosa di antara dua waktu tadi selama seseorang menjauhi dosa besar." (HR. Muslim).


Selesai ditulis di Riyadh, pada 26 Juli 2011
Oleh Ust. Muhammad Abduh Tuasikal
Dikutip dari: 
http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3501-puasa-karena-iman-dan-ikhlas.html

----------------------------------------------------
Download dan dengar kajian ahlussunnah:
Tema:
Seputar Puasa Ramadhan
Pembicara:
Muhammad Abduh Tuasikal
Link:
KLIK DISINI