Minggu, 15 Mei 2011

Syarat Diterimanya Amal Ibadah Seorang Muslim / Muslimah

Wahai saudaraku...
Allah ta'ala telah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia (Al-Qur'an) sebuah kalimat yang besar maknanya, yang menunjukkan tujuan diciptakannya manusia dan jin. Allah ta'ala berfirman dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56, yang artinya:
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Dan Rasul-Nya yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda yang artinya:

“Hak Alloh atas HambaNya adalah supaya mereka beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatu apapun” (HR. Bukhori dan Muslim)

Wahai saudaraku, yang jadi pertanyaan saat ini adalah ibadah seperti apakah yang diterima oleh Allah? Apa syaratnya agar ibadah kita diterima oleh Allah?

Pada posting kali ini ane membahas sedikit mengenai syarat diterimanya amal. Urusan diterima tidaknya amal ibadah seseorang adalah kehendak Allah ta'ala, tetapi Allah ta'ala menunjukkan adab diterimanya amal ibadah yang mana jika menyelisihi adab tersebut maka tertolak amal ibadah kita. Ketahuilah wahai saudaraku, sudah jelaslah syarat utama diterimanya amal seorang muslim haruslah seseorang tersebut bertauhid hanya kepada Allah dan berlepas diri dari kesyirikan. Apabila seorang muslim berbuat syirik niscaya hapuslah seluruh amal-amalnya dan Allah tak akan pernah mengampuni dosa syirik hingga orang itu bertaubat. Allah ta'ala berfirman,

”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia  (Allah) mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (Q.S An Nisaa':48)

Selain itu saudaraku, ibadah seorang muslim akan diterima dengan 2 hal, yaitu amal yang dilakukan dengan IKHLAS hanya mengharapkan wajah Alloh semata dan amal yang dilakukan dengan ITTIBA’ (mengikuti petunjuk nabi shollallohu ‘alaihi wasallam). 

1. IKHLAS
Ikhlas memiliki makna memurnikan tujuan beribadah kepada Allah dari hal-hal yang mengotorinya, yaitu riya’ (ingin dilihat orang) & sum’ah (ingin didengar orang). Arti lainnya adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam beribadah dengan mengabaikan pandangan makhluk. Berikut beberapa dalil tentang ikhlas adalah syarat wajib diterimanya amal ibadah:

Allah ta'ala berfirman dalam QS. Az Zumar ayat 2, yang artinya: “Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” 

Allah ta'ala juga berfirman dalam QS. Al bayyinah ayat 5, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” 

Abu Umamah meriwayatkan, seseorang telah menemui Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, dan bertanya,
“Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang untuk mendapatkan upah dan pujian? Apakah ia mendapatkan pahala?”
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam menjawab,
“Ia tidak mendapatkan apa-apa.”
Orang tadi mengulangi pertanyaanya tiga kali, dan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam pun tetap menjawab, 
“Ia tidak mendapatkan apa-apa.” 
Lalu beliaupun bersabda, “Sesungguhnya Alloh tidak menerima suatu amalan, kecuali jika dikerjakan murni karenaNya dan mengharap wajahNya.”
(HR. Abu dawud dan An Nasa’i dengan sanad yang jayyid, dishohihkan oleh ibnu hajar dalam fathul baariy) 

Dari Amirul al-Mu’minin, Abu Hafsh ‘Umar bin al-Khaththab, beliau menjelaskan bahwa dia mendengar Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin digapainya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya tersebut” (HR. al-Bukhariy dan Muslim)

Dari beberapa dalil diatas telah jelas bahwa ikhlas adalah salah satu syarat wajib diterimanya amal ibadah seseorang. 

2. ITTIBA' 
Wahai saudarku niat yang baik dan lurus saja tidak cukup, ia harus disempurnakan dengan ittiba’ kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam.

Ittiba’ secara bahasa berarti iqtifa’ (menelusuri jejak), qudwah (bersuri teladan) dan uswah (berpanutan). Ittiba’ terhadap Al-Qur’an berarti menjadikan Al-Qur’an sebagai imam dan mengamalkan isinya. Ittiba’ kepada Rasul berarti menjadikannya sebagai panutan yang patut diteladani dan ditelusuri langkahnya. (Mahabbatur Rasul, hal.101-102)

Adapun secara istilah ittiba’ berarti mengikuti seseorang atau suatu ucapan dengan hujjah dan dalil. Ibnu Khuwaizi Mandad mengatakan : "Setiap orang yang engkau ikuti dengan hujjah dan dalil padanya, maka engkau adalah muttabi’ (orang yang beritiba'). (Ibnu Abdilbar dalam kitab Bayanul ‘Ilmi, 2/143)

Namun perlu diperhatikan bahwa mustahil seseorang itu berittiba’ kepada Rasulullah saw jika dia jahil (bodoh) terhadap sunnah-sunnah atau petunjuk-petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Oleh sebab itu jalan satu-satunya untuk memulai berittiba’ kepada Rasulullah adalah dengan mempelajari sunnah-sunnah beliau sesuai penafsiran para sahabat  rosul dengan mematuhi adab-adab menuntut ilmu. Berikut beberapa dalil tentang ittiba' sunnah adalah syarat wajib diterimanya amal ibadah:

Allah ta'ala berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 21,
"Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik., (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kesenangan) hari akhirat dan dia banyak menyebut Allah." 

Allah ta'ala juga berfirman dalam QS. Al Harsy ayat 7,
“..apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.”

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintahnya (contohnya) dari kami maka dia tertolak” (HR. Muslim)

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
"Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini, sesuatu yang bukan bagian darinya (tidak ada contohnya), maka ia tertolak” (HR. Bukhori dan Muslim)

Para ulama ahlussunnah juga telah menjelaskan mengenai hal ini (syarat diterimanya amal), diantaranya adalah Fudhail bin ‘iyadh rahimullah ketika menafsirkan firman Allah dalam QS. Al mulk ayat 2, 
“Supaya Dia menguji kamu, siapa yang lebih baik amalnya”

Beliau menafsirkan ayat ini,
“Maksudnya, dia ikhlas dan benar dalam melakukannya. Sebab amal yang dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar maka tidak akan diterima. Dan jika dia benar, tetapi tidak ikhlas maka amalannya juga tidak diterima. Adapun amal yang ikhlas adalah amal yang dilakukan karena Allah, sedang amal yang benar adalah apabila dia sesuai dengan sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam.”

Jadi, sudah jelaslah bahwa syarat diterimanya amal seorang muslim adalah dengan mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah dan dengan contoh dari rosul shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka saudaraku, jadikanlah dua syarat ini dasar kita dalam beramal. Apakah kita mau beramal namun semuanya sia-sia?? Dan apakah kita mau hanya mendapatkan lelah tanpa pahala?? Dan apakah kita mau terjerumus dalam dosa??

Ketahuilah saudaraku, apabila kedua syarat ini tidak terpenuhi maka akan sia-sia ibadah kita dan apabila salah satu saja tidak terpenuhi maka dapat menjerumuskan kita kedalam dosa. Apabila kita beribadah sesuai contoh nabi tetapi kita tidak ikhlas dan mengharapkan orang lain melihat kita dalam beribadah, maka kita akan terjerumus ke dalam riya’. Jika kita beribadah hanya dengan niat ikhlas tanpa ittiba’ maka kita  bisa terjerumus ke dalam bid’ah. Wallahu a’lam

Semoga Allah memudahkan kita mengamalkan dua syarat ini dalam beribadah dan semoga Allah mengistiqomahkan kita diatas hidayah-Nya serta mewafatkan kita diatas islam dan sunnah.


Selesai ditulis di Surabaya pada 15 Mei 2011
oleh Supriyono
Menukil dari kitab Syarah Aqidah Ahlussunnah wal jama’ah, karya al-ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas 

Dengar dan Download Kajian Ahlussunnah
Tema : Syarat Diterimanya Amal
Pembicara : Abu Ihsan Al-Atsary
Link : Klik Disini
 

1 komentar:

  1. Rujukannya ilmiah.. kitab Syarah Aqidah Ahlussunnah wal jama’ah, karya ust. Yazid bin Abdul Qodir Jawas. Tetap dijaga keilmihannya ya..

    BalasHapus

Jazakumullah khoir