Sabtu, 21 Mei 2011

Pemuda Yang Tumbuh Dalam Ketaatan Kepada Allah

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa ta’ala. Kita memuji, memohan pertolongan, dan meminta ampun kepadaNya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri dan keburukan amal perbuatan. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu wa ta’ala maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya. 

Saudaraku, saudariku... para pembaca blog ane sekalian, pada posting kali ini ane membahas tentang keutamaan pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah ta'ala. 

Masa muda merupakan masa puncak pertumbuhan fisik dan kekuatan seorang manusia. Oleh karena itu, masa muda merupakan nikmat besar dari Allah Ta’ala yang seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik-sebaiknya untuk beramal kebaikan guna meraih ridha Allah Ta’ala. Dan sebagaimana nikmat-nikmat besar lainnya dalam diri manusia, nikmat ini pun akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

أَلا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ. لِيَوْمٍ عَظِيمٍ. يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

Tidakkah mereka itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar (dasyat), (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam (Allah Ta’ala)(QS al-Muthaffifiin: 4-6)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
“Tidak akan bergesar kaki seorang manusia dari sisi Allah, pada hari kiamat (nanti), sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang lima (perkara): tentang umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya digunakan untuk apa, hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, serta bagaimana di mengamalkan ilmunya” ( HR at-Tirmidzi no. 2416, dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani) 

Bersamaan dengan itu, masa muda adalah masa yang penuh dengan godaan untuk memperturutkan hawa nafsu. Seorang pemuda yang sedang dalam masa pertumbuhan fisik maupun mental, banyak mengalami gejolak dalam pikiran maupun jiwanya. Hal ini sering menyebabkan dia mengalami keguncangan dalam hidup dan berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari berbagai masalah tersebut.

Dalam kondisi seperti ini, peluang untuk terjerumus ke dalam keburukan dan kesesatan yang dibisikkan oleh setan sangat besar sekali, apalagi Iblis yang telah bersumpah di hadapan Allah bahwa dia akan menyesatkan manusia dari jalan-Nya dengan semua cara yang mampu dilakukannya. Iblis tentu dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Allah Ta’ala berfirman,

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ. ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Iblis berkata: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalangi-halangi) manusia dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)(QS al-A’raaf: 16-17)

Para pembaca blog ane sekalian... janganlah tertipu dengan banyaknya pemuda yang tenggelam dalam syahwat dunia, dan subhat di zaman kita ini. Hiasilah dirimu dengan ibadah kepada Allah ta'ala. Apakah engkau tidak ingin menjadi salah satu orang yang mendapat naungan dari Allah di hari kiamat kelak??

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rosul Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tujuh golongan manusia yang Allah akan menaungi mereka dibawah naungan-Nya, di masa tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, laki-laki yang hatinya terpaut di masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah; berjumpa dan berpisah karena-Nya, seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh seorang perempuan yang terpandang dan cantik, kemudian ia berkata, “sungguh aku takut kepada Allah”, orang yang bersedekah dengan suatu sedekah kemudian ia menyembunyikannya, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan orang yang mengingat Allah saat sendirian lalu air matanya mengalir.” (HR al-Bukhari (no. 1357) dan Muslim (no. 1031) 

Hadits yang agung ini menunjukkan betapa besarnya perhatian Islam terhadap hal-hal yang mendatangkan kebaikan bagi seorang pemuda muslim sekaligus menjelaskan keutamaan besar bagi seorang pemuda yang memiliki sifat yang disebutkan dalam hadits ini.

Syaikh Salim al-Hilali menjelaskan hadits ini tentang salah satu kriteria pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah,
"Keutamaan pemuda yang tumbuh dalam dalam ketaatan kepada Allah, sehingga dia selalu menjauhi perbuatan maksiat dan keburukan”.  (Kitab Bahjatun naazhiriin (1/445))

Dalam hadits lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ» 

“Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memliki shabwah (HR Ahmad (2/263), ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabir” (17/309) dan lain-lain, dinyatakan shahih dengan berbagai jalurnya oleh syaikh al-Albani dalam “ash-Shahiihah” (no. 2843))

Dalam kitab Faidhul Qadiir (2/263) terdapat tafsir dari hadits ini tentang maksud dari pemuda yang tidak memiliki shabwah yaitu, "Pemuda yang tidak memperturutkan hawa nafsunya, dengan dia membiasakan dirinya melakukan kebaikan (berdasarkan al-qur'an dan as-sunnah) dan berusaha keras menjauhi keburukan (yang bertentangan dengan al-qur'an dan as-sunnah)."

Inilah sosok pemuda muslim yang dicintai oleh Allah Ta’ala dan pandai mensyukuri nikmat besar yang Allah Ta’ala anugrahkan kepadanya, serta mampu berjuang menundukkan hawa nafsunya pada saat-saat tarikan nafsu sedang kuat-kuatnya menjerat seorang manusia. Ini tentu merupakan hal yang sangat sulit dan berat, maka wajar jika kemudian Allah Ta’ala memberikan balasan pahala yang sangat banyak dan keutamaan besar baginya.

Agama Islam sangat memberikan perhatian besar kepada upaya perbaikan mental para pemuda. Karena generasi muda hari ini adalah para pemeran utama di masa mendatang, dan mereka adalah pondasi yang menopang masa depan umat ini. Oleh karena itulah, banyak ayat al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mewajibkan kita untuk membina dan mengarahkan para pemuda kepada kebaikan. Karena jika mereka baik maka umat ini akan memiliki masa depan yang cerah, dan generasi tua akan digantikan dengan generasi muda yang shaleh. 

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca blog ane sekalian.  Semoga kita semua senantiasa ditunjukan oleh Allah ke jalan yang diridloiNya. 

-----------------------------------------------------------------------
Selesai ditulis di Surabaya, pada 21 Mei 2011 
Oleh Supriyono 
Menukil dari:

  • kitab Nasihat Bagi Para Pemuda Ahlus Sunnah (terjemahan), Oleh Asy-Syaikh Prof. DR. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili Hafizhahullahu (Dosen Universitas Islam Madinah) Penterjemah : Ust. Muhammad Arifin Baderi, Lc, MA Hafizhahullahu
  • Buku 73 Wasiat Untuk Para Pemuda Muslim, diterjemahkan dari buletin berjudul 74 Washiyyah li Asy-Syabab terbitan Daarul Qashim, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi

Dengar dan Download Kajian Ahlussunnah
Tema : Nasihat Bagi Pemuda
Pembicara :
Abu Isa
Link : Klik Disini

Jalan Menuju Taubat

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa ta’ala. Kita memuji, memohan pertolongan, dan meminta ampun kepadaNya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri dan keburukan amal perbuatan. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu wa ta’ala maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya. 

Saudaraku, saudariku... para pembaca blog ane sekalian, pada posting kali ini ane mengutip tanya jawab antara seorang pemuda dengan  Asy Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al Fauzan tentang solusi bertaubat.  Kutipan tanya jawab ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Berikut isinya : 

Soal :
Saya adalah seorang pemuda yang ingin bertaubat, kembali ke jalan Allah. Apa yang harus saya lakukan agar bisa menjauh dari perbuatan maksiat?

Asy Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al Fauzan menjawab:
Bertaubat kepada Allah adalah perkara yang wajib, demikian juga bersegera dalam taubat adalah perkara yang wajib. Tidak boleh mengakhirkan taubat sampai terlambat, karena seseorang tidak tahu kapan maut menjemputnya.

Allah ta’ala berfirman,

ِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوَءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ فَأُوْلَـئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ} 

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kebodohan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang taubatnya diterima Allah.” (QS. An Nisa: 17) 

Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, 

(أتبِعِ السَّيِّئة الحسنة تَمحُها)

“Ikutilah kejelekan dengan kebaikan, dia akan menghapuskan kejelekan itu.” (HR. At Tirmidzi dalam Sunannya [6/204], dari hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu) 

Mengikuti kebaikan di sini maknanya adalah bersegera, karena termasuk dari adab taubat adalah bersegera dan tidak mengakhirkannya.

Demikian juga jika Anda bertaubat kepada Allah, hendaknya Anda menjauhi sebab-sebab yang dapat menjerumuskan diri Anda ke dalam perbuatan dosa. Jauhilah teman -teman  yang akhlaqnya rusak dengan cara yang baik, dengan cara yang disyariatkan Allah dan rosulnya,  karena merekalah yang menyebabkan Anda terjerumus ke dalam dosa-dosa.

Pergilah Anda kepada orang-orang yang shalih, duduklah bersama mereka, hadirlah di majelis-majelis ilmu, bersegera datang ke masjid, memperbanyak membaca Al Qur’an dan berzikir kepada Allah subhanahu wata’ala. Inilah yang sepantasnya diperbuat oleh seseorang yang bertaubat kepada Allah. Secara garis besar yaitu menjauhi segala sebab kemaksiatan, dan mendekatkan diri dengan perkara-perkara yang baik serta sebab-sebab keta’atan. 

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca blog ane sekalian.  Semoga kita semua senantiasa ditunjukan oleh Allah ke jalan yang diridloiNya.

Selesai ditulis di Surabaya, pada 21 Mei 2011 
Oleh Supriyono 
Menukil dari Al Muntaqa min Fatawa Asy Syaikh Al Fauzan, Jilid I, no 168 

Dengar dan Download Kajian Ahlussunnah 
Tema : Jalan Menuju Taubat 
Pembicara : Syaikh Prof DR Abdur Rozzaq Al Badr 
Link : Klik Disini

Minggu, 15 Mei 2011

Syarat Diterimanya Amal Ibadah Seorang Muslim / Muslimah

Wahai saudaraku...
Allah ta'ala telah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia (Al-Qur'an) sebuah kalimat yang besar maknanya, yang menunjukkan tujuan diciptakannya manusia dan jin. Allah ta'ala berfirman dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56, yang artinya:
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Dan Rasul-Nya yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda yang artinya:

“Hak Alloh atas HambaNya adalah supaya mereka beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatu apapun” (HR. Bukhori dan Muslim)

Wahai saudaraku, yang jadi pertanyaan saat ini adalah ibadah seperti apakah yang diterima oleh Allah? Apa syaratnya agar ibadah kita diterima oleh Allah?

Pada posting kali ini ane membahas sedikit mengenai syarat diterimanya amal. Urusan diterima tidaknya amal ibadah seseorang adalah kehendak Allah ta'ala, tetapi Allah ta'ala menunjukkan adab diterimanya amal ibadah yang mana jika menyelisihi adab tersebut maka tertolak amal ibadah kita. Ketahuilah wahai saudaraku, sudah jelaslah syarat utama diterimanya amal seorang muslim haruslah seseorang tersebut bertauhid hanya kepada Allah dan berlepas diri dari kesyirikan. Apabila seorang muslim berbuat syirik niscaya hapuslah seluruh amal-amalnya dan Allah tak akan pernah mengampuni dosa syirik hingga orang itu bertaubat. Allah ta'ala berfirman,

”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia  (Allah) mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (Q.S An Nisaa':48)

Selain itu saudaraku, ibadah seorang muslim akan diterima dengan 2 hal, yaitu amal yang dilakukan dengan IKHLAS hanya mengharapkan wajah Alloh semata dan amal yang dilakukan dengan ITTIBA’ (mengikuti petunjuk nabi shollallohu ‘alaihi wasallam). 

1. IKHLAS
Ikhlas memiliki makna memurnikan tujuan beribadah kepada Allah dari hal-hal yang mengotorinya, yaitu riya’ (ingin dilihat orang) & sum’ah (ingin didengar orang). Arti lainnya adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam beribadah dengan mengabaikan pandangan makhluk. Berikut beberapa dalil tentang ikhlas adalah syarat wajib diterimanya amal ibadah:

Allah ta'ala berfirman dalam QS. Az Zumar ayat 2, yang artinya: “Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” 

Allah ta'ala juga berfirman dalam QS. Al bayyinah ayat 5, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” 

Abu Umamah meriwayatkan, seseorang telah menemui Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, dan bertanya,
“Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang untuk mendapatkan upah dan pujian? Apakah ia mendapatkan pahala?”
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam menjawab,
“Ia tidak mendapatkan apa-apa.”
Orang tadi mengulangi pertanyaanya tiga kali, dan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam pun tetap menjawab, 
“Ia tidak mendapatkan apa-apa.” 
Lalu beliaupun bersabda, “Sesungguhnya Alloh tidak menerima suatu amalan, kecuali jika dikerjakan murni karenaNya dan mengharap wajahNya.”
(HR. Abu dawud dan An Nasa’i dengan sanad yang jayyid, dishohihkan oleh ibnu hajar dalam fathul baariy) 

Dari Amirul al-Mu’minin, Abu Hafsh ‘Umar bin al-Khaththab, beliau menjelaskan bahwa dia mendengar Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin digapainya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya tersebut” (HR. al-Bukhariy dan Muslim)

Dari beberapa dalil diatas telah jelas bahwa ikhlas adalah salah satu syarat wajib diterimanya amal ibadah seseorang. 

2. ITTIBA' 
Wahai saudarku niat yang baik dan lurus saja tidak cukup, ia harus disempurnakan dengan ittiba’ kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam.

Ittiba’ secara bahasa berarti iqtifa’ (menelusuri jejak), qudwah (bersuri teladan) dan uswah (berpanutan). Ittiba’ terhadap Al-Qur’an berarti menjadikan Al-Qur’an sebagai imam dan mengamalkan isinya. Ittiba’ kepada Rasul berarti menjadikannya sebagai panutan yang patut diteladani dan ditelusuri langkahnya. (Mahabbatur Rasul, hal.101-102)

Adapun secara istilah ittiba’ berarti mengikuti seseorang atau suatu ucapan dengan hujjah dan dalil. Ibnu Khuwaizi Mandad mengatakan : "Setiap orang yang engkau ikuti dengan hujjah dan dalil padanya, maka engkau adalah muttabi’ (orang yang beritiba'). (Ibnu Abdilbar dalam kitab Bayanul ‘Ilmi, 2/143)

Namun perlu diperhatikan bahwa mustahil seseorang itu berittiba’ kepada Rasulullah saw jika dia jahil (bodoh) terhadap sunnah-sunnah atau petunjuk-petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Oleh sebab itu jalan satu-satunya untuk memulai berittiba’ kepada Rasulullah adalah dengan mempelajari sunnah-sunnah beliau sesuai penafsiran para sahabat  rosul dengan mematuhi adab-adab menuntut ilmu. Berikut beberapa dalil tentang ittiba' sunnah adalah syarat wajib diterimanya amal ibadah:

Allah ta'ala berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 21,
"Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik., (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kesenangan) hari akhirat dan dia banyak menyebut Allah." 

Allah ta'ala juga berfirman dalam QS. Al Harsy ayat 7,
“..apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.”

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintahnya (contohnya) dari kami maka dia tertolak” (HR. Muslim)

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
"Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini, sesuatu yang bukan bagian darinya (tidak ada contohnya), maka ia tertolak” (HR. Bukhori dan Muslim)

Para ulama ahlussunnah juga telah menjelaskan mengenai hal ini (syarat diterimanya amal), diantaranya adalah Fudhail bin ‘iyadh rahimullah ketika menafsirkan firman Allah dalam QS. Al mulk ayat 2, 
“Supaya Dia menguji kamu, siapa yang lebih baik amalnya”

Beliau menafsirkan ayat ini,
“Maksudnya, dia ikhlas dan benar dalam melakukannya. Sebab amal yang dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar maka tidak akan diterima. Dan jika dia benar, tetapi tidak ikhlas maka amalannya juga tidak diterima. Adapun amal yang ikhlas adalah amal yang dilakukan karena Allah, sedang amal yang benar adalah apabila dia sesuai dengan sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam.”

Jadi, sudah jelaslah bahwa syarat diterimanya amal seorang muslim adalah dengan mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah dan dengan contoh dari rosul shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka saudaraku, jadikanlah dua syarat ini dasar kita dalam beramal. Apakah kita mau beramal namun semuanya sia-sia?? Dan apakah kita mau hanya mendapatkan lelah tanpa pahala?? Dan apakah kita mau terjerumus dalam dosa??

Ketahuilah saudaraku, apabila kedua syarat ini tidak terpenuhi maka akan sia-sia ibadah kita dan apabila salah satu saja tidak terpenuhi maka dapat menjerumuskan kita kedalam dosa. Apabila kita beribadah sesuai contoh nabi tetapi kita tidak ikhlas dan mengharapkan orang lain melihat kita dalam beribadah, maka kita akan terjerumus ke dalam riya’. Jika kita beribadah hanya dengan niat ikhlas tanpa ittiba’ maka kita  bisa terjerumus ke dalam bid’ah. Wallahu a’lam

Semoga Allah memudahkan kita mengamalkan dua syarat ini dalam beribadah dan semoga Allah mengistiqomahkan kita diatas hidayah-Nya serta mewafatkan kita diatas islam dan sunnah.


Selesai ditulis di Surabaya pada 15 Mei 2011
oleh Supriyono
Menukil dari kitab Syarah Aqidah Ahlussunnah wal jama’ah, karya al-ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas 

Dengar dan Download Kajian Ahlussunnah
Tema : Syarat Diterimanya Amal
Pembicara : Abu Ihsan Al-Atsary
Link : Klik Disini
 

Rabu, 04 Mei 2011

Tulang Rusuk Tidak Akan Pernah Tertukar

Segala puji bagi Allah Subhanahu wata’ala. Kita memuji, memohan pertolongan, dan meminta ampun kepadaNya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri dan keburukan amal perbuatan. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu wa ta’ala maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan RasulNya.

Saudaraku, saudariku... para pembaca blog ane sekalian, pada posting artikel kali ini saya kutip dari sebuah catatan saudari ane. Sebuah catatan yang berisi tentang curhatan seorang akhwat yang mana berada dalam kegelisahan karena ada seorang ikhwan yang mengungkapkan cinta kepadanya. Berikut isi catatannya,

Kau bilang “ana akan ta’aruf dengan ukhti beberapa tahun lagi ketika ukhti sudah lulus”

Buat apa kau katakan itu skrg akhi...

Jika belum siap adalah jawabannya,, lalu kenapa harus kau katakan rencanamu itu padaku..

Tidak taukah engkau,, kata2mu itu bisa menggoyahkan kekokohan iman yang sedang susah payah ku bangun..

Lalu ketika kau bilang “ana ingin jaga hati ana untuk ta’aruf dengan ukhti nanti”

Lantas, apakah dgn kau bilang begitu dan sering menelfonku itu artinya tidak mengotori hatimu?

Kau memang sudah seharusnya menjaga hatimu sampai tiba waktunya nanti untuk kau berikan seutuhnya kepada wanita yang berhak.. tapi kan belum tentu wanita itu aku...

Ketika kau bilang.. “ati2 ya di sana.. jaga diri baik2..”

Bukannya aku ga suka diperhatiin dan dijagain..

Tp cukuplah Allah yg menjagaku..

Dan tanpa kau bilang begitu pun aku akan berhati2 di sini dan menjaga diriku dengan baik untuk suamiku nanti.. dan itu belum tentu kau..

Ketika kau bilang “ana harap ukhti tidak ta’aruf dengan org lain sebelum ana”

Kurang jelaskah jawabanku,, aku tidak bisa menjanjikan apa pun.. karena aku tak tau apa yang akan terjadi padaku nanti... 

Sebuah kutipan yang perlu kau ketahui: 

Wahai akhwat, jika datang kepadamu laki-laki baik-baik yang melamarmu, maka bisa jadi dialah pangeranmu.

Wahai ikhwan, jika gadis pujaanmu telah dilamar orang, maka lupakanlah. Karena bisa jadi dia bukan permaisurimu.

Aku yakin kau tau janji Allah.. laki-laki yang baik hanya untuk wanita yang baik..

Maka kalau memang nantinya kita tak berjodoh,, ya itu artinya barangkali aku tak cukup baik untukmu.. pastinya ada wanita lain yang baik untukmu..

Dan yakinlah... kalau memang aku bukan tulang rusukmu,, maka apa yang kau rencanakan itu tak akan pernah terjadi...

Dan jika aku ini tulang rusukmu, maka tanpa kau minta aku untuk tidak ta’aruf dengan orang lain pun, aku akan tetap jadi pendampingmu..

Karena ku yakin,, tulang rusuk tidak akan tertukar..

Dari catatan diatas, secara global dapat diambil 3 pelajaran berharga antara lain, 

1. Untuk para ikhwan, Janganlah mendahulukan ego dalam masalah cinta. Bersabarlah dalam perkara ini dengan perkara-perkara yang ma’ruf. Mulai dari menyibukkan diri dengan majelis ilmu. Setiap orang butuh ilmu untuk beramal. Keluarga yang kita pimpin nantinya juga membutuhkan pendidikan agama yang sesuai dengan penafsiran para sahabat. Perkara ini juga adalah tanggung jawab kita yang mana akan ditanya Allah ta’ala tentang kepemimpinan kita di dalam keluarga kelak. Bagaimana jika seorang pemimpin di dalam keluarga jauh dari Al-Qur’an dan As-sunnah?? Na’udzubillahi min dzalik. Sabar dalam hal ini juga bisa dengan melakukan puasa. Tatkala seseorang niat dan bersungguh-sungguh berpuasa maka dia akan menjaga dirinya dari perkara-perkara yang membatalkan puasa dan yang menghilangkan pahala puasa, salah satunya adalah menjaga timbulnya syahwat yang mengotori hati. Allah berfirman, 

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu” (QS. Al-baqarah: 45) 

Untuk para akhwat, janganlah berlenihan berlembut-lembut hati dalam menyikapi cinta yang diungkapkan ikhwan kepadamu sehingga terjerumus ke dalam perkara yang tidak diridloi Allah ta’ala yang biasa disebut dengan pacaran, bermesrahan, dsb yang mana hakikatnya adalah mendekati zina (Secara maknawi). Allah berfirman

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra: 32) 

Bila menolak karena alasan yang syar'i, cara penyampaian menolak hendaknya dengan cara yang baik. Tatkala ada ikhwan yang mengungkapkan cintanya kepadamu dan ikhwan tersebut belum siap lahir dan batin maka tolaklah dengan cara yang baik, yang disyariatkan Allah dan rosulnya. Allah berfirman, 

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. An-nisa’: 36) 

2. Hendaknya mempersiapkan diri secara lahir dan batin sebelum mengungkapkan cinta kepada lawan jenis.

3. Jodoh tidak akan pernah tertukar karena telah ditentukan oleh Allah ta’ala sejak kita di dalam kandungan. Maka dari itu janganlah khawatir jodoh kita diambil orang. Berbuatlah yang terbaik sesuai dengan Al-qur’an dan As-sunnah, jalinlah silaturakhim sesuai syariat, maka jodoh yang baik pula kelak akan menjadi milik kita. Allah berfirman, 

“Perempuan-perempuan yang keji adalah untuk yang keji pula dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji, sedangkan wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik juga diperuntukkan bagi perempuan-perempuan yang baik….” (QS. An-nuur: 26) 

Semoga tulisan ane ini bermanfaat bagi pembaca sekalian. Semoga kita senantiasa dijauhkan oleh Allah ta’ala dari fitnah syahwat dan rasa khawatir jodoh kita diambil orang. TULANG RUSUK TIDAK AKAN PERNAH TERTUKAR, JODOH TIDAK AKAN PERNAH TERTUKAR. 

Selasai ditulis di Surabaya, pada 4 Mei 2011 
oleh Supriyono

----------------------------------------------------------- 
Download dan dengar kajian ahlussunnah:
Tema: Hijab Wanita Muslimah
Pembicara: Muhammad Zaki