Rabu, 27 April 2011

Kehalusan, Kelemah lembutan dan Kesabaran Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wasalam


بسم الله الرحمان الرحيم


Segala puji bagi Allah Subhanahu wata’ala. Kita memuji, memohan pertolongan, dan meminta ampun kepadaNya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri dan keburukan amal perbuatan. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu wa ta’ala maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan RasulNya.

Merampas dan mengambil hak orang lain dengan paksa merupakan ciri orang-orang zhalim dan jahat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah memancangkan pondasi-pondasi keadilan dan pembelaan bagi hak setiap orang agar mendapatkan dan mengambil haknya yang dirampas. Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah menjalankan kaidah tersebut demi kebaikan dan semata-mata untuk jalan kebaikan dengan bimbingan karunia yang telah Allah curahkan berupa perintah dan larangan.

'Aisyah radhiyallahu 'anha menuturkan:
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah sama sekali memukul seorang pun dengan tangannya kecuali dalam rangka berjihad di jalan Allah. Beliau tidak pernah memukul pelayan dan kaum wanita. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah membalas suatu aniaya yang ditimpakan orang atas dirinya. Selama orang itu tidak melanggar kehormatan Allah. Namun, bila sedikit saja kehormatan Allah dilanggar orang, maka beliau akan membalasnya semata-mata karena Allah." (HR. Ahmad)

'Aisyah radhiyallahu 'anha mengisahkan:
"Suatu kali aku berjalan bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau mengenakan kain najran yang tebal pinggirannya. Kebetulan beliau berpapasan dengan seorang Arab badui, tiba-tiba si Arab badui tadi menarik dengan keras kain beliau itu, sehingga aku dapat melihat bekas tarikan itu pada leher beliau. Ternyata tarikan tadi begitu keras sehingga ujung kain yang tebal itu membekas di leher beliau. Si Arab badui itu berkata: "Wahai Muhammad, berikanlah kepadaku sebagian yang kamu miliki dari harta Allah!" Beliau lantas menoleh kepadanya sambil tersenyum lalu mengabulkan permintaannya." (Muttafaq 'alaih)

Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam baru kembali dari peperangan Hunain, beberapa orang Arab badui mengikuti beliau, mereka meminta bagian kepada beliau. Mereka terus meminta sampai-sampai beliau terdesak ke sebuah pohon, sehingga jatuhlah selendang beliau, ketika itu beliau berada di atas tunggangan. Beliau lantas berkata:
"Kembalikanlah selendang itu kepadaku, Apakah kamu khawatir aku akan berlaku bakhil? Demi Allah, seadainya aku memiliki unta-unta yang merah sebanyak pohon 'Udhah ini, niscaya akan aku bagikan kepadamu, kemudian kalian pasti tidak akan mendapatiku sebagai seorang yang bakhil, penakut lagi pendusta." (HR. Al-Baghawi di dalam kitab Syarhus Sunnah dan telah dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani)

Merupakan bentuk tarbiyah dan ta'lim yang paling jitu dan indah adalah berlaku lemah lembut dalam segala perkara, dalam mengenal maslahat dan menolak mafsadat.

Kecemburuan yang dimiliki para sahabat telah mendorong mereka untuk menyanggah setiap melihat orang yang keliru dan tergelincir dalam kesalahan. Mereka memang berhak melakukan hal itu. Namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang lembut dan penyantun melarang mereka melakukan seperti itu, karena orang itu (pelaku kesalahan itu) jahil atau karena mudharat yang timbul dibalik itu lebih besar. Tentu saja, perilaku Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lebih utama untuk diteladani.

Abu Hurairah radhiallahu anhu menceritakan: 
"Suatu ketika, seorang Arab Badui buang air kecil di dalam masjid (tepatnya di sudut masjid). Orang-orang lantas berdiri untuk memukulinya. Namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan: "Biarkanlah dia, siramlah air kencingnya dengan seember atau segayung air. Sesungguhya kamu ditampilkan ke tengah-tengah umat manusia untuk memberi kemudahan bukan untuk membuat kesukaran." (HR. Al-Bukhari)

Kesabaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam menyebarkan dakwah layak menjadi motivasi bagi kita untuk meneladaninya. Kita wajib berjalan di atas manhaj beliau di dalam berdakwah semata-mata karena Allah tanpa membela kepentingan pribadi.

'Aisyah radhiyallahu 'anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam : "Apakah ada hari yang engkau rasakan lebih berat daripada hari peperangan Uhud?" beliau menjawab:
"Aku telah mengalami berbagai peristiwa dari kaummu, yang paling berat kurasakan adalah pada hari 'Aqabah, ketika aku menawarkan dakwah ini kepada Abdu Yalail bin Abdi Kalaal namun dia tidak merespon keinginanku. Akupun kembali dengan wajah kecewa. Aku terus berjalan dan baru tersadar ketika telah sampai di Qornuts Tsa'alib (sebuah gunung di kota Makkah). Aku tengadahkan wajahku, kulihat segumpal awan tengah memayungiku. Aku perhatikan dengan saksama, ternyata Malaikat Jibril alaihissalam ada di sana. Lalu ia menyeruku: "Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala telah mendengar ucapan kaum-mu dan bantahan mereka terhadapmu. Dan aku telah mengutus malaikat pengawal gunung kepadamu supaya kamu perintahkan ia sesuai kehendakmu. Kemudian malaikat pengawal gunung itu memberi salam kepadaku lalu berkata: "Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala telah mendengar ucapan kaummu dan bantahan mereka terhadapmu, dan aku adalah malaikat pengawal gunung, Allah Subhanahu wata’ala telah mengutusku kepadamu untuk melaksanakan apa yang kamu perintahkan kepadaku. Sekarang, apakah yang kamu kehendaki? jika kamu menghendaki agar aku menimpakan kedua gunung ini atas mereka, niscaya aku lakukan!" Beliau menjawab: "Tidak, justru aku berharap semoga Allah Subhanahu wata’ala mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang menyembah Allah Subhanahu wata’ala semata dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya." (Muttafaq 'alaih)

Pada hari ini, sering kita lihat sebagian orang yang bersikap terburu-buru dalam berdakwah. Berharap dapat segera memetik hasil. Hanya membela kepentingan pribadi yang justru hal itu merusak dakwah dan mengotori keikhlasan. Oleh sebab itu, berapa banyak kelompok-kelompok dakwah yang gagal karena individu-individunya tidak memiliki kesabaran dan ketabahan.

Setelah bersabar dan berjuang selama bertahun-tahun, barulah terwujud apa yang dicita-citakan Rasulullah

Dalam sebuah syair disebutkan:
Bagaimanakah mungkin dapat diimbangi
seorang insan terbaik yang hadir di muka bumi.
Semua orang yang terpandang tidak akan mampu mencapai ketinggian derajatnya.
Semua orang yang mulia tunduk di hadapannya.
Para penguasa Timur dan Barat rendah di sisi-nya.

Abdullah bin Mas'ud radhiallaahu anhu mengungkapkan:
"Sampai sekarang masih terlintas dalam ingatanku saat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengisahkan seorang Nabi yang dipukul kaumnya hingga berdarah. Nabi tersebut mengusap darah pada wajahnya seraya berdoa:
"Ya Allah, ampunilah kaumku karena mereka kaum yang jahil." (Muttafaq 'alaih)

Pada suatu hari ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tengah melayat satu jenazah, datanglah seorang Yahudi bernama Zaid bin Su'nah menemui beliau untuk menuntut utangnya. Yahudi itu menarik ujung gamis dan selendang beliau sambil memandang dengan wajah yang bengis. Dia berkata: "Ya Muhammad, lunaskanlah utangmu padaku!" dengan nada yang kasar. Melihat hal itu Umar Radhiallahu'anhu pun marah, ia menoleh ke arah Zaid si Yahudi sambil mendelikkan matanya seraya berkata: "Hai musuh Allah, apakah engkau berani berkata dan berbuat tidak senonoh terhadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di hadapanku!" Demi Dzat Yang telah mengutusnya dengan membawa Al-Haq, seandainya bukan karena menghindari teguran beliau, niscaya sudah kutebas engkau dengan pedangku!"

Sementara Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memperhatikan reaksi Umar radhiallaahu anhu dengan tenang. Beliau berkata:
"Wahai Umar, saya dan dia lebih membutuhkan perkara yang lain (nasihat). Yaitu engkau anjurkan kepadaku untuk menunaikan utangnya dengan baik, dan engkau perintahkan dia untuk menuntut utangnya dengan cara yang baik pula. Wahai umar bawalah dia dan tunaikanlah haknya serta tambahlah dengan dua puluh sha' kurma."

Melihat Umar radhiallahu anhu menambah dua puluh sha' kurma, Zaid si Yahudi itu bertanya: "Ya Umar, tambahan apakah ini? Umar radhiallahu anhu menjawab: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkanku untuk menambahkannya sebagai ganti kemarahanmu!" Si Yahudi itu berkata: "Ya Umar, apakah engkau mengenalku?" "Tidak, lalu siapakah Anda?" Umar Radhiallahu'anhu balas bertanya. "Aku adalah Zaid bin Su'nah" jawabnya. "Apakah Zaid si pendeta itu?" tanya Umar lagi. "Benar!" sahutnya. Umar lantas berkata: "Apakah yang mendorongmu berbicara dan bertindak seperti itu terhadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam? Zaid menjawab: "Ya Umar, tidak satupun tanda-tanda kenabian kecuali aku pasti mengenalinya melalui wajah beliau setiap kali aku memandangnya. Tinggal dua tanda yang belum aku buktikan, yaitu: apakah kesabarannya dapat memupus tindakan jahil, dan apakah tindakan jahil yang ditujukan kepadanya justru semakin menambah kemurahan hati-nya?" Dan sekarang aku telah membuktikannya. Aku bersaksi kepadamu wahai Umar, bahwa aku rela Allah Subhanahu wata’ala sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku dan Muhammad sebagai nabiku. Dan Aku bersaksi kepadamu bahwa aku telah menyedekahkan sebagian hartaku untuk umat Muhammad . Umar berkata: "Ataukah untuk sebagian umat Muhammad Shallallahu'alaihi wasallam saja? sebab hartamu tidak akan cukup untuk dibagikan kepada seluruh umat Muhammad ." Zaid berkata: "Ya, untuk sebagian umat Muhammad . Zaid kemudian kembali menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan menyatakan kalimat syahadat "Asyhadu al Laa Ilaaha Illallaahu, wa Asyhadu Anna Muhammadan Abduhu wa Rasuuluhu". Ia beriman dan membenarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ." (HR. Al-Hakim dalam kitab Mustadrak dan menshahihkannya)

Cobalah perhatikan dialog yang panjang tersebut, sebuah pendirian dan kesabaran yang mengesankan. Semoga kita dapat meneladani junjungan kita nabi besar Muhammad. Meneladani kesabaran beliau dalam menghadapi beraneka ragam manusia dan dalam mendakwahi saudara dan saudari kita dengan lemah lembut dan santun.

Semoga tulisan ane di blog yang sederhana ini bermanfaat bagi kita semua, semakin membawa akhlaq kita kepada akhlaq mulia Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Bersikap dan berkatalah yang sopan terutama kepada kedua orang tua. Sopan adalah perintah rosul kepada kita. Sopan adalah indah. Dan setiap keindahan yang disyariatkan Allah dan rosulnya akan memudahkan jalan kita menuju surga.



Selesai ditulis di Surabaya pada 27 April 2011 
oleh Supriyono 
Menukil dari Kitab Sehari Di Kediaman Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam, oleh Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim

Download Kajian Ahlussunnah
Tema : Berdakwah Dengan cara lemah lembut
Pembicara : Ustad Dzulkarnaen
Link : Klik Disini

Rabu, 20 April 2011

Informasi Kajian di Surabaya


TERBARU SEJAK 23 Februari 2011 

UNTUK KOREKSI/UPDATE JADWAL KAJIAN SILAHKAN MENGISI PADA FORM KOMENTAR BLOG INI, ATAU EMAIL KE : kajiansurabaya@ymail.com ATAU KE : cu_pycupy@hotmail.com, ATAU SMS KE: 085732601910 (ikhwan dari mahad thaybah) ATAU KE 085749599033 (Supriyono) DENGAN FORMAT : JADWAL/WAKTU#MATERI/KITAB#PEMATERI#ALAMAT KAJIAN#KONTAK HP


Berikut Jadwal kajiannya : 

MASJID THAYBAH (umum-ikhwan)
Perum Inti Bumi no. 1-3, Keputih, Surabaya
  1. Senin B’da Subuh - Taysirul ‘Allam ( 10 )
  2. Selasa B’da Subuh - Usul Fiqh ( 10 )
  3. Rabu B’da Subuh - Aqidah Tauhid ( 10 )
  4. Kamis B’da Subuh - Tafsir Al Aisar / Syaikh Al Jazairi – mulai dari awal ( 10 )
  5. Kamis B’da Maghrib - Al Aisar / Syaikh Al Jazairi – mulai dari tengah ( 10 )
  6. Jumat B’da Subuh - Tahfidz Al Quran ( 10 )
Kontak Informasi : 08565 5337 083

WISMA AKHWAT THAYBAH (umum-akhwat)
Wisma akhwat Thaybah – Gubeng Kertajaya XI E No. 21
  1. Senin B’da Isya – Siroh Nabawi ( 13 )
  2. Selasa B’da Isya –  Al Aisar / Syaikh Al Jazairi ( 10 )
  3. Juma’at B’da Subuh – Tahsin ( 14 )
Kontak Informasi : 0857 3220 3084

FSMS-UNESA (umum)
Mushollah Al Amin Karang Rejo Sawah Gg. VII Kec.Wonokromo, Surabaya
  1. Setiap Sabtu jam 09.00 WIB - Utsul Tsalatsah - Karya Syaikh Utsaimin (untuk bulan Mei 2011) ( 15 )
Kontak Informasi : 08564 5374 883

MASJID AL AMIN (umum)
Jln. Semampir Tengah III-A / 25 Surabaya
  1. Senin B’da Maghrib - Riyadush Shalihin ( 3 )
  2. Rabu B’da Maghrib - Quratul ‘Uyun Al Muwahidin ( 4 )
  3. Sabtu B’da Subuh - Tafsir Ibnu Katsir ( 3 )

MASJID JAMI’ MAKKAH (umum)
Jln. Bendul Merisi Tengah, Surabaya
  1. Senin pekan ke-1 B’da Maghrib - Ta’liq Aqidah Washitiyah (4)
  2. Ahad pekan ke-2 B’da Maghrib - Syarh Arba’in Nawawi (2)
  3. Ahad pekan ke-3 B’da Maghrib - Tafsir Ibnu Katsir (3)
  4. Ahad pekan ke-4 B’da Maghrib - Syarh Kitab at Tauhid (1)
MASJID UKHUWAH ISLAMIYAH (umum)
Jln. Perak Barat Surabaya
  1. Senin B’da Maghrib - Tafsir Ibnu Katsir (2)
  2. Kamis B’da Maghrib - Syarh Arba’in an Nawawi (5)
MASJID AL HILAL (umum)
Jln. Purwodadi – Demak, Surabaya
  1. Rabu B’da Maghrib - Ushulus Sunnah (1)
MASJID MUJAHIDIN (umum)
Jln. Perak Barat, Komplek Pelabuhan Surabaya
     1. Kamis B’da Maghrib - al Qaulul Mufid (1)

MASJID DARUL HIJRAH (ikhwan only)
Jln. Sidotopo Kidul, komplek Ma’had Ali al Irsyad Surabaya
  1. Senin B’da Maghrib - Tazkiyah an Nafs (5)
  2. Selasa B’da Maghrib - Fathul Madjid (7)
  3. Rabu B’da Maghrib - Tafsir Juz ‘Amma (6)
  4. Kamis B’da Maghrib - Lum’atul I’tiqad (4)
  5. Jumat B’da Maghrib - Ushul at Tafsir (-)
MASJID IBRAHIM (umum)
Jln. Semolowaru Bahari, komplek TNI AL Surabaya
  1. Senin B’da Maghrib - Shahih Fadha’il Amal (10)
  2. Sabtu B’da Subuh - Tafsir al Quran ( 8 )
MASJID BAITURRAHMAN (umum)
Jln. Sidosermo Indah, Surabaya
  1. Jumat B’da Maghrib - al Wajiz fi fiqh Sunnah (3)
MASJID AL JAARIYAT (umum)
Jln. Kedungcowek, Kenjeran Surabaya
  1. Sabtu B’da Maghrib - Tematik (9)
MASJID DARUSSALAM (umum)
Jln. Ampel Sawahan II Surabaya
  1. Selasa B’da Maghrib - Aqidah Ashabul Hadits (4)
MASJID FATHURRAHMAN (umum)
Jln. Ampel Maghfur I Surabaya
  1. Jumat B’da Maghrib - Iman Yazid wa Yanqus (4)

Keterangan : Kajian di atas diisi oleh pemateri sebagai berikut :
1. Al Ustadz Aunur Rafiq bin Ghufron, Lc.
2. Al Ustadz Mubarak bin Mahfudz Bamu’allim, Lc.
3. Al Ustadz Ma’ruf nur Salam, Lc.
4. Al Ustadz Abdurrahman Thayyib, Lc.
5. Al Ustadz Imam Wahyudi, Lc.
6. Al Ustadz M. Chusnul Yaqin, Lc.
7. Al Ustadz Salim bin Ali Ghanim, Lc.
8. Al Ustadz Ainul Harits, Lc. M.Ag.
9. Al Ustadz Ridwan ‘Abdul Aziz
10. Al Ustadz M. Noor Yasin
11. Al Ustadz Abdurrahim
12. Al Ustadz Fuad
13. Al Ustadz Raswanto
14. Al Ustadz Zaki
15. Al Ustadz Fadhlan Fahamsyah, Lc

Semoga bermanfaat...


-----------------------------------------------------
Download dan dengar  kajian ahlussunnah:
Tema: Urgensi Waktu
Pembicara: Abdurrahman Thayyib

Sabtu, 16 April 2011

Larangan Membangun Masjid di Atas Kuburan dan Beribadah di Dalamnya

Membangun masjid di atas kuburan merupakan salah satu kesyirikan besar yang telah menimpa ummat Islam. Dewasa ini telah banyak masjid-masjid yang dibangun di atas kuburan dan dibangun juga kubah-kubah di atasnya. Tidak sedikit orang-orang datang mengunjunginya untuk mencari dan minta berkah, menjadikan perantara dalam mendekatkan diri kepada Allah kepada si fulan yang telah di dalam makam, bahkan memohon syafa’at serta kesembuhan dari si fulan. Perbuatan itu semua termasuk ke dalam syirik akbar. Itulah fakta yang kita dapati di negeri ini. (Lihat Manhajul Imaam asy-Syafi’i fii Itsbaatil ‘Aqiidah (I/259) )

Ahlus Sunnah berkeyakinan bahwa tidak boleh membangun masjid di atas kuburan dan hal ini merupakan kesesatan dalam agama. Di samping itu, perbuatan ini merupakan jalan menuju syirik serta menyerupai perbuatan Yahudi dan Nashrani. Rasulullah shalallahu 'alahi wassalam juga bersabda:

لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الْيَهُوْدِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ.

“Laknat Allah atas Yahudi dan Nashrani, mereka telah menjadikan kubur-kubur Nabi mereka sebagai tempat ibadah.” 
(HR. Al-Bukhari (no. 435, 436, 3453, 3454, 4443, 4444, 5815, 5816) dan Muslim (no. 531 (22)) dari ‘Aisyah radiallahu'anha)

Dalam riwayat lain diantaranya dari ‘Aisyah radhiallahu'anha bahwa Ummu Habibah dan Ummu Salamah radhiallahu'anhuma menceritakan kepada Rasulullah shalallahu 'alahi wassalam tentang gereja dengan rupaka-rupaka yang ada di dalamnya yang dilihatnya di negeri Habasyah (Ethiopia). Maka, beliau shalallahu 'alahi wassalam bersabda:

أُولَئِكَ قَوْمٌ إِذَا مَاتَ فِيْهِمُ الْعَبْدُ الصَّالِحُ أَوِ الرَّجُلُ الصَّالِحُ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوْا فِيْهِ تِلْكَ الصُّوَرَ، أُوْلَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

“Mereka itu adalah suatu kaum, apabila ada seorang hamba yang shalih atau seorang yang shalih meninggal di antara mereka, mereka bangun di atas kuburannya sebuah tempat ibadah dan mereka buat di dalam tempat itu rupaka-rupaka. Mereka itulah makhluk yang paling buruk di hadapan Allah pada hari Kiamat.”
(HR. Al-Bukhari (no. 427, 434, 1341) dan Muslim (no. 528))

-->Pelajaran penting yang dapat kita ambil dari sikap Rasulullah dalam masalah ini, sebagaimana beliau menjelaskan terlebih dahulu kepada para sahabat, bahwa orang yang membangun tempat ibadah di sekitar kuburan orang shaleh termasuk sejelek-jelek makhluk di hadapan Allah. Hal ini menunjukan larangan membangun masjid di atas kuburan, baik kuburan orang shalih maupun bukan orang shalih.

-->Rasulullah di akhir hayatnya, lima hari sebelum meninggal dunia, beliau juga berwasiat dalam perkara ini -->. Hal ini menunjukan betapa pentingnya wasiat Rasulullah yang mana beliau melarang umatnya menjadikan kuburan-kuburan sebagai tempat ibadah dan beribadah di dalamnya. Dari Jundub bin ‘Abdillah radhiallahu'anhu berkata: “Aku mendengar bahwa lima hari sebelum Nabi shalallahu 'alahi wassalam wafat, beliau shalallahu 'alahi wassalam pernah bersabda:

إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللهِ أَنْ يَكُوْنَ لِي مِنْكُمْ خَلِيْلٌ، فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيْلاً، كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلاً، وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيْلاً لاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيْلاً، أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوْا يَتَّخِذُوْنَ قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيْهِمْ مَسَاجِدَ، أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُوْرَ مَسَاجِدَ، إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ.

"Sungguh aku menyatakan kesetiaanku kepada Allah dengan menolak bahwa aku mempunyai seorang khalil (kekasih mulia) di antara kamu, karena sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai khalil, seandainya aku boleh menjadikan seorang khalil dari umatku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalil. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka dan orang-orang shalih mereka sebagai tempat ibadah. Ingatlah, janganlah kamu sekalian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar melarang kamu melakukan perbuatan itu.” (HR. Muslim (no. 532 (23)) 

Yang dimaksud dengan اِتِّخَاذُ الْقُبُوْرِ مَسَاجِدَ yaitu menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid (tempat ibadah), mencakup tiga hal, sebagaimana yang disebutkan oleh asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah (Lihat Tahdziirus Saajid min Ittikhaadzil Qubuur Masaajid (hal 29-44) oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, cet. I/ Maktabah al-Ma’arif/ th. 1422 H) antara lain:

1. Tidak boleh shalat menghadap kubur. Hal ini ada larangan yang tegas dari Nabi shalallahu 'alahi wassalam:

لاَ تُصَلُّوْا إِلَى الْقُبُوْرِ وَلاَ تَجْلِسُوْا عَلَيْهَا.

“Jangan kamu shalat menghadap kubur dan jangan duduk di atasnya.” 
(HR. Muslim (no. 972 (98)) dan lainnya dari Sahabat Abu Martsad al-Ghanawi) 
2. Tidak boleh sujud di atas kubur.
3. Tidak boleh membangun masjid di atasnya (tidak boleh shalat di masjid yang dibangun di atas kuburan).

Beliau rahimahullah juga menyebutkan dalam kitabnya, bahwasanya: Membangun masjid di atas kubur hukumnya haram dan termasuk dosa besar menurut empat madzhab. (Tahdziirus Saajid (hal 45-62))

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baaz rahimahullah menjelaskan dalam fatwanya: 

1. Hadits-hadits larangan tersebut menunjukkan tentang haramnya membangun masjid di atas kubur dan tidak boleh menguburkan mayat di dalam masjid. (Fataawaa Syaikh Abdul Aziz bin ‘Abdillah bin Baaz 
(IV/337-338 dan VII/426-427), dikumpulkan oleh Dr. Muhammad bin Sa’ad asy-Syuwai’ir, cet. I, th. 1420 H) 
2. Tidak boleh shalat di masjid yang di sekelilingnya terdapat kuburan.
(Lihat Fataawaa Muhimmah Tata’allaqu bish Shalah (hal. 17-18, no. 12) oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baaz, cet. I, Daarul Fa-izin lin Nasyr-th. 1413 H) 

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan di dalam kitabnya: 

1. Siapa yang mengubur seseorang di dalam masjid, maka ia harus memindahkannya dan mengeluarkannya dari masjid.
2. Siapa yang mendirikan masjid di atas kuburan, maka ia harus membongkarnya (merobohkannya).
(Lihat al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (I/402) oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin)
    Dinyatakan pula oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali dalam kitabnya (Lihat Mausuu’atul Manaahi asy-Syar’iyah (I/426)), bahwa menjadikan kubur sebagai tempat ibadah termasuk dosa besar, dengan sebab:
    1. Orang yang melakukannya mendapat laknat Allah.
    2. Orang yang melakukannya disifatkan dengan sejelek-jelek makhluk.
    3. Menyerupai orang Yahudi dan Nasrani, sedangkan menyerupai mereka hukumnya haram.

    Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah menyebutkan di dalam kitabnya, Zaadul Ma’ad Zaadul Maaad fii Hadyi Khairil ‘Ibaad (III/572) tahqiq Syu’aib dan ‘Abdul Qadir al-Arnauth, cet. Mu-assasah ar-Risalah, th. 1412 H:
    “Berdasarkan hal itu, masjid harus dibongkar bila dibangun di atas kubur. Sebagaimana halnya kubur yang berada dalam masjid harus dibongkar. Pendapat ini telah disebutkan oleh Imam Ahmad dan lainnya. Tidak boleh bersatu antara masjid dan kuburan. Jika salah satu ada, maka yang lain harus tiada. Mana yang terakhir didirikan itulah yang dibongkar. Jika didirikan bersamaan, maka tidak boleh dilanjutkan pembangunannya, dan wakaf masjid tersebut dianggap batal. Jika masjid tetap berdiri, maka tidak boleh shalat di dalamnya (yaitu di dalam masjid yang ada kuburannya) berdasarkan larangan dari Rasulullah shalallahu 'alahi wassalam dan laknat beliau shalallahu 'alahi wassalam terhadap orang-orang yang menjadikan kubur sebagai masjid atau menyalakan lentera di atasnya. Itulah dinul Islam yang Allah turunkan kepada Nabi dan Rasul-Nya, Muhammad shalallahu 'alahi wassalam, meskipun dianggap asing oleh manusia sebagaimana yang engkau saksikan." 
    (Tentang harus dibongkarnya masjid yang dibangun di atas kubur itu tidak ada khilaf di antara para ulama yang terkenal, sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Iqthidhaa’us Sirathil Mustaqiim (II/187)) 


    ----------------------------------------
    Selesai ditulis di Surabaya pada 16 April 2011 
    oleh Supriyono
    Menukil dari :
    • Kitab Tauhid Qurratul 'Uyun Al-Muwahidin oleh Asy-syaikh Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahab 
    • Buku Larangan Shalat di Masjid yang dibangun di Atas Kubur oleh Asy-syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani

    Download dan dengar  kajian ahlussunnah:
    Tema: Ghulu Kepada Kuburan Orang-Orang Shalih
    Pembicara: Khoilid Abdus Shomad

    Selasa, 05 April 2011

    Akibat Meremehkan Dosa Syirik

    Pernah dengar kisah ini? Atau sudah tahu sebelumnya? Kisah yang menjelaskan masalah yang mungkin dianggap sepele bagi seseorang namun akibatnya adalah sangat fatal. Seekor lalat ternyata dapat menyebabkan seseorang masuk ke dalam Neraka. Semoga sebuah kisah yang dijelaskan dalam hadits yang shahih ini dapat diambil manfaatnya sehingga semakin menguatkan iman kita. Bacalah baik-baik kisah berikut ini.

    Thoriq bin Syihab radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    دخل الجنة رجل في ذباب, ودخل النار رجل في ذباب، قالوا : وكيف ذلك يا رسول الله ؟، قال : مر رجلان على قوم لهم صنم لا يجوزه أحد حتى يقرب له شيئا، فقالوا لأحدهما قرب، قال : ليس عندي شيء أقرب، قالوا له : قرب ولو ذبابا، فقرب ذبابا فخلوا سبيله فدخل النار، وقالوا للآخر : قرب، فقال : ما كنت لأقرب لأحد شيئا دون الله U، فضربوا عنقه فدخل الجنة . (رواه أحمد

    “Ada seseorang yang masuk surga karena seekor lalat, dan ada lagi yang masuk neraka karena seekor lalat pula, para sahabat bertanya : ‘Bagaimana itu bisa terjadi ya Rasulullah’, Rasul menjawab : “Ada dua orang berjalan melewati sekelompok orang yang memiliki berhala, yang mana tidak boleh seorangpun melewatinya kecuali dengan mempersembahkan sembelihan binatang untuknya lebih dahulu, maka mereka berkata kepada salah satu diantara kedua orang tadi : ‘Persembahkanlah sesuatu untuknya’, ia menjawab : ‘Saya tidak mempunyai apapun yang akan saya persembahkan untuknya’,  mereka berkata lagi : ‘Persembahkan untuknya walaupun dengan seekor lalat’, maka iapun persembahkan untuknya seekor lalat, maka mereka lepaskan ia untuk meneruskan perjalanannya, dan iapun masuk kedalam neraka karenanya, kemudian mereka berkata lagi pada seseorang yang lain : ‘Persembahkalah untuknya sesuatu’, ia menjawab : ‘Aku tidak akan mempersembahkan sesuatu apapun untuk selain Allah, maka merekapun memenggal lehernya, dan iapun masuk kedalam surga’”
    (HR. Ahmad di dalam az-Zuhd (15,16), Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (1/203) dari Thariq bin Syihab dari Salman al-Farisi radhiyallahu’anhu secara mauquf dengan sanad shahih, dinukil dari al-Jadiid, hal. 109)

    Hadits ini menunjukkan ancaman besar bagi orang yang menyembelih (berkurban) untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu dijauhkan dari rahmat-Nya. Perbuatan ini termasuk dosa yang sangat besar, bahkan termasuk perbuatan syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga pelakunya pantas mandapatkan siksa yang teramat pedih dari Allah Subhanahu wa Ta’ala (di neraka), dan dijauhkan dari rahmat-Nya (dijauhkan dari surga).[1]

    Penting sekali untuk diingatkan dalam pembahasan ini, bahwa faktor utama yang menjadikan besarnya keburukan perbuatan ini bukanlah semata-mata karena besar atau kecilnya kurban yang dipersembahkan kepada selain-Nya, melainkan karena besarnya pengagungan dan ketakutan dalam hati orang yang mempersembahkan kurban tersebut kepada selain-Nya. Yang mana semua ini merupakan masalah iman yang hanya pantas ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.

    Oleh karena itu, meskipun kurban yang dipersembahkan sangat kecil dan remeh, bahkan seekor lalat sekalipun, jika disertai dengan pengagungan dan ketakutan dalam hati kepada selain-Nya, maka ini juga termasuk perbuatan syirik besar.[2] Sebagaimana Allah berfirman,

    إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ

    Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan sembelihan yang dipersembahkan kepada selain Allah.” (Qs. al-Baqarah: 173)

    Saudaraku... saudariku... , ketahuilah bahwa dosa syirik besar adalah sejelek jeleknya dosa, dosa yang paling besar diantara dosa-dosa besar. Bahkan dosa syirik besar bila disengaja maka orang tersebut tidak akan diampuni dosanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana Allah berfirman,

    إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا {48

    Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.(QS. An Nisaa’:48)

    Marilah kita koreksi diri kita masing-masing. Masih adakah kesyirikan dalam perilaku kita. Semoga kita senantiasa dijauhkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kesyirikan yang kita ketahui maupun tidak kita ketahui. Diwafatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas kalimat syahadat La ilaha illallah.

    ----------------------- 
    fote note:
    [1]. Keterangan Syaikh Shalih Alu Syaikh dalam kitab at-Tamhiid Li Syarhi Kitaabit Tauhiid (hal. 146)
    [2]. Lihat kitab Fathul Majid (hal. 178 dan 179) 


    Selesai disalin ulang  di Surabaya, pada 5 April 2011
    Oleh Supriyono
    Menukil dari Kitab Tauhid Qurayul 'Uyun Al-Muwahidin oleh Asy-syaikh Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahab

    Download dan dengar  kajian ahlussunnah:
    Tema: Larangan dan Bahaya Syirik
    Pembicara: Abdullah Shaleh Hadrami
    Link: KLIK DISINI