Kamis, 24 Maret 2011

Wasiat Emas Rosulullah Shallallahu 'alaihi wa salam


عن أبي نجيح العرباض بن سارية رضي الله عنه قال : وعظنا رسول الله صلى الله عليه وسلم موعظة وجلت منها القلوب وذرفت منها العيون , فقلنا يل رسول الله كأنها موعظة مودعٍ فأوصنا , قال - أوصيكم بتقوى الله عزوجل , والسمع والطاعة وإن تأمر عليك عبد , فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافاً كثيراً . فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهدين عضوا عليها بالنواجذ , وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل بدعة ضلالة

Dari Abu Najih, Al 'Irbadh bin Sariyah radhiyallahu'anha berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberi nasihat kepada kami dengan satu nasihat yang menggetarkan hati dan membuat airmata bercucuran." Kami bertanya, "Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan nasihat dari orang yang akan berpisah selamanya (meninggal), maka berilah kami wasiat." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Saya memberi wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Allah 'Azza wa Jalla, tetap mendengar dan ta'at walaupun yang memerintahmu seorang hamba sahaya (budak). Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian masih hidup sepeninggalku niscaya kalian akan menyaksikan banyak perselisihan. Karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaa-ur Rasyidin yang lurus (mendapat petunjuk) dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah olehmu muhdats (perkara baru) karena sesungguhnya setiap bid'ah itu sesat." 
[Hadits riwayat Ahmad (IV/126-127), Abu Dawud nomor 4607 dan at-Tirmidzi nomor 2676, ad-Darimy (I/44), al-Baghawy (I/205), al-Hakim (I/95), dishahihkan Syaikh al-Albany dalam Irwaa-ul Ghaliil (no. 2455) 

Didalam hadist ini Rasulullah berwasiat kepada kita dengan empat masalah yang jika kita berpegang dengannya akan selamat didunia dan akhirat. Empat wasiat itu adalah:

1. Bertakwa kepada Allah 

Rosul bersabda pada hadits diatas,
"Saya memberi wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Allah 'Azza wa Jalla." 

Pada hadits ini, pertama disebutkan agar kita senantiasa bertaqwa kepada Allah Azza wa Jalla. Takwa kepada Allah adalah seorang hamba membuat penjagaan dari apa yang ia takutkan yakni murka dan adzab Allah, yaitu dengan cara melakukan ketaatan dan menjauhi maksiat. Dan takwa juga merupakan wasiat Allah kepada umat sebelumnya. Allah berfirman,
"Aku telah wasiatkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan kalian takwa kepada Allah." (QS. An-Nisa':131)

 Dan juga banyak nash yang menerangkan keutamaan takwa, diantaranya :
"Surga adalah warisan bagi orang yang bertakwa : "Itulah surga yang Kami wariskan kepada hamba-hamba yang bertakwa." (QS.Maryam:63)

Allah akan memudahkan urusan orang yang bertakwa di dunia dan di akhirat :
"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, Dia akan menjadikan urusannya mudah."(QS.At-Thalaq:4)

Takwa adalah bekal yang terbaik bagi seorang hamba di dunia dan di akhirat :
"Berbekallah kalian, sesungguhnya bekal yang terbaik adalah takwa."
(QS.Al-Baqaroh:197)

2. Wasiat untuk mentaati Wulatul Umur / Pemerintah

Rosul bersabda pada hadits diatas,
"Tetap mendengar dan ta'at walaupun yang memerintahmu seorang hamba sahaya (budak)"

Hadist ini menunjukkan bahwa mentaati wulatul umur adalah wajib, sebagaimana ditegaskan oleh Allah Ta'ala :
"Taatlah kalian kepada Allah dan kepada RasulNya serta ulil Amri (pemimpin) kalian." (QS.An-Nisa : 59) 

Mentaati wulatul umur hanya dalam perkara yang ma'ruf, Rasulullah bersabda," 
"Tidak ada ketaatan dalam berbuat maksiat kepada Allah, sesungguhnya taat itu hanya dalam perkara yang ma'ruf." (HR. Bukhari Muslim) 

Hadist ini menunjukkan diharamkannya tunduk/mengikuti kepada wulatul umur dalam maksiat kepada Allah, tapi taat kepada mereka hanya dalam hal yang ma'ruf, baik mereka itu pemerintah, ulama ataupun orang tua. 

3. Wasiat berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullah

Rosul bersabda pada hadits diatas, 
"Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian masih hidup sepeninggalku niscaya kalian akan menyaksikan banyak perselisihan. Karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaa-ur Rasyidin yang lurus (mendapat petunjuk) dan gigitlah dengan gigi geraham kalian."

Hadist ini menunjukkan akan terjadinya perselisihan yang menjadikan perpecahan. Hal ini diperkuat dengan sabda Rasulullah, 

"Ketahuilah ahlul kitab terpecah menjadi 72 firqah dan umat ini akan terpecah 73 golongan, seluruhnya masuk neraka kecuali satu Al Jama'ah." (shahihul Jami')

Dalam riwayat lain menegaskan siapa itu Al Jama'ah'
"Yaitu orang-orang yang menjalani jalanku dan jalan shahabatku." (HR. Abu Daud)

 Yang dapat menjaga kita dari perselisihan dan perpecahan itu adalah dengan berpegang Sunnah Rasulullah serta memahami dengan pemahaman para sahabat rosul. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala  berfirman di dalam Al-qur'an:
"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang muhajirin dan anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar." (QS.At-Taubah:100)"

Adapun bila ada seseorang menafsirkan al-qur'an dan assunnah tanpa pemahaman para sahabat, maka penafsiran yang demikian adalah penafsiran yang bathil. Karena penafsiran yang demikian akan ngawur bahkan naudzubillah min dzalik banyak orang-orang yang berhujjah dengan alquran dan assunnah tanpa pemahaman sahabat rosul untuk pembelaan mereka, untuk mengikuti hawa nafsu mereka sehingga muncul kesesatan penafsiran di tengah-tengah nasyarakat.

Telah benar Abdullah bin Umar yang berkata : "Barangsiapa yang mau mengambil tauladan hendaklah bertauladan kepada para sahabat Muhammad yang mana mereka adalah umat terbaik, yang paling baik hatinya dan lebih dalam ilmunya, orang-orang yang telah Allah pilih untuk mendampingi nabinya, mereka diatas petunjuk wallahi warabbil ka'bah."

 Oleh karena itu dalam hadist diatas kita diperintahkan untuk berpegang dengan sunnah Rasulullah dengan pemahaman para sahabat rosul.

4. Wasiat untuk menjauhi perbuatan bid'ah 

Rosul bersabda pada hadits diatas,
"Dan jauhilah olehmu muhdats (perkara baru) karena sesungguhnya setiap bid'ah itu sesat."

Hadits ini menjelaskan kewajiban agar kita menjauh dari perkara yang diada-adakan  dalam syariat (bid'ah). Perkara yang diada-adakan dalam syariat (bid'ah) adalah yang tidak ada asalnya dari Al-Qur'an dan Sunnah. Bid'ah merupakan salah satu sebab kesesatan yang mengantarkan pengikutnya kepada kebinasaan dan kehancuran. Rasulullah bersabda,
"Sesungguhnya sebab binasa orang-orang sebelum kamu adalah karena banyak tanya dan banyaknya seringnya mereka menyelisihi nabi-nabi mereka." (Bukhari Muslim)

Semoga kita senantiasa menjadi umat yang berpegang teguh pada al-quran dan assunnah, meninggal dunia diatas kalimat syahadat La ilaha illallah.

Selesai ditulis di Surabaya, pada 24 Maret 2011 
oleh Supriyono
Mengutip dari sarah hadits Arba'in An-nawawi

Download dan dengar kajian ahlussunnah:
Tema: Wasiat Emas Rosulullah
Pembicara: Ustad Abdurrahman Thayyib

Link: KLIK DISINI

5 komentar:

  1. kalo sekarang, mengikuti sunnah hingga harus menggigit dengan geraham kalian, itu artinya ngapain ya?

    BalasHapus
  2. Bismillah

    Dalam alquran dan assunnah bnyk djumpai kata perumpamaan yg bermaksud menegaskan dn melemahkan. Orang2 arab terdahulu jg sering menggunakannya. Menggigit dg geraham maksudnya berpegang teguh, menjadikan sbg dasar utama.

    BalasHapus
  3. secara jelas, maksudnya memegang teguh sunnah itu wujudnya apa? kalau tidak tahu wujudnya kita akan abstrak mengartikannya.. benar tidak? apakah ngaji terus itu bisa disebut sunnah? apakah menyampaikan qur'an dan hadits itu cukup disebut sunnah? apa memperjuangkan islam di kursi pemerintahan termasuk sunnah? ataukah sunnah sudah hilang wujudnya? tinggal dikenang-kenang saja?

    BalasHapus
  4. Sunnah dapat diartikan al-hadits, bisa diartikan perkataan dan akhlaq rosul, dalam fiqh bisa diartikan bila ditinggalkan tdk mendapat dosa bila dilakukan mendapat pahala, dalam manhaj bisa diartikan satu-satunya (alquran dan assunnah) jalan keselamatan.

    Ibnul Qayyim berkata, "Sunnah itu meliputi berbagai urusan umat."
    Mengutip perkataan ibnul qayyim diatas memegang teguh sunnah bisa berbagai aspek. Misalnya dalam ilmu: sudahkah amal2 qt berada diatas dalil yg shahih atau ibadah qt cuma berdasar atas KATANYA, dalam ibadah: sudahkah qt mencontoh ibadah rosul, dalam urusan negara menjadikan alquran dan hadits sbg dasar negara (dg cara yg ahsan), dsb yg tidak mungkin saya sebutkan 1 per 1 disini. Inti dari mengamalkan sunnah adalah merujuk kpd dalil dg penafsiran sahabat rosul kemudian mengamalkannya. Berhijrah yg tadinya pikirannya penuh dg pemikiran akal semata, agama dilogika tanpa dalil yg jelas, menjadi merujuk kpd dalil dg penafsiran sahabat rosul kemudian mengamalkannya, kemudian diistiqamahkan.

    Apakah ngaji terus disebut sunnah?
    Jawabnya IYA. sebagaimana rosul bersabda,
    Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (H.R Muslim)

    Tiada kita tahu sunnah tanpa berilmu terlebih dahulu. Berilmu dan diistiqamahkan. Ngaji tidak hanya baca alquran tp jg datang k majelis para ulama. Ilmu adalah imamnya iman. seorang tabi'in berkata, "Iman yg dibangun tanpa kejelasan dari ilmu(ilmu syar'i) pada diri se2orang, maka iman se2orang tersebut umpama rumah yg rusak dan siap dirobohkan." Maksud perkataan tabi'in tersebut adalah akan timbul keraguan yg hebat bila ditanya ttg islamnya jika orang tersebut tidak punya ilmu ttg islamnya. Lebih2 yg tanya adalah seorang misionaris dari agama lain yg pandai berkata-kata indah. Lebih mudah dimasuki paham2 sesat yg mana dibungkus dg kata2 yg indah.

    Apakah menyampaikan qur'an dan hadits itu cukup disebut sunnah?
    Jawabnya IYA. qur'an dan hadits itu berisi seluruh aspek urusan manusia. Sebagaimana Allah berfirman,
    "... Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agama-mu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu ...” [Al-Maa’idah: 3]

    Apa memperjuangkan islam di kursi pemerintahan termasuk sunnah?
    Jawabnya TIDAK. Rosul dulu pernah ditawari jabatan + kekuasaan di negeri kafir tp rosul menolak. Lalu bagaimana memperjuangkan islam?? Asy-syaikh albani (seorang ahli hadits) menjelaskan bahwa dakwah perjuangan rosul yg utama adalah dakwah at-tauhid, mengajarkan isi2 alquran dan assunnah. Adapun kaidah2 dan contoh2nya dakwahnya rosul lainnya dapat dilihat di kitab tafsiyah wal tarbiyah.

    Ataukah sunnah sudah hilang wujudnya? tinggal dikenang-kenang saja?
    Sunnah tidak pernah hilang di dunia ini sampai akhir jaman (kiamat kubro/besar). Bahkan menjelang kiamat dijelaskan akan muncul seorang pemimpin umat islam yg disebut dg imam mahdi pada periode daulah khilafah ke-2. yg mana suatu jaman dimana alquran dan assunnah diterapkan seakan-akan seperti jamannya para khulafaur rosyidin.

    Perlu saya sampaikan belajar islam itu harus dari dasarnya. Sebagaimana yg saya kutip dari kitab Awa'iq Ath-tholab oleh Asy-syaikh Abdussalam bin Barjas, Asy-syaikh Abdurrahman As Sa'di menjelaskan:
    "Tidaklah didapat ilmu bila seorang tidak belajar dimulai dari yg usul (pokok/dasar) terlebih dahulu."

    BalasHapus
  5. Ralat:
    "Iman yg dibangun tanpa kejelasan dari ilmu(ilmu syar'i) pada diri se2orang, maka iman se2orang tersebut umpama rumah yg rusak dan siap dirobohkan."
    Ini adalah perkataan ulama bukan seorang tabi'in. Jika perkataan itu berdasar sumber hukum islam maka kita boleh mengambilnya.

    BalasHapus

Jazakumullah khoir