Selasa, 15 Maret 2011

Saksikan Bahwa Rosulku adalah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Saudaraku, syahadat merupakan rukun Islam yang pertama, merupakan pintu gerbang untuk menuju Islam, serta merupakan perkara yang besar dalam agama ini. Mengakui tiada sesembahan yang haq selain  Allah ta'ala dan mengakui tiada utusan Allah yang haq selain Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana firman Allah,

شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Ilah melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu[1] (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Ilah melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Ali ‘imran 18) 

Inilah salah satu ayat yang menunjukkan bahwa diantara syarat syahadat adalah berilmu, maka dari itu mengilmui permasalahan syahadat adalah penting dan sangat utama. Begitu seringnya kita mengucapkan kalimat syahadat dan begitu ringannya lidah-lidah kita mengulang-ulang kalimat yang mulia itu. Tetapi apakah pernah terlintas pada hati dan pikiran kita tentang apa makna dan konsekuensi syahadat yang kita ucapkan selama ini. Sudahkah kita memahaminya, sehingga kita dapat mengamalkannya dengan baik???

Syahadat yang kedua, inilah yang menjadi pembahasan kami pada tulisan kali ini yaitu syahadat kita atas nabi kita Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketahuilah, makna dari syahadat yang kedua ini adalah pengakuan lahir batin dari seorang muslim bahwa Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan Allah , Abdullah wa Rasuluhu yang diutus untuk semua manusia sebagai penutup rasul-rasul sebelumnya. Dalam syahadat yang kedua ini kita telah melakukan dua persaksian besar yaitu:

1. Bahwa Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba Allah sebagaimana manusia yang lainnya.

2. Bahwa Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang rasul / utusan Allah yang diberikan wahyu padanya.
 Allah berfirman,
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ…..

"Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. (Al Kahfi 110) 

Apakah kita menyangka bahwa setelah kita membuat persaksian besar ini lantas tidak ada konsekuensi setelahnya?? tidaklah demikian, sesungguhnya ada kosekuensi yang harus kita yakini serta harus kita amalkan setelah kita bersaksi atas dua hal tersebut. Diantara konsekuensi tersebut adalah: 

1. Mendudukkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di tempat yang semestinya yaitu sebagai hamba Allah , tidak melebih-lebihkan beliau dari derajat yang seharusnya. Sebab beliau hanyalah seorang hamba yang tidak mungkin naik derajatnya menjadi Rabb.

Dari sini termasuk kesesatan jika ada yang beristi’anah (memohon pertolongan) beristighatsah (memohon supaya dilepaskan dari musibah dan bala yang menimpa), memohon kepada nabi untuk mendatangkan manfaat dan menolak mudharat, memuji nabi secara berlebihan seperti melantunkan shalawat yang mengandung pengagungan yuang berlebihan (shalawat Nariyah, Burdah, dll).

Allah berfirman kepada Rasulullah :

قُل لاَّ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاء اللّهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَاْ إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Katakanlah: Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. dan Sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (al a’raf 188)

قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا

Katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak Kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan”. (al Jin 21)

Dan Nabi bersabda,
“Janganlah kalian berlebih-lebihan memuji (menyanjung) diriku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan memuji Ibnu Maryam (Isa). Sesungguhnya aku adalah hamba –Allah– maka Katakanlah: ‘Hamba Allah dan RasulNya’.” (HR. Al-Bukhari)

Makna “Al-Itharuu-an”  ialah berlebih-lebihan dalam memuji (menyanjung). Kita tidak menyembah kepada Muhammad , sebagaimana orang-orang Nasrani menyembah Isa Ibnu Maryam, sehingga mereka terjerumus dalam kesyirikan. Dan Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk mengatakan: “Muhammad hamba Allah dan RasulNya.”

Rasulullah bersabda:
“Apabila engkau meminta, maka mintalah kepada Allah dan apabila engkau memohon pertolongan, maka mohonlah perto-longan dari Allah.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih)

2. Membenarkan semua berita yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Muhammad adalah Rasulullah yang diistimewakan dari manusia lainnya dengan wahyu, maka jika beliau memberitakan berita masa lalu maupun berita masa depan maka berita itu sumbernya adalah wahyu yang kebenarannya tidak boleh diragukan lagi. Sebagaimana firman Allah,


قُلْ إِنَّمَا أُنذِرُكُم بِالْوَحْيِ وَلَا يَسْمَعُ الصُّمُّ الدُّعَاء إِذَا مَا يُنذَرُونَ

Katakanlah (hai Muhammad): “Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu dan Tiadalah orang-orang yang tuli mendengar seruan, apabila mereka diberi peringatan” (Al Anbiya’ 45)

3. Menaati Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Seorang Muslim wajib taat kepada Rasulullah Sebagai perwujudan sikap pengakuan terhadap kerasulan Beliau. Allah berfirman,

مَّنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللّهَ وَمَن تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

"Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka" [2]. (An Nisa 80)

Syaikh Abdurrahman Nasir as Sa’dy berkata “ setiap orang yang menaati Rasulullah dalam perintah-perintah dan larangan-laranganya dia telah menaati Allah , sebab Rasulullah tidak memerintahkan dan melarang kecuali dengan perintah, syari’at dan wahyu yang Allah turunkan.” Hal ini sebagaimana firman Allah,

"….apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya." (Al Hasyr 7)

4. Berhukum pada sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Syahadat Muhammad Rasulullah yang benar akan membawa seorang muslim kepada kesiapan dan keikhlasan untuk menjadikan sunnah Rasulallah sebagai rujukan, dia pasti menolak jika diajak untuk merujuk kepada akal, pendapat si A atau si B, hawa nafsu, maupun warisan nenek moyang dalam menetapkan suatu hukum, lebih-lebih jika terjadi ikhtilaf (perbedaan), seorang muslim yang konsekuen dengan syahadatnya dengan lapang dada akan menjadikan sunnah Rasulullah sebagai imamnya. Allah berfirman,

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيمًا

"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (An Nisa’65)

 وَيَقُولُونَ آَمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرِيقٌ مِنْهُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَمَا أُولَئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ (47) وَإِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ (48) وَإِنْ يَكُنْ لَهُمُ الْحَقُّ يَأْتُوا إِلَيْهِ مُذْعِنِينَ (49) أَفِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَمِ ارْتَابُوا أَمْ يَخَافُونَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُولُهُ بَلْ أُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (50) إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ51

"Dan mereka berkata: “Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul, dan kami mentaati (keduanya)”. Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh. Apakah ketidak datangan mereka itu karena dalam hati mereka ada penyakit, atau karena mereka ragu-ragu ataukah karena takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim. Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka[3] ialah ucapan: “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. An-Nur: 47-51)   

5. Tidak beribadah kepada Allah melainkan dengan apa yang di syari’atkannya
Karena Allah mengutus Rasulullah untuk menjelaskan Agama ini secara terang tanpa ada yang disembunyikan serta dikarenakan agama ini telah sempurna sehingga tidak membutuhkan penambahan dan pengurangan. Allah berfirman,

وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَاحْذَرُواْ فَإِن تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُواْ أَنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلاَغُ الْمُبِينُ

"Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. jika kamu berpaling, Maka ketahuilah bahwa Sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang." (Al Maa-idah 92)

الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ، الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا

"… pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.…" (Al Maaidah 3)

Rosul bersabda pada hadits yang shahih,

عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ :
قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ.)رواه البخاري ومسلم(
وفي رواية لمسلم : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Ummul mukminin, ummu Abdillah, Aisyah رضي الله عنها berkata bahwa Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak”. (HR. Bukhari dan Muslim) 

Dalam riwayat Muslim : “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai urusan kami, maka dia tertolak” 

Demikianlah konsekuensi yang harus kita yakini dan kita amalkan agar syahadat kita menjadi bermanfaat di hadapan Allah .Semoga kita dimudahkan oleh Allah menempuh jalan kebenaran dan di jauhkan dari jalan kesesatan. Amin. Wallahua’lam.
 

Sumber - Ditulis oleh: Aris Abu Ja’far dengan sedikit pengeditan

-----------------
Fote note:
[1] Ayat ini untuk menjelaskan martabat orang-orang berilmu.
[2] Rasul tidak bertanggung jawab terhadap perbuatan-perbuatan mereka dan tidak menjamin agar mereka tidak berbuat kesalahan.
[3] Maksudnya: di antara kaum muslimin dengan kaum muslimin dan antara kaum muslimin dengan yang bukan muslimin.


Download dan dengar kajian ahlussunnah:
Tema: Iman Kepada para Rosul
Pembicara: Ustad Yazid Jawas

Link: KLIK DISINI 

10 komentar:

  1. solusi untuk melakukan 5 hal tadi apa ya? :)

    BalasHapus
  2. Saudaraku, mas vidya yg saya hormati.

    Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (H.R Muslim)

    Qt mengetahui bahwa tiada jalan menuju ke surga bila tidak mengakui Muhammad shalallahu 'alayhi wa sallam sbg rosul qt. Tiada pula qt mengenal nabi muhammad selain harus belajar ajaran2 beliau, tata cara hidup beliau, tariqat beliau. Dari hadits yg mulia ini dapat diambil pelajaran yg sangat berharga bahwa Salah 1 mewujudkan 5 hal yg sbagaimana tertulis di posting blog ini adalah memulainya dengan belajar. Datang ke majelis2 ilmu, membaca buku2 islam mulai dari yg dasar, atau bs jg mendengarkan ceramah2 sunnah. Kemudian diistiqamahkan.

    Memulai belajar sebelum beramal. Amal yg dibangun diatas ilmu, di atas alquran dan assunnah. Hal ini sebagaimana sabda rosul yg diriwayatkan imam Bukhari, "ilmu itu sebelum berucap dan beramal."

    Belajar tiada kenal usia. Banyak para imam yg terkemuka di masanya yg mana mereka dulunya adalah seorang perampok. Dy tobat, mengistiqamahkan tobatnya. Be2rapa tahun kemudian dy menjadi seorang imam. Salah satunya adalah Nashiruddin Ahmad bin ‘Abdis Salam.

    BalasHapus
  3. jika dilandasi qur'an dan sunnah, maka kita perlu tahu, sunnah nabi itu seperti apa.. nah sunnah itu apa dan bagaimana cara mengikuti jalan sunnah tadi? sendiriankah? jzk

    BalasHapus
  4. Al-Qadli Iyadl berkata bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda, "Sungguh kamu akan mengikuti sunnah-sunnah orang sebelum kamu." Tulisan (Sin, Nun, Nun) dalam kalimat hadits tersebut (Arab) jika dibaca sananun berarti "jalan" atau "metode." Adapun jika dibaca sununun merupakan bentuk jamak dari sunnah maka artinya "perjalanan hidup."

    Saudaraku, ukuran kebaikan adalah alquran dan assunnah. Bukan ukuran mayoritas atau popularitas. Mengikuti assunnah lebih baiknya dg berjamaah. Sebagaimana perkataan Umar bin Khatab, "Orang yang keluar dari jamaah bagaikan domba yang keluar dari kelompoknya sehingga domba tsb siap diterkam oleh serigala." Jamaah yg dimaksud disini adalah mereka yg senantiasa istiqamah di atas alquran dan assunnah, yg menasihati kepada ketaqwaan, bukan suatu jamaah yang sesat atau yg bergelimang dalam dunia dan melalaikan kehadiran islamnya dalam kehidupan sehari-hari.

    Lalu, bagaimana qt hidup di lingkungan yg tidak ada kajiannya sama sekali, tidak ada yg mengingatkan kpd ketaqwaan??? Rosul salallahu 'alaihi wa sallam mencontohkan agar bersegera berhijrah BILA MAMPU sebagaimana hijrah rosul dulu dari makkah ke madinah dg mempertimbangkan manfaat dan mudharatnya. Bila tidak mampu maka sikap qt bersabar. Media itu banyak, tidak hanya dg datang ke majelis ilmu meskipun itu lebih utama. Bisa dg mendengarkan ceramah2 di media2, membaca artikel2 sunnah, dsb.

    Mengikuti sunnah lebih mudah bila dimulai dr pondasinya. Belajar yg usul (dasar) (menurut para ulama dasar yg dimaksud adalah dlm masalah aqidah, fiqh, muamalat), dan tidak tergesa-gesa belajarnya,kemudian istiqamah. Berjamaah, mengamalkannya mulai dari yg dirasa ringan u/ dijalankan. Menjaga keistiqamahan bs jg dg membaca kisah2 rosul dan para sahabatnya. Mengenang perjuanagn mereka yg mana jelas jauh sekali dg kehidupan qt sekarang. Ini akan semakin menambah kecintaan qt kpd islam, kepada ajaran rosul salallahu 'alaihi wa sallam.

    Asy-syaikh Abdurrahman As Sa'di berkata, "Tidak akan didapat ilmu bila seseorang tidak belajar dari yang dasar terlebih dahulu."(Perkataan Asy-syaikh Abdurrahman As Sa'di yang dikutip dari kitab Awa'iq Ath-tholab, oleh Asy-syaikh Abdussalam bin Barjas)

    BalasHapus
  5. Tambahan:
    Ini adalah syarat mutlak mengikuti sunnah. Yaitu tidak mengada-adakan perkara baru dalam SYARIAT. Mengada-adakan perkara baru dalam syariat disebut pula dg BID'AH.

    Dari ‘Irbadh bin Sariyah rodhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat kepada kami dengan nasehat yang mendalam, yang karenanya berlinanganlah air mata (karena terharu) dan membuat hati kami bergetar. Seseorang dari kami berkata: Ya Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat perpisahan, maka berilah kami wasiat. Maka beliau bersabda (yang artinya): "Aku wasiatkan kepada kalian untuk tetap bertaqwa kepada Allah, dan senantiasa mendengar dan taat walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak Habasyi (Etiopia). Barangsiapa hidup (berumur panjang) di antara kalian niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa`ur Rasyidin yang mendapat petunjuk (yang datang sesudahku), gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah perkara-perkara baru yang diada-adakan (dalam urusan agama/syariat). Karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat." (HR. Ahmad 4/126, Abu Dawud no.4607, At-Tirmidziy no.2676 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy dalam Shahiihul Jaami’ no.2546)

    BalasHapus
  6. nah, sudah sampean tuliskan hadits terakhir,, pelaksanaan sunnah yang seperti yang dituliskan (jamaah) tadi konkritnya sekarang seperti apa ya?

    BalasHapus
  7. Menghadiri kajian-kajian. Meninggalkan perkara yg sia-sia. Memprioritaskan sebagian waktu untuk mengkaji alquran dan assunnah mulai dari dasar. Sebenarnya konkritnya banyak sekali tapi tidak mungkin saya sebutkan satu persatu disini.

    BalasHapus
  8. assalamu'alaykum.
    jama'ah adalah orang-orang yang sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabat walaupun dia bersendirian.

    sulaiman

    BalasHapus
  9. sebagian orang sering mencela salafy, dengan mereka mengatakan begini begitu secara tidak langsung mereka mencela orang-orang yang mengikuti salaf, padahal sebaik-baik salaf adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian para sahabat dan seterutsnya.yang benar apabila orang yang mengaku seorang salafy melakukan kesalahan yang di nasehati orang tersebut bukan manhajnya yang yang dicela.manhaj salaf manhajnya para sahabat, manhajnya orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah. kemudian orang tersebut dinasehati dengan Al Qur'an dan Sunnah yang shahih dengan pemahaman yang benar atau dari perkataan2 ulama yang selalu mendasarkan ucapannya kepada Al Qur'an dan As Sunnah. bukan berkata, kan kiyai saya begini, kan ustadz saya begini,kan kebanyakan orang begini.
    semoga bermanfaat, dan dapat sebagai renungan agar kita dapat mengkoreksi perkataan kita sebelum kita mempertanggung jawabkan semua apa yang telah kita ucapkan.

    sulaiman

    BalasHapus
  10. Wa'alaykumsalam.
    Benar sekali. jama'ah adalah orang-orang yang sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabat walaupun dia bersendirian.

    Kebanyakan mereka yg mencela adalah org yg masih awam. Mendahulukan semangat drpd ilmu. padahal ilmu itu sebelum berucap dan beramal, sebagaimana sabda rosul yg diriwayatkan imam Bukhari, "ilmu itu sebelum berucap dan beramal."

    BalasHapus

Jazakumullah khoir