Minggu, 20 Maret 2011

Menjalin Ukhuwah Tanpa Mengorbankan Aqidah

Jalinan Ukhuwah (persaudaraan ) antara sesama muslim sangat berperan dalam membangun persatuan islam.  Sejak dini, Rosululloh telah memberikan perhatian terhadap masalah ini setibanya di kota Madinah. Dalam rangka meretas jalan ke arah sana Rosululloh memaparkan sekian banyak hak yang harus ditunaikan seorang muslim kepada saudaranya seiman. Dari sinilah harapan kokohnya pertautan dan eratnya hubungan antara mereka akan terwujud.

Akan sangat indah bila di tengah kaum muslimin terbentuk semangat itsar (lebih mengutamakan kepentingan orang lain) tanpa pamrih duniawi apapun saat meringankan beban orang yang kesulitan. Akan sangat indah jika setiap insan muslim sangat akrab dengan sesama muslim, kendatipun mereka tidak terkait sama sekali dengan hubungan darah, pekerjaan maupun perniagaan. Akan sangat indah sebuah masyarakat muslim bila kesombongan, hasad, kebencian telah memudar dari hati mereka dan tergantikan oleh saling mencintai dan menyayangi sesama mereka serta menyukai apa yang disukai oleh orang lain.

Menjalin tali persaudaraan dengan sesama muslim kerap didengungkan oleh banyak pihak, baik dari kalangan kepartaian,  pergerakan atau organisasi sosial lain serta pihak-pihak yang sangat berkepentingan dengan merapatnya kaum muslimin sebanyak-banyaknya di pihak mereka. Isu ukhuwah Islamiyah pun digulirkan untuk berbagai kepentingan duniawi. Ujung-ujungnya dalam konteks kepartaian misalnya, agar jumlah simpatisan bertambah banyak dan sebagai dampak ‘positifnya‘ perolehan suarapun kian menggelembung. Otomatis kursi di dewan bertambah pula.

Manakala sasarannya duniawi, maka aturan-aturan syar’ipun kurang diperhatikan. Siapapun boleh bergabung dan berlabuh, demi peningkatan jumlah suara. Termasuk bagi orang yang beraqidah menyimpang dengan mengatakan alloh dimana-mana, atau orang yang suka meminta-minta kepada orang yang telah mati, orang fasik, selebritis, pelaku bid’ah, s emuanya dibukakan pintu lebar-lebar. Termasuk juga bagi orang kafir sekalipun yang ingkar kepada Alloh dan Syariat-Nya. Wallohul Musta’an. Itulah gambaran pembentukan ukhuwah Islamiyah yang carut marut atas dasar semau ane.

Bergaul dengan siapa saja boleh, akan tetapi bagi yang masih lemah iman dan dangkal keyakinan tidak boleh berdekat-dekatan dengan orang-orang yang justru akan membahayakan keyakinannya. Menjalin ukhuwah dengan siapa saja silahkan, namun tidak dengan menggadaikan aturan islam. Apalagi bila motivasinya sekedar mencari kawan semata, bukan dalam rangka mendakwahinya atau menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

Rosululloh menceritakan betapa ukhuwah yang berlandaskan cinta dan benci karena Alloh, tanpa pamrih duniawi apapun akan menghasilkan kecintaan Alloh bagi seorang muslim.

Dari Abu Hurairoh radiallahu'anhu, Rosululloh bersabda :

Ada seorang lelaki mengunjungi kawannya di kampung lain.
Kemudian Allâh Ta'âla mengutus malaikat untuk mengintai perjalanannya.
Malaikat itu mendatanginya lalu berkata: “Kemana engkau akan pergi”?
Ia menjawab: “Saya ingin mengunjungi saudaraku di kampung ini.”
Sang malaikat bertanya:
“Apakah ada tanggungan yang mesti engkau bayarkan kepadanya?”
Ia menjawab:
“Tidak. Saya mengunjungi tiada lain karena aku mencintainya karena Allah Ta'âla”.
Sang malaikat kemudian mengatakan:
“Sesungguhnya aku ini utusan Allâh Ta'âla,
ingin mengabarkan bahwa Allâh Ta'âla telah mencintaimu
sebagaimana engkau mencintai orang itu karena-Nya.”
(HR. Muslim no. 4656)
 
Semoga Allâh Ta'âla memudahkan jalan bagi kaum Muslimin menuju persatuan dan persaudaraan di dalam cinta-Nya.


(Disalin dari majalah Assunnah Edisi 01/Tahun XIII dengan sedikit pengeditan)


Download dan dengar kajian ahlussunnah:
Tema: Ukhuwah Imaniyah

Pembicara: Syaikh Prof DR Abdur Rozzaq Al Badr
Link: KLIK DISINI 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jazakumullah khoir