Selasa, 29 Maret 2011

Lalai Mempelajari Agama Allah

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Tuntunan zaman dan semakin canggihnya teknologi menuntut generasi muda untuk bisa melek akan hal itu. Sehingga orang tua pun berlomba-lomba bagaimana bisa menjadikan anaknya pintar komputer dan lancar bercuap-cuap ngomong English. Namun sayangnya karena porsi yang berlebih terhadap ilmu dunia sampai-sampai karena mesti anak belajar di tempat les sore hari, kegiatan belajar Al Qur’an pun dilalaikan. Lihatlah tidak sedikit dari generasi muda saat ini yang tidak bisa baca Qur’an, bahkan ada yang sampai buku Iqro’ pun tidak tahu.

MERENUNGKAN AYAT
Ayat ini yang patut jadi renungan yaitu firman Allah Ta’ala,

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar Ruum: 7)

Ath Thobari rahimahullah menyebutkan sebuah riwayat dari Ibnu ‘Abbas yang menerangkan mengenai maksud ayat di atas. Yang dimaksud dalam ayat itu adalah orang-orang kafir. Mereka benar-benar mengetahui berbagai seluk beluk dunia. Namun terhadap urusan agama, mereka benar-benar jahil (bodoh). (Tafsir Ath Thobari, 18/462)

Fakhruddin Ar Rozi rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas, “Ilmu mereka hanyalah terbatas pada dunia saja. Namun mereka tidak mengetahui dunia dengan sebenarnya. Mereka hanya mengetahui dunia secara lahiriyah saja yaitu mengetahui kesenangan dan permainannya yang ada. Mereka tidak mengetahui dunia secara batin, yaitu mereka tidak tahu bahaya dunia dan tidak tahu kalau dunia itu terlaknat. Mereka memang hanya mengetahui dunia secara lahir, namun tidak mengetahui kalau dunia itu akan fana.” (Mafatihul Ghoib, 12/206)

Penulis Al Jalalain rahimahumallah menafsirkan, “Mereka mengetahui yang zhohir (yang nampak saja dari kehidupan dunia), yaitu mereka mengetahui bagaimana mencari penghidupan mereka melalui perdagangan, pertanian, pembangunan, bercocok tanam, dan selain itu. Sedangkan mereka terhadap akhirat benar-benar lalai.” (Tafsir Al Jalalain, hal. 416)

Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi hafizhohullah menjelaskan ayat di atas, “Mereka mengetahui kehidupan dunia secara lahiriah saja seperti mengetahui bagaimana cara mengais rizki dari pertanian, perindustrian dan perdagangan. Di saat itu, mereka benar-benar lalai dari akhirat. Mereka sungguh lalai terhadap hal yang wajib mereka tunaikan dan harus mereka hindari, di mana penunaian ini akan mengantarkan mereka selamat dari siksa neraka dan akan menetapi surga Ar Rahman.” (Aysarut Tafasir, 4/124-125)

Lalu Syaikh Abu Bakr Al Jazairi mengambil faedah dari ayat tersebut, “Kebanyakan manusia tidak mengetahui hal-hal yang akan membahagiakan mereka di akhirat. Mereka pun tidak mengetahui aqidah yang benar, syari’at yang membawa rahmat. Padahal Islam seseorang tidak akan sempurna dan tidak akan mencapai bahagia kecuali dengan mengetahui hal-hal tersebut. Kebanyakan manusia mengetahui dunia secara lahiriyah seperti mencari penghidupan dari bercocok tanam, industri dan perdagangan. Namun bagaimanakah pengetahuan mereka terhadap dunia yang batin atau tidak tampak, mereka tidak mengetahui. Sebagaimana pula mereka benar-benar lalai dari kehidupan akhirat. Mereka tidak membahas apa saja yang dapat membahagiakan dan mencelakakan mereka kelak di akhirat. Kita berlindung pada Allah dari kelalaian semacam ini yang membuat kita lupa akan negeri yang kekal abadi di mana di sana ditentukan siapakah yang bahagia dan akan sengsara.” (Aysarut Tafasir, 4/125)

Itulah gambaran dalam ayat yang awalnya menerangkan mengenai kondisi orang kafir. Namun keadaan semacam ini pun menjangkiti kaum muslimin. Mereka lebih memberi porsi besar pada ilmu dunia, sedangkan kewajiban menuntut ilmu agama menjadi yang terbelakang. Lihatlah kenyataan di sekitar kita, orang tua lebih senang anaknya pintar komputer daripada pandai membaca Iqro’ dan Al Qur’an. Sebagian anak ada yang tidak tahu wudhu dan shalat karena terlalu diberi porsi lebih pada ilmu dunia sehingga lalai akan agamanya. Sungguh keadaan yang menyedihkan.

BAHAYA JAHIL TERHADAP ILMU AGAMA
Kalau seorang dokter salah memberi obat karena kebodohannya, maka tentu saja akan membawa bahaya bagi pasiennya. Begitu pula jika seseorang jahil atau tidak paham akan ilmu agama, tentu itu akan berdampak pada dirinya sendiri dan orang lain yang mencontoh dirinya.

Allah telah memerintahkan kepada kita untuk mengawali amalan dengan mengetahui ilmunya terlebih dahulu. Ingin melaksanakan shalat, harus dengan ilmu. Ingin puasa, harus dengan ilmu. Ingin terjun dalam dunia bisnis, harus tahu betul seluk beluk hukum dagang. Begitu pula jika ingin beraqidah yang benar harus dengan ilmu. Allah Ta’ala berfirman, 


فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

"Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu" (QS. Muhammad: 19)

Dalam ayat ini, Allah memulai dengan ‘ilmuilah’ lalu mengatakan ‘mohonlah ampun’. Ilmuilah yang dimaksudkan adalah perintah untuk berilmu terlebih dahulu, sedangkan ‘mohonlah ampun’ adalah amalan. Ini pertanda bahwa ilmu hendaklah lebih dahulu sebelum amal perbuatan.

Sufyan bin ‘Uyainah berdalil dengan ayat ini untuk menunjukkan keutamaan ilmu. Hal ini sebagaimana dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah ketika menjelaskan biografi Sufyan dari jalur Ar Robi’ bin Nafi’ darinya, bahwa Sufyan membaca ayat ini, lalu mengatakan, “Tidakkah engkau mendengar bahwa Allah memulai ayat ini dengan mengatakan ‘ilmuilah’, kemudian Allah memerintahkan untuk beramal?” (Fathul Bari, Ibnu Hajar, 1/108)

Al Muhallab rahimahullah mengatakan, “Amalan yang bermanfaat adalah amalan yang terlebih dahulu didahului dengan ilmu. Amalan yang di dalamnya tidak terdapat niat, ingin mengharap-harap ganjaran, dan merasa telah berbuat ikhlas, maka ini bukanlah amalan (karena tidak didahului dengan ilmu, pen). Sesungguhnya yang dilakukan hanyalah seperti amalannya orang gila yang pena diangkat dari dirinya.“ (Syarh Al Bukhari libni Baththol, 1/144)

Gara-gara tidak memiliki ilmu, jadinya seseorang akan membuat-buat ibadah tanpa tuntunan atau amalannya jadi tidak sah. Jika seseorang tidak paham shalat, lalu ia mengarang-ngarang tata cara ibadahnya, tentu ibadahnya jadi sia-sia. Begitu pula mengarang-ngarang bahwa di malam Jumat Kliwon dianjurkan baca surat Yasin, padahal nyatanya tidak ada dasar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka amalan tersebut juga sia-sia belaka. Begitu pula jika seseorang berdagang tanpa mau mempelajari fiqih berdagang terlebih dahulu. Ia pun mengutangkan kepada pembeli lalu utangan tersebut diminta diganti lebih (alias ada bunga). Karena kejahilan dirinya dan malas belajar agama, ia tidak tahu kalau telah terjerumus dalam transaksi riba. Maka berilmulah terlebih dahulu sebelum beramal. Mu’adz bin Jabal berkata,


العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ

"Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu." (Al Amru bil Ma'ruf wan Nahyu 'anil Mungkar, hal. 15)

Beramal tanpa ilmu membawa akibat amalan tersebut jauh dari tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, akhirnya amalan itu jadi sia-sia dan tertolak. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

Kerusakanlah yang ujung-ujungnya terjadi bukan maslahat yang akan dihasilkan. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,


مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ

"Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan." (Al Amru bil Ma'ruf, hal. 15)

BERI PORSI YANG ADIL
Bukan berarti kita tidak boleh mempelajari ilmu dunia. Dalam satu kondisi mempelajari ilmu dunia bisa menjadi wajib jika memang belum mencukupi orang yang capable dalam ilmu tersebut. Misalnya di suatu desa belum ada dokter padahal sangat urgent sehingga masyarakat bisa mudah berobat. Maka masih ada kewajiban bagi sebagian orang di desa tersebut untuk mempelajari ilmu kedokteran sehingga terpenuhilah kebutuhan masyarakat.

Namun yang perlu diperhatikan di sini bahwa sebagian orang tua hanya memperhatikan sisi dunia saja apalagi jika melihat anaknya memiliki kecerdasan dan kejeniusan. Orang tua lebih senang menyekolahkan anaknya sampai jenjang S2 dan S3, menjadi pakar polimer, dokter, dan bidan, namun sisi agama anaknya tidak ortu perhatikan. Mereka lebih pakar menghitung, namun bagaimanakah mengerti masalah ibadah yang akan mereka jalani sehari-hari, mereka tidak paham. Untuk mengerti bahwa menggantungkan jimat dalam rangka melariskan dagangan atau menghindarkan rumah dari bahaya, mereka tidak tahu kalau itu syirik. Inilah yang sangat disayangkan. Ada porsi wajib yang harus seorang anak tahu karena jika ia tidak mengetahuinya, ia bisa meninggalkan kewajiban atau melakukan yang haram. Inilah yang dinamakan dengan ilmu wajib yang harus dipelajari setiap muslim. Walaupun anak itu menjadi seorang dokter atau seorang insinyur, ia harus paham bagaimanakah mentauhidkan Allah, bagaimana tata cara wudhu, tata cara shalat yang mesti ia jalani dalam kehidupan sehari-hari. Tidak mesti setiap anak kelak menjadi ustadz. Jika memang anak itu cerdas dan tertarik mempelajari seluk beluk fiqih Islam, sangat baik baik sekali jika ortu mengerahkan si anak ke sana. Karena mempelajari Islam juga butuh orang-orang yang ber-IQ tinggi dan cerdas sebagaimana keadaan ulama dahulu seperti Imam Asy Syafi’i sehingga tidak salah dalam mengeluarkan fatwa untuk umat. Namun jika memang si anak cenderung pada ilmu dunia, jangan sampai ia tidak diajarkan ilmu agama yang wajib ia pelajari.

Dengan paham agama inilah seseorang akan dianugerahi Allah kebaikan, terserah dia adalah dokter, engineer, pakar IT dan lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Ingatlah pula bahwa yang diwarisi oleh para Nabi bukanlah harta, namun ilmu diin. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka dia telah memperoleh keberuntungan yang banyak.” (HR Abu Dawud no. 3641 dan Tirmidzi no. 2682, Shahih)

Semoga tulisan ini semakin mendorong diri kita untuk tidak melalaikan ilmu agama. Begitu pula pada anak-anak kita, jangan lupa didikan ilmu agama yang wajib mereka pahami untuk bekal amalan keseharian mereka. Wallahu waiyyut taufiq.
 

------------------------
Selesai ditulis oleh Muhammad Abduh Tuasikal di Riyadh-KSA,  pada 14 Rabi’uts Tsani 1432 H (19/03/2011)
 
Download dan dengar  kajian ahlussunnah:
Tema: Indahnya Taman Ilmu
Pembicara: Ustad Abdullah Taslim

Kamis, 24 Maret 2011

Wasiat Emas Rosulullah Shallallahu 'alaihi wa salam


عن أبي نجيح العرباض بن سارية رضي الله عنه قال : وعظنا رسول الله صلى الله عليه وسلم موعظة وجلت منها القلوب وذرفت منها العيون , فقلنا يل رسول الله كأنها موعظة مودعٍ فأوصنا , قال - أوصيكم بتقوى الله عزوجل , والسمع والطاعة وإن تأمر عليك عبد , فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافاً كثيراً . فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهدين عضوا عليها بالنواجذ , وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل بدعة ضلالة

Dari Abu Najih, Al 'Irbadh bin Sariyah radhiyallahu'anha berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberi nasihat kepada kami dengan satu nasihat yang menggetarkan hati dan membuat airmata bercucuran." Kami bertanya, "Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan nasihat dari orang yang akan berpisah selamanya (meninggal), maka berilah kami wasiat." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Saya memberi wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Allah 'Azza wa Jalla, tetap mendengar dan ta'at walaupun yang memerintahmu seorang hamba sahaya (budak). Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian masih hidup sepeninggalku niscaya kalian akan menyaksikan banyak perselisihan. Karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaa-ur Rasyidin yang lurus (mendapat petunjuk) dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah olehmu muhdats (perkara baru) karena sesungguhnya setiap bid'ah itu sesat." 
[Hadits riwayat Ahmad (IV/126-127), Abu Dawud nomor 4607 dan at-Tirmidzi nomor 2676, ad-Darimy (I/44), al-Baghawy (I/205), al-Hakim (I/95), dishahihkan Syaikh al-Albany dalam Irwaa-ul Ghaliil (no. 2455) 

Didalam hadist ini Rasulullah berwasiat kepada kita dengan empat masalah yang jika kita berpegang dengannya akan selamat didunia dan akhirat. Empat wasiat itu adalah:

1. Bertakwa kepada Allah 

Rosul bersabda pada hadits diatas,
"Saya memberi wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Allah 'Azza wa Jalla." 

Pada hadits ini, pertama disebutkan agar kita senantiasa bertaqwa kepada Allah Azza wa Jalla. Takwa kepada Allah adalah seorang hamba membuat penjagaan dari apa yang ia takutkan yakni murka dan adzab Allah, yaitu dengan cara melakukan ketaatan dan menjauhi maksiat. Dan takwa juga merupakan wasiat Allah kepada umat sebelumnya. Allah berfirman,
"Aku telah wasiatkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan kalian takwa kepada Allah." (QS. An-Nisa':131)

 Dan juga banyak nash yang menerangkan keutamaan takwa, diantaranya :
"Surga adalah warisan bagi orang yang bertakwa : "Itulah surga yang Kami wariskan kepada hamba-hamba yang bertakwa." (QS.Maryam:63)

Allah akan memudahkan urusan orang yang bertakwa di dunia dan di akhirat :
"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, Dia akan menjadikan urusannya mudah."(QS.At-Thalaq:4)

Takwa adalah bekal yang terbaik bagi seorang hamba di dunia dan di akhirat :
"Berbekallah kalian, sesungguhnya bekal yang terbaik adalah takwa."
(QS.Al-Baqaroh:197)

2. Wasiat untuk mentaati Wulatul Umur / Pemerintah

Rosul bersabda pada hadits diatas,
"Tetap mendengar dan ta'at walaupun yang memerintahmu seorang hamba sahaya (budak)"

Hadist ini menunjukkan bahwa mentaati wulatul umur adalah wajib, sebagaimana ditegaskan oleh Allah Ta'ala :
"Taatlah kalian kepada Allah dan kepada RasulNya serta ulil Amri (pemimpin) kalian." (QS.An-Nisa : 59) 

Mentaati wulatul umur hanya dalam perkara yang ma'ruf, Rasulullah bersabda," 
"Tidak ada ketaatan dalam berbuat maksiat kepada Allah, sesungguhnya taat itu hanya dalam perkara yang ma'ruf." (HR. Bukhari Muslim) 

Hadist ini menunjukkan diharamkannya tunduk/mengikuti kepada wulatul umur dalam maksiat kepada Allah, tapi taat kepada mereka hanya dalam hal yang ma'ruf, baik mereka itu pemerintah, ulama ataupun orang tua. 

3. Wasiat berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullah

Rosul bersabda pada hadits diatas, 
"Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian masih hidup sepeninggalku niscaya kalian akan menyaksikan banyak perselisihan. Karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaa-ur Rasyidin yang lurus (mendapat petunjuk) dan gigitlah dengan gigi geraham kalian."

Hadist ini menunjukkan akan terjadinya perselisihan yang menjadikan perpecahan. Hal ini diperkuat dengan sabda Rasulullah, 

"Ketahuilah ahlul kitab terpecah menjadi 72 firqah dan umat ini akan terpecah 73 golongan, seluruhnya masuk neraka kecuali satu Al Jama'ah." (shahihul Jami')

Dalam riwayat lain menegaskan siapa itu Al Jama'ah'
"Yaitu orang-orang yang menjalani jalanku dan jalan shahabatku." (HR. Abu Daud)

 Yang dapat menjaga kita dari perselisihan dan perpecahan itu adalah dengan berpegang Sunnah Rasulullah serta memahami dengan pemahaman para sahabat rosul. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala  berfirman di dalam Al-qur'an:
"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang muhajirin dan anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar." (QS.At-Taubah:100)"

Adapun bila ada seseorang menafsirkan al-qur'an dan assunnah tanpa pemahaman para sahabat, maka penafsiran yang demikian adalah penafsiran yang bathil. Karena penafsiran yang demikian akan ngawur bahkan naudzubillah min dzalik banyak orang-orang yang berhujjah dengan alquran dan assunnah tanpa pemahaman sahabat rosul untuk pembelaan mereka, untuk mengikuti hawa nafsu mereka sehingga muncul kesesatan penafsiran di tengah-tengah nasyarakat.

Telah benar Abdullah bin Umar yang berkata : "Barangsiapa yang mau mengambil tauladan hendaklah bertauladan kepada para sahabat Muhammad yang mana mereka adalah umat terbaik, yang paling baik hatinya dan lebih dalam ilmunya, orang-orang yang telah Allah pilih untuk mendampingi nabinya, mereka diatas petunjuk wallahi warabbil ka'bah."

 Oleh karena itu dalam hadist diatas kita diperintahkan untuk berpegang dengan sunnah Rasulullah dengan pemahaman para sahabat rosul.

4. Wasiat untuk menjauhi perbuatan bid'ah 

Rosul bersabda pada hadits diatas,
"Dan jauhilah olehmu muhdats (perkara baru) karena sesungguhnya setiap bid'ah itu sesat."

Hadits ini menjelaskan kewajiban agar kita menjauh dari perkara yang diada-adakan  dalam syariat (bid'ah). Perkara yang diada-adakan dalam syariat (bid'ah) adalah yang tidak ada asalnya dari Al-Qur'an dan Sunnah. Bid'ah merupakan salah satu sebab kesesatan yang mengantarkan pengikutnya kepada kebinasaan dan kehancuran. Rasulullah bersabda,
"Sesungguhnya sebab binasa orang-orang sebelum kamu adalah karena banyak tanya dan banyaknya seringnya mereka menyelisihi nabi-nabi mereka." (Bukhari Muslim)

Semoga kita senantiasa menjadi umat yang berpegang teguh pada al-quran dan assunnah, meninggal dunia diatas kalimat syahadat La ilaha illallah.

Selesai ditulis di Surabaya, pada 24 Maret 2011 
oleh Supriyono
Mengutip dari sarah hadits Arba'in An-nawawi

Download dan dengar kajian ahlussunnah:
Tema: Wasiat Emas Rosulullah
Pembicara: Ustad Abdurrahman Thayyib

Link: KLIK DISINI

Minggu, 20 Maret 2011

Menjalin Ukhuwah Tanpa Mengorbankan Aqidah

Jalinan Ukhuwah (persaudaraan ) antara sesama muslim sangat berperan dalam membangun persatuan islam.  Sejak dini, Rosululloh telah memberikan perhatian terhadap masalah ini setibanya di kota Madinah. Dalam rangka meretas jalan ke arah sana Rosululloh memaparkan sekian banyak hak yang harus ditunaikan seorang muslim kepada saudaranya seiman. Dari sinilah harapan kokohnya pertautan dan eratnya hubungan antara mereka akan terwujud.

Akan sangat indah bila di tengah kaum muslimin terbentuk semangat itsar (lebih mengutamakan kepentingan orang lain) tanpa pamrih duniawi apapun saat meringankan beban orang yang kesulitan. Akan sangat indah jika setiap insan muslim sangat akrab dengan sesama muslim, kendatipun mereka tidak terkait sama sekali dengan hubungan darah, pekerjaan maupun perniagaan. Akan sangat indah sebuah masyarakat muslim bila kesombongan, hasad, kebencian telah memudar dari hati mereka dan tergantikan oleh saling mencintai dan menyayangi sesama mereka serta menyukai apa yang disukai oleh orang lain.

Menjalin tali persaudaraan dengan sesama muslim kerap didengungkan oleh banyak pihak, baik dari kalangan kepartaian,  pergerakan atau organisasi sosial lain serta pihak-pihak yang sangat berkepentingan dengan merapatnya kaum muslimin sebanyak-banyaknya di pihak mereka. Isu ukhuwah Islamiyah pun digulirkan untuk berbagai kepentingan duniawi. Ujung-ujungnya dalam konteks kepartaian misalnya, agar jumlah simpatisan bertambah banyak dan sebagai dampak ‘positifnya‘ perolehan suarapun kian menggelembung. Otomatis kursi di dewan bertambah pula.

Manakala sasarannya duniawi, maka aturan-aturan syar’ipun kurang diperhatikan. Siapapun boleh bergabung dan berlabuh, demi peningkatan jumlah suara. Termasuk bagi orang yang beraqidah menyimpang dengan mengatakan alloh dimana-mana, atau orang yang suka meminta-minta kepada orang yang telah mati, orang fasik, selebritis, pelaku bid’ah, s emuanya dibukakan pintu lebar-lebar. Termasuk juga bagi orang kafir sekalipun yang ingkar kepada Alloh dan Syariat-Nya. Wallohul Musta’an. Itulah gambaran pembentukan ukhuwah Islamiyah yang carut marut atas dasar semau ane.

Bergaul dengan siapa saja boleh, akan tetapi bagi yang masih lemah iman dan dangkal keyakinan tidak boleh berdekat-dekatan dengan orang-orang yang justru akan membahayakan keyakinannya. Menjalin ukhuwah dengan siapa saja silahkan, namun tidak dengan menggadaikan aturan islam. Apalagi bila motivasinya sekedar mencari kawan semata, bukan dalam rangka mendakwahinya atau menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

Rosululloh menceritakan betapa ukhuwah yang berlandaskan cinta dan benci karena Alloh, tanpa pamrih duniawi apapun akan menghasilkan kecintaan Alloh bagi seorang muslim.

Dari Abu Hurairoh radiallahu'anhu, Rosululloh bersabda :

Ada seorang lelaki mengunjungi kawannya di kampung lain.
Kemudian Allâh Ta'âla mengutus malaikat untuk mengintai perjalanannya.
Malaikat itu mendatanginya lalu berkata: “Kemana engkau akan pergi”?
Ia menjawab: “Saya ingin mengunjungi saudaraku di kampung ini.”
Sang malaikat bertanya:
“Apakah ada tanggungan yang mesti engkau bayarkan kepadanya?”
Ia menjawab:
“Tidak. Saya mengunjungi tiada lain karena aku mencintainya karena Allah Ta'âla”.
Sang malaikat kemudian mengatakan:
“Sesungguhnya aku ini utusan Allâh Ta'âla,
ingin mengabarkan bahwa Allâh Ta'âla telah mencintaimu
sebagaimana engkau mencintai orang itu karena-Nya.”
(HR. Muslim no. 4656)
 
Semoga Allâh Ta'âla memudahkan jalan bagi kaum Muslimin menuju persatuan dan persaudaraan di dalam cinta-Nya.


(Disalin dari majalah Assunnah Edisi 01/Tahun XIII dengan sedikit pengeditan)


Download dan dengar kajian ahlussunnah:
Tema: Ukhuwah Imaniyah

Pembicara: Syaikh Prof DR Abdur Rozzaq Al Badr
Link: KLIK DISINI 
 

Selasa, 15 Maret 2011

Saksikan Bahwa Rosulku adalah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Saudaraku, syahadat merupakan rukun Islam yang pertama, merupakan pintu gerbang untuk menuju Islam, serta merupakan perkara yang besar dalam agama ini. Mengakui tiada sesembahan yang haq selain  Allah ta'ala dan mengakui tiada utusan Allah yang haq selain Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana firman Allah,

شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Ilah melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu[1] (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Ilah melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Ali ‘imran 18) 

Inilah salah satu ayat yang menunjukkan bahwa diantara syarat syahadat adalah berilmu, maka dari itu mengilmui permasalahan syahadat adalah penting dan sangat utama. Begitu seringnya kita mengucapkan kalimat syahadat dan begitu ringannya lidah-lidah kita mengulang-ulang kalimat yang mulia itu. Tetapi apakah pernah terlintas pada hati dan pikiran kita tentang apa makna dan konsekuensi syahadat yang kita ucapkan selama ini. Sudahkah kita memahaminya, sehingga kita dapat mengamalkannya dengan baik???

Syahadat yang kedua, inilah yang menjadi pembahasan kami pada tulisan kali ini yaitu syahadat kita atas nabi kita Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketahuilah, makna dari syahadat yang kedua ini adalah pengakuan lahir batin dari seorang muslim bahwa Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan Allah , Abdullah wa Rasuluhu yang diutus untuk semua manusia sebagai penutup rasul-rasul sebelumnya. Dalam syahadat yang kedua ini kita telah melakukan dua persaksian besar yaitu:

1. Bahwa Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba Allah sebagaimana manusia yang lainnya.

2. Bahwa Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang rasul / utusan Allah yang diberikan wahyu padanya.
 Allah berfirman,
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ…..

"Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. (Al Kahfi 110) 

Apakah kita menyangka bahwa setelah kita membuat persaksian besar ini lantas tidak ada konsekuensi setelahnya?? tidaklah demikian, sesungguhnya ada kosekuensi yang harus kita yakini serta harus kita amalkan setelah kita bersaksi atas dua hal tersebut. Diantara konsekuensi tersebut adalah: 

1. Mendudukkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di tempat yang semestinya yaitu sebagai hamba Allah , tidak melebih-lebihkan beliau dari derajat yang seharusnya. Sebab beliau hanyalah seorang hamba yang tidak mungkin naik derajatnya menjadi Rabb.

Dari sini termasuk kesesatan jika ada yang beristi’anah (memohon pertolongan) beristighatsah (memohon supaya dilepaskan dari musibah dan bala yang menimpa), memohon kepada nabi untuk mendatangkan manfaat dan menolak mudharat, memuji nabi secara berlebihan seperti melantunkan shalawat yang mengandung pengagungan yuang berlebihan (shalawat Nariyah, Burdah, dll).

Allah berfirman kepada Rasulullah :

قُل لاَّ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاء اللّهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَاْ إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Katakanlah: Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. dan Sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (al a’raf 188)

قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا

Katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak Kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan”. (al Jin 21)

Dan Nabi bersabda,
“Janganlah kalian berlebih-lebihan memuji (menyanjung) diriku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan memuji Ibnu Maryam (Isa). Sesungguhnya aku adalah hamba –Allah– maka Katakanlah: ‘Hamba Allah dan RasulNya’.” (HR. Al-Bukhari)

Makna “Al-Itharuu-an”  ialah berlebih-lebihan dalam memuji (menyanjung). Kita tidak menyembah kepada Muhammad , sebagaimana orang-orang Nasrani menyembah Isa Ibnu Maryam, sehingga mereka terjerumus dalam kesyirikan. Dan Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk mengatakan: “Muhammad hamba Allah dan RasulNya.”

Rasulullah bersabda:
“Apabila engkau meminta, maka mintalah kepada Allah dan apabila engkau memohon pertolongan, maka mohonlah perto-longan dari Allah.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih)

2. Membenarkan semua berita yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Muhammad adalah Rasulullah yang diistimewakan dari manusia lainnya dengan wahyu, maka jika beliau memberitakan berita masa lalu maupun berita masa depan maka berita itu sumbernya adalah wahyu yang kebenarannya tidak boleh diragukan lagi. Sebagaimana firman Allah,


قُلْ إِنَّمَا أُنذِرُكُم بِالْوَحْيِ وَلَا يَسْمَعُ الصُّمُّ الدُّعَاء إِذَا مَا يُنذَرُونَ

Katakanlah (hai Muhammad): “Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu dan Tiadalah orang-orang yang tuli mendengar seruan, apabila mereka diberi peringatan” (Al Anbiya’ 45)

3. Menaati Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Seorang Muslim wajib taat kepada Rasulullah Sebagai perwujudan sikap pengakuan terhadap kerasulan Beliau. Allah berfirman,

مَّنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللّهَ وَمَن تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

"Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka" [2]. (An Nisa 80)

Syaikh Abdurrahman Nasir as Sa’dy berkata “ setiap orang yang menaati Rasulullah dalam perintah-perintah dan larangan-laranganya dia telah menaati Allah , sebab Rasulullah tidak memerintahkan dan melarang kecuali dengan perintah, syari’at dan wahyu yang Allah turunkan.” Hal ini sebagaimana firman Allah,

"….apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya." (Al Hasyr 7)

4. Berhukum pada sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Syahadat Muhammad Rasulullah yang benar akan membawa seorang muslim kepada kesiapan dan keikhlasan untuk menjadikan sunnah Rasulallah sebagai rujukan, dia pasti menolak jika diajak untuk merujuk kepada akal, pendapat si A atau si B, hawa nafsu, maupun warisan nenek moyang dalam menetapkan suatu hukum, lebih-lebih jika terjadi ikhtilaf (perbedaan), seorang muslim yang konsekuen dengan syahadatnya dengan lapang dada akan menjadikan sunnah Rasulullah sebagai imamnya. Allah berfirman,

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيمًا

"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (An Nisa’65)

 وَيَقُولُونَ آَمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرِيقٌ مِنْهُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَمَا أُولَئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ (47) وَإِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ (48) وَإِنْ يَكُنْ لَهُمُ الْحَقُّ يَأْتُوا إِلَيْهِ مُذْعِنِينَ (49) أَفِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَمِ ارْتَابُوا أَمْ يَخَافُونَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُولُهُ بَلْ أُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (50) إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ51

"Dan mereka berkata: “Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul, dan kami mentaati (keduanya)”. Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh. Apakah ketidak datangan mereka itu karena dalam hati mereka ada penyakit, atau karena mereka ragu-ragu ataukah karena takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim. Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka[3] ialah ucapan: “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. An-Nur: 47-51)   

5. Tidak beribadah kepada Allah melainkan dengan apa yang di syari’atkannya
Karena Allah mengutus Rasulullah untuk menjelaskan Agama ini secara terang tanpa ada yang disembunyikan serta dikarenakan agama ini telah sempurna sehingga tidak membutuhkan penambahan dan pengurangan. Allah berfirman,

وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَاحْذَرُواْ فَإِن تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُواْ أَنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلاَغُ الْمُبِينُ

"Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. jika kamu berpaling, Maka ketahuilah bahwa Sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang." (Al Maa-idah 92)

الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ، الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا

"… pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.…" (Al Maaidah 3)

Rosul bersabda pada hadits yang shahih,

عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ :
قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ.)رواه البخاري ومسلم(
وفي رواية لمسلم : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Ummul mukminin, ummu Abdillah, Aisyah رضي الله عنها berkata bahwa Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak”. (HR. Bukhari dan Muslim) 

Dalam riwayat Muslim : “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai urusan kami, maka dia tertolak” 

Demikianlah konsekuensi yang harus kita yakini dan kita amalkan agar syahadat kita menjadi bermanfaat di hadapan Allah .Semoga kita dimudahkan oleh Allah menempuh jalan kebenaran dan di jauhkan dari jalan kesesatan. Amin. Wallahua’lam.
 

Sumber - Ditulis oleh: Aris Abu Ja’far dengan sedikit pengeditan

-----------------
Fote note:
[1] Ayat ini untuk menjelaskan martabat orang-orang berilmu.
[2] Rasul tidak bertanggung jawab terhadap perbuatan-perbuatan mereka dan tidak menjamin agar mereka tidak berbuat kesalahan.
[3] Maksudnya: di antara kaum muslimin dengan kaum muslimin dan antara kaum muslimin dengan yang bukan muslimin.


Download dan dengar kajian ahlussunnah:
Tema: Iman Kepada para Rosul
Pembicara: Ustad Yazid Jawas

Link: KLIK DISINI 

Senin, 14 Maret 2011

Indahnya Istiqomah

Kaum muslimin dan muslimah… semoga senantiasa dirahmati Allah

Istiqomah, sebuah perbendaharaan paling berharga bagi setiap insan. Tidak ada seorang pun di dunia ini melainkan membutuhkannya. Agar kelak di akherat, dirinya bisa berbahagia tatkala berjumpa dengan-Nya.

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya;

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ ح و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ جَمِيعًا عَنْ جَرِيرٍ ح و حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ كُلُّهُمْ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ وَفِي حَدِيثِ أَبِي أُسَامَةَ غَيْرَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ

Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Abu Kuraib menuturkan kepada kami. Mereka berdua berkata; Ibnu Numair menuturkan kepada kami [tanda perpindahan sanad] demikian pula Qutaibah bin Sa’id dan Ishaq bin Ibrahim mereka semuanya menuturkan kepada kami dari Jarir [tanda perpindahan sanad] begitu pula Abu Kuraib menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abu Usamah menuturkan kepada kami. Mereka semuanya meriwayatkan dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi, dia berkata; Aku berkata, “Wahai Rasulullah, katakanlah kepada saya suatu ucapan di dalam Islam yang tidak akan saya tanyakan kepada seorang pun sesudah anda.” Sedangkan dalam penuturan Abu Usamah dengan ungkapan, “orang selain anda”, maka beliau menjawab, “Katakanlah; Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqomahlah.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman, lihat Syarh Nawawi [2/91-92])

Istiqomah, sebuah perkara yang sangat agung dan tidak bisa diremehkan, sampai-sampai Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma mengatakan tatkala menjelaskan firman Allah ta’ala,

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ

Istiqomahlah engkau sebagaimana yang telah diperintahkan kepadamu.” (QS. Huud : 112)

Ibnu Abbas mengatakan, “Tidaklah turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam keseluruhan al-Qur’an suatu ayat yang lebih berat dan lebih sulit bagi beliau daripada ayat ini.” (lihat Syarh Nawawi [2/92]).

Sampai-sampai sebagian ulama -sebagaimana dinukil oleh Abu al-Qasim al-Qusyairi- mengatakan,

الِاسْتِقَامَة لَا يُطِيقهَا إِلَّا الْأَكَابِر

“Tidak ada yang bisa benar-benar istiqomah melainkan orang-orang besar.” (Disebutkan oleh an-Nawawi dalam Syarh Muslim [2/92])

Oleh sebab itu ikhwah sekalian, semoga Allah meneguhkan kita di atas jalan-Nya, marilah  kita mengingat besarnya nikmat yang Allah karuniakan kepada Ahlus Sunnah yang tetap tegak di atas kebenaran di antara berbagai golongan yang menyimpang dari jalan-Nya. Inilah nikmat teragung dan anugerah terindah yang menjadi cita-cita setiap mukmin. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُون

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan; Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka istiqomah akan turun kepada mereka para malaikat seraya mengatakan; Janganlah kalian takut dan jangan sedih, dan bergembiralah dengan surga yang dijanjikan kepada kalian.” (QS. Fusshilat : 30).

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah mengatakan bahwa yang dimaksud oleh ayat di atas QS. Fusshilat : 30 adalah orang-orang yang mentauhidkan Allah dan beriman kepada-Nya lalu istiqomah dan tidak berpaling dari tauhid. Mereka konsisten dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala sampai akhirnya mereka meninggal dalam keadaan itu (lihat Syarh Nawawi [2/92]). Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, bahwa mereka itu adalah orang-orang yang mengakui dan mengikrarkan keimanan mereka, mereka ridha akan rububiyah Allah ta’ala serta pasrah kepada perintah-Nya. Kemudian mereka istiqomah di atas jalan yang lurus dengan ilmu dan amal (Taisir al-Karim ar-Rahman [2/1037-1038]). Mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan kabar gembira di dalam kehidupan dunia dan di akhirat.

Abu Bakar as-Shiddiq radhiyallahu’anhu mengatakan ketika menafsirkan ayat di atas (yang artinya), “Kemudan mereka tetap istiqomah”, maka beliau mengatakan, “Artinya mereka tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun.” Diriwayatkan pula dari beliau, “Yaitu mereka tidak berpaling kepada sesembahan selain-Nya.” (Disebutkan oleh Ibnu Rajab al-Hanbali di dalam Jami’ al-’Ulum, hal. 260).

Ali bin Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma tentang makna firman Allah ta’ala “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan; Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka istiqomah”, beliau mengatakan, “Yaitu mereka istiqomah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban yang Allah bebankan.” Sedangkan Abu al-’Aliyah mengatakan, “Kemudian setelah mengatakan ‘Rabb kami adalah Allah maka mereka pun mengikhlaskan kepada-Nya agama dan amal.” Qatadah mengatakan, “Mereka istiqomah di atas ketaatan kepada Allah.” Diriwayatkan pula dari Hasan al-Bashri, apabila beliau membaca ayat ini maka beliau berdoa, Allahumma anta Rabbuna farzuqnal istiqomah; ‘Ya Allah, engkaulah Rabb kami, karuniakanlah rezeki keistiqomahan kepada kami’.”(Jami’ al-’Ulum, hal. 260).

-----------------------
Ditulis oleh: Abu Mushlih dengan sedikit pengeditan

Download dan dengar kajian ahlussunnah:
Tema: Kiat Istiqomah
Pembicara: Ustad Abdullah Shaleh Hadrami

Link: KLIK DISINI