Senin, 19 Desember 2011

Jadwal Kajian di Surabaya (update 11 November 2011)

Update 11 Nopember 2011 

 
UNTUK KOREKSI/UPDATE JADWAL KAJIAN SILAHKAN MENGISI PADA FORM KOMENTAR, ATAU EMAIL KE : kajiansurabaya@ymail.com, atau sms ke: 085749599033 , atau melalui comment dibawah langsung.
formatnya : JADWAL/WAKTU#MATERI/KITAB#PEMATERI#ALAMAT KAJIAN#KONTAK HP

MASJID THAYBAH (umum-ikhwan)
Perum Inti Bumi no. 1-3, Keputih, Surabaya
  1. Senin B’da Subuh Taysirul ‘Allam ( 10 )
  2. Selasa B’da Subuh Usul Fiqh ( 10 )
  3. Rabu B’da Subuh Aqidah Tauhid ( 10 )
  4. Kamis B’da Subuh Tafsir Al Aisar / Syaikh Al Jazairi – mulai dari awal ( 10 )
  5. Kamis B’da Maghrib Al Aisar / Syaikh Al Jazairi – mulai dari tengah 10 )
  6. Jumat B’da Subuh Tahfidz Al Quran ( 10 )
Kontak Informasi : 08565 5337 083

WISMA AKHWAT THAYBAH (umum-akhwat)
Wisma akhwat Thaybah – Gubeng Kertajaya XI E No. 21
  1. Selasa B’da Isya – Tafsir Al-Qur’an 10 )
  2. Rabu B’da Isya -  Syarah Usul Tsalatsah 16 )
  3. Kamis B’da Isya – Fiqh Al Wajiz 17 )
  4. Jum’at Ba’da SubuhTahsin ( 14 )
Kontak Informasi : 0857 3220 3084

FSMS-UNESA (umum)
Mushollah Al Amin Karang Rejo Sawah Gg. VII Kec.Wonokromo, Surabaya
  1. Sabtu Pekan 4 jam 10.00 wib – Arba’in Nawawi ( 15 )
Kontak Informasi : 08564 5374 883

MASJID AL AMIN (umum)
Jln. Semampir Tengah III-A / 25 Surabaya
  1. Senin B’da Maghrib Riyadush Shalihin ( 3 )
  2. Rabu B’da Maghrib Quratul ‘Uyun Al Muwahidin ( 4 )
  3. Sabtu B’da Subuh Tafsir Ibnu Katsir ( 3 )

MASJID JAMI’ MAKKAH (umum)
Jln. Bendul Merisi Tengah, Surabaya
  1. Senin (I) B’da Maghrib Ta’liq Aqdh Washitiyah (4)
  2. Ahad (II) B’da Maghrib Syarh Arba’in Nawawi (2)
  3. Ahad (III) B’da Maghrib Tafsir Ibnu Katsir (3)
  4. Ahad (IV) B’da Maghrib Syarh Kitab at Tauhid (1)

MASJID UKHUWAH ISLAMIYAH (umum)
Jln. Perak Barat Surabaya
  1. Senin B’da Maghrib Tafsir Ibnu Katsir (2)
  2. Kamis B’da Maghrib Syarh Arba’in an Nawawi (5)

MASJID AL HILAL (umum)
Jln. Purwodadi – Demak, Surabaya
  1. Rabu B’da Maghrib Ushulus Sunnah (1)

MASJID MUJAHIDIN (umum)
Jln. Perak Barat, Komplek Pelabuhan Surabaya
Kamis B’da Maghrib al Qaulul Mufid (1)

 
MASJID DARUL HIJRAH (ikhwan only)
Jln. Sidotopo Kidul, komplek Ma’had Ali al Irsyad Surabaya
  1. Senin B’da Maghrib Tazkiyah an Nafs (5)
  2. Selasa B’da Maghrib Fathul Madjid (7)
  3. Rabu B’da Maghrib Tafsir Juz ‘Amma (6)
  4. Kamis B’da Maghrib Lum’atul I’tiqad (4)
  5. Jumat B’da Maghrib Ushul at Tafsir (-)

MASJID IBRAHIM (umum)
Jln. Semolowaru Bahari, komplek TNI AL Surabaya
  1. Senin B’da Maghrib Shahih Fadha’il Amal (10)
  2. Sabtu B’da Subuh Tafsir al Quran ( 8 )

MASJID AL JAARIYAT (umum)
Jln. Kedungcowek, Kenjeran Surabaya
  1. Sabtu B’da Maghrib Tematik (9)

MASJID DARUSSALAM (umum)
Jln. Ampel Sawahan II Surabaya
  1. Selasa B’da Maghrib Aqidah Ashabul Hadits (4)

Keterangan : Kajian di atas diisi oleh pemateri sebagai berikut :
1.Al Ustadz Aunur Rafiq bin Ghufron, Lc.
2.Al Ustadz Mubarak bin Mahfudz Bamu’allim, Lc.
3.Al Ustadz Ma’ruf nur Salam, Lc.
4.Al Ustadz Abdurrahman Thayyib, Lc.
5.Al Ustadz Imam Wahyudi, Lc.
6.Al Ustadz M. Chusnul Yaqin, Lc.
7.Al Ustadz Salim bin Ali Ghanim, Lc.
8.Al Ustadz Ainul Harits, Lc. M.Ag.
9.Al Ustadz Ridwan ‘Abdul Aziz
10.Al Ustadz M. Noor Yasin
11. Al Ustadz Abdurrahim
12. Al Ustadz Fuad
13. Al Ustadz Raswanto
14. Al Ustadz Zaki
15. Al Ustadz Muhammad Ilham
16. Al Ustadz Agung
17. Al Ustadz Fachri
 
Informasi selengkapnya kunjungi:
http://assunnahsurabaya.wordpress.com/jadwal-kajian/

Minggu, 18 Desember 2011

Kewajiban Shalat Berjamaah di Masjid bagi Laki-laki

Banyak dari kita yang meremehkan shalat berjamaah. Oleh karenanya, melalui tulisan ini akan coba kami jelaskan mengenai hukum-hukum tentang wajibnya shalat berjama’ah, karena sebe-narnya masalah ini adalah masalah yang teramat penting.

Allah subhanahu wa ta'ala banyak menyebut kata shalat dalam Al-Qur’an. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk. (Al Baqarah : 43)

Ini menandakan begitu penting perkara ini. Ayat mulia ini merupakan nash tentang kewajiban shalat berjamaah.

Dan dalam surat An- Nisa’ Allah berfirman yang artinya :
Dan apabila kamu berada ditengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serekat), maka hendaklah mereka dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan kedua yang belum shalat, lalu bershalatlah me-reka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. (An Nisa’ 102)

Pada ayat diatas Allah mewajibkan shalat berjamaah bagi kaum muslimin dalam keadaan perang. Bagaimana bila dalam keadaan damai? Telah disebutkan diatas bahwa ..dan hendaklah datang segolongan kedua yang be-lum shalat, lalu bershalatlah bersamamu.. Ini adalah dalil bahwa shalat berjamaah adalah fardhu ‘ain, bukan fardu kifayah, ataupun sunnah. Jika hukumnya fardhu kifayah, pastilah gugur kewajiban berjamaah bagi kelompok kedua karena penunaian kelompok pertama. Dan jika hukumnya adalah sunnah, pastilah alasan yang paling utama adalah karena takut.

Dan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:
Seorang laki-laki buta datang kepada Nabi dan berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai pe-nuntun yang akan menuntunku ke Masjid. Ma-ka dia minta keringanan untuk shalat dirumah, maka diberi keringanan. Lalu ia pergi, Beliau memanggilnya seraya berkata: Apakah kamu mendengar adzan ? Ya, jawabnya. Nabi berkata : Kalau begitu penuhilah (hadirilah)!

Didalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam tidak memberikan keringanan kepada Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahu ‘anhu untuk shalat dirumahnya (tidak berjamaah) kendati ada alasan, diantaranya:
  • Keadaan beliau buta.
  • Tidak adanya penuntun ke Masjid.
  • Jauh rumahnya dari Masjid.
  • Adanya pohon-pohon kurma dan lain-lain yang ada diantara rumah beliau dan Masjid.
  • Adanya binatang buas di Madinah.
  • Tua umurnya dan telah lemah tulang-tulang-nya.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meri-wayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam telah bersabda:
Aku berniat meme-rintahkan kaum muslimin untuk mendirikan sha-lat. Maka aku perintahkan seorang untuk menjadi imam dan shalat bersama. Kemudian aku berang-kat dengan kaum muslimin yang membawa seikat kayu bakar menuju orang-orang yang tidak mau ikut shalat berjamaah, dan aku bakar rumah-rumah mereka. (Al Bukhari-Muslim)

Hadits diatas telah menjelaskan bahwa tekad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam untuk membakar rumah-rumah disebabkan mereka tidak keluar untuk shalat berjamaah di masjid. Dan masih banyak lagi hadits yang menerangkan peringatan keras Rasulullah terhadap orang-orang yang tidak hadir ke masjid untuk berjamaah bukan semata-mata karena mereka meninggalkan shalat, bahkan mereka shalat di rumah-rumah mereka.

Ibnu Hajar berkata: Hadits ini telah menerangkan bahwa shalat berjamaah adalah fardhu ‘ain, karena kalau shalat berjamaah itu hanya sunnah saja, Rasulullah tidak akan berbuat keras terhadap orang-orang yang meninggalkannya, dan kalau fardhu kifayah pastilah telah cukup dengan pekerjaan beliau dan yang bersama beliau.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: Engkau telah melihat kami, tidak seseorang yang meninggalkan shalat berjamaah, kecuali ia seorang munafik yang diketahui nifaknya atau seseorang yang sakit, bahkan seorang yang sakitpun berjalan (dengan dipapah) antara dua orang untuk mendatangi shalat (shalat berjamaah di masjid). Beliau menegaskan : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam mengajarkan kita jalan-jalan hidayah, dan salah satu jalan hidayah itu adalah shalat di masjid (shalat yang dikerjakan di masjid). (Shahih Muslim)

Ibnu Mas’ud juga mengatakan : Barang siapa mau bertemu dengan Allah SWT di hari akhir nanti dalam keadaan muslim, maka hendaklah memelihara semua shalat yang diserukan-Nya. Allah SWT telah menetapkan jalan-jalan hidayah kepada para Nabi dan shalat ter-masuk salah satu jalan hidayah. Jika kalian sha-lat dirumah maka kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian, dan kalian akan sesat. Setiap Lelaki yang bersuci dengan baik, kemudian menuju masjid, maka Allah SWT menulis setiap langkahnya satu kebaikan, mengangkatnya satu derajat, dan menghapus satu kejahatannya. Engkau telah melihat dikalangan kami, tidak pernah ada yang meninggalkan shalat (berjamaah), kecuali orang munafik yang sudah nyata nifaknya. Pernah ada seorang lelaki hadir dengan dituntun antara dua orang untuk didirikan shaf.

Ibnu Mas’ud, Abdullah bin Abbas dan Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhum berkata : Barangsiapa yang mendengar adzan kemudian dia tidak mendatanginya tanpa udzur, maka tidak ada shalat baginya.

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata : Tidak ada tetangga masjid kecuali shalat di masjid. Ketika ditanyakan kepada beliau : Siapa tetangga masjid ? Beliau menjawab : Siapa saja yang mendengar panggilan adzan. Kemudian kata beliau : Barangsiapa mendengar panggilan adzan dan dia tidak mendatanginya maka tidak ada shalat baginya, kecuali dia mempunyai udzur.

Meningggalkan shalat berjamaah merupakan salah satu penyebab untuk meninggalkan shalat sama sekali. Dan perlu diketahui bahwa meninggalkan shalat adalah kekufuran, dan keluar dari islam. Ini berdasar pada sabda Nabi : Batas antara seseorang dengan kekufuran dan syirik adalah meninggalkan shalat. (HR. Muslim). Janji yang membatasi antara kita dan orang-orang kafir adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, maka ia kafir.

Setiap muslim wajib memelihara shalat pada waktunya, mengerjakan shalat sesuai dengan yang disyariatkan Allah, dan mengerjakan secara berjamaah di rumah-rumah Allah. Setiap muslim wajib taat kepada Allah dan rasul-Nya, serta takut akan murka dan siksanya.

Tidak bisa dipungkiri shalat berjamaah mempunyai beberapa hikmah serta kemaslahatan. Hikmah yang tampak adalah :
- Akan timbul diantara sesama muslim akan saling mengenal dan saling membantu dalam kebaikan, ketaqwaan, dan saling berwasiat de-ngan kebenaran dan kesabaran.
- Saling memberi dorongan kepada orang lain yang meninggalkannya, dan memberi penga-jaran kepada yang tidak tahu.
- Menumbuhkan rasa tidak-suka/membenci kemunafikan.
- Memperlihatkan syiar-syiar Allah ditengah-tengah hamba-Nya.
- Sarana dakwah lewat kata-kata dan perbuatan.

Hadits mengenai wajibnya shalat berjamaah dan kewajiban melaksanakannya di rumah Allah sangat banyak Oleh karena itu setiap muslim wajib memperhatikan, dan bersegera melaksanakannya. Juga wajib memberitahukan hal ini kepada anak-anaknya, keluarga, tetangga, dan seluruh teman-teman seaqidah agar mereka melaksanakan perintah Allah SWT dan rasul-Nya dan agar mereka takut terhadap larangan Allah dan rasul-Nya dan agar mereka menjauhkan diri dari sifat-sifat orang munafik yang tercela, dianta-ranya malas mengerjakan shalat.

Selesai ditulis di Surabaya, pada 18 Desember 2011
Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi
Ditulis ulang oleh Supriyono
Merujuk dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M

Senin, 28 November 2011

"Adakah Waktu untuk Ibumu nak???"


Dokumentasi dari curhatan hati seorang ibu yang penuh kasih sayang

"Dimana rumahmu Nak?"
Orang bilang anakku seorang aktivis .
Kata mereka namanya tersohor dikampusnya sana . Orang bilang anakku seorang aktivis.Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat . Orang bilang anakku seorang aktivis .Tapi bolehkah aku sampaikan padamu nak ? Ibu bilang engkau hanya seorang putra kecil ibu yang lugu.

Anakku,sejak mereka bilang engkau seorang aktivis ibu kembali mematut diri menjadi ibu seorang aktivis .Dengan segala kesibukkanmu ,ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat.Ibu sungguh mengerti itu nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia nak ? Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak, tanpa pernah ibu berfikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia. Anakku,kita memang berada disatu atap nak,di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan ibumu ini .Tapi kini dimanakah rumahmu nak?ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini . Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu dirumah,de ngan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu . Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut. Mungkin tawamu telah habis hari ini,tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk ibu yang begitu merindukanmu . Ah,lagi -lagi ibu terpaksa harus mengerti, bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk ibu . Atau jangankan untuk tersenyum,sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja engkau engkau,katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline. Padahal,andai kau tahu nak,ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini,memastikan engkau baik-baik saja,memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu.Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau nak,tapi bukankah aku ini ibumu ? yang 9 bulan waktumu engkau habiskan didalam rahimku..

Anakku, ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk nak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu, engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu . Engkau nampak amat peduli dengan semua itu,ibu bangga padamu .Namun,sebagian hati ibu mulai bertanya nak, kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini nak ? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu ? kapan terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu nak ? Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu nak ? Anakku,ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu.S aat engkau merasa sangat tidak produktif ketika harus menghabiskan waktu dengan keluargamu . Memang nak,mengha biskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat,tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan . Tapi bukankah keluargamu ini adalah tugasmu juga nak?bukank ah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga nak? Anakku,ibu mencoba membuka buku agendamu .Buku agenda sang aktivis.Jadwalmu begitu padat nak,ada rapat disana sini,ada jadwal mengkaji,a da jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting.Ibu membuka lembar demi lembarnya,disana ada sekumpulan agendamu,a da sekumpulan mimpi dan harapanmu.Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya,masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada disana.Ter nyata memang tak ada nak,tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini.Tak ada cita-cita untuk ibumu ini . Padahal nak,andai engkau tahu sejak kau ada dirahim ibu tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu selain cita dan agenda untukmu,pu tra kecilku.. Kalau boleh ibu meminjam bahasa mereka,mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional. Boleh ibu bertanya nak,dimana profesionalitasmu untuk ibu ? dimana profesionalitasmu untuk keluarga ? Dimana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat ? Ah,waktumu terlalu mahal nak. Sampai- sampai ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama ibu..

Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya. Pun pertemuan dengan orang tercinta,ibu,ayah ,kaka dan adik .  Akhirnya tak mundur sedetik tak maju sedetik .Dan hingga saat itu datang,jan gan sampai yang tersisa hanyalah penyesalan.Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan .Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai. Untuk mereka yang kasih sayangnya tak kan pernah putus,untuk mereka sang penopang semangat juang ini . Saksikanlah,bahwa tak ada yang lebih berarti dari ridhamu atas segala aktivitas yang kita lakukan.Karena tanpa ridhamu,Mu stahil kuperoleh ridhaNya... " 

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo'a: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni'mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".(QS. Al Ahqaf: 15)


Selesai ditulis di Surabaya pada 28 November 2011
oleh Supriyono

Minggu, 23 Oktober 2011

Keutamaan-keutamaan Shalat Subuh


Jika kita perhatikan kondisi masjid-masjid, akan terasa sepi di waktu Shubuh. Lihat saja berapa banyak di antara teman-teman atau tetangga-tetangga kita yang sering meninggalkan shalat Shubuh. Ada yang sangat keterlaluan sampai-sampai merangkapnya dengan shalat Dhuha karena dilakukan setelah matahari meninggi. Padahal shalat shubuh adalah shalat yang amat utama. Shalat shubuh adalah yang terasa berat bagi orang-orang munafik. 
 
Dari Jundab bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِى ذِمَّةِ اللَّهِ فَلاَ يَطْلُبَنَّكُمُ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَىْءٍ فَيُدْرِكَهُ فَيَكُبَّهُ فِى نَارِ جَهَنَّمَ

Barangsiapa yang shalat subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu, janganlah menyakiti orang yang shalat Shubuh tanpa jalan yang benar.  Jika tidak, Allah akan menyiksanya dengan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.” (HR. Muslim no. 657)

Ada beberapa faedah dari hadits di atas:
Pertama: Menunjukkan agungnya shalat fajar (shalat shubuh) di sisi Allah Ta’ala.

Kedua: Barangsiapa yang shalat Shubuh, maka ia mendapat jaminan dan rasa aman dari Allah. Jaminan ini adalah tambahan setelah seseorang berislam dengan mengakui “laa ilaha illallah”, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.

Ketiga: Secara tekstual menunjukkan bahwa orang yang shalat shubuh secara berjamaah atau sendirian akan mendapatkan jaminan Allah tadi.[1]

Tentang keutamaan shalat Shubuh lainnya, disebutkan dalam dua hadits berikut.
Dari Abu Musa, Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Barangsiapa yang mengerjakan shalat bardain (yaitu shalat shubuh dan ashar) maka dia akan masuk surga.” (HR. Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635). Ibnu Baththol rahimahullah berkata, “Shalat shubuh akan membuat seseorang mendapatkan perhatian Allah pada hari kiamat. Kenapa dikhususkan dua shalat ini? Karena berkumpulnya para malaikat malam dan siang di dua waktu tersebut. Inilah makna firman Allah Ta’ala,

وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).(QS. Al Isro’: 78) (Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/250, Asy Syamilah)

Dari ‘Umaroh bin Ruaibah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَنْ يَلِجَ النَّارَ أَحَدٌ صَلَّى قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا

Tidaklah akan masuk neraka orang yang melaksanakan shalat sebelum terbitnya matahari (yaitu shalat shubuh) dan shalat sebelum tenggelamnya matahari (yaitu shalat ashar).” (HR. Muslim no. 634). ‘Azhim Abadi rahimahullah, penulis ‘Aunul Ma’bud menjelaskan hadits tersebut, “Yaitu maksudnya adalah melaksanakan shalat Shubuh dan ‘Ashar secara rutin. Dikhususkan dua shalat ini karena waktu shubuh adalah waktu tidur dan waktu ‘Ashar adalah waktu sibuk beraktivitas dengan berdagang. Barangsiapa yang menjaga dua shalat tersebut di saat-saat kesibukannya, tentu ia akan lebih menjaga shalat fardhu lainnya karena shalat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Kedua waktu tersebut juga adalah waktu yang dipersaksikan para malaikat malam dan siang. Pada waktu tersebut amalan hamba diangkat dan sangat mungkin saat-saat itu dosa diampuni karena dua shalat yang dilakukan. Akhirnya, ia pun bisa masuk jannah (surga).” (‘Aunul Ma’bud, 2/68)

Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk selalu menjaga shalat yang utama, shalat Shubuh. Moga Allah mudahkan untuk terus berjamaah di masjid, khusus bagi para pria.

Wallahu waliyyut taufiq.

----------------------------------

Selesai ditulis di Riyadh, 14 rajab 1432 H (16 Juni 2011)
Muhammad Abduh tuasikal

Download dan dengar kajian ahlussunnah:
Tema:
Buku Panduan Amal Sehari Semalam
Pemateri:
Abu Ihsan Al-Atsary
Link:
KLIK DISINI

 

Senin, 10 Oktober 2011

Download Rekaman Kajian Ilmiah "Sebab-sebab Kembang Kempisnya Iman"


Segala puji bagi Allah Subhanahu wata’ala. Kita memuji, memohan pertolongan, dan meminta ampun kepadaNya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri dan keburukan amal perbuatan. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu wa ta’ala maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan RasulNya. 

Alhamdulillah.. Berikut ini saya hadirkan rekaman kajian ilmiah  "SEBAB SEBAB KEMBANG KEMPISNYA IMAN" oleh Ustadz Abu Ubaidah dari Gresik.

Dalam kajian tersebut dirinci beberapa hal yang menjadi sebab bertambahnya iman. Begitu pula dengan hal-hal yang menjadi sebab menurunnya Iman. Namun karena waktu yang sangat singkat, untuk sebab-sebab penurun iman hanya dijelaskan sedikit saja. Berikut link downloadnya :

    Semoga bermanfaat..

    Selesai diupload di Surabaya pada 10 Oktober 2011
    Oleh Supriyono

    Selasa, 13 September 2011

    Sudah Benarkah Wudhu Anda?

    Berikut ini adalah tata cara wudhu yang saya kutip dari Fatawa Lajnah Daimah juz V/231. Semoga bermanfaat...

    Soal:
    Amalan apakah yang dianjurkan ketika berwudhu’, dan apakah doa yang mesti diucapkan setelahnya?



    Jawab :

    Alhamdulillah, tatacara wudhu’ menurut syariat adalah sebagai berikut:
    • Menuangkan air dari bejana (gayung) untuk mencuci telapak tangan sebanyak tiga kali ;
    • Kemudian menyiduk air dengan tangan kanan lalu berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung dan mengeluarkannya sebanyak tiga kali ;
    • Kemudian membasuh wajah sebanyak tiga kali ;
    • Kemudian mencuci kedua tangan sampai siku sebanyak tiga kali ;
    • Kemudian mengusap kepala dan kedua telinga sekali usap ;
    • Kemudian mencuci kaki sampai mata kaki sebanyak tiga kali. Ia boleh membasuhnya sebanyak dua kali atau mencukupkan sekali basuhan saja.
    Setelah itu hendaknya ia berdoa:
    Asyhadu allaa ilaaha illallah wahdahu laa syarikalahu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu, Allahummaj ‘alni minat tawwabiin waj’alni minal mutathahhiriin.”

    Artinya: “Saya bersaksi bahwa tiada ilaah yang berhak disembah dengan benar selain Allah semata tiada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Yaa Allah jadikanlah hamba termasuk orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri.“

    Adapun sebelumnya hendaklah ia mengucapkan ‘bismillah’ berdasarkan hadits yang berbunyi:
    Tidak sempurna wudhu’ yang tidak dimulai dengan membaca asma Allah (bismillah).” (H.R At-Tirmidzi 56)


    Selesai ditulis di Surabaya, pada 13 Agustus 2011
    Oleh Supriyono
    Dinukil dari Fatawa Lajnah Daimah juz V/231. Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta, Dewan Tetap Arab saudi untuk riset-riset ilmiyah dan fatwa

    Download dan Dengar kajian Ilmiah ahlussunnah
    Tema : Tata Cara Wudhu Nabi 
    Pemateri : Ustadz Abu Qatadah
    Link : Klik Disini

    Minggu, 04 September 2011

    Download Rekaman Kajian Ilmiah Ustadz Abu Qotadah di Surabaya

    Segala puji bagi Allah Subhanahu wata’ala. Kita memuji, memohan pertolongan, dan meminta ampun kepadaNya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri dan keburukan amal perbuatan. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu wa ta’ala maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan RasulNya.

    Alhamdulillah, rekaman kajian ilmiah bersama Ustadz Abu Qotadah (Mudir Ma’had Ihya’ As Sunnah, Tasikmalaya) di Surabaya yang berlangsung mulai tanggal 17 – 19 Juni 2011, dengan rincian :

    “Sejarah Munculnya Firqah Firqah”
    Hari : Ahad , 19 Juni 2011
    Jam : 08.30 – Selesai
    Tempat : Masjid Thaybah, Pesantren Mahasiswa Thaybah, Keputih Tegal Timur, Sukolilo, Surabaya


    “Sikap Bijak di Zaman Fitnah”
    Hari : Jumat, 17 Juni 2011 Ba’da Maghrib
    Tempat : Masjid Al Amin, Jalan Semampir Tengah III-A/25, Surabaya


    “Pendidikan Anak dalam Islam”
    Hari : Sabtu, 18 Juni 2011 Jam 09.00 – Selesai
    Tempat : Masjid Nurul Iman, Jalan Margorejo Indah (Belakang Plaza Marina), Surabaya

    telah dapat didownload atau dengar langsung sebagai berikut :


    mp3 Kewajiban Beramal dalam Islam - 13.22 MB 

    mp3 Pendidikan Anak Dalam Islam - 18.35 MB 

    mp3 Pendidikan Anak Dalam Islam Tanya Jawab - 5.09 MB 

    mp3 Sejarah Munculnya Firqah Firqah - 20.12 MB 

    mp3 Sejarah Munculnya Firqah Firqah Tanya Jawab - 5.09 MB

    Semoga bermanfaat dan semoga kita senantiasa dimudahkan oleh Allah untuk istiqomah dalam menuntut ilmu.

    Senin, 29 Agustus 2011

    Tuntunan Shalat 'Ied

    Tuntunan Sebelum Shalat ‘Ied
     
    1. Waktu shalat ‘ied dimulai dari matahari setinggi tombak sampai waktu zawal (matahari bergeser ke barat. Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengakhirkan shalat ‘Idul Fithri dan mempercepat pelaksanaan shalat ‘Idul Adha. Ibnu ‘Umar yang sangat dikenal mencontoh ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah keluar menuju lapangan kecuali hingga matahari meninggi.”

    2. Tempat pelaksanaan shalat ‘ied lebih utama (lebih afdhol) dilakukan di tanah lapang, kecuali jika ada udzur seperti hujan. (HR. Bukhari dan Muslim)

    3. Disunnahkan untuk mandi sebelum berangkat shalat seperti praktek Ibnu ‘Umar. Lalu berhias diri dan memakai pakaian yang terbaik sebagaimana yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Zaadul Ma’ad, 1/425)

    4. Makan sebelum keluar menuju shalat ‘ied khusus untuk shalat ‘Idul Fithri (HR. Ahmad, derajat hadits hasan).

    5. Bertakbir ketika keluar hendak shalat ‘ied (As Silsilah Ash Shahihah no. 171).

    6. Melewati jalan pergi dan pulang yang berbeda (HR. Bukhari).

    7. Dianjurkan berjalan kaki sampai ke tempat shalat dan tidak memakai kendaraan kecuali jika ada hajat (HR. Ibnu Majah, hasan).

    8. Tidak ada shalat sunnah qobliyah dan ba’diyah ‘ied (HR. Bukhari dan Muslim).

    9. Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai ke tempat shalat, beliau pun mengerjakan shalat ‘ied tanpa ada adzan dan iqomah. Juga ketika itu untuk menyeru jama’ah tidak ada ucapan “Ash Sholaatul Jaam’iah.” Yang termasuk ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tidak melakukan hal-hal semacam tadi. (Zaadul Ma’ad)

     Tata Cara Shalat ‘Ied

    Jumlah raka’at shalat Idul Fithri dan Idul Adha adalah dua raka’at. Adapun tata caranya adalah sebagai berikut.

    1. Memulai dengan takbiratul ihrom, sebagaimana shalat-shalat lainnya.

    2. Kemudian bertakbir (takbir zawa-id/ tambahan) sebanyak tujuh kali takbir -selain takbiratul ihrom- sebelum memulai membaca Al Fatihah. Boleh mengangkat tangan ketika takbir-takbir tersebut sebagaimana yang dicontohkan oleh Ibnu ‘Umar.

    3. Di antara takbir-takbir (takbir zawa-id) yang ada tadi tidak ada bacaan dzikir tertentu. Namun ada sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud, ia mengatakan, “Di antara tiap takbir, hendaklah menyanjung dan memuji Allah.”

    4. Kemudian membaca Al Fatihah, dilanjutkan dengan membaca surat lainnya. Surat yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah surat Qaaf pada raka’at pertama dan surat Al Qomar pada raka’at kedua. Boleh juga membaca surat Al A’laa pada raka’at pertama dan surat Al Ghosiyah pada raka’at kedua.

    5. Setelah membaca surat, kemudian melakukan gerakan shalat seperti biasa (ruku, i’tidal, sujud, dan seterusnya).

    6. Bertakbir ketika bangkit untuk mengerjakan raka’at kedua. Kemudian bertakbir (takbir zawa-id/tambahan) sebanyak lima kali takbir -selain takbir bangkit dari sujud- sebelum memulai membaca Al Fatihah.

    7. Kemudian membaca surat Al Fatihah dan surat lainnya sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Mengerjakan gerakan lainnya hingga salam.

    8. Setelah melaksanakan shalat ‘ied, imam berdiri untuk melaksanakan khutbah ‘ied dengan sekali khutbah (bukan dua kali seperti khutbah Jum’at). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan khutbah di atas tanah dan tanpa memakai mimbar. Beliau pun memulai khutbah dengan “hamdalah” (ucapan alhamdulillah) sebagaimana khutbah-khutbah beliau yang lainnya (Lihat Zaadul Ma’ad dan Shahih Fiqh Sunnah). Jama’ah boleh memilih mengikuti khutbah ‘ied atau tidak (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, shahih).

    Saya selaku penulis blog MATA AIR SUNNAH mengucapkan, "Taqobalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima amalan kami dan amalan kalian). Semoga Allah menjadi kita insan yang istiqomah dalam menjalankan ibadah selepas bulan Ramadhan."


    Selesai ditulis di Jombang, pada 29 Agustus 2011
    Oleh Supriyono
    Merujuk dari  kitab Zaadul Ma'ad karya Ibnul Qayyim (terjemah)

    -------------------------------------------
    Download dan dengar kajian ahlussunnah:

    Tema: Fiqh Idul Fitri 
    Pemateri: Badrusalam
    Link: KLIK DISINI
     

    Senin, 15 Agustus 2011

    Mengenal Sirah Singkat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam

    Segala puji bagi Allah Subhanahu wata’ala. Kita memuji, memohan pertolongan, dan meminta ampun kepadaNya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri dan keburukan amal perbuatan. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu wa ta’ala maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa menunjukinya.

      
    Pendahuluan
    Rasulullah, Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam adalah panutan setiap muslim dalam segala perihal kehidupannya. Allah berfirman,

    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً

    Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (al Ahzab: 21)

    Maka diantara hal pokok yang harus diketahui seorang muslim adalah mengenal pribadi beliau shalallahu ‘alaihi wassalam. Karena bagaimana mungkin seorang muslim dapat menjadikannya sebagai panutan jika tidak tahu bagaimana pribadi beliau. Untuk seorang muslim perlu untukmengetahui nasab, sejarah hidup, sifat, akhlaq, keistimewaan beliau dan lainnya. Berikut uraian singkat tentang hal-hal tersebut, semoga bermanfaat. Tulisan ini kami ringkas dari kutaib Haqiqatu Syahaadah anna Muhammadar Rasulullah, karangan syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Muhammad alu Syaikh hafidzahullah.
    Nasab Beliau

    Rasulullah pernah bersabda tentang nasab beliau, 
    Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail , memilih Quraisy dari Kinanah, dan memilih Bani (keturunan) Hasyim dari suku Quraisy, dan memilih aku dari keturunan Hasyim.[1]. 

    Nasab beliau :
    Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu`ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan.

    Silsilah beliau  hingga di sini diketahui keshahihannya, disepakati di antara para ahli silsilah. Adapun yang di atas Adnan diperselisihkan padanya. Adnan adalah keturunan nabi Ismail, dan Ismail adalah putra nabi Ibrahim alaihimassalam. Ibunda Nabi  adalah Aminah binti Wahab bin Abdul Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah. Nasab bapak dan ibunya bertemu pada kakek mereka: Kilab bin Murrah.

    Kelahiran Beliau
    Nabi dilahirkan di tahun gajah. Lahir pada hari Senin, berdasarkan sabda Nabi tatkala ditanya tentang puasa hari Senin. Beliau bersabda: 
    Itulah hari yang aku dilahirkan padanya, hari aku dibangkitkan (diangkat menjadi rasul), dan dan diturunkan (wahyu) kepadaku padanya [2]. 

    Adapun bulan dan tanggal kelahirannya terjadi perbedaan pendapat. Ada yang berpendapat pada tanggal 12 dari bulan Rabi’ul Awal. Sebagian berpendapat pada tanggal 8 dari bulan yang sama. Dikatakan: bahkan pada bulan Ramadhan. Ada juga yang berpendapat pada tanggal 27 dari bulan Rajab, dan ini pendapat paling aneh/asing.

    Diutus menjadi Nabi
    Wahyu diturunkan kepadanya r saat berusia 40 tahun. Permulaan wahyu adalah saat beliau berkhalwah di gua Hira, Jibril u datang kepadanya, lalu merangkulnya, kemudian melepasnya seraya berkata: “Bacalah…” [3].

    Wafat Beliau
    Beliau  wafat setelah melaksanakan amanah, menyampaikan risalah Rabb-nya, dan berjihad karena Allah  dengan sebenarnya, dan Agamanya telah sempurna. Al-Qur`an bersaksi baginya di akhir hayatnya,

    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا

    Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Aku ridhai islam itu jadi agamamu. (QS. Al Maidah: 3)

    Wafat pada hari Senin [4] pada tahun ke sebelas hijriyah dan pada bulan Rabiul Awal, hal ini disepakati para ulama. Berkata Ibu Hisyam,
    Mayoritas mereka berkata: pada tanggal dua belas Rabiul Awal. Dan tidak shahih tentang tanggal wafatnya kecuali pada hari kedua atau ketiga belas, atau keempat belas, atau kelima belas, karena sudah disepakati bahwa wuquf di arafah pada haji wada’ terhadap pada hari Jum’at, yaitu hari kesembilan bulan Dzulhijjah… dst” [5].

    Nama-Nama Beliau
    Banyaknya nama menunjukkan agungnya yang diberi nama. Nama-nama Nabi menunjukkan makna-makna yang agung. Dan namanya yang paling agung adalah Muhammad, yaitu nama disebutkan Allah dalam al-Qur`an al-Karim,

    مُّحَمَّدُ رَّسُولُ اللهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ

    Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. (QS. Al Fath : 29)

    Nama beliau yang lain cukup banyak, sebagaimana dalam sebuah hadist beliau bersabda, 
    “Sesungguhnya aku memiliki banyak nama: aku Muhammad, aku Ahmad, aku al-Mahi yang Allah menghapus kekufuran denganku, aku al-Hasyir yang manusia digiring di atas dua kakiku, dan aku adalah al-’Aqib (yang terakhir) yang tidak ada seorangpun setelah aku”[6].

    Dan dalam hadits Abu Musa al-Asy’ari, ia berkata, 
    “Rasulullah menyebutkan kepada kami beberapa namanya, di antara ada yang kami ingat dan ada yang tidak kami ingat, beliau bersabda: “Aku adalah Muhammad, Ahmad, al-Muqaffi, al-Hasyir, Nabi taubat, nabi rahmah.” [7]

    Keistimewaan Beliau
    Nabi Muhammad adalah pemimpin manusia. Dalam hadits Abdullah bin Salam, sesungguhnya Nabi  bersabda,

    أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ أدَمَ وَلاَ فَخْرَ

    Aku adalah pemimpin keturunan nabi Adam  dan tidak sombong[8]

    Diantara keistimewaan beliau adalah yang pertama memberi syafaat dan diberi syafaat, dan baginya syafa’ah uzhma (yang agung) dan kedudukan yang terpuji. Dari Ibnu Umar , ia berkata, 
    Sesungguhnya manusia  berlutut di hari kiamat. Setiap umat mengikuti nabinya. Mereka berkata, ‘Wahai fulan, berilah syafaat, wahai fulan, berilah syafaat, hingga syafaat berkesudahan kepada Nabi . Maka itulah hari yang Allah membangkitkannya kedudukan yang terpuji.[9]

    Di antara keistimewaannya juga, sesungguhnya diperintahkan memohon wasilah untuknya r setiap kali setelah adzan [10]. Allah memanggilnya dengan nama yang paling disukai dan namanya yang tinggi: ‘Wahai nabi’, dan ‘wahai rasul’, ini adalah keistemewaan yang tidak ada bagi para nabi yang lain, yang mana mereka dipanggil dengan nama mereka.

    Di antara keistemewaannya juga bahwa mukjizat setiap nabi telah berakhir, sedangkan mukjizatnya –yaitu al-Qur`an yang mulia- akan tetap terjaga hingga hari kiamat. Tentang keistimewaannya juga beliau pernah bersabda 
    Aku diberikan lima perkara yang belum pernah diberikan kepada seseorang sebelum aku: (1)setiap nabi diutus kepada kaumnya secara khusus dan aku diutus kepada setiap yang merah dan hitam, (2)harta ghanimah dihalalkan kepadaku dan tidak halal kepada seseorang sebelum aku, (3)bumi dijadikan untukku baik lagi suci dan sebagai masjid, laki-laki manapun yang ketemu waktu shalat, ia shalat di manapun berada, (4)aku ditolong dengan rasa takut (dari musuh) dalam jarak perjalana satu bulan, (5) dan aku diberikan syafaat[11]

    Akhlaq Beliau
    Allah berfirman Allah tentang sifat Rasulullah,

    وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

    Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS. Al Qalam: 4)

    Aisyah berkata, Akhlak beliau adalah al-Qur`an[12]

    Allah telah menyempurnakan budi pekertinya sejak kecil, sebelum dibangkitkan (diangkat menjadi nabi dan rasul). Beliau tidak pernah menyembah berhala, tidak meminum arak, tidak berlalu dalam perkara buruk, dan dikenal di kalangan kaumnya dengan orang yang jujur lagi dipercaya.

    Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, 
    Tidak pernah Rasulullah diberikan dua pilihan kecuali ia mengambil yang termudah, selama bukan merupakan dosa. Jika merupakan dosa, beliau  adalah manusia yang paling jauh darinya. Dan Rasulullah tidak pernah membalas dendam untuk dirinya sendiri, kecuali apabila kehormatan Allah  dilanggar, maka ia membalas karena Allah dengannya [13]. 

    Di antara akhlak beliau adalah rendah hati dan suka bercanda dengan anak kecil. Rasulullah pernah menghibur anak kecil dengan mengatakan, Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan nughair?[14]

    Sifat Lahiriah Beliau
    Allah telah memberikan kesempurnaan kepada nabi kita Muhammad, menganugerahkan kepadanya keelokan lahiriyah dan keindahan batin. Beliau adalah manusia yang paling indah rupa dan paling sempurna akhlaknya.

    Di antara riwayat yang menjelaskan sifat lahiriyah beliau adalah hadits al-Bara` bin ‘Azib, ia berkata, 
    Rasulullah perawakannya sedang, jauh di antara dua pundaknya, beliau memiliki rambut yang bisa mencapai daun telinganya yang di bawah (tempat anting-anting), aku melihat beliau  berpakaian merah, aku belum pernah melihat sesuatu yang lebih indah darinya”. Yusuf bin Abu Ishaq berkata dari bapaknya: (kedua pundaknya). [15]

    Jabir bin Samurah berkata, 
    Rasulullah dhali’ (lebar) mulutnya, asykal kedua matanya, manhus kedua tumitnya. Ia berkata, Aku bertanya kepada Simak, Apakah maksud dhila’ mulutnya? Ia menjawab, Besar mulutnya. Ia berkata, Aku bertanya, Apakah arti asykal matanya? Ia menjawab, Panjang belahan mata. Ia berkata, Aku bertanya, Apakah pengertian manhus tumitnya? Ia menjawab, Sedikit daging tumitnya” [16]

    Dari Ali bin Abu Thalib berkata, 
    Rasulullah tidak terlalu tinggi dan tidak pula rendah (pendek), lebar dua telapak tangan dan tumit, besar kepalanya , besar karadisnya (otot), panjang bulu dadanya, apabila berjalan beliau  berjalan cepat seolah-olah turun dari tempat yang tinggi, aku belum pernah melihat sebelumnya dan sesudahnya seperti beliau[17]

    Rasulullah pernah bersabda, 
    Barangsiapa yang melihat aku di dalam tidur, sungguh ia telah melihatku, sesungguhnya syetan tidak bisa menyerupaiku. Dan mimpi seorang mukmin adalah satu bagian dari empat puluh enam bagian dari kenabian” [18]

    Semoga bermanfaat, Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulallah serta keluarga dan sahabatnya.


    Selesai ditulis di Riyadh, 14 Rajab 1432 H (16 Juni 2011).
    Abu Zakariya Sutrisno
    Artikel: www.thaybah.or.id / www.ukhuwahislamiah.com

    Notes:
    [1]. HR. Muslim (4/1789) no. 2276 dari sahabat Waatsilah bin al-Asqa’ radhiyallahu ‘anhu.
    [2]. HR. Muslim (1/819) no. 1162 dan 196,  dari hadits Qatadah.
    [3]. HR. Bukhari no. 4 dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.
    [4]. Sebagaimana yang disebutkan dalam dua hadits yang shahih: Anas  riwayat Bukhari (1/165, 166) dan Aisyah riwayat Bukhari (2/106).
    [5]. Sirah Nabawiyah, karya Ibnu Hisyam, serta ar-Raudh al-Anf Syarhu Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam karya Imam as-Suhaili, tahqiq dan komentar serta syarah Abdurrahman al-Wukayyil (7/578-579).
    [6]. HR. Bukhari (4/62) dan Muslim (4/1828) no. 2354 hadits Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu.
    [7]. HR. Muslim (4/1828, 1829) no. 2355.
    [8]. HR. Ibnu Hibban dalam shahihnya dengan lafazhnya ini dan Tirmidzi no. 3148 dengan tambahan: ‘pada hari qiamat’ sebelum sabdanya ‘dan tidak sombong’.
    [9]. HR. Bukhari (5/228).
    [10].                     HR. Muslim no. 384 dari Abdullah bin ‘Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma.
    [11]. HR. Bukhari (1/86) dan Muslim (521) hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu
    [12]. Diriwayatkan di Musnad karya Imam Ahmad bin Hanbal asy-Syaibani, cet. Maimaniyah Mesir tahun 1313 H (6/91)
    [13]. HR. Bukhari (3/195), Muslim (4/1804) no. 2309 dan 52
    [14]. HR. Bukhari (7/102, 119) dan Muslim (3/1692, 1693) no. 2150 dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu
    [15]. HR Bukhari (4/165)
    [16]. HR. Muslim no. 2339
    [17]. HR Tirmidzi no. 3637 dan ia berkata hadits hasan shahih
    [18]. HR. Bukhari (8/71,72) dan Muslim (4/1775), no. 2266 dari Anas radhiyallahu ‘anhu

    -------------------------------------------
    Download dan dengar kajian ahlussunnah:
    Tema:
    Sejarah Islam - Sirah Nabawi
    (Gabungan beberapa ustad)
    Link:
    KLIK DISINI