Sabtu, 06 Mei 2017

Makanan Jiwa adalah Ketaatan kepada Allah

Semua makhluk hidup di dunia ini tentulah butuh makanan untuk bertahan hidup kemudian beraktivitas. Kita setiap harinya pasti berusaha memberikan makanan yang baik-baik untuk tubuh kita. Bahkan lebih dari ini, kita berusaha menyempurnakan gizi yang masuk ke dalam tubuh kita dengan memakan makanan 4 sehat 5 sempurna. Akan tetapi ada hal yang sangat penting yang kebanyakan manusia lalai, yaitu lupa untuk memberikan makanan pada jiwanya. Akhirnya, jiwanya mendorong fisiknya untuk berbuat maksiat sehingga merugikan dirinya sendiri, lebih-lebih orang lain. Sari-sari makanan menjadi tenaga untuk berfikir dan bergerak yang seharusnya ia gunakan untuk berbuat ketaatan, ia gunakan untuk bermaksiat.

Apakah makanan jiwa itu? Dikutip di dalam kitab Ad-Daa' wa Ad-Dawaa' (Penyakit dan Obatnya) yang ditulis oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, makanan jiwa adalah ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta'ala, sedangkan racunnya adalah kemaksiatan kepada Allah. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

"Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya."
(Q.S. Asy-Syams: 9-10)

Termasuk mensucikan jiwa yang paling umum yaitu menjaga kesucian jiwa dengan ketaatan kepada Allah. Ketaatan kepada Allah tentu saja membutuhkan ilmu. Bagaimana kita beriman yang benar, bagaimana kita beribadah yang benar, bagaimana kita bermu'amalah dengan benar kepada sesama muslim maupun non muslim. Langkahnya yang pertama untuk mencapai ketaatan adalah dengan menuntut ilmu agama. Di jaman sekarang ini, banyak sekali sarana dan prasarana yang memudahkan kita untuk menuntut ilmu agama. Dahulu orang menuntut ilmu dengan jalan kaki berkilo-kilo meter dari rumahnya ke tempat majelis ilmu. Sekarang kita telah banyak dimudahkan misalnya dengan adanya motor, angkot, sepeda, mobil pribadi, ojek, dan lain sebagianya untuk menuju tempat majelis ilmu. Bahkan sekarang kita dimudahkan untuk menuntut ilmu lewat media streaming. Subhanallah... Betapa banyak kemudahan yang Allah berikan kepada kita untuk beribadah. Akan tetapi, menuntut ilmu dengan mendatangi majelis ilmu itu tetap penting karena kita akan berjumpa dengan orang-orang shalih. Termasuk yang menguatkan jiwa kita di dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta'ala adalah berjumpa dengan orang-orang shalih di majelis ilmu agama. Berjumpa dengan orang-orang shalih, kita akan mendapat banyak nasihat, ajakan, maupun peringatan untuk dekat kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Setelah kita menuntut ilmu, hendaknya kita amalkan dari yang wajib dan ringan, kemudian bertahap ke yang lebih tinggi tingkatannya. Penting juga kita memperbanyak belajar tentang keutamaan-keutamaan suatu amalan agar ketika mengamalkan suatu amalan, hati kita mantab dan membekas amalan tersebut di hati. Setelah itu kita istiqomahkan.

Orang yang mengotori hatinya yaitu orang yang bermaksiat kepada Allah. Maksiat itu bertingkat-tingkat sesuai dengan kadar dosanya. Dosa yang paling besar yaitu menyekutukan (syirik) Allah subhanahu wa ta'ala, kemudian diikuti maksiat-maksiat lain di bawahnya. Maksiat terbesar setelah syirik yaitu meninggalkan rukun-rukun islam. Orang yang banyak berbuat maksiat hatinya akan semakin menjauh dari Allah subhanahu wa ta'ala. Misalnya, orang yang  dulunya shalat terasa nikmat dan menenangkan jiwa, sekarang terasa tidak nikmat bahkan enggan shalat. Melaksanakan shalat asal-asalan saja, dengan cepat, dan tidak ada bacaan yang membekas di dalam jiwa. Ini dikarenakan karena maksiat. Bisa jadi karena ia memandang yang diharamkan oleh Allah. Bisa jadi ia tidak menjaga batas pergaulannya. Bisa jadi karena ia memakan atau bertransaksi riba. Riba sangat menakutkan dampaknya di dunia, lebih-lebih di akhirat sebagai mana telah dibahas pada artikel yang di posting sebelumnya (baca disini). Orang yang terus berbuat maksiat, dan tidak bertaubat, lama-lama jiwanya akan tertutup kepada Allah. Apabila jiwanya telah tertutup kepada Allah, maka diberikan nasihat maupun tidak diberikan nasihat untuk taat kepada Allah akan sama saja. Ia tidak akan menghiraukan nasihat tersebut. Dibacakan Al-Qur'an beserta artinya hatinya tidak tersentuh. Adzan dikumandangkan, hatinya berat berangkat ke masjid untuk shalat berjama'ah.

Wahai saudaraku... Sibukan diri dengan ketaatan, dengan bermajelis ilmu, menyampaikan kebaikan, berkumpul dengan orang-orang shalih. Apabila jiwa tidak disibukan dengan kebaikan, maka jiwa akan disibukan dengan perkara-perkara yang buruk dan sia-sia. Di dalam suatu riwayat Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam melarang kita untuk banyak tertawa karena itu bisa mematikan hati. Tertawa adalah perkara yang diperbolehkan saja apabila dilakukan dengan berlebihan dilarang oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, bagaimana dengan maksiat?

Kita meminta pertolongan kepada Allah agar dijaga di dalam ketaatan dan dijauhkan dari dosa dan maksiat sampai khusnul khatimah. Aamiin.

Selesai ditulis di Tegalgondo, Malang, pada 6 Mei 2017
oleh Supriyono Alfarhan
Merujuk dari kitab Ad-Daa' wa Ad-Dawaa' (Penyakit dan Obatnya) yang ditulis oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Sabtu, 22 April 2017

Hidup Tidak Tenang Karena Riba

Di jaman akhir ini, telah banyak orang yang meremehkan dosa riba. Alasan mereka pun beragam. Ada yang berkata, "Kalau tidak dengan cara ini (cara yang riba), darimana saya makan? Darimana saya punya rumah? Darimana saya punya mobil?" Seolah-olah mereka lupa bahwa mereka memiliki Allah yang maha memberikan rizki kepada hamba-Nya. Bukan kah Allah memiliki sifat Ar-Razaq? Ar-Razaq yaitu yang maha memberikan rizki kepada hamba-Nya. Oleh karena itu mintalah kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Berdoalah dengan sungguh-sungguh, menjaga ketaqwaan kepada Allah subhanahu wa ta'ala, kemudian sungguh-sungguh berusaha di jalan yang halal.

Allah subhanahu wa ta'ala sangat mencela bagi pelaku riba. Karena riba memiliki dampak yang sangat buruk. Dan Allah subhanahu wa ta'ala tidak akan mengharamkan suatu perkara kecuali ada kejelekan di dalamnya. Riba membuat orang tidak merasakan ketenangan di dalam hidupnya. Riba membuat seseorang semakin sengsara hidupnya. Kita lihat di sekitar kita, orang yang terlibat transaksi riba, hidupnya selalu terbayang-bayang tagihan atas transaksi ribanya. Di dalam rumah tangga terbayang tagihan, di tempat kerja pun terbayang tagihan yang tak kunjung lunas. Akhirnya, menuntut suami atau istrinya untuk bekerja lebih keras. Keharmonisan rumah tangga menjadi terganggu karena riba. Tidak sedikit pula diantara kaum muslimin rumah tangganya hancur karena riba. Belum lagi dampak buruk secara luas. Riba benar-benar menghancurkan ekonomi umat. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Dan masih banyak dampak buruk lainnya tentang riba. Ini masih di dunia. Sebenarnya ada dampak buruk yang jauh lebih mengerikan bagi pelaku riba. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

"Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu."
(Q.S. Al-Baqarah: 278-279)

Pada ayat di atas terdapat konsekuensi yang sangat mengerikan bagi pelaku riba baik yang bertransaksi, yang mencatat, dan yang menjadi saksi yaitu perang dengan Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasulnya. Bayangkan wahai saudaraku, apabila kita berkelahi melawan segerombolan tentara, bagaimana kondisi tubuh kita setelahnya? Ini perang melawan Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasulnya! Tidak main-main lagi wahai saudaraku. Perang melawan yang menciptakan kita. Perang melawan zat pemilik alam semesta dan seisinya. Perang melawan yang menciptakan surga dan neraka. Jadi seperti apa kita? Pantaslah di dunia para pelaku riba tidak akan merasakan ketenangan hati di dalam hatinya di dunia, apalagi di akhirat. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) gila.”
(QS. Al Baqarah: 275)

Ibnu ‘Abbas radiallahu 'anhu berkata, “Pemakan riba akan bangkit pada hari kiamat dalam keadaan gila dan mencekik dirinya sendiri."

Wahai saudaraku, riba merupakan kemaksiatan yang sangat besar. Definisi dari maksiat yaitu mengingkari perintah dan larangan Allah subhanahu wa ta'ala. Termasuk perkara yang seharusnya diketahui bahwasanya dosa dan kemaksiatan pasti menimbulkan mudharat (kerugian), tidak mungkin tidak. Mudharatnya bagi hati sebagaimana mudharat yang ditimbulkan racun bagi tubuh (Kitab Ad-Daa' wa Ad-Dawaa').

Wahai saudaraku, mari kita tinggalkan riba sekarang juga. Allah memerintahkan meninggalkan riba, pastilah untuk kebaikan hamba-Nya. Agar kelak hamba-Nya bisa hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Jangan takut hidup kita sengasara karena meninggalkan riba. Justru dengan meninggalkan riba hidup menjadi lebih berkah. Rasulullah shalalallah 'alaihi wa salam bersabda,

“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.”
(HR. Ahmad 5: 363. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali berkata bahwa sanad hadits ini shahih)

Orang yang meninggalkan riba karena Allah, kemudian ia betul-betul berusaha mencari yang halal, maka ia akan diganti dengan yang lebih baik oleh Allah subhanahu wa ta'ala, dan ini pasti. Allah subhanahu wa ta'ala tidak akan mengingkari janjinya.

Penting juga bagi yang baru bertaubat dari dosa riba agar ia menjauhi promosi-promosi yang di dalamnya ada transaksi riba. Bergaulah dengan orang-orang yang shalih di dalam majelis ilmu, mengahadiri majelis ilmu di masjid-masjid, karena itu akan menguatkan hati kita untuk tetap teguh untuk menjauhi riba.

Semoga Allah subhanahu wa ta'ala menjauhkan kita dari riba, memberikan rizki yang halal, yang baik, yang membawa keberkahan di dalam hidup kita di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Selesai ditulis di Malang, pada 22 April 2017
oleh Supriyono Alfarhan
Merujuk dari Kitab Terjemah Ad-Daa' wa Ad-Dawaa' (Penyakit dan Obatnya), yang ditulis oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, penerbit Pustaka Imam Syafi'i

Kamis, 13 April 2017

Diwajibkan Memilih Pasangan yang Baik Agama dan Akhlaqnya

Pernikahan adalah suatu akad yang menyatukan antara dua insan dengan ikatan yang suci. Oleh karena itu, Islam memerintahkan umatnya untuk selektif dalam menentukan pilihan, agar pernikahan yang dijalin benar-benar menjadi nikmat dan menjadi berkah dalam hidup. Semua dari kita, siapa yang tidak ingin rumah tangganya bahagia dan berada di dalam keberkahan. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia (Allah subhanahu wa ta'ala) menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu menyatu dan merasa tentram kepadanya. Dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Rum: 21)

Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam ketika menjelaskan kepada umatnya tentang berbagai alasan yang dijadikan masyarakat sebagai standar dalam menentukan pasangan hidup, beliau menganjurkan agar faktor iman dan ketakwaan sebagai standar utama dalam menentukan pilihan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam memerintahkan yang demikian tentu saja untuk kebahagiaan umatnya baik di dunia maupun di akhirat. Iman dan ketaqwaan adalah penentu seseorang dalam mengambil jalan hidup. Apakah seorang suami atau istri membawa keluarganya ke pantai surga, ataukah ia hancur leburkan ke jurang api neraka? Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,
“Wanita itu (biasanya) dinikahi karena empat hal, (yaitu) karena hartanya, karena nasabnya, kecantikannya, dan karena agamanya. Maka hendaknya engkau memilih wanita yang beragama (bertakwa), niscaya engkau akan beruntung.” (Muttafaqun ‘alaih)

Diantara kriteria wanita yang shalihah adalah sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah subhanahu wa ta'ala sebagai berikut,
“Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (kaum lelaki) atas sebagian yang lainnya (kaum wanita), dan karena mereka (kaum lelaki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang shaleh ialah yang taat (kepada Allah subhanahu wa taala dan kepada suaminya) lagi memelihara diri ketika suaminya sedang tidak ada, berikat pemeliharaan Allah terhadap mereka.” (QS. An Nisa’: 34)

Pada suatu hadits, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam lebih merinci tentang kriteria wanita shalihah, yang layak untuk dijadikan pasangan hidup. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,
“Sebaik-baik wanita adalah wanita yang bila engkau memandang kepadanya, ia akan membuatmu senang, dan bila engkau memerintahnya niscaya ia mentaatimu, dan bila engkau meninggalkannya, ia menjaga kehormatanmu dalam hal yang berikaitan dengan dirinya dan hartamu.” (HR. Abu Dawud dan Al-Hakim)

Demikian juga halnya dengan kriteria pasangan pria, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam mengajarkan agar standar pilihannya ialah keshalihan dan akhlaq yang mulia. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,
“Bila telah datang (untuk melamar) kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan perangainya (akhlaqnya), maka nikahkanlah dia. Bila kalian tidak melakukannya, niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang merajalela.” (HR. Tirmizi, Thabrani, Al-Baihaqi)

Bila islam mengajarkan agar senantiasa memilih pasangan hidup yang shaleh atau shalihah, maka sebaliknya Islam juga memperingatkan umatnya agar tidak memilih pasangan hidup yang tidak shalih atau shalihah. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula). Dan wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (QS. An Nur: 26)

Ayat ini terlihat seperti pengabaran, akan tetapi apabila kita merujuk kembali tafsir ayat ini sebenarnya berisi perintah. Perintah tersebut adalah perintah untuk mencari pasangan yang baik agama dan akhlaqnya. Pada kenyataannya ada suami yang shalih, akan tetapi istrinya kurang baik agama dan akhlaqnya. Ada pula yang istrinya shalihah, akan tetapi suaminya kurang baik agama dan akhlaqnya. Ini bukti ayat ini bukan berisi kabar, melainkan perintah. (Tafsir dirujuk dari Tafsir Ibnu Katsir)

Kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta'ala agar dipertemukan dengan pasangan yang baik agama dan akhlaqnya, diberikan kekuatan untuk melangsungkan proses dengan cara yang diridloi-Nya sampai kelak Allah subhanahu wa ta'ala menghalalkan ia untuk kita. Aamiin.

Wallahu waliyyut taufiq..

Selesai ditulis di Malang, pada 13 April 2017
oleh Supriyono Alfarhan
Merujuk dari Kitab Terjemah Tafsir Ibnu Katsir yang ditulis oleh Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah yang diterjemahkan oleh Bahrun Abu Bakar, L.C.

Selasa, 28 Maret 2017

Etika Seorang Muslim ketika Berdoa

Kebanyakan orang pada akhir-akhir ini tidak mengetahui etika-etika di dalam berdoa kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Terlebih lagi ada sebagian orang yang menjadikan doa sebagai mainan dan tidak serius di dalam berdoa. Padahal berdoa adalah salah satu bahasa percakapan kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Seorang muslim tentulah ingin baik bahasa percakapannya kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Kita semua pastilah ingin doa kita mustajab sehingga dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Oleh karena itu pada tulisan kali ini dibahas tentang etika seorang muslim ketika berdoa diantaranya:

1. Terlebih dahulu sebelum berdoa hendaknya memuji kepada Allah, kemudian bershalawat kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam.
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam pernah mendengar seorang lelaki sedang berdoa di dalam shalatnya, namun ia tidak memuji kepada Allah dan tidak bershalawat kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam maka Rasulullah bersabda kepadanya,
"Kamu telah tergesa-gesa wahai orang yang sedang shalat. Apabila kamu selesai shalat, lalu kamu duduk, maka memujilah kepada Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, dan bershalawatlah kepadaku, kemudian berdoalah." (HR. At-Turmudzi, dan dishahihkan oleh Al-Albani)

2. Mengakui dosa-dosa, mengakui kekurangan (keteledoran diri) dan merendahkan diri, khusyu', penuh harapan dan rasa takut kepada Allah di saat anda berdoa.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman yang artinya,
"Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera di dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami." (Al-Anbiya': 90)

3. Berwudhu' sebelum berdoa, menghadap Kiblat, dan mengangkat kedua tangan di saat berdoa.
Di dalam hadits Abu Musa Al-Asy'ari Radhiallaahu anhu disebutkan bahwa setelah Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam selesai melakukan perang Hunain:
"Beliau minta air lalu berwudhu, kemudian mengangkat kedua tangannya; dan aku melihat putih kulit ketiak beliau." (Muttafaq'alaih)

4. Benar-benar (meminta sangat) di dalam berdo'a dan berbulat tekad di dalam memohon.
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Apabila kamu berdoa kepada Allah, maka bersungguh-sungguhlah di dalam berdoa, dan jangan ada seorang kamu yang mengatakan: "Jika Engkau menghendaki, maka berilah aku", karena sesungguhnya Allah itu tidak ada yang dapat memaksanya."
Dan di dalam satu riwayat disebutkan:
"Akan tetapi hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam memohon dan membesarkan harapan, karena sesungguhnya Allah tidak merasa berat karena sesuatu yang Dia berikan." (Muttafaq'alaih)

5. Menghindari doa buruk terhadap diri sendiri, anak dan harta.
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Jangan sekali-kali kamu mendoakan buruk terhadap diri kamu dan juga terhadap anak-anak kamu dan pula terhadap harta kamu, karena khawatir doa kamu bertepatan dengan waktu dimana Allah mengabulkan doamu." (HR. Muslim)

6. Merendahkan suara di saat berdoa.
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Wahai sekalian manusia, kasihanilah diri kamu, karena sesungguhnya kamu tidak berdoa kepada yang tuli dan tidak pula ghaib. Sesungguhnya kamu berdo`a (memohon) kepada Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat dan Dia selalu menyertai kamu." (HR. Al-Bukhari)

7. Berkonsentrasi di saat berdoa.
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Berdoalah kamu kepada Allah sedangkan kamu dalam keadaan yakin dikabulkan, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai." (HR. At-Turmudzi dan dihasankan oleh Al-Albani)

8. Tidak memaksa bersajak di dalam berdoa.
Ibnu Abbas pernah berkata kepada 'Ikrimah,
"Lihatlah sajak dari doamu, lalu hindarilah ia, karena sesungguhnya aku memperhatikan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya tidak melakukan hal tersebut." (HR. Al-Bukhari)

Wallahu waliyyut taufiq.

Selesai ditulis di Malang, pada 28 Maret 2017
oleh Supriyono Alfarhan
Mengutip dari Buku Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz. Pembahasan buku ini dibahas setiap hari Rabu ba'da Maghrib di Masjid Abu Dzar Alghifari, Malang oleh Ustadz Abdullah Shalih Hadrami

Senin, 27 Maret 2017

Hikmah di Balik Ditimpa Sakit

Sakit pada hakikatnya merupakan ujian dari Allah subhanahu wa ta'ala. Dengan mengalami musibah sakit, dosa-dosa seorang hamba akan dihapuskan, mendapatkan pahala, dan ditinggikan derajatnya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun, kita kadang lupa akan hal ini, sehingga sakit hanyalah dimaknai sebagai sebuah penderitaan. Padahal berjuta hikmah dapat kita petik dari musibah sakit, baik yang dialami oleh kita, maupun anggota keluarga kita. Misalnya, setelah sembuh dari sakit, kita akan merasakan betapa berharganya kesehatan sehingga kita terpacu untuk memanfaatkan waktu sehat tersebut sebaik dan seoptimal mungkin. Atau, bisa jadi, sakit membuat kita kembali mengingat Allah setelah sekian lama melupakan-Nya. Sangat mungkin pula sakit dapat menghubungkan tali silaturakhim yang telah lama terputus dengan kerabat dan sahabat dengan menjenguk mereka yang tertimpa sakit.

Bila mau membuka mata hati dan berpikir jernih, niscaya kita akan melihat taburan hikmah di balik rasa sakit yang kita alami. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,
“...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Maha mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah 2: 216)

Secara ringkas, hakikat yang mesti kita pahami tentang sakit adalah sebagai berikut,

1. Sakit dan mati pada hakikatnya adalah kuasa Allah. Hakikat ini dapat kita cermati pada Al-Qur'an surat Asy-Syu’araa’ (26) ayat 80-81. “Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian menghidupkan aku kembali.”

2. Sakit dan mati merupakan ketentuan dari Allah yang telah tertulis di dalam Lauhil Mahfuzh.

3. Sakit adalah cobaan yang diberikan Allah kepada manusia dengan tujuan:
  • Menguji kesabaran dan ketahanan spiritual
  • Menghapuskan dosa bila dijalani dengan penuh ketabahan
  • Mengingatkan manusia bahwa dia adalah makhluk yang sangat lemah. Tidak ada kemampuan manusia untuk menghindar dari ketentuan yang telah ditetapkan Allah.
  • Mengingatkan manusia terhadap bekal yang harus dipersiapkan dalam menjemput kematian.

4. Sakit merupakan kondisi yang dapat memacu kita untuk benar-benar mempersiapkan akhir kehidupan yang baik (husnul khatimah).

Kita memohon kepada Allah agar diberikan kemampuan untuk mengambil hikmah di balik apa-apa yang menimpa, baik itu suatu kebaikan maupun keburukan. Wallahu waliyyut taufiq.

Selesai ditulis di Malang, pada 27 Maret 2017
oleh Supriyono Alfarhan
Mengutip dari Buku Sakitku Ibadahku, penulis: dr. H. Hanny Ronosulistyo,Sp.OG(K).M.M.dr. H. Zainal Abidin, Sp.THT.K.H. Aceng ZakariaGani Yordani

Sabtu, 11 Februari 2017

Jadwal Kajian Ilmiah Rutin di Masjid Qolbun Salim, Malang (Update 11 Februari 2017)

Berikut adalah jadwal kajian ilmiah rutin untuk wilayah Malang, tepatnya di Masjid Qolbun Salim, Jl. Sunan Kalijaga Dalam No.9, Dinoyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65149 (Belakang Kampus UIN Malang). Setiap hari ada kajian ilmiah dengan materi pembahasan yang berbeda. Adapun rincian jadwal sebagai berikut,


Setiap Hari Senin, Ba'da Maghrib-Isya', untuk umum
Kajian Tafsir Al-Qur'an
Oleh Ustadz John Hariyadi, M.HI.

Setiap Hari Selasa, Ba'da Isya'-jam 21.00 WIB, khusus putra
Kajian Belajar Bahasa Arab
Oleh Ustadz Ach. Tito Rusyadi, M.Pd.I.

Setiap Hari Rabu, Ba'da Maghrib-Isya', untuk umum
Kajian Hadits Arba'in An-Nawawi
Oleh Ustadz Luqman Lathif, S.Pd.I.

Kamis, Pekan ke-1 dan ke-2, jam 06.00-07.00 WIB untuk umum
Kajian Kaidah-kaidah Dalam Memahami Sunnah
Oleh Ustadz Abdullah Amin

Kamis, Pekan ke-3, jam 06.00-07.00 WIB untuk umum
Kajian Hadits Arba'in An-Nawawi / Tematik
Oleh Ustadz Anwar Zain

Kamis, Pekan ke-4, jam 06.00-07.00 WIB untuk umum
Kajian Tazkiyatun Nafs
Oleh Ustadz Amrozi, S.Pd.

Setiap Hari Jum'at, Ba'da Maghrib-Isya', untuk umum
Kajian Kitab Al-Wajiz Aqidah Ahlussunnah
Oleh Ustadz Abu Sholih, M.Pd.I.

Setiap Hari Sabtu, Ba'da Isya'-jam 21.00 WIB, khusus putra
Kajian Tahsin Al-Qur'an
Oleh Ustadz Muhammad Syukur

Setiap Hari Minggu, jam 06.00-08.00 WIB, untuk umum
Kajian Ruqyah Syar'iyyah
Oleh Ustadz Arifuddin, M.Pd.I.

Setiap Hari Minggu, Pekan ke-1, jam 09.00-11.00 WIB dan 15.30-17.00 WIB, untuk umum
Kajian Fiqh Dakwah
Oleh Ustadz Abdullah Amin

Setiap Hari Minggu, Pekan ke-2, jam 15.30-17.00 WIB, untuk umum
Kajian Kitab Tauhid
Oleh Ustadz Abdul Hamid Abror

Setiap Hari Minggu, Pekan ke-3, jam 09.00-11.00 WIB, untuk umum
Kajian Kitab Kasyfu Subhat / Fiqh Al-Wajiz
Oleh Ustadz M. Anwar Samuri, Lc.

Setiap Hari Minggu, Pekan ke-3, jam 15.30-17.00 WIB, untuk umum
Kajian Kitab Hilyatu Thalabul 'Ilmi
Oleh Ustadz Amrozi, S.Pd.

Setiap Hari Minggu, Pekan ke-4, jam 09.00-11.00 WIB, untuk umum
Kajian Kitab Hilyatu Thalabul 'Ilmi
Oleh Ustadz Amrozi, S.Pd.

Setiap Hari Minggu, Pekan ke-4, jam 15.30-17.00 WIB, untuk umum
Kajian Kitab Tauhid
Oleh Ustadz Abdul Hamid Abror

Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan hati oleh Allah untuk senantiasa istiqomah untuk belajar islam lebih dekat.

Selesai ditulis di Malang, pada 11 Februari 2017
oleh Supriyono Alfarhan